
Mansion Damian
Crash!
Suara shower yang kencang mulai jatuh, semua seragam dan jaket yang di kenakan beserta tas nya di bumi hanguskan hingga menjadi debu.
"Luc! Tu- Hup!"
Gadis itu kesulitan bicara dan seperti merasa sesak karna mendapatkan semprotan air dari atas hingga tambahan lagi ketika ad shower yang juga menyerang nya dari depan.
Tubuh polos itu mengkilap di bawah air yang di jatuhi dengan cahaya lampu.
"Pakai ini! Habiskan," ucap pria itu yang mengambil satu botol dari sabun yang biasa di gunakan gadis itu.
"A.. aku bi.. bisa mandi sendiri..." ucap Anna yang menundukkan pandangan nya dengan gugup karna pria itu menunggu nya sembari melihat nya membersihkan tubuh.
Dan tentu itu sangat memalukan!
Tak ada jawaban namun shower yang berada di wajah yang datar itu kembali hidup.
Crash!!!
Semburan kuat dari air yang mengalir itu kembali mengenai nya.
"Anak nakal! Kau pikir kau bermain di mana? Ketika pulang sudah kotor!" gumam pria itu yang mengomel.
Sebelum nya ia sangat marah begitu mengira gadis itu kabur namun ketika bertemu ia lebih menggerutu melihat gadis itu yang memiliki aroma busuk luar biasa.
Anna mendengus, ia mengambil sabun yang di berikan pada nya dan membilas tubuh nya.
"Di bawah ketiak juga, itu kaki nya juga." ucap pria itu sembari menunjuk dengan mata nya ke arah yang harus di bersihkan gadis itu.
"Kan ga kena sampai situ," ucap Anna yang melihat ke arah pria yang melihat nya saat mandi itu.
Crash!
Satu semburan air di shower itu menyemprot kembali ke arah nya hingga membuat sabun yang berada di tubuh kecil itu jatuh lagi.
"Mau aku yang mandikan? Akan di gosok semua nya!" ucap Lucas yang berdiri dalam radius dua meter dengan lantai yang di pijak oleh gadis itu.
"Tidak, a.. aku mandi sendiri..." cicit Anna pada pria yang melihat ke arah nya dengan tatapan yang tajam.
"Ya, bersihkan diri mu sampai tidak ada bau busuk itu lagi setelah itu aku akan menghukum mu." ucap nya sembari membuang napas nya.
"Eh apa? Menghukum? Ta.. tapi kan a.. aku ga buat apa-apa..." ucap gadis itu terkejut begitu mendengar kata hukuman.
Tak ada jawaban kecuali tatapan mata yang tajam pada nya. Anna mencicit bagai anak anjing di musim hujan yang tampak menyedihkan.
Kalau gitu aku mandi nya sampai 3 jam aja! Sekalian 4 jam!
Tentu ia akan mencoba memperlama waktu setelah ia tau apa yang akan terjadi pada diri nya.
......................
Sementara itu.
Apart
Suara shower itu mulai berhenti, pintu yang terbuka dan gadis yang lebih cepat keluar setelah memastikan tak ada lagi rasa menjijikkan yang menempel di tubuh nya.
"Pakai itu,"
Suara yang terdengar sembari menunjuk ke arah piyama tidur yang sudah di siapkan.
Tak ada jawaban menolak karna gadis itu memilih memakai pakaian yang terlalu besar untuk nya itu sampai ia harus menggulung celana nya.
"Sekarang duduk,"
Satu kalimat perintah dengan nada yang rendah terdengar.
Kamar luas dengan jendela kaca yang menampilkan suasana kota dari atas.
"Kita di mana?" tanya nya dengan bingung.
Ia tak pernah tau tempat tinggal pria itu karna sejak dulu pun ia selalu memulai di hotel dan sekarang pun masih sama kecuali situasi saat ini.
"Kalian buat janji? Kenapa dia bisa ada di sana?" tanya pria itu tanpa menjawab pertanyaan yang di lontarkan gadis itu lebih dulu.
Ia pun awal nya berniat membawa nya ke hotel terdekat namun tentu ia sedikit malu untuk membawa gadis yang benar-benar harus di bersihkan itu ke hotel sehingga ia memutuskan untuk membawa nya ke apart nya.
"Janji? Maksud anda Anna?" tanya gadis itu yang mencoba mencerna nya.
"Ya, di sini kau menarik tangan nya sebelum terlihat kekacauan." ucap nya sembari memutar layar ponsel nya dengan salinan cctv yang berada di belakang club'.
