Calm Down! Mr. Psycho!

Calm Down! Mr. Psycho!
Serangan


__ADS_3

JNN grup


Jennifer atau panggilan yang biasa di gunakan oleh orang sekitar nya adalah Jane.


Gadis yang berusia 26 tahun itu kini mulai melakukan pekerjaan nya di tempat yang baru.


"Dasar kakek! Pilih kasih sayang banget sih?" ucap yang berdecak saat memasuki perusahan yang tentu lebih besar dan megah dari tempat ia sebelum nya.


Ia di berikan posisi kepala manager, karna tak bisa langsung di berikan posisi yang tinggi seperti jabatan direktur pada seseorang yang baru masuk apa lagi juga minum pengalaman seperti nya.


Gadis itu tentu tak hanya datang untuk bekerja melainkan membawa misi agar bisa mendekati salah satu dari dua cucu kesayangan kakek nya.


"Kamu baru datang?" tanya nya yang langsung menyusul ke arah pria yang baru saja tiba.


Diego memundurkan langkah nya karna terkejut namun ia tetap kambali berjalan dengan normal lagi.


"Kau sudah masuk ke ruangan mu?" tanya nya basa basi pada adik sepupu nya itu.


"Aku tidak tau jalan, kamu bisa bantu aku?" tanya Jane dengan senyuman nya.


Ia tak bertingkah secara terang-terangan atau pun mendekati dengan cara terbuka.


Diego melirik ke arah gadis di samping nya, gadis yang mirip dengan ibu nya dengan sifat ular cobra.


"Ya," jawab nya singkat karna tak ada alasan untuk menolak.


Selama membawa gadis ke ruangan nya, ia sudah mengatakan apapun yang berguna saat sepupu nya itu akan bekerja dan tentu dalam pekerjaan tak boleh menunjukkan sikap jika mereka saling berkeluarga.


Karna keluarga dan bisnis adalah dua hal yang berbeda.


"Baik! Saya akan mengingat semua yang sekertaris Diego katakan!" jawab nya dengan senyuman semangat yang tentu ingin menarik perhatian pria itu.


Ia memang di suruh untuk menggoda salah satu nya, namun jika bisa kenapa bukan kedua nya?


Agar apapun pilihan yang akan terjadi nanti ia tetap anak menjadi seorang nyonya.


"Ya," Diego membalas singkat dan beranjak ke ruangan nya.


...


Jam istirahat kantor yang tentu semua orang akan beranjak untuk pergi makan siang.


Gadis itu datang dan mengetuk ruangan seseorang yang saat ini menjabat dengan kekuasaan tertinggi.


"Luc? Mau makan siang bersama?" tanya nya menatap ke arah pria itu dengan wajah tersenyum.


Lucas menatap nya dengan datar karna ia bahkan tak bisa melihat ke arah wajah gadis yang sudah berdandan itu.


"Kau belum di ajarkan untuk formal saat jam kerja?" tanya Lucas yang mengomentari tentang sikap adik sepupu nya yang hanya memanggil nama nya.


"Maaf, Sir..." jawab Jane yang langsung memperbaiki kata-kata nya melihat dengan wajah yang sedih.


"Sekarang anda mau makan bersama dengan saya Sir?" tanya nya lagi pada pria itu.


"Aku sibuk, kau makan duluan saja." tolak Lucas pada gadis itu dengan mengusir secara tak kasar.


Jane hanya tersenyum, ia kemudian berbalik meninggalkan ruangan pria itu.


15 menit kemudian.


Gadis itu kembali dan kini ia malah membawa makanan nya ke tempat pria yang tengah tampak sibuk itu.


Lucas menatap dengan kesal melihat ulah sepupu nya yang memaksa nya ikut untuk makan siang padahal ia tak mau.


"Luc? Bukan Sir? Kamu harus makan sesuatu," ucap nya yang bersikap seperti wanita yang memiliki kepedulian yang tinggi.


