Calm Down! Mr. Psycho!

Calm Down! Mr. Psycho!
Keluar!


__ADS_3

Anna menarik napas yang terasa berat, ia kemudian menatap ke arah pria yang sejak tadi memeluk nya tanpa mengatakan apapun.


"Sudah? Padahal aku tidak melakukan apapun kenapa kau terus menangis?" tanya Lucas yang bingung menatap ke arah sang istri.


Wanita itu tampak tak mengatakan apapun, ia diam dan terlihat cegukan lalu mengusap mata nya yang masih sembab.


"Aku baik-baik saja," jawab Anna yang kemudian tersenyum cerah seperti tak pernah terjadi apapun sebelum nya termasuk tangisan yang bahkan tak bisa di katakan itu.


Lucas tak mengatakan apapun, ia menarik tengkuk wanita itu dan mengecup bibir nya yang masih basah.


Anna tak menolak, ia hanya diam dan membiarkan pria itu melakukan apapun yang di inginkan.


Ciuman yang terasa lembut setelah tangisan nya, mata biru itu terbuka perlahan dan menatap ke arah pria yang masih berada bersama nya saat ini.


Cup!


Kecupan yang lembut itu turun menelusuri lengkung leher nya dan kemudian mengesap nya dengan pelan.


Anna tak memberikan komentar apapun dan membiarkan kecupan yang terasa menggelitik itu menjelajah di leher nya.


Pria itu sekarang mulai jarang menyentuh nya dan ia pun juga memang tak begitu bersemangat karena ia sudah banyak memikirkan hal lain lagi.


"Luc?" panggil Anna yang menahan tangan yang ingin membuka dress nya itu.


"Kenapa? Sudah lama kan? Satu bulan?" tanya Lucas yang mencoba mengingat.


Karna ia sekarang mulai sering mengantuk dan sangat mudah merasa lelah.


"Kamu ga lelah? Kan masih ada yang harus di kerjain?" tanya Anna yang menatap ke arah pria itu.


Lucas tak mengatakan apapun, sekali lagi ia menarik tengkuk istri nya dan mengecup nya kembali.


"Iya, tapi aku mau..." bisik nya dengan pelan yang mengusap pipi gadis itu.


Anna tak mengatakan kalimat penolakan lagi, ia pun hanya menatap ke arah pria itu.


Tak tau dari pertanyaan akan timbul tangisan dan pada akhirnya akan timbul situasi yang sedang terjadi.


Lucas mengusap paha putih yang duduk di pangkuan nya itu dan melihat ke arah wajah sang istri yang tampak diam saja.


Ia mulai melepaskan gaun yang saat itu di pakai dengan perlahan dan kemudian mengecup lengkung leher nya secara perlahan.


Napas yang terasa hangat dengan aroma mint yang tercium membuat Anna merasa kulit nya seperti sedang merinding.


Humph!


Lucas menoleh, ia menatap ke arah wajah yang masih tampak seperti anak-anak itu walaupun sudah memiliki anak juga.


Ia langsung menyambar dan mencium nya seketika, mel*mat pelan sembari tangan yang mulai menjelajah dengan nakal.


Anna masih sama, ia tak memberontak atau pun menolak sama sekali, ia membiarkan pria itu melakukan sesuatu pada tubuh nya.


Tangan yang tadi masih mengusap punggung dan perut nya kini sudah beralih menyelinap ke dalam Piramida yang kenyal dan masih tampak ranum walaupun sudah pernah memberikan asi untuk makhluk yang ia kandung selama 9 bulan.


Cup!


Lucas menjatuhkan penghalang nya dan mulai menghisap nya seperti bayi besar yang tengah haus.


Anna masih sama, ia tak menolak sama sekali dan membiarkan pria itu melakukan apa yang ingin di lakukan nya.


"Luc... Ka.. kamu..." ucap Anna terbata karna pria itu mulai menguasai nya.


"Hm? Kenapa? Kurang?" tanya Lucas yang kemudian mengecup dan mengesap nya lebih kuat sembari tangan yang lain mulai bergerak nakal.


"Uhh!"


Anna tersentak, ia langsung menutup mulut nya untuk menahan suara yang ingin keluar.


Lucas tak mengatakan apapun, memang ia sedang sakit namun bukan berarti ia tak memiliki h*srat sama sekali.


