Calm Down! Mr. Psycho!

Calm Down! Mr. Psycho!
Pendiam?


__ADS_3

Rumah sakit


Gadis itu kini telah terbangun, tak ada sepatah kata pun yang ia keluarkan selain bersikap ketakutan saat melihat seseorang dan benda tajam.


"Sam?"


Seseorang memanggil nya namun ia tak mendengarkan sama sekali. Tubuh itu tetap memandang lurus tanpa arah dan tak peduli.


"Dokter bilang kau menolak pengobatan nya lagi? Mereka tidak akan menyakiti mu,"


Pria itu duduk di pinggir ranjang yang sama namun saling membelakangi.


"dr. Cecil bilang kau sudah membaik, apa kita perlu keluar bersama nanti?" tanya pria itu yang mencoba berbicara.


Setelah peristiwa yang benar-benar mengejutkan itu kini gadis itu trauma. Orang asing, benda tajam, dan suara gemerincing.


"Sam? Kau masih tidak mau bicara?" tanya Diego lagi yang melihat ke arah gadis yang tetap diam itu.


"Kamu itu siapa sebenarnya?"


Suara lirih itu kini terdengar, gadis itu merasa takut. Awal nya ia tak memikirkan nya namun setelah ia pikirkan lagi bagaimana mungkin pria itu bisa membawa nya dengan mudah.


Memang semua pembicaraan terdengar samar karna rasa sakit nya namun setidak nya ia tau yang menculik nya tak melukai pria yang membantu nya itu.


"Maksud mu?" tanya Diego mengernyit yang kemudian berjalan ke depan gadis itu.


Samantha tersentak, tangan dan tubuh nya langsung gemetar seketika.


"Pergi! Ja.. jangan mendekat! Kau bagian dari mereka! Kalian itu sama! Jangan!"


Diego mengernyit, gadis itu berteriak ketakutan pada nya.


"Sam?"


"Sam!"


Pria itu memegang kedua sisi bahu gadis itu dan menatap nya.


"Tidak apa! Ini aku! Aku pernah menyakiti mu?" tanya nya yang memegang lengan gadis itu memaksa untuk mebuka mata yang tertutup karna takut itu.


Samantha masih menangis namun ia membuka mata nya perlahan dan melihat seseorang yang berada di depan nya.


"Lihat? Aku menyakiti mu sekarang?" tanya Diego lagi pada gadis itu.


Tak ada balasan, suara tangisan lirih yang terdengar untuk waktu yang cukup lama.


......................


Satu bulan kemudian


Hiddensee


Bayi mungil itu kalo ini sedang tenang, tak menangis atau pun rewel lagi bahkan saat sang ibu memandikan nya.


"Kau memberi nya nama Estelle Maurenne?" tanya Camilla yang datang dan memberikan handuk untuk mengusap tubuh mungil itu.


"Ya, apa nama itu jelek?" tanya Anna yang menatap dengan mata yang bingung.

__ADS_1


"Tidak, hanya saja mirip dengan nama bayi perempuan." ucap Camilla yang menatap ke arah bayi laki-laki yang tampan dengan hidung mancung itu.


"Tapi aku suka," jawab Anna sembari mengecup kepala putra nya.


Ia tak bisa memberikan nama belakang ayah kandung dari putra nya.


Dan ia pun tetap ingin jika putra nya memiliki nama belakang dari keluarga dan hal itu lah yang membuat nya mengambil nama belakang nya.


"Tidak apa kalau begitu, dia juga pasti akan suka kalau ibu nya juga suka dan bahagia." ucap Camilla yang mengambil bayi mungil itu.


"Bi? Apa aku akan jadi ibu yang buruk?" tanya Anna lirih karna ia memang terkadang sulit mengatur emosional nya apa lagi jika bayi nya sedang rewel.


Camilla diam sejenak, memang sulit untuk seseorang yang tiba-tiba mengasuh seorang anak sendirian.


"Tidak, kau ibu yang baik." ucap nya yang tak bisa menyalahkan gadis itu dengan mudah.


"Dan di sini juga pasti akan banyak yang menggoda mu, kau masih muda, cantik dan membesarkan seorang anak sendirian." ucap nya yang mengatakan sedikit realita pada pandangan orang tua tunggal.


"Lagi pula kemana pun aku pergi pasti akan ada saja yang seperti itu." ucap Anna lirih dengan senyuman tipis.


......................


Skip


Dua bulan kemudian


San Fransisco


Gadis itu hanya diam, seseorang membawa nya keluar dari negara kelahiran nya ke tempat lain.


"Jangan lihat aku, aku seperti monster..." ucap nya lirih yang menatap ke arah pria itu.


"Dan itu alasan kenapa kita di sini kan?" tanya Diego pada gadis itu.