Lucas tak menjawab, ia mengabaikan gadis itu dan membuat Jane bersikap semau nya sampai.

__ADS_1


Tak!


Gadis itu menjatuhkan makanan nya ke jas pria yang tampak sibuk itu.


Lucas memandang dengan tajam tanpa mengatakan apapun, dan gadis itu pun langsung mengambil tissu untuk pria itu.


"Maaf Sir..." jawab nya yang mengusap bekas bumbu dari makanan yang jatuh ke jas pria itu.


Usapan yang terlihat ingin memancing minat seorang pria.


Deg!


Lucas tersentak, ia mencengkram lengan kecil itu dan langsung menepis nya dengan kuat.


Perut nya seperti meluap dan berputar, rasa nya penuh dan ingin keluar.


Jane tersentak, ia hampir terjatuh karena pria itu menepis nya dengan tiba-tiba.


Sementara itu Lucas langsung beranjak ke kamar mandi, ia sudah terbiasa melakukan sentuhan kontak fisik dengan gadis remaja yang tinggal bersama nya sampai ia lupa jika sebenarnya tak bisa melakukan kontak fisik sebanyak itu dulu.


Isi perut nya ingin keluar, ia mual dan merasa jijik karna sentuhan sepupu nya.


Kepala nya langsung mengingat kegiatan ayah dan paman nya yang di lakukan di sembarang tempat sampai ia pernah melihat nya sesekali dan itu memberikan rasa trauma tersendiri pada diri nya.


"Kenapa dia terus ada di sini?!" ucap Lucas yang kesal sembari membasuh tangan dan wajah nya.


Tak selang beberapa lama ia pun keluar, ia masih melihat ke arah gadis yang masih berdiri menunggu nya.


"Kamu baik-baik saja?" tanya nya yang mendekat namun pria itu langsung mundur seperti menjauhi sebuah virus.


"Keluar, kau pikir ruangan ku kantin?" tanya nya yang kali ini mengusir gadis itu tanpa memberikan kode lagi.


Jane tampak terkejut namun kali ini ia memilih untuk mundur lebih dulu.


......................


Bel pulang telah berbunyi, dan tentu semua siswa dan siswi mulai berhamburan keluar dengan senang karna jam sekolah yang telah berakhir.


Anna turun, ia melihat ke arah mobil yang biasa menjemput nya kini sudah menunggu.


"Hum?" mata nya mengernyit melihat ke arah baret mobil yang tampak di sisi kanan.


Padahal biasa nya mobil itu selalu mulus tanpa cacat, namun ia tak begitu memperdulikan nya karna mengira wajar jika mobil tersebut mengenai sesuatu di jalan.


Ia pun masuk dan mobil mulai melaju, gadis itu masih tak merasakan apapun.


"Supir nya ganti?" gumam nya yang melihat ke arah sang supir yang berbeda dari biasa nya namun ia masih tak merasa curiga sama sekali.


Perjalanan yang membawa nya ke arah berbeda, ia mengernyit namun memang biasa nya Lucas sering meminta nya untuk datang ke tempat yang berbeda tanpa meminta izin nya dulu.


"Sir Lucas meminta saya ke mana sekarang?" tanya Anna yang mulai membuka suara.


Hening tak ada jawaban sama sekali, gadis itu pun kembali diam.


Ia masih tak merasa ada yang aneh karna memang orang-orang yang bekerja pada pria itu seperti robot yang hanya mengikuti satu perintah.


Ban hitam itu kini berhenti, Anna mengernyit melihat ke arah kota pinggiran yang tampak sunyi itu.


Jauh dari rumah dan juga penduduk.


"Kenapa kita di sini? Sir Lucas mana?" tanya nya pada sang supir yang masih duduk di bangku nya.


Pria yang tadi nya mengemudi pun berbalik melihat ke arah gadis yang duduk di bangku belakang itu.


Ia mengeluarkan sesuatu dari jas nya dan langsung ingin menancapkan ke tubuh gadis itu.


Akh!

