
Gadis itu tampak gelisah, ia merasa bersalah karna meninggalkan teman nya begitu saja walaupun dalam keadaan terluka.
"Dia pasti benci aku kan?" gumam nya yang berada di atas matras di kamar yang kecil dan sembab dengan udara itu.
"Tapi! Itu bagus! Dia harus benci aku!" sambung nya lagi yang sadar jika sebenarnya tak ada satupun yang bisa menjadi poin untuk dekat dengan teman nya lagi itu.
"Tapi dia baik-baik aja?" ucap nya yang masih belum tenang sama sekali.
Gadis itu terlihat gelisah, ia tak nyaman dan merasa bersalah karna meninggalkan teman nya begitu saja.
......................
Satu Minggu kemudian
JNN Grup
Anna terdiam, ia tak di bolehkan keluar dari ruangan yang tak ada beda nya dengan ruang pasien rawat inap.
Tak ada siapapun yang menjadi teman cerita nya, tak ada ponsel dan hanya di temani dengan menonton film serta makanan yang mulai di atur pada nya walaupun ia tak suka.
Para dokter akan datang ke kamar nya setiap 5 jam sekali, menanyakan keluhan nya dan melakukan pemeriksaan setelah itu keluar dengan wajah kaku dan datar bagai robot yang sudah memiliki pengaturan.
Mata biru itu menoleh ke arah jam dinding di kamar tersebut.
"Kapan dia ke sini..." gumam nya yang menunggu pria yang membuat nya terkurung di tempat itu.
Walaupun menyeramkan dan kadang menyakiti nya namun ia seperti memiliki teman jika pria itu datang.
...
Lucas menatap ke arah seseorang yang mengenakan jas putih dan berkutik di bidang yang begitu di tekuni dan handal itu.
"Kami sudah mendapatkan hasil nya, nona mengalami LLA (Leukimia Limfoblastik Akut) dan setelah pemindaian CT dan Rongten kanker nya belum menyebar ke otak atau bagian lain," ucap nya pada pria itu.
"Dan kemungkinan faktor terbesar nya adalah karna chip yang di pasang memiliki radiasi yang sangat tinggi dan tidak bisa di gunakan di dalam tubuh kurang dari dua tahun, kami juga sudah melakukan riset ulang dengan chip nya." ucap dr. Serena pada atasan nya itu yang tak lupa menyebutkan tentang perkembangan chip nya karna sejak awal gadis itu hanya subjek yang di manfaatkan objek.
Lucas terdiam beberapa saat, ia melihat ke arah lembaran kertas yang berisi tentang semua informasi chip beserta kesehatan tubuh gadis nya.
"Masih stadium satu," gumam nya yang melihat ke arah kertas yang mengatakan belum ada penyebaran di bagian yang sensitif.
"Ya, tapi kanker ini bisa tumbuh dalam beberapa minggu." ucap dr. Serena yang tak lupa mengingatkan jika kanker yang menyerang merupakan kanker yang ganas.
"Apa ini perlu transplantasi sumsum tulang belakang?" tanya nya menatap ke arah dokter di depan nya karna sesuatu yang begitu klise dengan kanker darah adalah sumsum tulang belakang.
"Untuk saat ini tidak, karna kita sudah menemukan sel kanker nya lebih cepat maka belum ada penyebaran sampai memerlukan tindakan seperti itu, pengobatan yang di lakukan tentu adalah kemoterapi mungkin akan berlanjut ke radioterapi namun akan di lihat lagi kondisi tubuh nona kedepan nya." jawab dr. Serena
"Berapa persen kesembuhan nya?" tanya nya langsung tanpa menunggu sama sekali.
"Saat ini kanker nya sudah memasuki stadium satu dan tingkat dua walau belum menunjukkan ada nya penyebaran-"
"Jawab saja pertanyaan ku," potong Lucas yang tak ingin mendengarkan penjelasan medis yang tak begitu ia mengerti.
"Sekitar 65 - 70 % tergantung respon pengobatan yang nanti akan di berikan," ucap dr. Serena yang menganalisis sel kanker yang berada di tubuh gadis remaja itu.
"Lalu chip nya?" tanya Lucas yang sedikit linglung saat mendengar nya sehingga tak bisa fokus.
