Calm Down! Mr. Psycho!

Calm Down! Mr. Psycho!
Mau cicit


__ADS_3

Ehrlich Manfred Damian, pria berusia 98 tahun yang masih hidup setelah koma selama 6 tahun lama nya.


Pendiri pertama dari JNN grup, perusahaan berbasis komputer dan produk Mabel serta mesin kendaraan.


Perusahaan yang hanya bergerak dalam pembuatan perabot rumah, pabrik kecil yang membentuk kursi makan dan memulai nya dari nol.


Memiliki lima orang anak, dengan dua anak lelaki dari istri pertama nya dan tiga anak perempuan dari beberapa wanita yang berkencan dengan nya setelah sang istri meninggal.


Dan kini pria tua itu menatap tajam ke arah seseorang yang bahkan belum masuk sama sekali ke keluarga nya namun sudah ikut untuk bergabung.


"Pa? Anda mau coba ini? Saya dengar ini bagus untuk kesehatan jantung anda." salah satu wanita paruh baya itu berbicara di keheningan makan malam.


Walaupun semua yang berada di tempat itu adalah anak-anak nya, anak menantu, dan para cucu nya sendiri namun tak ada satupun yang berbicara santai dengan nya.


Mr. Ehrlich mengangguk membiarkan Putri pertama nya itu memberikan nya makanan yang telah di hias dengan rapi dan cantik itu.


Anna menoleh, ia menatap ke arah pria tua yang memang sejak tadi menatap nya dengan begitu tajam.


Tangan nya memegang paha pria di samping nya untuk memberi isyarat ia ingin mengatakan sesuatu.


Lucas pun tau, ia mendekatkan telinga nya ke bibir gadis itu sedikit.


"Sa..saya rasa sa..saya akan sakit perut..." ucap nya lirih yang takut dengan tekanan hawa yang di berikan oleh pria yang paling di tuakan di keluarga kaya itu.


"Mau ke kamar mandi? Perlu ku temani?" tanya Lucas yang mengira gadis itu memang sakit perut sesungguh nya.


"Bu..bukan begitu-"


"Biasakah kami pergi lebih dulu? Dia ingin ke-"


"Bukan!" Anna langsung memotong ucapan pria itu, bagaimana bisa begitu cepat merespon apa yang ia katakan?


Tangan kecil itu langsung refleks mencoba mencegah dan malam salah memegang.


Awal nya ia ingin menepuk paha pria yang duduk di samping nya itu namun karna terkejut di suasana yang tegang membuat nya meletakkan tangan nya di tempat yang salah.


"Ada apa? Apa makanan nya masih kurang?" tanya Mr. Ehrlich yang tak melepaskan mata nya dari gadis remaja itu.


Ia memang memiliki wajah yang tak ramah sama sekali, mata yang tajam walaupun sudah berumur dan raut yang kaku serta datar yang sangat mirip dengan cucu pertama nya.


Maka dari itu walaupun ia sebenarnya tak memandang sinis dengan niat jahat pun wajah sangar dan tak ramah nya itu tetap akan menakuti orang lain.


"E..enak!" jawab Anna tersenyum pada pria pendiri pertama dari JNN grup itu.


"Ada yang tidak nyaman?" tanya Mr. Ehrlich pada gadis itu.


Lucas memegang tangan yang berkeringat dingin sampai lupa di tarik di atas timun tebal nya itu.


"Kau mau dessert vanila nanti?" bisik Lucas yang memiringkan wajah nya ke arah Anna sehingga Mr. Ehrlich tak tau jika ia sedang berbicara.


"Nona Anna?" tanya Mr. Ehrlich sekali lagi dengan suara serak khas manula dan tatapan yang tajam di tambah dengan panggilan formal yang membuat nya semakin merasa tercekam.


"Sa..saya mau vanila!" jawab Anna spontan karna baru mendengar tentang vanila dari pria yang duduk di samping nya.


Lucas tersenyum tipis, ia mengambil tangan gadis dan menggenggam nya sedangkan Mr. Ehrlich mengernyit.


"Apa?" tanya pria tua itu menatap dengan bingung.


"Ya?" Anna pun tampak bingung, ia hanya asal mengatakan apa yang keluar dari mulut nya dan bahkan ia bisa lupa dengan apa yang baru saja ia katakan.


