Calm Down! Mr. Psycho!

Calm Down! Mr. Psycho!
Blue Dress


__ADS_3

Mansion Damian


Pria itu pulang larut malam ini, mansion yang besar dan megah itu masih sama.


Memberikan kesan sunyi yang begitu mendalam, para pelayan dan penjaga dengan suasana beku seperti manekin yang tak memiliki ekspresi sama seperti tuan yang mereka layani.


Hanya satu!


Salah satu kecerahan yang mencairkan kebekuan di setiap sudut.


Langkah nya berjalan menuju ke arah seseorang yang ia ingin lihat.


Sampai kedua kaki itu berhenti di depan sebuah pintu kamar dengan seseorang yang sudah sangat ia kenali di dalam nya.


Pria itu membuka nya tanpa mengetuk atau pun meminta izin.


Sudut bibir nya meninggi, tanpa sadar ia tersenyum melihat gadis yang tampak tenang saat kedua mata nya terpejam.


Kaki nya melangkah mendekat, mata nya menatap dengan tatapan yang menyelidik. Tangan nya mulai bergerak mendekat dan mendarat di kepala gadis itu.


Usapan yang halus dan terasa lembut, namun tak membangunkan nya sama sekali.


Hangat...


Mama...


Sudut bibir yang naik membuat senyuman kecil di wajah yang tengah tertidur itu.


Lucas diam, ia tak mengatakan apapun namun tetap mengusap dan mengelus kepala gadis itu.


Sentuhan hangat yang mengalir di ujung jemari nya membuat gadis itu mengingat sesuatu yang sudah lama terkubur dalam ingatan nya.


Lucas tak beranjak, ia masih terus mengusap gadis itu dan tak ingin berhenti.


Rasa yang membuat nya tenang, sesuatu yang memanjakan mata nya. Memberikan tampilan dengan efek keindahan yang membuat nya tak bisa memalingkan pandangan nya sama sekali.


"Apa aku tidur di sini saja?" gumam sembari melihat kearah gadis itu.


...


Ke esokkkan pagi nya.


Mentari hangat itu mulai naik, menyebarkan seluruh cahaya nya pad separuh dunia dan membangunkan orang-orang yang tengah terlelap.


Berat?


Kenapa berat sekali?


Anna yang masih setengah sadar merasakan perut nya yang terasa berat seperti sesuatu yang menekan nya.


Gadis itu memaksa membuka mata nya, perut rata nya seperti memiliki sabuk pengikat yang membuat nya kesulitan bergerak.


Mata nya mengernyit, ia tak bisa membalik tubuh nya, punggung seperti memiliki sesuatu yang menempel.


Tunggu!


Ini tangan kan?


Gadis itu meraba sesuatu yang melingkar di perut ramping nya, Anna langsung menyibak selimut nya dan melihat ke bawah.


"Tangan?" gumam nya yang melihat ke arah perut rata nya.


Mata biru langsung membulat, ia berusaha membalik tubuh nya dan membuat nya langsung berhadapan dengan seseorang yang sangat ingin ia hindari dan tak ingin ia temui.


"Sir!" ucap nya terkejut namun ia pun tanpa sadar tak berteriak dan mengucapkan nya dengan suara yang seminimal mungkin agar pria itu tak bangun.


Gadis itu masih mematung, ia seperti kehilangan kata-kata dan bingung mengapa pria itu kini sudah ingin mengambil tempat tidur nya juga.


"Kenapa sangat terkejut? Ini kan juga bagian dari rumah ku."


"Astaga!" kali ini Anna terkejut sampai membuat nya langsung bangun.


Lucas membuka mata nya, ia sudah terbangun sejak gadis itu terus menggeliat bergerak.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya pria itu dengan datar sembari ikut bangun.


"Ta..tapi kan ini kamar saya!" ucap Anna yang masih tergagap dan sudah menganggap kamar nya itu adalah hak milik yang menjadi ruangan privasi nya.


"Siapa yang memberikan mu kamar ini?" tanya Lucas dengan datar sembari mulai bangun.


"Kau sekolah kan hari ini?" tanya Lucas yang tampak biasa saja dan mulai beranjak keluar setelah mengambil jas nya yang ia buka.


"I..iya..." jawab Anna lirih yang tak ingin mengatakan apapun lagi dan membiarkan pria itu segera keluar.


Melihat punggung yang kekar itu menghilang di balik pintu, Anna langsung turun dari ranjang nya dan melihat tubuh nya.


"Aku ga di apa-apain kan?" gumam nya lirih yang tampak panik sembari melihat ke arah seluruh tubuh nya dan ia pun masih mengenakan pakaian yang lengkap tanpa kurang satu pun.


Anna bernapas lega saat ia menyadari pria itu tak melakukan apapun pada nya.


......................


Sekolah


"I..ini..."


Mata biru itu langsung menoleh, menatap ke arah jus yang di berikan pada nya dengan tatapan yang sungguh-sungguh.


"Untuk apa?" tanya Anna mengernyit menatap ke arah gadis itu.


"Aku akan memihak mu!" ucap Samantha pada gadis itu.


"Sam? Kamu ga perlu sampai begini," ucap Anna menatap ke arah gadis itu.


"Kamu benar, aku ga bisa benci orang tua ku karna mereka udah buat kamu jadi seperti ini, tapi aku tetap bakal mihak kamu!" jawab Samantha dengan tatapan yang bersungguh-sungguh.


"Kenapa?" tanya Anna yang tak mengerti mengapa gadis itu sampai seperti itu pada nya.


Samantha menggeleng, ia juga tidak tau jawaban nya.


Mungkin nurani sebagai manusia?


Atau rasa kasihan pada hidup teman nya?