__ADS_1
"Saya lupa memberi tau, 65 - 70 % kemungkinan sembuh itu hanya akan terjadi jika chip nya di lepaskan, jadi jika chip nya tetap di pasang maka kemukiman sembuh adalah 0 %." terang nya yang tentu tak akan bisa melakukan pengobatan jika sumber nya belum di cabut.
Lucas menarik napas nya, ia selalu takut gadis itu akan kabur jika ia melepaskan chip nya namun saat ini ia lebih perlu untuk menyembuhkan nya lebih dulu.
"Lakukan pengambilan chip nya malam ini dan mulai pengobatan nya pekan depan." ucap Lucas yang menarik napas nya dan beranjak ke kamar gadis itu.
....
Sementara itu mata yang berbinar itu tampak berubah tak semangat saat bukan seseorang yang ia tunggu untuk datang.
"Kau terlihat seperti itu? Kau berharap kalau yang datang dari Lucas?" tanya pria itu dengan tawa kecil.
Ia sudah mendengar tentang kondisi gadis itu dan untuk saat ini satu-satu nya yang tak tentang masalah besar yang terjadi itu hanya gadis yang terlibat itu sendiri.
"Kenapa anda datang Sir?" tanya Anna yang tau jika Lucas bahkan sedikit sensitif dengan sepupu nya saat cemburu.
"Karna mau menjenguk mu?" jawab Diego dengan senyuman nya yang selalu seperti biasa.
"Padahal saya tidak sakit, tapi mereka selalu datang!" ucap Anna yang kesal dengan para dokter yang memeriksa nya dan juga kesal karna tak bisa kembali.
Diego tak mengatakan apapun, ia terdiam sejenak dan menatap ke arah gadis itu.
Tap!
Tangan nya yang besar itu mengusap puncak kepala gadis yang terlihat lebih pucat itu.
"Tentu saja kau tidak sakit, kau kan sehat!" ucap nya yang memberikan senyuman tipis.
Anna mengernyit, ia menatap ke arah pria yang terlihat tersenyum namun kali ini memiliki senyuman yang berbeda.
Gadis itu perlahan menggeser kepala nya agar pria itu dapat menyingkirkan tangan nya.
"Jadi aneh kalau anda tiba-tiba baik," ucap nya yang menatap ke arah pria itu.
"Jahat sekali? Padahal aku selalu baik," ucap nya yang tampak tersenyum.
"Anda tidak mabuk kan sekarang?" tanya Anna yang menggeleng saat mendengar nya, walaupun pria itu terlihat ramah dan murah senyum namun ia sama saja mengerikan seperti sepupu nya.
"Kau mirip adik ku," ucap nya yang memberikan senyuman tipis dan mata yang untuk sesaat tenggelam mengingat sesuatu.
Anna menoleh, ia tak pernah tau jika pria di depan nya memiliki saudari lain nya.
"Kami satu ibu dan beda ayah, dia anak yang ceria dan manis. Dia bisa membuat ku tertawa untuk pertama kali nya jadi ku pikir aku merindukan nya..." gumam nya lirih dengan senyuman tipis yang kali ini bukan lah sebuah senyum topeng.
"Lalu kenapa anda tidak menemui nya?" tanya Anna lirih menatap ke arah pria itu.
"Dia sudah meninggal, 6 tahun yang lalu di musim semi saat usia nya 11 tahun." jawab nya dengan senyuman kecil.
"Ma.. maaf..." ucap Anna lirih yang tak menanyakan 'kenapa' sama sekali karna ia tau itu tak sopan.
"Tidak apa, lagi pula itu juga sudah sangat lama. Dia meninggal karna tidak mendapatkan pengobatan." sambung nya yang tersenyum dan kali ini tatapan mata nya berubah menjadi amarah.
"Apa? Tapi kan anda-" ucap Anna yang tak bisa berpikir dengan jelas saat mendengar nya karna ia tau pria di depan nya adalah pria yang kaya.
"Sudah ku bilang kalau kami beda ayah dan satu ibu kan? Jadi setelah wanita jal*ng itu cerai dari ayah ku dia menikah lagi dan punya satu putri," sambung dengan tersenyum.
__ADS_1
"Itu.. bukan nya sedikit kasar untuk menyebut ibu anda..." ucap Anna lirih yang tak menyangka jika pria itu akan memaki ibu nya sendiri.
"Memang benar, dia wanita terburuk dari yang terburuk. Waktu aku berumur 24 tahun dia mendatangi ku lagi dan mengatakan nya aku memiliki adik yang membutuhkan pengobatan." ucap nya yang ingat pertemuan kembali dengan ibu yang tak pernah menemui nya lagi setelah menerima uang dari ayah nya.