Diego yang sejak tadi melihat dan tentu tau jika sepupu nya itu membisikkan sesuatu saat tangan kecil itu salah tempat membuat nya ingin tersenyum.


"Ehem!" Mr. Ehrlich batuk kecil walau tenggorokan nya tak gatal sama sekali.


I..itu! Karna a..anda punya dua alis!


Pria tua itu tak mengatakan apapun lagi, gadis itu membuat nya teringat dengan seseorang.


Seseorang yang memiliki wajah yang mirip dengan warna mata yang memancarkan sinar yang sama.


Bahkan ucapan nya saat sedang gugup dan sikap spontan nya pun begitu mirip membuat nya teringat kembali dengan wanita yang sudah tiada puluhan tahun yang lalu itu.


...


Anna membuang napas nya lirih, akhirnya ia bisa mendapatkan tempat nya sendiri walau belum kembali dari mansion kepala kelurga Damian itu.


"Ini, kau mau desert vanila kan?"


Suara yang sangat ia kenali telah kembali padahal sebelumnya masih sibuk berbicara dengan sanak saudara nya yang lain.


Anna berkedip melihat makanan penutup dengan cream yang kenyal dan manis itu.


"Aku akan berikan yang lain saat kita sudah kembali nanti," ucap Lucas sembari mengusap punggung gadis itu dan mendekat.


"I..iya..." jawab Anna lirih yang tentu tak akan bisa mengatakan apapun lagi jika pria itu sudah meminta sesuatu dari nya.


"Kita pulang," ajak Lucas saat merangkul gadis remaja itu dan ingin membawa nya kembali.


Dua penjaga menghalangi jalan nya begitu ia ingin keluar, "Maaf tuan, tuan besar ingin berbicara dengan nona." ucap salah satu penjaga.


"Tidak bisa, dia harus istirahat." jawab Lucas yang menolak padahal gadis itu tak mengatakan apapun.


Penjaga tersebut diam namun tak menyingkir sama sekali.


"Kalian memang mau mati ya?" Lucas kesal, memang saat berada di mansion itu hanya perintah dari si pemilik lah yang di dengar.


"S..Sir!" Anna memegang tangan pria itu, di tempat yang asing dan tentu ia tak ingin menambah masalah lagi.


Lucas menoleh, ia menatap ke arah gadis itu dan melihat nya.


"Sa..saya akan ikut saja, la..lagi pula a..anda juga di sini kan?" tanya Anna pada pria itu.


"Maaf tuan, kami harus memabawa nona Anna." ucap salah satu penjaga pada pria itu.


Lucas diam sejenak dan akhirnya membiarkan gadis itu untuk pergi. Ia merasa gusar pada sang kakek yang sangat mementingkan nama kelurga itu dan tentu gadis remaja yang ia bawa tak memiliki kualifikasi apapun untuk bisa masuk ke kelurga nya.


Anna terdiam sepanjang ia berjalan ke ruangan pemilik mansion megah itu.


Pikiran nya berkecamuk dan tentu membayangkan adegan klise yang sering ia lihat di drama televisi dan juga buku novel dewasa yang pernah ia baca.


Nanti pasti dia kasih aku uang buat pergi dari cucu nya terus aku di bantuin pergi!

__ADS_1


Batin gadis itu yang membayangkan adegan klise melemparkan uang dan mengatakan, 'Jauhi cucu ku! Kau tidak pantas di keluarga ini!'


Langkah nya terhenti di depan pintu yang besar itu, seseorang membuka nya dan tentu seseorang dengan kerutan di wajah dan tubuh yang walau sudah menua namun masih meninggalkan jejak kegagahan nya sewaktu muda.


Anna di arahkan masuk dan duduk di depan Mr. Ehrlich sedangkan penjaga yang tadi membawa nya masuk langusung keluar.


"Siapa nama mu," tanya Mr. Ehrlich lagi.


"Anna," jawab Anna gugup sembari menunduk.


"Nama lengkap? Tidak mungkin hanya satu suku kata kan?" tanya Mr. Ehrlich lagi.


"Maurenne Arianna," jawab Anna lirih sembari sesekali menoleh ke arah pria tua yang membuat nya takut itu.


Deg!


Mr. Ehrlich tersentak, tak hanya wajah dan sikap yang mirip, nama pun juga?


