
Gadis itu menutup telinga nya, ia bersembunyi di lemari agar tak terlihat.
Kali ini seseorang yang mengatakan akan membuat nya kembali tersenyum lagi kini mulai tak menginginkan nya.
"Kau yang pilih anak cacat itu kan?!" suara yang terdengar ribut sembari menyebutkan seseorang.
"Kata nya dia bisa bicara!" sambung salah satu nya.
"Tapi sekarang mana? Sudah satu bulan tapi dia tidak bicara apapun! Belum lagi wajah nya itu tidak punya ekspresi apapun seperti mayat!" ucap wanita itu yang merasa kesal.
"Gimana mau urus anak yang begitu? Buat tambah susah saja!" sambung nya yang masih mengeluh.
"Jangan kasih dia makan apapun hari ini, sampai dia minta baru kasih!" ucap pria itu yang juga kesal.
Mengadopsi anak memang bukan masalah yang mudah, namun beberapa orang terpikat dengan penampilan terlebih dahulu.
Dan saat seseorang yang memiliki penampilan memikat namun tak memenuhi ekspetasi tentu akan membuat seseorang menjadi lebih kesal.
Gadis kecil itu menutup mata nya, walaupun ia tak bisa mengeluarkan satu kata pun dari mulut nya dan tak bisa memberikan ekspresi namun bukan berarti ia tak merasakan apapun.
Buliran bening jatuh dari mata biru nya membasahi pipi nya, gadis kecil itu menangis tanpa suara di tempat yang tidak di ketahui.
Aku belum makan nya dari semalam...
Aku bukan anak cacat...
Aku bisa bicara...
Ia tak bisa mengatakan apapun untuk saat ini, trauma berat yang di tinggalkan setelah percobaan pembunuhan nya beserta dengan adegan bunuh diri sang ibu yang di perlihatkan langsung di depan mata nya membuat nya begitu syok sampai mengalami afasia.
Gangguan yang membuat nya tak bisa berkomunikasi semana mesti nya, ia juga ingin bicara secara normal namun suara nya selalu tertahan di tenggorokan nya.
Perut nya berbunyi menahan lapar namun ia tak bisa mengatakan nya saat suara nya yang memang tak mau keluar sama sekali.
...
Satu Minggu kemudian
Tangan mungil itu kembali di gandeng memasuki area panti asuhan yang sebelum nya menjadi tempat tinggal nya, ini adalah yang ketiga kali nya seseorang mengantarkan nya ke sana.
"Kami pikir kami tidak bisa merawat, kami merasa kami tidak pantas merawat nya." ucap salah satu dari orang tua adopsi yang mengantarkan anak malang itu.
Jangan buang aku lagi...
Harapan nya masih ada menginginkan keluarga namun ia yang tak bisa mengatakan nya sama sekali.
Kepala panti melirik iba ke arah arah kecil yang menangis itu.
Orang tua angkat yang hanya bertahan beberapa bulan itu pergi lagi, kepala panti pun berjongkok menatap tangisan anak kecil tanpa suara yang menunduk.
"Tidak apa-apa, di sini rumah kamu juga..."
"Semua sayang sama kamu, dan kamu juga harus sayang sama diri kamu juga." ucap nya yang memegang tangan mungil yang Bash karna tangisan itu.
Gadis kecil itu merasakan pelukan dari wanita yang sudah cukup tua itu bahkan bisa di katakan sudah sangat tua untuk menjadi kepala panti asuhan anak-anak yang tak memiliki orang tua itu.
......................
JNN grup
Pria itu menatap ke arah ruangan yang menampilkan proses operasi kedua pergantian chip yang akan di taman di tubuh manusia itu.
Penanaman nya kali ini di lakukan di tempat yang berbeda namun masih berada di bagian punggung gadis yang tau tau apapun mengenai tubuh nya itu.
"Berapa persen pengurangan radiasi nya?" tanya nya pada salah satu peneliti yang berada di samping nya.
"Radiasi nya lebih rendah 15,45 % Sir dari chip 071" ucap nya yang mengatakan kode chip yang sebelum nya.
Lucas tak mengatakan apapun lagi, chip yang baru hanya bisa di pakai untuk mengetahui lokasi dan menyadap pembicaraan namun terbatas di luas zona.
Itu berarti jika gadis itu berada di tempat yang jauh dari nya melebihi batas maksimum maka chip itu tak akan bisa menyadap pembicaraan apapun namun masih bisa melacak lokasi di mana pun berada.