Anna tak memilih berdebat, ia mengambil jus yang di berikan teman sekelas nya itu dan membuat gadis itu langsung tersenyum senang.


...


Bel terakhir berbunyi, semua siswa siswi itu merasakan senang saat mereka sudah bisa kembali ke rumah atau pun melakukan sesuatu yang lain.


Anna keluar, ia turun dan tentu seperti biasa kini ia menunggu seseorang menjemput nya ataupun supir yang sudah menunggu nya.


"Sir?" panggil nya menatap ke arah pria yang menunggu di samping mobil.


Diego melambaikan tangan nya, ia menatap dengan tatapan senyum nya seperti biasa.


"Kenapa anda yang menjemput saya?" tanya Anna pada pria itu.


"Siapa lagi yang bisa buat aku jadi supir?" tanya Diego pada gadis remaja itu.


Anna tak mengatakan apapun lagi, ia membuang napas nya lirih dan tentu tau siapa yang di sebutkan dan di maksud oleh pria tampan itu.


...


Mata biru itu melihat ke arah jalanan yang sedang ia lewati, ia menatap ke arah pria yang tengah mengemudi itu.


"Sir?" panggil nya sembari menoleh ke arah pria itu.


"Ya?" jawab Diego sembari menoleh ke arah gadis itu.


"Tidak, saya tidak jadi." jawab Anna menggeleng tak jadi bertanya.


Anna pun beranjak membuka jus yang tadi di berikan oleh Samantha dari dalam tas nya.


Sedangkan Diego yang tengah mengendarai mobil nya dengan kecepatan yang cukup tinggi tiba-tiba langsung mengerem secara mendadak.


"Sir!" Anna langsung berteriak dengan seluruh jus nya sudah tumpah ke membasahi seragam nya.

__ADS_1


"Kau tidak apa-apa?" tanya Diego yang tersentak karena tadi ada yang tiba-tiba memotong mobil nya lalu mengerem setelah itu pergi lagi. Definisi asli dari pengemudi ugal-ugalan.


Melihat seragam gadis itu yang kotor, ia pun menarik napas nya.


"Rumah ku di sekitar sini, kau mau membersihkan seragam mu dulu?" tanya Diego pada Anna.


"Aku juga akan membeli pakaian ganti untuk mu," ucap nya pada gadis itu.


Anna tak menjawab namun Diego membawa nya ke apart nya.


......................


Apart


"Pakaian mu akan datang sebentar lagi, coba ganti dengan yang ada di lemari." ucap nya pada gadis itu.


Ia tak pernah membawa wanita masuk ke apart nya sebelum nya, dan kali ini bisa membawa nya karna ia memang tak memiliki niat atau pun ketertarikan sebagai lawan jenis.


"Saya ambil nya di mana?" tanya Anna pada pria itu.


"Di kamar," jawab Diego sembari menunjuk dengan dagu nya.


"Kalau Sir Lucas tau, saya tidak akan..." ucap nya pada pria itu dengan ragu.


Diego membuang napas nya, "Dia memang menyuruh ku membawa mu, aku juga sudah bilang kau di sini." jawab Diego pada gadis itu.


Anna mengangguk, ia masuk ke kamar pria itu dan tentu menuju ruang ganti nya untuk sementara sembari menunggu pakaian yang di pesan untuk nya datang.


"Memang nya ada apa sih? Mereka aneh..." gumam Anna lirih saat memikirkan Lucas yang malam sebelum nya pun pulang larut dan terlihat seperti melakukan pekerjaan yang di sembunyikan.


"Eh?" mata biru nya itu membulat saat melihat ke arah kotak yang terlihat di simpan rapi dan masih berada di antara kemeja pria itu.


Anna menoleh, ia meraih dan membuka nya, "Ini pakaian wanita kan?" gumam nya sembari melihat ke arah gaun berwarna biru muda itu.


Ia pun menarik nya, hanya ada satu pakaian wanita yang ada di tempat pria itu.


Gadis itu pun membawa nya dan mengganti pakaian nya, gaun yang indah itu terasa begitu pas dan nyaman untuk nya.


"Ini punya siapa? Pacar nya? Aku pakai ini ga apa-apa kan?" gumam nya lirih yang melihat diri nya dari cermin.


Ia pun keluar dari kamar pria itu, Diego yang baru saja kembali ingin memanggil gadis itu langsung tersentak.


"Aku sudah panggil Luc-"


Anna merasa canggung saat melihat pria itu terdiam.


"Sir? Saya tidak boleh pakai ini?" tanya nya sembari menatap ke arah pria itu dan berjalan mendekat.


Diego diam, ia membatu sembari menatap gadis itu namun terlihat juga seperti tengah memikirkan sesuatu yang lain.


Bagaimana?


Ini bagus? Tapi ukuran nya sedikit kekecilan untuk ku.


Anak baik...


"Sir!" panggil Anna yang mengejutkan pria itu.


Rambut yang memiliki sinar yang sama, wajah seseorang yang mulai samar dalam ingatan nya walau pun ia begitu kuat tak ingin melupakan nya.


Greb!


Anna tersentak, wajah pria itu tak tersenyum seperti biasa nya. Mungkin ini adalah ekspresi asli pria itu.


Ia merinding, mata yang biasa nya tampak ramah itu kini terlihat tajam sama seperti seseorang yang ia kenal.


"Kau..."


"Kau itu siapa?" tanya nya sembari melihat ke arah pria itu.


Anna diam sejenak, ia mendapatkan pertanyaan yang sama dari orang berbeda.


"Sa..saya?"

__ADS_1


"Maurenne Arianna..." jawab nya dengan wajah yang polos dan tentu dengan jawaban yang sama juga.


__ADS_2