Calm Down! Mr. Psycho!

Calm Down! Mr. Psycho!
Gelang


__ADS_3

Mansion Damian.


Anna kini kembali menginjak mansion mewah itu, ia sudah bisa berjalan seperti sebelum nya.


Senang? Sudah pasti!


Tak ada pembicaraan bulan madu karna pria itu sangat takut membawa nya keluar. Tak ada kepercayaan sehingga membuat nya ingin terus mengurung nya.


Malam yang panjang yang melelahkan dengan pernikahan pertama yang baru pertama kali ia lakukan.


Memakai gaun yang indah dan pertama kali menjadi bintang di seluruh pusat perhatian.


"Kau suka makanan nya tadi? Kalian makan dengan banyak," ucap Lucas sembari mengusap punggung licin gadis yang terkena sabun.


Ia melihat Anna dan juga Estelle yang makan beberapa dessert yang berada di pesta nya sendiri.


Dan jujur ia tak terlalu senang, bukan tak senang makanan pesta itu di makan namun merasa cemburu dengan putra nya karna terlihat lebih dengan sang istri.


"Anna?" panggil Lucas sekali lagi saat ia tak mendengar jawaban apapun.


Lucas menoleh, menatap ke arah gadis yang bersandar di dada bidang nya saat berendam di bathup yang hangat itu kemudian tertidur tanpa sadar.


"Hah!" Lucas menghela napas nya namun ia tak membangunkan sama sekali.


Kali ini ia beranjak bangun, bangun dan kemudian membawa gadis itu dalam gendongan nya.


"Kau terlihat lelah hanya karna pesta seperti itu?" gumam nya lirih sembari mengecup bibir gadis itu sekilas ketika ia mengganti dengan piyama tidur.


......................


Apart


Pria itu menjatuhkan diri nya, napas yang masih terdengar terengah-engah di dalam ruangan kamar yang besar itu.


Ia menoleh, menatap ke arah gadis yang tampak berkeringat dan sedikit berantakan karna ulah nya itu.


"Kau bisa lepaskan yang ada di mata mu, bukan nya tidak nyaman kalau kita sedang melakukan nya?" tanya Diego yang beranjak melepaskan mata palsu itu agar gadis yang baru saja ia tiduri bisa lebih nyaman.


Samantha langsung berguling, ia menutup mata nya dan tak ingin menunjukkan nya.


"A.. Anna seperti nya tadi tidak tau. Be.. Benar sangat mirip dengan mata asli kan?" tanya Samantha yang mengatakan hal lain agar pria itu tak ingin melepas mata buatan nya lagi.


Diego hanya menarik napas nya, "Kau sudah tidak apa bertemu dengan banyak orang?" tanya nya yang tau gadis itu sempat trauma beberapa tahun setelah penculikan yang menghilangkan satu mata nya.


"Tidak apa, lagi pula aku kan bersama mu." jawab Samantha lirih.


"Kau tidak mau lepas mata itu? Terasa tidak nyaman kan? Tidak apa kalau kau mau membuka nya," ucap Diego yang menatap ke arah gadis itu.


"Tidak apa, aku merasa nyaman kok." jawab Samantha yang tetap dengan pendirian nya.

__ADS_1


Diego tak mengatakan apapun lagi, ia menatap ke arah gadis itu dan hanya bisa menghela napas nya.


Samantha juga masih diam, ia menatap ke arah pria itu.


"Kamu ga mau nikahin aku karna aku udah ga sempurna kan?" tanya nya yang menatap ke arah pria yang saat ini masih tak mengatakan apapun sama seperti nya. Hanya di balut dengan selimut tebal.


"Apa yang kau bicarakan? Kau sempurna, dan aku memang tidak mau menikah tapi aku bisa memberikan kehidupan yang sama seperti pernikahan kan?"


"Kita tinggal bersama dan kalaupun memiliki anak aku juga akan membesarkan dan mengakui nya," ucap Diego yang memang hanya tak ingin melakukan pernikahan.


"Lalu anak itu akan jadi anak mu tapi bukan anak ku, dan lagi tidak mungkin satu nama anak bisa untuk dua kartu keluarga kan?" tanya Samantha yang memang secara hukum jika ia memiliki anak nanti hanya bisa ikut masuk ke dalam kartu keluarga nya atau pria di depan nya.


Diego diam sejenak, "Yang penting dia mendapatkan hak yang sama kan?" tanya Diego sekali lagi.


Samantha diam sejenak, pria itu memang memberikan segala nya namun tidak dengan pernikahan.


Gadis itu beranjak mendekat dan memeluk tubuh bidang pria itu.


Ia tau pria itu mau menikahi nya dan ia sangat paham hal itu namun ia juga sudah terlanjur mencintai sosok itu.