Anna melihat ke arah pria itu dan kemudian mengecup bibir suami nya dengan pelan agar menahan suara yang bagi nya memalukan itu.


Tangan nya membuka kancing kemeja sang suami tanpa di minta, mengusap dada bidang yang masih berotot itu dan menatap nya dengan tatapan yang nanar.


"Kenapa?" Tanya Lucas saat sang istri melepaskan ciuman nya lalu menatap ke arah wajah nya dengan tatapan yang sekaan ingin mengatakan sesuatu.


Anna hanya menggeleng, ia tak bisa mengatakan apapun dengan mulut nya walau ia ingin.


"Sentuh aku sebanyak yang kamu mau..." ucap nya lirih dengan senyuman tipis.


Lucas tersenyum, ia menatap ke arah sang istri, "Kau lebih cantik kalau tersenyum, tapi kenapa sering menangis?" tanya Lucas yang kemudian mengangkat wanita itu ke meja kerja nya setelah menyingkirkan laptop yang berada di depan nya.


Anna tak mengatakan apapun, pria itu tak menggeser teh yang ia berikan atau pun menumpahkan nya dengan sengaja.


Cup!


Cup!


Suara kecupan terdengar sembari tarikan secara perlahan pada satu-satu nya penghalang yang berada di tubuh wanita nya.


"Ahh!"


Anna tersentak, pria itu menunduk dan mencium bagian yang membuat nya merasa begitu sensitif.


Lucas tak mengatakan apapun saat ia sedang 'bekerja' saat ini. Ia pun beranjak memegang tubuh sang istri dan memberikan nya usapan lembut dengan jari-jemari nya.


Anna masih terdiam, ia memegang ujung meja yang berada di dekat nya dengan kuat dan menahan gelombang yang berada di dalam tubuh nya.


"Uhh!"


Lucas beranjak bangun, ia pun menatap ke arah wanita itu dan kemudian melihat nya sekali lagi.


Anna masih menarik napas nya, ia kemudian beranjak duduk dengan tegap dan menatap pada pria yang selalu menunjukan wajah yang dingin datar itu.


Tangan nya mengusap pelan wajah Kokoh dengan janggut halus di pipi dan dagu nya, ia membuka kemeja pria itu tanpa di minta dan menjatuhkan nya ke lantai.


Melepaskan sabuk di pinggang dan kemudian menarik bahan yang memiliki harga fantastis itu.


Ia beranjak turun, tak di minta namun ia tau apa yang harus ia lakukan karna pria itu sudah mengajari nya semua cara untuk menjadi dewasa.


Lucas meng*rang, seperti sengatan listrik yang membuat nya terkejut di tengah rasa tak nyaman di tubuh nya.


Ia mengusap kepala dengan rambut pirang itu secara perlahan dan terkadang menggerakkan nya seperti apa yang ia inginkan.


Tak lama hingga membuat pria itu mengeluarkan suara yang sedikit meninggi dan berat.


Anna beranjak bangun, mengusap bibir nya yang basah dan kemudian menatap ke arah pria di depan nya.


Ia memeluk nya dan mendorong nya pelan agar mengarah ke kursi kerja itu sekali lagi.

__ADS_1


Lucas menarik tangan wanita itu dan kemudian membuat nya duduk di atas pangkuan nya seperti sebelum nya namun saat ini kedua nya saling terhubung.


Anna menatap ke arah pria itu, tak ada rasa malu saat melakukan hal yang sudah biasa bagi nya.


30 menit kemudian.


Pria itu mengusap rambut yang basah karna keringat itu dan wanita yang terlihat lemas di atas pangkuan nya.


Ruangan kerja itu kembali tenang, tak ada suara yang saling beradu ataupun er*ngan yang memenuhi nya.


Ia masih memeluk nya, ekor mata nya menatap ke arah teh yang di buatkan dan belum sempat ia minum karna tadi menenangkan istri nya yang sedang menangis dan kemudian berakhir dengan kecupan cinta yang membuat keringat.


"Luc? Kita bisa tidur sekarang? Kamu kan bisa sambung pekerjaan kamu besok..." ucap Anna lirih saat napas nya mulai kembali teratur.


"Ya," jawab Lucas singkat sembari mengangkat gelas yang berisikan teh buatan sang istri.


"Luc? Kamu bisa minum teh nya besok. Sekarang..."