"Kenapa nama mu seperti itu?" tanya nya pada gadis remaja itu.


"Sa..saya tidak tau, kan yang buat nama bukan saya Kek..." ucap Anna lirih yang memang mana tau kenaoa dia bisa memiliki nama seperti itu.


"Kau harus tau!" ucap Mr. Ehrlich sembari menghentakkan tongkat nya ke lantai dan membuat gadis itu terkejut.


"Na..nama kakek si..siapa?" tanya Anna gugup.


"Kenapa tanya nama ku? Ehrlich Manfred Damian," ucap pria itu yang tetap menjawab.


"Ke..kenapa anda pu..punya nama seperti itu?" tanya Anna berbalik dengan gugup sampai membuat nya terbata.


Duk!


Auch!


Gadis itu meringis, ujung tongkat pria tua itu memukul kepala nya.


"Anak nakal! Berani sekali kau mengembalikan kata-kata ku!" ucap nya yang melihat kesal ke arah gadis remaja itu.


"Sa..saya kan cuma tanya," cicit Anna lirih sembari mengusap kepala nya.


"Dan lagi pula aku bukan kakek mu!" ucap Mr. Ehrlich pada Anna.


"Te..terus sa..saya harus panggil apa? Sir? Mr? Atau kak?" tanya Anna pada pria itu.


"Apa saja," jawab Mr. Ehrlich yang juga bingung bagaimana menjawab nya, "Lagi pula kenapa kau ikut memanggil ku kakek? kau kan bukan cucu ku?"


"A..anda kan sudah tua.." jawab Anna lirih.


"Aku sudah tau aku tua kenapa di ingatkan lagi?" tanya Mr. Ehrlich pada gadis itu.


Dasar! Orang tua emosian!


Gerutu Anna yang tentu tak mengatakan apapun pada pria tua itu.


"Ka..karna anda sudah tua..." jawab Anna yang masih sama.


Mr. Ehrlich membuang napas nya dan memilih tak lagi berdebat ia pun melihat ke arah gadis muda yang tampak sibuk mengusap kepala nya itu.


"Kau punya hubungan apa dengan cucu ku?" tanya nya yang kembali ke topik pembicaraan yang seharusnya.


Cara mendapatkan uang dan kabur dari pria psikopat yang sangat menginginkan nya itu.


"I..itu..." jawab Anna lirih dengan wajah yang di buat seperti menyembunyikan hubungan yang beda kelas sosial itu.


Mr. Ehrlich tak terkena pengaruh, pasal nya ia mengaggap gadis itu hanya gadis bayaran untuk menutupi perbuatan cucu-cucu nya saja.


"Mereka pacaran?" tanya nya lagi sembari membuang napas nya.


Walaupun di negara nya melegalkan hubungan sejenis namun ia tak bisa menerima nya sama sekali.


Apa lagi kedua putra yang dulu sangat ia sayangi malah menjadi kamu pembelok?


Menyukai saudara sendiri adalah hal yang salah dan semakin salah saat di tambah dengan gender yang sama.


"Ha? Mereka? Siapa?" Anna langsung bertanya dengan bingung.


"Anak itu normal?" tanya Mr. Ehrlich yang mengubah pertanyaan nya.


"Siapa? Sir Lucas?" tanya Anna dengan bingung.


Mr. Ehrlich tak menjawab tapi sudah terlihat jika itu yang ingin ia tanyakan.


"Dia? Dia tidak normal! Cucu anda itu psiko-" ucap Anna yang hampir menjelekkan seorang cucu di depan kakek nya, "Dia tidak normal." sambung nya yang tak bisa mengatakan jika sang cucu punya hobi menguliti seseorang.


Mr. Ehrlich yang mendengar nya tentu menganggap jika cucu pertama nya itu memang memiliki hubungan dengan cucu kedua nya.


"Sudah berapa lama mereka berhubungan?" tanya nya dengan suara berat yang seperti merasa kecewa.


Anna bingung, sejak tadi kakek tua itu hanya mengatakan 'mereka' tapi ia tidak tau siapa yang di bicarakan.


"Siapa?" tanya nya lagi dengan bingung.


"Siapa lagi? Tentu Diego dan Lucas!" ucap Mr. Ehrlich yang menyebutkan nama kedua cucu nya dengan jelas.