Walaupun tidak mau menikah namun pria itu memperlakukan nya dengan baik, perhatian, memberikan semua kebutuhan nya, tidak pernah kasar dan juga memiliki wajah dan tubuh yang tampan.


"Ya, tidak apa..."


Ucap nya lirih yang memeluk pria itu dan kali ini ia juga mengatakan jika ia tak mau kembali ke Amerika dan ingin tinggal kembali di Jerman agar bisa sering bertemu dengan pria yang ia peluk saat ini.


......................


Satu tahun kemudian.


Makan malam bersama mulai di adakan setiap satu minggu sekali dan tentu itu semua atas permintaan Anna.


Estelle memakan semua makanan nya sembari beberapa kali menatap ke arah pria yang duduk di ujung meja dan melihat ke arah ibu nya yang duduk bersebrangan dari meja nya.


Waktu berlalu namun ia masih tak banyak bicara dengan ayah nya.


Memanggil 'Papa' seperti yang di ajarkan namun ia masih terasa canggung.


"Pa? Hmm..."


"Sebentar lagi kan Estelle mau 6 tahun tapi sampai sekarang dia belum dapat pendidikan apapun, jadi dia boleh ikut sekolah?" tanya Anna lirih yang setiap kali memanggil pria itu di depan putra nya dengan sebutan 'Papa' juga agar membiasakan.


Lucas diam tak mengatakan apapun, hanya keheningan yang mencekam.


"Kalau kau bersikap baik," jawab nya singkat dan kemudian melanjutkan makanan nya sekali lagi.


"Ya, tentu..." jawab Anna tersenyum walaupun ia sedikit gugup saat meminta sesuatu yang berhubungan dengan putra nya.


Estelle masih diam, ia melirik ke arah ibu nya yang terlihat cantik saat tersenyum namun ia masih belum bisa melatih senyuman nya.

__ADS_1


...


Anak kecil itu terus bermain di dalam kamar, walau kini sang ibu bisa berdiri dan menggendong nya namun tetap saja tak bisa membawa nya pulang.


"Ma? Gelang Mama ga bisa di buka dulu?" tanya Estelle yang menunjuk rantai di kaki ibu nya yang terus terpasang semenjak bisa berjalan.


Tentu kini Anna sudah bisa ke beberapa bagian mansion namun hal itu hanya terjadi jika Lucas ikut mengawasi.


Anna tersenyum kaku mendengar pernyataan putra nya, Ia tak mungkin mengatakan jika ia sedang di rantai, maka dari itu ia memilih untuk menggunakan kata-kata lain.


"Estelle ga suka lihat gelang Mama..."


"Mama ga bisa kemana-mana kalau ada gelang,"


Ucap Estelle yang menatap ke arah sang ibu.


Anna memeluk putra nya, ia memangku nya dan mencium nya berulang kali.


"Papa kenapa benci Mama sih? Kenapa kasih Mama gelang yang buat Mama ga bisa ke mana-mana?" tanya nya cemberut menatap ke arah sang ibu.


Hanya tekukan kecil di wajah yang menggemaskan itu dan namun bisa di bedakan.


"Papa sayang Mama kok, sayang Estelle juga..." ucap Anna yang tentu tak ingin memberikan ujaran kebencian.


"Tapi kenapa Ma-"


"Kau banyak pertanyaan,"


Suara yang terdengar memotong dan kemudian mendekat.


"Gelang Mama bisa di lepas? Mama kan jadi ga bisa kemana-mana..." ucap Estelle yang menatap ke arah sang ayah yang mendekat.


"Tidak, dia sakit. Jadi lebih baik tetap di kamar." jawab Lucas dengan cepat.


"Sakit? Mama sakit?" tanya Estelle yang langsung menatap ke arah sang ibu.


Anna diam sejenak lalu melirik ke arah atau yang mengatakan jika ia harus menjawab seperti yang dikatakan sebelum nya dan kemudian jawaban yang ia pilih pun sama.


"Iya, Mama lagi sakit. Mama lebih suka di kamar, main sama Estelle terus nunggu Papa pulang." ucap nya pada putra nya.


Lucas tersenyum mendengar nya, ia membunuhi semua kebutuhan gadis itu dan bahkan membiarkan untuk belanja online apapun.


Namun ia tak memberikan kebebasan, bahkan rantai itu hanya akan di buka saat ia berada di rumah.


Cup!


Ia mengecup pelan bibir gadis itu sekilas sembari memberikan senyuman.


Estelle tak mengatakan apapun, ia hanya melihat dengan wajah yang tak menunjukkan emosi apapun itu.

__ADS_1


Jarang ada percakapan apalagi kecupan dari pria itu untuk nya.


__ADS_2