"Aku masih boleh hidup? Padahal Mama Papa..." gumam nya lirih yang semakin terpuruk saat mendengar kematian ibu dan ayah nya.


"Ya, mereka sejauh itu agar kau bisa hidup," ucap nya yang memberikan sedikit penghiburan.


Gadis itu hanya diam, tak mengatakan apapun dan tak melakukan apapun.


Ia tak tau ia harus percaya atau tidak tapi yang ia sedikit tenang jika pria itu bersama nya karna merasa aman.


"Tempat ini terlalu bagus, kita akan tinggal di sini?" tanya nya yang melihat ke arah pria itu.


"Tidak, aku akan kembali ke Jerman bulan depan." ucap nya yang memang tak bisa tinggal bersama gadis itu.


"Lalu aku? Aku di sini? Sendirian?" tanya nya lirih yang masih begitu takut karna peristiwa yang membuat satu mata nya hilang itu.


"Sam? Ada yang harus ku lakukan juga, aku butuh memastikan sesuatu." ucap nya lirih.


Ia memang masih mengubungi Camilla dan belum ada tanda apapun yang di temukan oleh sepupu nya.


Namun ia harus kembali bekerja lagi menjadi bawahan pria itu untuk mengetahui segala gerak nya.


Jika bukan itu, ia bisa mencari pekerjaan yang lebih bagus lagi atau mungkin tanpa bekerja dengan seseorang ia pun sudah bisa hidup berkecukupan.


Memiliki banyak saham di beberapa perusahaan, dua club' malam yang besar, dan 15 restoran yang tersebar di negara nya.

__ADS_1


Memang tak sebanyak perusahaan yang di wariskan keluarga nya namun ia sudah memiliki yang lebih dari cukup untuk kehidupan nya sendiri.


"Aku takut..." cicit Samantha yang kali ini mudah bergantung dengan seseorang setelah kehilangan segala nya.


"Aku akan mengunjungi setiap satu bulan sekali," ucap nya sembari mengecup bibir gadis itu sekilas.


Hubungan masih ambigu, ia tak ingin memiliki hubungan yang mengikat atau merepotkan namun ia juga tak bisa membiarkan gadis yang selalu memecah fokus nya.


......................


Satu bulan kemudian


Berlin.


JNN Grup


Lucas menatap ke arah pria yang lolos uji coba wawancara untuk sekertaris.


"Kau masuk sebagai sekertaris baru tapi kau itu sebenarnya sekertaris lama." ucap nya yang menatap ke arah pria itu.


"Mau bagaimana pun aku sampai di sini dengan proses yang adil," ucap nya yang menatap ke arah sepupu nya.


"Kenapa kau sangat ingin bekerja dengan ku? Bukankah seharus nya sulit? Aku adalah orang yang mengambil mata kekasih mu." ucap Lucas yang heran.


Diego diam sejenak, ia perlu bekerja di bawah perintah sepupu nya untuk mengetahui pergerakan nya.


"Berikan aku satu kesempatan lagi, aku tidak akan memberi komentar apapun lagi dan aku juga tidak memiliki dendam pada mu." ucap Diego sekali lagi.


"Alasan yang sebenarnya," ucap Lucas sekali lagi.


Diego menarik napas nya, "Okey! Aku seperti ini karna terlibat hutang 20 juta dollar! Sekarang kau tau?"


"Semua harga properti mu memiliki nilai yang lebih dari itu, kau punya alasan kenapa ingin bekerja dengan ku padahal kau punya kesempatan yang lebih baik di tempat lain," ucap Lucas dengan mata menyelidik.


"Aku tidak bisa jauh dari mu, Maaf..."


"Ini perasaan yang aneh..." ucap nya lirih yang menarik napas nya dan menatap ke arah pria itu mengatakan kebohongan nya namun kali ini tetap meyakinkan.


"Itu menjijikan, tapi kau memang cukup berguna." ucap Lucas dengan wajah yang tampak geli.


"Aku di terima kembali?" tanya Diego sekali lagi.


"Kalau kau bisa meningkatkan harga saham selama tiga bulan percobaan," ucap Lucas.


......................


Skip


Dua tahun kemudian.


Anna tersentak, ia segera berlari dan membangunkan putra nya yang terjatuh.


Wajah anak kecil itu tak menangis, ia hanya melihat ke arah luka nya dengan mata yang datar.


"Sayang? Kenapa bisa jatuh?" tanya nya yang menatap dengan khawatir.


Tak ada balasan apapun, mungkin karna ia dulu sering memarahi putra untuk diam dan sekarang putra nya benar-benar menjadi pendiam.

__ADS_1


Anna tak lagi bertanya, ia menggendong tubuh mungil putra nya itu dan membawa nya ke dalam rumah nya.


"Kita obati dulu luka nya," ucap nya yang sembari membawa anak menggemaskan itu.


__ADS_2