Anna tak mengatakan apapun, ia tak memotong nya sama sekali dan tetap mendengarkan pria itu.
"Aku mengirim nya 300.000 euro setiap bulan," ucap nya yang menyebutkan angka yang tinggi yang setiap bulan ia berikan untuk pengobatan adik nya itu.
"Tapi dia tidak menggunakan uang yang ku kirim untuk mengobati adik ku, dia menggunakan untuk diri nya sendiri dan kau tau?" tanya nya dengan senyuman tipis.
"Setiap kali aku bertemu anak itu di akhir pekan dia berpura-pura tidak sakit dan bertingkah seperti anak lain nya, dia bahkan tidak mengatakan apapun tentang yang di pakai padahal harus nya untuk pengobatan nya nya." sambung nya yang mengingat sedikit kenangan di yang membuat nya bisa bernapas di masa itu.
Anna masih tak mengatakan apapun, pertama ia tau rahasia dari psikopat yang gila darah itu dan yang kedua ia tau sisi masa lalu yang menyedihkan dari pria mengerikan yang selalu tersenyum itu.
"Adik anda sakit apa Sir?" tanya nya lirih yang tanpa sadar agar memecah keheningan yang canggung setelah cerita menyedihkan itu.
"Leukimia," jawab Diego singkat.
"Leukimia Limfoblastik Akut," sambung nya lagi yang ingat dengan jelas penyakit apa yang merenggut nyawa adik nya.
Anna sedikit memiringkan kepala nya, ia tau jika leukimia adalah kanker darah namun ia tak tau sama sekali pembagian kanker darah itu.
"I.. itu penyakit yang mengerikan, ta.. tapi pasti sekarang adik anda sudah tidak merasa sakit lagi! Dia pasti sedang berlari di taman yang penuh bunga atau pantai yang yang cantik!" ucap nya yang memberikan kata penghiburan.
Diego tersenyum kecil mendengar nya, memang ia masih belum tau Leukimia apa yang menyerang gadis itu namun mendengar ada nya kemungkinan LLA membuat nya teringat dengan seseorang.
"Kau sangat mirip dengan anak itu, aku seperti melihat adik ku lagi, jadi..." ucap nya yang meraih tangan gadis itu.
Aku akan membantu mu kabur kalau kau mau kabur dari nya.
Tulisan yang di buat di telapak tangan gadis itu tanpa menggunakan suara nya agar tak terdeteksi dengan chip yang mungkin masih di aktifkan.
"Setelah ini," sambung dengan senyuman formal yang kembali seperti biasa.
Jika gadis itu ingin kabur maka hal pertama yang harus di lakukan adalah gadis itu harus sehat lebih dulu.
"Setelah ini?" tanya Anna yang bingung karena hanya ia yang tak tau tentang apa yang terjadi.
Soal chip maupun soal penyakit yang mungkin sedang terjadi di tubuh nya.
Diego tak menjawab dan hanya tersenyum, mungkin sepupu nya akan menganggap nya memiliki rasa simpati murahan karena teringat dengan adik nya.
Namun ia memiliki sesuatu yang bahkan lebih besar dan berharga dari kelihatan nya, ikatan darah yang tampak remeh namun pernah menyentuh hati nya bagai satu-satu nya bunga yang mekar di musim gugur dan ketika ia melihat kembali lagi bunga musim gugur itu ia ingin mempertahankan nya lebih lama.
Karna bunga musim gugur nya belum sepenuh nya mati dan masih hidup di kenangan nya.
"Lepaskan tangan mu!"
Suara yang datang bersamaan dengan tepisan kuat yang mengambil tangan kecil gadis nya dari genggaman pria lain.
"Come on Luc, it's okey!" ucap nya yang mengangkat tangan nya seperti seseorang yang menyerah.
"Keluar," ucap Lucas yang mengusir pria itu untuk pergi.
Diego hanya tersenyum seperti biasa, "Cepat sembuh bayi cumi-cumi aku pergi karna gurita mu sudah datang..." ucap nya yang melambaikan tangan nya sekilas seperti tak pernah menawarkan bantuan apapun sebelum nya.
__ADS_1
Anna tak mengatakan apapun dan tentu ia tak berani karna pria di samping nya menatap dengan mata malaikat maut.