"Itu karna dia lebih dulu menarik tangan saya dan kalau ada yang melihat yang dia bersama dengan saya pasti akan ada yang mengira kalau dia juga bekerja di sana maka nya saya menarik tangan nya ke tempat yang sunyi." ucap Samantha lirih sembari menunduk.
"Oh iya, kami juga tidak punya janji apapun. Saya juga terkejut karna dia tiba-tiba datang." sambung gadis itu sekali lagi.
Pria itu memejam dan membuang napas nya, "Jangan bertemu dengan dia lagi, kalau dia melihat mu kau harus menghindar dan kalau dia mencegah mu kau harus menepis nya dan kalau ada bahaya seperti tadi..."
"Lindungi anak itu lebih dulu setelah itu baru lindungi diri mu," sambung nya dengan suara yang menekan.
"A.. apa?" Mata hitam itu menoleh, ia berkedip beberapa saat ketika mendengar pria di depan nya menyuruh untuk melindungi teman nya lebih dulu dan mengutamakan keselamatan gadis itu di atas keselamatan nya.
"Kalau terjadi sesuatu dengan anak itu dan kau ada di sana akan lebih berbahaya untuk mu." ucap Diego menghela napas nya.
Ia tak bermaksud apapun namun jika terjadi dengan gadis yang di sukai sepupu nya itu dan memiliki keterlibatan dengan gadis yang menjadi teman ranjang nya tentu akan sedikit sulit ia atasi.
Ia terikat sesuatu dengan sepupu nya sehingga membuat nya terus menerus merasa bersalah dan membuat nya tak bisa melakukan apapun, maka dari itu melindungi
"Ya..." jawab nya lirih.
Memang ia tak memiliki sesuatu yang pantas pantas membuat nya merasa marah atau pun sedih tapi ada apa dengan perasaan nya?
"Kau bisa menginap satu malam kalau mau dan hari ini aku juga tidak berniat melakukan apapun, kau bisa istirahat." ucap Diego yang mulai beranjak ke kasur nya.
"Tidak ada kamar lain juga di sini, kau bisa tidur di mana saja dan kalau lapar kau juga bisa makan yang ada di kulkas tapi setelah itu bersihkan makanan mu." ucap nya pada gadis itu.
"Dan ambil kotak P3K kaki mu terluka, obati dulu sebelum tidur." sambung nya karan ia melihat luka di tapak kaki yang berlari tanpa alas itu sebelumnnya.
Samantha mengangguk, ia diam tak mengatakan apapun dengan perasaan tak nyaman dan gelisah.
"S.. Sir!" panggil nya sebelum pria itu naik ke atas ranjang itu.
__ADS_1
Tak ada jawaban namun mata yang berwarna abu-abu gelap yang mirip dengan sepupu nya itu melihat.
"A.. anda menyukai Anna?" tanya gadis itu dengan suara yang terdengar gemetar dan ragu.
"Ya," satu kata yang menjadi jawaban.
Dan jawaban itu pun bukan lah sebuah kebohongan karna rasa suka atau sayang memiliki jangkauan arti yang luas.
Deg!
"Ah..." Gadis itu tampak tertegun dan kemudian terlihat linglung untuk beberapa saat ketika mendengar nya.
"Ba.. baik..."
"Se.. selamat malam..." ucap nya lirih yang tak menanyakan apapun lagi.
Diego tak menjawab, namun ia kembali menidurkan diri nya ke atas ranjang yang nyaman itu.
Sedangkan gadis yang masih membatu itu terdiam untuk beberapa saat seperti memiliki sistem yang loading.
Tak lama kemudian ia langsung bangun dan berlari dengan cepat ke kamar mandi yang masih berada di kamar pria itu karna ia sama sekali tak tau kamar mandi yang berada di luar.
Crash!
Suara air wastafel mulai menyala, ia membiarkan air yang mengalir itu untuk beberapa saat.
Tes...
Tarikan napas yang berat dan ketika ia melihat ke arah cermin mata nya pun sudah mengandung embun yang minta untuk di tumpahkan.
"Apa..."
"Apa yang terjadi? Kenapa aku... Hiks..."
Gadis itu mengusap air mata nya beberapa kali, selama beberapa bulan terakhir yang hampir setahun ia sudah tak pernah lagi menerima bayaran untuk tidur dengan pria lain kecuali pria yang membeli nya secara pribadi itu untuk memberi pelayanan khusus.
"Sejak awal aku kan cuma pel*cur, jadi aku ga boleh... aku... hiks..."
Ia menutup mulut nya, berusaha membekam suara nya ketika ia merasakan sesuatu yang aneh.
Seperti kecewa?
Tapi ia sendiri bukan berada di titik yang bisa merasakan kecewa.