"Apa tidak ada yang tidak punya radiasi?" tanya nya menoleh ke arah sang peneliti.
"Kami masih berusaha Sir!" jawab sang peniliti itu karna ia tau tak ada chip yang tidak menimbulkan radiasi, bahkan jika hanya pelacak pun tetap akan memberikan radiasi karna di aktifkan dari jarak jauh.
Lucas tak lagi bertanya, ia hanya melihat kembali ke arah proses dari operasi gadis nya itu.
...
Dua hari kemudian
Mata biru itu kembali terbuka, anestesi yang di berikan memang di atur untuk menyadarkan nya dalam waktu 48 jam walau sebenar nya ia bisa bangun di waktu kurang dari 24 jam.
Hal itu di lakukan agar gadis itu tak mengetahui operasi yang di lakukan pada nya.
"Kenapa aku di sini lagi?" gumam nya lirih yang bingung.
Padahal sebelum nya ia yakin tengah memakan puding di kamar nya namun ia merasa begitu mengantuk dan tak tau lagi apa yang terjadi.
"Kau sudah bangun? Kau pingsan di kamar mu." jawab Lucas yang duduk di sofa yang di sediakan di kamar gadis itu.
Dan tentu ia membangun cerita seperti itu agar ketika gadis itu bertanya ia sudah memiliki jawaban nya.
Anna tersentak, ia tak tau pria itu akan berada di kamar nya.
"Sir?" panggil nya lirih menatap ke arah pria yang tengah melipat kaki nya bak raja lalu menatap nya dengan mata yang selalu dingin.
"Kau butuh sesuatu?" tanya Lucas menatap ke arah gadis itu.
__ADS_1
Anna menggeleng, "Saya pingsan? Kenapa saya pingsan?" tanya nya yang mengulang dan ingin mendengar penjelasan lebih lanjut.
"Ya, kau pingsan. Mungkin karna kebanyakan makan," jawab nya melangkah mendekat ke arah gadis itu.
Mata biru itu mengikuti langkah yang mendekat ke arah nya sampai menatap lurus ke arah pria yang berdiri di samping ranjang nya.
"Apa aku harus memanggil mu anak babi sekarang? Dari pada cumi-cumi? Kau sekarang sudah semakin besar." ucap nya nya sembari memegang pipi lembut gadis itu.
Anna langsung mengernyit, baru saja ia terbangun namun pria itu memberikan julukan yang menaikkan emosi nya.
"Saya punya nama Sir! Panggil saya dengan nama saya! Bukan nama seperti itu!" ucap nya yang berani memarahi pria itu.
Entah karna pengaruh bius yang membuat nya berani berkata demikian namun yang jelas ia membantah perkataan pria itu.
"Anna?" panggil nya tiba-tiba yang membuat gadis itu tersentak.
Mungkin ini yang kedua kali nya? Ia di panggil dengan nama nya kecuali saat berbicara dengan biodata yang sekaligus menyebutkan nama.
Deg!
"He? Iya?" jawab nya yang terdengar canggung.
Pria itu menunduk, mata biru itu menatap nya dari dekat, mungkin bayangan nya terpantul namun ia saja tak bisa melihat wajah nya seperti apa.
Tangan nya yang besar itu memegang pipi yang terasa dingin dan pucat itu, ia mendekat ke pipi yang semakin bulat semenjak gadis itu tinggal dengan nya.
Cup!
"Cepat bangun dan bermain dengan ku lagi, Nona Maurenne," bisik nya sesaat setelah mengecup pipi gadis itu.
Blush!
Mata biru itu membulat, semenjak kapan pria itu bisa bersikap lembut dengan nya?
Terlebih lagi kali ini menyebutkan nama belakang nya yang terdengar berbeda dari biasa nya?
Lucas mengangkat wajah nya, ia menatap gadis yang terlihat terdiam itu dan pipi yang terlihat memerah.
"Seperti nya ada yang salah dengan operasi nya," gumam nya mengernyit melihat wajah yang memerah itu.
"Kau sakit lagi?" tanya nya yang bingung menatap gadis itu.
"Hah? Ya?" Anna tersentak ia kembali fokus dan menatap ke arah pria yang memanggil nya.
"Kau sakit lagi? Seperti nya ada yang salah dengan mu?" tanya Lucas yang bingung melihat wajah yang tampak memerah itu.