"Kenapa mereka punya hubungan? Mereka kan atasan bawahan, eh?" Anna yang baru tersadar jika Diego pun tadi ada di perkumpulan keluarga.


"Mereka pacaran kan?" tanya Mr. Ehrlich memperjelas sekali lagi dengan nada yang tentu marah.


"Mereka? Maksud nya Sir Lucas suka sama yang...!"


"Psikopat m*sum itu?!" tanya Anna yang tak percaya mengapa sang kakek bisa mengira cucu nya itu suka sesama jenis sedangkan pria itu sangat cepat 'bangkit' saat bersama nya.


"Maksud mu?" Mr Ehrlich menatap bingung.


"Bukan! Maksud saya, kenapa anda berpikir dia tidak normal? Dia sangat-sangat normal!" ucap Anna tak percaya karna ia memang tak tau sejarah orang tua dari Lucas maupun Diego.


"Kau kan tadi bilang dia tidak normal," jawab Mr. Ehrlich pada gadis itu.


"Bu..bukan konsep yang begini kek..." jawab Anna lirih yang bingung bagaimana menjelaskan nya.


"Lalu apa?" tanya Mr. Ehrlich yang bingung bagaimana yang di pikirkan oleh gadis itu.

__ADS_1


"Cucu kakek itu pembu- bukan maksud saya dia bisa menghabisi orang lain." ucap nya yang memperhalus perkataan nya.


Mr. Ehrlich tampak tak begitu peduli dengan perkataan gadis muda itu, "Lalu dia suka wanita?" tanya nya yang lebih peduli akan orientasi cucu nya.


"Siapa? Sir Lucas? Dia sangat normal! Benar-benar normal sampai saya berha-" ucap Anna yang mencoba menjaga perkataan nya.


Mr. Ehrlich diam sejenak memperhatikan raut wajah dan reaksi gadis itu yang tampak jujur.


"Lalu kalian sudah tidur bersama?" tanya sekali lagi.


Anna tersentak, "A..apa yang anda katakan?"


Mr. Ehrlich diam lagi, gadis itu terlalu memiliki banyak ekspresi yang terkadang tak bisa di sembunyikan dan tentu membuat nya lebih dapat mengetahui apa yang di pikirkan gadis itu.


Ia melihat dari ujung kaki sampai ujung rambut gadis remaja itu, menatap begitu lekat sampai mulai membuat Anna tak nyaman.


"Kek? Kakek?" panggil nya lirih pada pria tua yang memperhatikan nya.


"Kau memang wanita kan? Bukan transgender? Atau pria yang menyamar?" tanya yang masih tak percaya karna ia sudah pernah di kecewakan anak-anak nya.


"Me..memang nya sa..saya seperti pria ya?" tanya Anna lirih dengan bingung.


Tak ada jawaban sama sekali, gadis itu pun menoleh ke arah meja yang sejak tadi sudah ada teh namun belum ia minum.


"Sa..saya bisa minum teh nya kan?" tanya nya yang mencoba mengalihkan suasana.


Mr. Ehrlich diam tak mengatakan apapun, pandangan mata nya hanya tertuju pada satu titik yaitu perut ramping yang berada di balik gaun merah muda itu.


"Kau sudah hamil?" tanya nya tiba-tiba yang membuat Anna langusung tersentak.


Uhuk!


Gadis itu mengusap bibir nya yang basah akan teh, dan langsung melihat ke arah pria tua itu.


"Sa..saya masih 17 tahun Kek! A..anda tanya apa saya sudah hamil?" tanya Anna yang begitu terkejut.


"17 tahun? Pantas saja kau tampak sangat muda," jawab Mr. Ehrlich dengan melihat ke arah wajah gadis itu, "Tapi aku dulu menikah dengan istri ku waktu dia 16 tahun," sambung nya yang tak masalah dengan usia muda gadis itu.


Anna hanya menggeleng dan kembali minum karna tenggorokan nya yang terasa kering akibat pembicaraan yang di luar perkiraan nya.


"Lalu kau kapan hamil nya? Aku mau lihat cicit ku sebelum mati la-"


Brush!