"Sekarang sudah dingin, jadi besok saja di minum..."


Anna mengucapkan nya dengan lirih, ia merasa lebih buruk dari seorang monster namun ia sendiri juga tidak tau kapan harus berhenti.


Cara untuk menghentikan diri nya sendiri, terasa begitu sulit dan tak bisa ia ketahui.


"Tidak, kau sudah membuat nya. Lagi pula kapan lagi kau akan membuatkan teh untuk ku kan?" tanya Lucas karna ia tau istri nya tak pernah sepeka itu untuk membuatkan nya minuman atau menyambut dengan teh hangat sebelum nya.


Ia menyesap nya sampai habis dan kemudian meletakkan kembali gelas yang sudah kosong itu.


Anna tak mengatakan apapun, ia tau walaupun tak melihat nya jika pria itu meminum semua teh yang baru saja ia buat saat ini.


"Aku akan selalu membuatkan nya untuk mu, jadi..."


"Tidak apa-apa kalau tidak meminum nya hari ini..."


Suara yang terdengar begitu lirih dan sangat pelan itu namun sampai ke telinga pria yang saat ini memang sedang berpelukan dengan nya.


Lucas tak mengatakan apapun, ia mengecup pipi gadis itu dan mengambil mantel tidur yang memang di gantung di ruangan kerja itu selain kamar nya.


"Kita tidur," ucap Lucas yang hanya mengambil kemeja besar nya untuk menutup tubuh sang istri dan kemudian membawa nya ke kamar.


......................


Skip


Apart.


Wanita itu menatap ke arah seseorang yang tampak memikirkan sesuatu itu.


"Kamu mikirin apa?" tanya Samantha yang beranjak memeluk pria yang bersama nya saat ini.


Walaupun ia tak lagi trauma seperti saat pertama kali ia di culik namun tetap saja jika tak ada pria itu ia tak berani keluar dari apart nya.


"Sam? Bagiamana? Obat nya sudah di berikan pada mu?" tanya Diego yang menangkap tangan kecil wanita itu dan melihat ke arah nya.


"Sudah," jawab Samantha singkat karna memang saat ini mereka sedang menjalani program kehamilan.


"Kamu kenapa diam aja? Ada masalah di pekerjaan kamu?" tanya wanita itu mengulang.


Diego menggeleng, "Tidak ada, hanya ada sedikit yang menganggu tapi kau tidak perlu memikirkan nya."


"Apa sih? Aku jadi makin penasaran tau!" ucap Samantha yang tentu tak bisa membiarkan hal itu begitu saja.


Ia merasa tak cukup cantik atau pun pantas untuk bersama dengan pria itu apalagi dengan latar belakang dan masa lalu nya yang pernah terjun ke dunia malam.


"Tidak ada, aku hanya memikirkan sepupu ku, kau tau kan? Atasan ku." ucap Diego yang menarik tangan wanita itu dan membuat nya duduk di atas pangkuan nya.


"Dia kenapa? Dia jahat sama kamu?" tanya wanita itu yang tampak menatap dengan mata mengernyit.


Diego tertawa kecil, ia mengecup pipi yang lembut itu dengan gemas.


"Tidak, dia tidak jahat tapi menyebalkan."


"Untung saja aku melihat mu setiap pulang kerja jadi tidak terasa terlalu penat," ucap nya dengan senyuman dan tawa kecil.


Samantha tak mengatakan apapun, ia menangkup dan memegang wajah pria itu dengan kedua tangan nya.


"Cium nya di sini dong, masa di situ..." ucap nya yang memanjukan bibir nya seperti memberikan suatu kode.


Diego tertawa kecil dan kemudian melihat mengecup bibir yang terasa lembut dan manis itu.


Ia memang tak memberikan pernikahan namun ia sudah memberikan semua yang bisa ia berikan untuk wanita yang saat ini berada di dalam pelukan nya.


"Aku mau punya anak kembar!" ucap Samantha saat melepaskan ciuman nya.


"Kembar? Bukan nya lebih baik yang satu saja dulu? Kalau kondisi mu memang sudah benar-benar membaik maka kita bisa membahas nya pada dokter." ucap Diego yang menatap ke arah sang kekasih.


"Kamu memang nya mau punya anak betapa?" tanya Samantha yang memandang dengan bingung.