"Ti..tidak! Sa..saya mengantuk!" jawab gadis itu yang langsung menarik selimut nya dan membelakangi pria yang berdiri di samping ranjang nya itu.
Lucas mengernyit, gadis itu membelakangi nya dan membuat nya seperti di abaikan.
"Kau ben-"
Lucas diam sejenak dan melihat ke arah jam tangan nya yang memang menunjukkan waktu ia harus kembali ke ruangan nya lagi untuk menyelesaikan pekerjaan nya.
Anna diam dan mendengar suara langkah kaki yang menjauh dengan pintu yang tertutup kembali.
"No..nona Maurenne, memang nya di..dia siapa manggil aku begitu..." gumam nya lirih dengan wajah yang memerah.
......................
Sekolah
Gadis remaja itu menyandarkan kepala nya ke meja nya, ia menghembuskan napas nya dengan kasar nya.
"Kamu masih bertengkar sama Anna ya?" tanya nya yang menatap ke arah teman nya itu.
"Gimana sih cara nya biar Anna mau baikan lagi?" tanya nya lirih yang merasa risau karna teman nya itu kini tidak datang bahkan tak memberi tau nya apapun.
"Memang nya kamu buat salah apa sih Sam? Anna kan jangan marah," ucap Sena pada gadis itu.
Samantha tak bisa mengatakan nya karna ia mengingat sang ayah menampar teman nya itu.
"Pokok nya ada," jawab gadis itu yang menghindar tak mengatakan nya.
......................
Deft Grup
Pria itu tersentak, ia menatap ke arah atasan nya yang tiba-tiba memberikan nya surat pemberhentian kerja.
"Saya melakukan kesalahan apa sampai di pecat seperti ini?" tanya Mr. Harris yang bingung melihat pemecatan tidak hormat yang di berikan pada nya.
"Kau bisa lihat, kau melalaikan tugas." ucap atasan pria itu yang mengatasnamakan kesalahan kecil untuk memecat salah satu pegawai nya.
Ia juga tak mengerti mengapa petinggi nya menyuruh nya untuk memecat pria yang sudah memiliki jabatan kepala manager itu.
"Tidak! Saya tidak terima! Saya akan tuntut!" ucap Mr. Harris yang terdengar tak terima dengan keputusan sepihak itu.
"Silahkan saja, kami juga akan menyiapkan tuntutan kembali untuk mu." ucap nya pada pria itu.
Mr. Harris tak bisa mengatakan apapun, ia sudah di suruh keluar dari ruangan atasan yang baru saja memecat nya itu.
"Ada apa dengan mereka!" ucap nya yang merasa kesal.
......................
Rumah Samantha
Gadis itu melihat makan malam nya, ia menatap kedua orang tua nya yang tampak tak begitu akrab seperti biasa nya.
__ADS_1
"Kau tadi membeli tas lagi?" tanya Mr. Harris sebelum memakan makanan nya.
Mrs. Laura melirik, ia menatap sang suami. Ia juga bekerja namun ia menggunakan uang yang ia hasilkan untuk diri nya sendiri dan juga tetap memakai uang suami nya saat ingin membeli barang yang mahal.
"Tas ku sudah banyak yang usang," ucap nya pada sang suami.
"Kamu tuh boros banget sih? Harus nya kamu bisa hemat!" ucap pria itu yang merasa frustasi namun tak bisa mengatakan ia baru saja di pecat dari pekerjaan nya.
"Loh? Itu kan tugas kamu sebagai suami harus memenuhi kebutuhan istri sama anak kamu kan?" jawab Mrs. Laura pada pria itu.
"Memang nya tas kebutuhan wajib? Tas kamu masih banyak kan?" tanya Mr. Harris lagi karna sang istri membeli tas dengan harga yang cukup tinggi untuk taraf ekonomi yang mereka punya.
Samantha terdiam, ia tak bisa memakan makanan nya jika mendengar orang tua nya bertengkar di meja makan.
"Ma? Pa? Mama sama Papa kenapa?" tanya nya lirih yang menatap kedua orang tua nya yang biasa nya harmonis kini tampak sedikit merenggang.
"Tidak apa-apa, kamu makan dulu." ucap Mr. Harris yang melembutkan suara nya jika bicara dengan sang putri.
"Papa ga mak-"
"Aku makan di luar, pusing lihat kamu!" ucap nya pada sang istri yang tak sempat mendengar mendengar ucapan putri nya.
Mrs. Laura pun tampak kesal saat sang suami pergi dari meja makan. Ia pun meletakkan sendok nya dengan kasar dan bangun juga.