__ADS_1


Anna sontak teriak melihat ke arah supir nya yang melayangkan pisau ke arah nya.


Ia terkejut dan tentu ingin langsung keluar namun masih terkunci, pria yang menjadi supir jadi-jadian pun langsung beranjak ke bangku belakang.


Anna terkejut namun ia tak memiliki waktu untuk itu, ia menahan tangan pria yang lebih kuat dari nya itu untuk tak menusuk nya dengan membabi buta.


Ia pun berusaha mendorong nya beranjak ke bangku depan untuk membuka kunci otomatis dari bangku pengemudi agar ia bisa keluar.


Crash!


Akh!


Anna meringis, kaki nya terkena tusukan pisau namun ia dapat keluar.


Ia pun langsung berusaha melarikan diri namun tentu pria yang tiba-tiba menyerang nya itu langsung mengejar nya.


"To..tolong..." teriak nya yang berusaha dengan kuat di tempat yang sunyi itu.


......................


Sementara itu.


Ban mobil bewarna hitam itu berputar dengan cepat di jalanan beraspal mulus itu, ia langsung memutar stir nya dan membuka lokasi terbaru gadis nya saat ini.


Suara berisik yang mencurigakan terlebih lagi suara teriakan yang sejak tadi terdengar.


"Luc? Kau sedang mau bunuh diri?!" tanya Diego yang merasa sangat menyesal membiarkan sepupu nya itu yang membawa mobil.


"Atau kau marah karna bukan aku yang bawa? Kita bisa mati!" ucap Diego yang terkejut dengan kecepatan tinggi sepupu nya yang tiba-tiba memutar arah.


"Lokasi di tempat itu, kirim siapapun yang lebih dekat dari sana." ucap Lucas karna ia tau tempat nya saat ini dengan lokasi yang menjadi tujuan nya memiliki jarak yang jauh.


"Itu lokasi Anna kan?" tanya Diego mengernyit karna Lucas tak menjelaskan apapun dan ia tak mendengar apapun dari chip.


"Cepat! Si*l!" ucap Lucas yang terlihat kehabisan kesabaran nya.


Diego tak mengatakan atau pun bertanya lagi, satu-satu nya yang akan cepat datang adalah kepolisian setempat.


"Melibatkan polis-"


"Cepat lakukan saja!" potong Lucas yang memang tak bisa melakukan panggilan karna tengah membawa mobil dengan kecepatan yang begitu tinggi.


Diego pun langsung menghubungi kepolisian di daerah yang sama dengan chip gadis itu sembari memegang erat sabuk pengaman nya saat jantung nya berdebar cepat akibat sepupu nya itu yang seperti berubah menjadi ghost rider saat ini.


......................


Plak!


Pria yang menjadi supir jadi-jadian itu tampak kesal saat gadis itu membuat pisau yang berada di tangan nya terlempar.


Ia pun menarik rambut pirang yang panjang itu dan menampar pipi nya dengan begitu kuat.


Anna diam, ia membatu dan tak lagi berteriak tolong karna suara nya seperti hilang dalam tenggorokan.


Tangan yang gemetar itu meraih pasir dan kerikil kecil yang berada di tangan nya. Ia pun langsung melemparkan nya dan membuat mata pria itu menjadi kabur.


"Akh!"


Pria itu menjerit saat mata nya terasa perih dan Anna pun berusaha untuk lari lagi. Kaki nya meninggalkan jejak darah kemanapun ia melangkah karna memang tubuh nya sudah terluka.


Dan karna ia yang masih merasa begitu takut dan ingin menyelamatkan diri nya membuat nya bisa menahan sakit dari luka nya.


Sedangkan ia tak lagi bisa berteriak akibat rasa takut nya sekaligus rekaman ingatan nya yang sudah terbiasa untuk diam saat sang ibu memukuli nya dulu.


*Kenapa tidak ada orang?!


Dia siapa? Aku salah apa?!

__ADS_1


Apa aku akan mati kali ini*?!


__ADS_2