"Berapapun yang kamu mau, kan nanti yang akan hamil dan memberikan asi itu kau, jadi kau yang membuat pilihan." ucap Diego yang tau dia hal itu tak bisa di lakukan bersama.


Mungkin hamil dan menyusui bisa di gantikan oleh orang lain namun tak semua ibu ingin bayi nya di rahim wanita lain.


"Kalau aku mau lima?" tanya Samantha yang semangat sembari menunjukkan semua jemari nya di tangan kanan nya.


Diego mengangguk, "Kalau kamu bisa tahan hamil sama melahirkan, tidak apa-apa."


"Kalau aku mau nya cuma satu atau dua?" tanya Samantha yang menatap ke arah sang kekasih dengan mata yang gemerlap menatap dengan penuh penasaran itu.


"Tidak apa-apa, dia bisa menemani mu kalau aku sedang bekerja." jawab Diego yang santai sembari mengusap kepala wanita nya.


"Kalau aku ga mau punya anak sama sekali? Cuma mau ikut program nya aja?" tanya Samantha mengulang.


"Kalau begitu kita bisa pacaran terus setiap hari," jawab Diego yang tetap mengatakan hal yang manis sesuai dengan apa yang akan ia lakukan.


"Kalau aku mau ninggalin kamu terus nikah sama pria lain gimana?" tanya wanita itu yang keluar dari topik awal.


Diego menghentikan tangan nya, ia menatap ke arah wajah wanita di depan nya.


"Itu juga pilihan mu, kalau kau mau berhenti dengan ku, kau bisa pergi kapan saja kau mau." ucap nya yang tak lagi mengusap kepala wanita yang duduk di pangkuan nya saat ini.


"Harus nya kamu tahan aku? Kamu bilang kamu cinta kan sama aku? Masa kamu bisa lepas aku mudah aja kayak begitu?!" tanya Samantha yang terkadang ia ingin pria di depan nya sedikit posesif.


"Kalau kau ingin pergi aku tidak bisa menahan mu, tapi kalau kau tetap bersama ku aku tidak akan mengkhianati mu dan aku harap aku juga tidak akan di khianati."


"Aku tidak mau terjebak di hubungan yang akan membuat kita saling menekan satu sama lain," sambung nya lirih yang menatap ke arah wanita itu.


Samantha diam sejenak, ia tak mengatakan apapun lagi lagi mulai memeluk pria itu dengan erat.


"Iya! Maaf..." ucap nya yang merangkul bahu kokoh itu dengan erat.

__ADS_1


Diego tak mengatakan apapun, ia memeluk tubuh kekasih nya dan mengusap punggung nya dengan pelan.


"Aku lihat kau buka beberapa website kampus? Kau mau kembali kuliah?" tanya Diego saat memeluk tubuh wanita itu.


"Iya, tapi di kampus ga ada kamu..." jawab Samantha yang memang ia ingin namun masih terbesit ketakutan di dalam diri nya.


"Nanti aku yang jemput, kalau kamu mau kuliah lagi tidak apa-apa." ucap Diego yang menatap ke arah wanita itu.


"Kau masih muda, cita-cita juga pasti ada kan? Kau bisa melakukan semua yang kau mau, aku akan mewujudkan nya untuk mu." sambung pria itu dengan nada dan pembawaan yang lembut.


Tak heran ia dulu memiliki banyak mantan kekasih yang jatuh hati pada nya karna sikap nya itu.


Samantha diam sejenak dan kemudian menatap ke arah pria itu dengan wajah yang cemberut.


"Kamu bilang manis gini cuma sama aku kan? Ga sama perempuan lain juga?" tanya nya yang selalu merasa cemburu untuk hal-hal yang bahkan tak pernah terjadi.


"Iya! Cerewet!" ucap Diego tertawa.


Samantha tak mengatakan apapun lagi, walaupun ia cemberut namun tak membenci apa yang di katakan pria itu.


......................


Tiga hari kemudian


Mansion Damian.


Anna duduk di bangku di taman yang luas itu, bunga yang selalu bermekaran setiap musim semi dan beberapa bunga yang tetap akan bermekaran bahkan di musim salju sekalipun.


Aroma yang wangi itu mengelilingi indera penciuman nya, ia menatap ke arah semua file foto yang berada di dalam iPad nya beserta dengan Poto cetak yang ada di tangan nya.