Samantha terdiam, pertama sang ayah pergi dan sekarang sang ibu pun pergi.
Gadis itu terdiam namun ia tetap mengangkat sendok nya dan makan malam nya secara perlahan dengan tangan yang terasa berat memasukkan makanan ke dalam mulut nya.
......................
Mansion Damian
Mata biru itu membulat, ia kembali setelah tiga hari menjalani pengobatan yang bahkan ia tak tau apa yang di obati dari diri nya yang tidak terasa sakit sama sekali.
Dan saat kembali betapa terkejut nya ia ketika melihat timbangan berat badan nya.
"Akh!" gadis itu menutup mulut nya tak percaya.
Orang-orang bilang saat tertekan batin maka berat badan akan menurun dan lebih kurus.
Namun apa jadi nya saat seseorang mengalami tekanan batin bersamaan dengan makanan yang harus masuk ke dalam mulut nya setiap hari?
"Naik 6 kilo?" gumam nya yang tertawa seperti orang bodoh.
Ia bukan lah tipe yang mudah menaikkan berat badan nya namun kini terlihat sangat mudah.
Suara ketukan pintu terdengar di kamar nya, nampan berisi makanan datang berserta dengan pria yang ikut masuk dengan pelayan yang membawakan nampan tersebut.
"Duduk," ucap pria itu yang terlebih dahulu mengambil posisi dan menepuk sisi paha nya.
Anna menoleh, ia tau pria itu akan memberi nya makan lagi seperti babi dan mungkin sebentar lagi tubuh nya juga akan seperti babi betina yang gemuk.
"Buka mulut mu," ucap Lucas yang menyuapkan makanan ke dalam mulut gadis itu.
Anna menatap cake yang lezat itu seperti menatap seorang musuh.
"Sir? Bagaimana kalau anda yang coba lebih dulu?" tanya nya sembari menangkap garpu yang tengah berisi cake dengan cream nya.
"Nah, buka mulut nya Sir!" ucap nya dengan tersenyum cerah menatap pria itu.
Lucas tak menjawab, mata biru yang bersinar kini kembali ke pangkuan nya lagi, ia membuka mulut nya dan menerima makanan yang di berikan gadis itu pada nya.
"Enak?" tanya Anna pada pria itu.
Lucas tak menjawab namun ia menatap gadis yang tengah melihat nya dan bercerita.
"Ini warna nya sama seperti mata saya Sir, biru nya lebih gelap." ucap nya yang menunjuk salah satu cream warna nya.
"Yang ini?" tanya Lucas yang menatap sembari menunjuk salah satu sepotong kue penuh cream yang tampak tak berwarna itu.
"Ini? Warna nya seperti bibir saya." ucap Anna yang menerangkan nya dengan senang hati agar pria itu mampu melihat dengan normal dan melepaskan nya suatu hari nanti.
"Bibir?" tanya Lucas mengernyit.
"Ya, Sir! Anda mau coba?" tanya Anna mengulang dengan semangat dan ingin membuat pria itu yang menghabiskan cake nya.
"Hm," jawab pria itu singkat dengan tanpa ekspresi.
Anna pun langsung beranjak mengambil nya mengunakan garpu cake itu namun tangan nya tertahan.
Greb!
"Sir?" panggil nya yang bingung melihat pria itu menahan tangan nya.
Lucas tak mengatakan apapun namun ia tersenyum tanpa sadar dan membuat Anna tau jika itu adalah senyuman membawa petaka.
"Ya, aku mau mencoba nya." ucap nya yang mengambil cream itu dengan tangan nya sendiri dan mengoleskan nya di dekat bibir merah muda gadis itu.
Anna tersentak, pria itu tak mencium nya ataupun menghisap bibir nya, melainkan menj*lat cream yang di oleskan di dekat bibir nya.
"Kau benar, kali ini rasa nya lebih enak." ucap pria itu yang mengambil sedikit cream dan cake yang berada di atas meja dan kali ini mengoleskan nya ke leher gadis itu lagi.
"S..sir..." panggil Anna lirih saat merasa geli akan sapuan hangat lidah pria itu di leher jenjang nya.
Lucas tak menjawab, namun ia tangan nya menyingkap piyama tidur gadis itu dan mengusap paha nya yang terasa mulus itu.
"Sst..."
"Follow me, my good girl..." bisik nya di telinga gadis itu saat cream nya sudah habis.
__ADS_1