......................
Mansion Damian.
Gadis dengan rambut pirang yang basah itu tampak menarik air mata nya, seluruh tubuh nya tampak memerah karna seseorang menggosok nya dengan kuat akibat ulah nya yang mencoba mandi selama 4 jam.
"Sekarang duduk,"
Perintah pria itu pada gadis yang mengenakan gaun tidur yang tipis itu.
"Kenapa kau ke sana?" tanya nya yang mulai menanyai gadis itu.
"I.. itu aku..." Anna sedikit bingung bagaimana menjawab nya.
Ia tau pria itu tak akan menyukai alasan apapun yang akan ia katakan.
"Di.. dia masih kerja di sana..."
"Ka.. kasihan..."
Suara nya selalu gugup dan membuat nya terbata ketika pria tampan itu menanyai nya.
"Kau kasihan dengan orang lain tapi tidak kasihan dengan diri mu sendiri? Dan lagi? Mana jam yang ku berikan?" tanya nya sekali lagi.
"Jam? I.. itu di.. tas..." jawab Anna lirih karna ia ingat meninggalkan jam yang di berikan pria di sekolah.
"Jam nya di sekolah mu, kau sudah berbohong lagi?" tanya Lucas dangan tatapan tajam.
"I.. itu..." Anna mulai bingung, jika pria itu tau dan kemudian menanyai nya itu semakin membuat nya takut.
"Pilih, dan karna kau mulai pembangkang kau juga akan dapat tambahan hukuman." ucap pria itu yang tentu melempar dua benda di depan gadis itu.
Mata biru itu bergetar sejenak, selalu sama seperti dulu. Pisau atau Alat kontr*sepsi yang akan melindungi dari lava panas yang suka menyembur itu.
Gadis itu tak menjawab namun tangan nya mengangkat salah satu nya, benda yang memiliki tekstur berlawanan dari pisau yang tajam itu.
Pria itu tersenyum tipis dengan tatapan yang tampak haus.
"Setidak nya kau bisa memilih sesuatu yang lebih baik," ucap nya yang juga menginginkan pilihan gadis itu.
Dan tentu walaupun sama-sama melakukan nya namun akan ada perbedaan dalam sikap nya.
Karna jika hal itu adalah sebuah hukuman, tangisan atau jeritan gadis itu tak akan ia dengarkan sama sekali.
"Luc!" Anna mencegah pria itu sebelum menidurkan nya ke ranjang.
"Why? You have to accept every consequence of every thing you do, right?" ucap pria itu mengernyit melihat ke arah gadis yang ingin mencegah hukuman nya itu.
"Ha?" Anna tampak sedikit bingung, tak belajar hampir satu tahun membuat otak nya membeku dari pelajaran.
"Sebentar Luc, don't crazy crazy dulu." ucap nya yang bingung bagaimana membalas nya.
"Kau baru bilang aku gila?" tanya pria itu yang mengernyit mendengar bahasa campuran itu.
"Eh? Maksud nya don't bird bird karna kita itu harus wake up dulu be.. because sleep karna besok harus vitamin ga boleh fire..." ucap Anna yang menjawab pria itu.
Ia hanya ingin mengatakan 'jangan marah' namun bukan nya menemukan yang tepat ia malah mengingat kartun burung pemarah 'Angry bird' dan ia mengambil kata yang salah.
"Jangan burung? Burung apa maksud mu? Harus bangun? Karna tidur?" Lucas mengernyitkan dahi nya.
Bukan gadis itu yang bingung dengan bahasa Inggris nya namun ia pun tak tau arti dan maksud yang di ucapkan oleh gadis remaja itu.
"Eh? Maksud nya? Burung siapa yang bangun? Kamu pelihara burung?" tanya Anna yang bahkan tak mengerti arti yang ia ucapkan.
Pria itu membuang napas nya dengan kasar, ia pun beranjak bangun dan melihat ke arah gadis itu sembari mencari alat-alat yang mendukung untuk hukuman nya.
Anna melihat dengan mata biru yang membulat itu, "Dia pergi? Aku berhasil?" gumam nya yang mengira jika bujukan nya telah berhasil.
Kali ini gadis itu tampak bisa bernapas lebih lega, mata nya mulai mengantuk karna sejak awal ia memang sudah ingin tidur.
__ADS_1
10 menit kemudian.
Pria itu kembali, lampu kamar sudah di matikan dan hanya menyisakan cahaya dari lampu tidur.
"Hah..."
"Berani sekali anak ini tidur?"
Gumam nya yang menghela napas nya, ia menarik selimut tebal di tubuh gadis itu dan melihat ke arah piyama tipis dari gadis yang tertidur itu.