Gadis itu kini kembali terkejut, sudah pembicaraan ambigu yang di mulai dari menanyakan nama bahkan salah paham tentang cucu nya dan kini pembicaraan cicit pada nya padahal ia belum pernah melakukan pembuatan bayi dengan pria itu satu kali pun.


Mr. Ehrlich memejam, di usia nya yang 98 ia mendapat kejutan air mancur tak terduga.


Duk!


Auch!


Tongkat nya kembali melayang dan memukul kepala gadis remaja itu.


"Anak tidak sopan!" ucap nya yang saat memukul kepala gadis itu dengan suara yang renyah.


Anna meringis dan memegang kepala nya, "Lagi pula ini kan pembicaraan yang salah!" ucap Anna pada pria tua itu.


"Salah? Harus nya bagaimana?" tanya Mr. Ehrlich yang kesal namun tak berniat menyingkirkan gadis remaja itu.


Di usia nya yang semakin menua ia sudah tak lagi memikirkan tentang kesetaraan sosial dengan keluarga nya.


Karna ia ingat saat dulu ia mendorong seorang wanita biasa yang masuk ke keluarga nya dan pada akhirnya ia merasa menyesal saat wanita itu sudah tiada lagi.


"Harus nya anda marah dan bilang 'Ini uang untuk mu! Kau pergilah! Berani sekali kau mendekati cucu ku!' harus nya anda bilang begitu! Di semua film juga pasti begitu!" ucap Anna pada Mr. Ehrlich.


"A...apa?" tanya Mr. Ehrlich yang terkejut dengan apa yang di pikirkan oleh gadis muda itu.


"Terus tadi saya juga ngabisin teh nya karna saya kira mau di lempar ke saya!" ucap Anna sekali lagi dengan wajah yang ingin menangis frustasi.


"Kenapa aku melempar nya pada mu? Teh kan untuk di minum?" tanya pria tua yang tak mengerti dengan drama picisan.


"Di film kan begitu! Kenapa anda malah beda?" tanya Anna yang kehilangan harapan pada pria yang ia pikir akan dapat membuat nya jauh dari pria psikopat itu.


Mr. Ehrlich mengernyit, sudahlah ia yang tak tau apapun perkembangan selama beberapa tahun akibat koma dan sakit lalu saat bangun malah di ajak berbicara adegan film.


Ia bangun dan mendekat ke arah gadis itu, Anna langsung terdiam karna mengira kini pria tua itu ingin memukuli nya, tangan yang bergerak ke arah nya, dan...


Auch!


Gadis itu meringis, memang saat orang tua menarik telinga rasa nya begitu sakit.


"Anak nakal! Aku minta cicit malah di suruh nonton film!" ucap nya yang menjewer gadis remaja itu dengan kesal.


"Aduh! Kek! Ampun kek! Kuat banget! Aduh!" ucap Anna yang meringis sembari berusaha melepaskan tangan yang menjewer nya.


Sementara itu.


Lucas yang begitu tak tenang karna tak tau apa yang sedang terjadi pada gadis nya akibat ponsel yang mati dan ia tak bisa mengaktifkan chip nya untuk mendengar pembicaraan yang terjadi.


Karna waktu sudah lama berlalu ia pun langsung mendatangi sang kakek untuk menjemput gadis remaja itu.


Deg!


Sakit? Kuat? Apa yang terjadi?


Pria itu terkejut dan tentu langsung berpikir ke hal yang menjurus ke arah yang sering ia coba lakukan pada gadis itu.


Brak!


"Dasar si tua-"


Ia terdiam, sedangkan seorang pria tua yang berdiri dengan gadis yang masih duduk di bangku nya sembari tangan yang menjewer ke telinga gadis nya.


"Anak nakal ini juga!" Mr. Ehrlich yang belum siap menarik telinga gadis itu langsung melepaskan dan mendekat ke arah cucu pertama nya itu.


Duk!


"Astaga!" pekik Anna yang tersentak melihat ada seseorang yang berani memukul pria psikopat itu.


Lucas diam dengan wajah nya yang datar walaupun sang kakek baru saja memukul kepala nya dengan tongkat yang selalu di bawa.

__ADS_1


Dan memang ia sudah terbiasa!


"Kamu pulang!" jawab nya yang tak memberi komentar tentang pukulan sang kakek dan menarik tangan Anna untuk keluar dari ruangan itu.


__ADS_2