Mata nya melihat ke arah kedua foto yang di ambil di tempat berbeda itu.


Anna menarik napas nya dan melepaskan benda pipih yang canggih itu lalu menatap ke arah lembaran foto yang di ambil beberapa hari lalu di taman hiburan.


Ia tersenyum tipis, melihat ekspresi datar pria yang tampak dingin saat melakukan foto box.


Mata nya melirik ke arah foto di dalam iPad nya sekali lagi.


Ia mulai mengedit nya, mencoba sesuatu yang tak bisa di lakukan di dunia nyata lalu mengubah nya.


Ia memisahkan beberapa foto antara ia dan putra nya dengan foto yang di ambil di beberapa acara formal dengan ia dan suami nya.


"Sedikit lagi..." gumam nya lirih sembari menggeser potongan dari editan foto anak kecil itu agar terlihat berada di depan ia dan suami nya.


Anna tersenyum tipis melihat potret keluarga yang tak pernah di lakukan di kenyataan itu bahkan di pernikahan nya sekali pun Lucas tetap tak membiarkan anak kecil itu ikut untuk berfoto bersama dengan nya dan sang istri.


Ia pun kemudian berbalik memanggil pelayan yang selalu tak berada jauh dari nya.


"Cetak ini," ucap nya yang memberikan perintah untuk mencetak foto keluarga yang sudah ia edit barusan.


...


Pukul 10.35 pm


Lucas kembali cukup lama hari ini karna masih ada beberapa pekerjaan yang tak bisa ia hindari.


Mata nya mengernyit, menatap ke arah foto yang berada bersamaan di samping foto pernikahan nya.


"Ini? Dia mengedit nya?" gumam Lucas yang yang menatap ke arah foto yang bahkan tak pernah terjadi itu.


Ia mengambil nya, dan melihat nya sejenak, hanya ada satu senyuman cerah di salah satu wajah yang tampak begitu cantik itu.


Sedangkan ia dan putra nya memiliki wajah yang datar seperti tak merasakan apapun.


"Tidak, seharus nya kau tidak ada..." ucap nya yang menutup wajah putra kecil nya dan hanya melihat ke arah foto nya dengan sang istri saja.


Klek!


"Luc? Ka-"


Prang!


Foto yang berada di dalam pegangan nya itu terlepas dan kemudian jatuh membuat semua kaca yang berada di dalam pecah.


"Ukh!"


Lucas tersentak, bagian perut atas nya begitu terasa nyeri sampai membuat tangan nya gemetar.


"Luc? Kamu..."


Anna terkejut, ia berjalan mendekat pada pria yang tampak tengah merintih dengan suara yang tertahan itu.


Ia mencoba memegang tangan nya seperti ingin membantu agar pria itu tak jatuh.


Tak!


Deg!


Satu tepisan yang kuat membuat Anna tersentak, pria itu tak pernah menolak sentuhan nya sama sekali.


"Keluar," ucap Lucas singkat karna ia tak suka jika seseorang melihat nya lemah.


Seperti sesuatu yang tampak seperti aib jika ia menunjukkan kelemahan nya pada orang lain tanpa ia sadari jika semua orang boleh merasa lemah dan tak harus kuat untuk selama nya.


"Luc? Kamu-"


"Keluar!" bentak nya sekali lagi dan membuat seluruh ruangan itu bergema.


Deg!


Deg!


Deg!


Anna terdiam, ia membatu untuk beberapa saat seperti dengan meloading sesiatu karna sekarang pria itu sangat jarang meninggikan suara pada nya.


"Ma.. maaf..." ucap Anna lirih yang kemudian berbalik dan pergi meninggalkan sang suami di dalam ruangan nya seperti apa yang di minta barusan.


Suara pintu itu tertutup, Lucas menatap nya sekilas dan dengan napas yang terasa sesak dan langsung berlari ke kamar mandi nya.


Hoek!


Perut nya kembali merasa mual, rasa tak nyaman yang tak tertahankan sama sekali.


Setelah memuntahkan semua nya, ia pun membasuh mulut nya sekilas.


Bruk!


"Ukh!"

__ADS_1


Pria itu merintih, rasa sakit memang sedikit tawar untuk nya namun jika ia sudah sampai merasakan 'sakit' maka tentu hal tersebut akan berkali-kali lipat di bandingkan dari orang normal lain nya.


__ADS_2