Gadis itu tak terbangun, mungkin karna sekarang ia sudah mulai merasa nyaman dengan pria yang sebenarnya menyandera nya itu membuat nya bisa tertidur lebih lelap.
Ketika kedua tangan itu terikat pun ia tak terbangun atau bahkan ketika piyama nya di lepas dengan cara di gunting hingga membuat tubuh polos bersalut kulit putih susu itu terlihat.
Lucas melihat gadis itu, ia membuka pakaian nya dan membuat semua otot perut yang keras itu terlihat.
Mata nya menunduk melihat ke arah gadis yang tertidur dengan nyaman itu. Ia menggaruk tengkuk nya yang bahkan tak terasa gatal sama sekali.
"You're really bad princess! Do you think I'll wait for you till morning?" tanya nya sembari menatap gadis itu dan mulai mengecup lengkung leher yang putih itu.
...
Hangat...
Kenapa rasa nya kembali hangat, seperti nya seseorang mengelus ku...
Rasa nya sedikit aneh dan geli, mimpi apa ini?
Apa aku terlalu lelah?
Kenapa rasa nya familiar seperti sedang melakukan sesuatu?
Ungh!
Semua syaraf ku seperti hanya berpusat di satu titik. Rasa nya tubuh ku bergejolak seperti api.
Uhm?
Apa ini?
Ada yang mengusap di bawah sana?
Jangan!
Aku bisa mati kalau dia tau!
Tapi kenapa rasa nya berat sekali?!
Aku tidak bisa bergerak, aku tidak tau tapi rasa nya panas, aku ingin meledak tapi tak mungkin.
Rasa nya aneh tapi ini seperti nya cukup menyenangkan...
Ahh...
Geli sekali atau bukan? Aku bingung bagaimana mengatakan nya, ada yang mencoba membuka ku...
Mimpi apa ini? Mimpi si*lan! Aku jadi seperti orang m*sum! Atau karna aku sudah terbiasa tinggal dengan pria yang seperti itu?
....
Suara yang terdengar manis memenuhi kamar luas tersebut.
Bibir merah muda itu terbuka sesekali saat ia merasakan dan merespon terhadap sentuhan yang di berikan.
Pria itu tersenyum simpul, ia melepaskan ciuman nya yang basah itu sembari menarik jemari nya.
"Kau benar-benar nakal," gumam nya sembari menghisap jemari nya yang basah itu.
Dari mulai leher hingga perut dan paha gadis itu sudah tertinggal bekas kemerahan yang ia buat.
Dan kali ini ia harus memulai hukuman utama untuk meluruskan gadis yang nakal itu.
"Ugh!"
Ia meng*rang beberapa saat dan terdiam ketika merasakan sesuatu yang membuat nya merasa gila.
Rasa nya sedikit berbeda karena gadis bersama dengan gadis yang tertidur, eskpresi wajah cantik yang terpejam itu sedikit berubah namun ia masih belum terbangun sama sekali.
Gerakan yang masih teratur hingga sampai di titik memiliki guncangan yang hebat dan membuat gadis itu terhentak hentak.
"Uhh..."
Mata biru itu terbuka itu perlahan, kini ia mulai tersadar dan terbangun.
"Eh?" Iris nya membesar begitu melihat seseorang sudah bermain dengan nya walau ia tak tau.
"Luc! Ka- Humph!"
Tak sempat bibir merah muda nya berucap, rahang nya sudah di tangan dengan tangan pria itu lalu membungkam suara nya dengan ciuman.
Suara panas yang memenuhi hawa yang panas pula, deritan ranjang membungkam suara yang ingin menjerit.
Anna tak tau apapun lagi, malam sudah semakin larut. Rasa yang menyenangkan kini seperti rasa yang menggila.
Apa karna pria itu memang bukan pria yang normal?
Maka dari itu ketahanan tubuh nya pun tak normal sama sekali, tak ada waktu istirahat. Setelah mengganti pelindung ajaib yang mencegah benih yang bisa berubah menjadi makhluk hidup itu beberapa ciuman di lakukan dan kemudian lampu gantung itu bisa kembali bangun seperti kebangkitan mumi.
"Luc..."
"A.. ampun..."
"Udah.. hiks..."
Gadis itu meringis, namun tangisan nya semakin membuat pria itu menggila. Mata nya terasa geli setiap kali ia meneteskan air mata.
Karna pria itu akan menyapu dengan lidah nya sembari terus bergerak mencari kepuasan diri nya.
...****************...
Bonus pic Anna karna tadi di atas ada babang Luc
__ADS_1