Calm Down! Mr. Psycho!

Calm Down! Mr. Psycho!
Turuti keinginan ku


__ADS_3

Ke esokkan hari nya.


Mansion Damian


Diego tampak pusing, mitra kerja yang ingin di ajak kerja sama tiba-tiba mati dalam ledakan akibat gas udara yang bocor di kediaman nya.


"Dia mati, sekarang kita mau cari siapa?" tanya Diego dengan mata yang menunjukkan rasa lelah.


"Kita bisa cari yang punya kemampuan mirip kan?" jawab Lucas dengan wajah yang datar dan tanpa bersalah itu.


Diego membuang napas nya, ia tak tau menahu tentang kematian mitra bisnis nya sama sekali.


"Padahal hari itu kau mengunjungi dia kan? Apa dia tidak bilang sesuatu? Kenapa dia mati tiba-tiba?!" ucap nya yang merasa jengkel.


"Harus nya dia mati setelah bekerja sama dengan kita!" sambung nya lagi.


Lucas diam mendengar nya, ia pun membuka lembaran kertas-kertas peninjauan itu.


"Benarkah? Apa harus nya dia mati setelah menyelesaikan kerja sama kita saja?" tanya Lucas dengan nada bergumam.


Diego langsung menoleh ke arah pria itu dan menatap nya.


"Memang nya dia sudah setuju?" tanya nya karna sebelum nya Mr. Gorge tidak berniat bekerja sama saat ia datangi.


"Ya, dia bahkan memohon pada ku dan bilang akan menyelesaikan nya dalam satu bulan," jawab Lucas enteng.


Diego diam sejenak, ia memikirkan suatu prasangka saat mendengar kata permohonan.


"Kematian nya tidak ada hubungan nya dengan mu kan?" tanya nya pada pria itu.


"Entahlah, coba tebak?" ucap Lucas sembari mengangkat bahu nya dengan wajah datar dan seperti tak tau apapun.


"Astaga Luc! Aku sangat ingin mencekik mu!" ucap Diego frustasi karna ia memang tidak tau masalah nya.


"Dari pada mencekik ku kenapa tidak menuangkan racun di teh ku saja?" tanya Lucas dengan wajah datar yang seperti tak berpengaruh sedikit pun.


"Kenapa aku bekerja dengan mu? Ku rasa aku sudah gila..." Diego membuang napas nya sembari bersenandung seperti menyanyikan lagu putus asa.


"Keluar, suara mu menyebalkan." ucap Lucas ketus mendengar nyanyian putus asa sepupu nya itu.


"Atasan gila ku sekarang marah, hu.. oh..." Diego pun tetap bersenandung sembari keluar dari ruang kerja sepupu nya.


Lucas membuang napas nya, ia kembali melanjutkan pekerjaan nya dan mencari pengganti Mr. Gorge untuk melakukan pekerjaan rancangan itu.

__ADS_1


Sementara itu.


Diego yang ingin kembali dari mansion mewah sepupu nya itu menghentikan langkah nya.


"Sir?" Anna tersentak ia langsung memegang leher nya yang masih memiliki bekas tangan.


"Leher mu kenapa?" tanya Diego mengernyit melihat memar di leher gadis itu.


"Ti..tidak apa-apa..." jawab Anna lirih dan langsung berbalik setelah menundukkan kepala nya sedikit.


"Mereka bertengkar lagi?" gumam nya memikirkan sesuatu dan tentu tak mungkin pertengkaran yang di alami oleh gadis itu kecuali pemukulan sepihak dari sepupu nya.


"Tapi kenapa semakin lama wajah anak itu tidak asing ya? Apa memang wajah nya pasaran?" gumam nya lagi setelah melihat Anna pergi.


Awal nya ia memang merasa gadis itu cantik namun ia masih tak memikirkan apapun, namun semakin lama ia melihat wajah gadis itu ia merasa pernah melihat nya namun ia juga lupa di mana ia pernah lihat atau mengenal seseorang yang mirip dengan gadis itu.


...


Anna menoleh ke punggung nya, ia tak bisa makan karna tenggorokan yang sakit akibat cekikan yang kuat dan durasi nya cukup lama.


Belum lagi punggung nya yang sekarang sedang masa perawatan karna terluka akibat ukiran yang langsung di lakukan di atas kulit nya.


"Malah besok sekolah lagi," gumam nya lirih yang harus kembali ke sekolah sedangkan bekas luka di tubuh nya belum menghilang.


Ia kembali memakai pakaian nya dan menatap ke arah cermin, merapikan rambut nya dan kemudian turun untuk makan malam.


Deg!


Dan ia memang tak ada bertemu lagi dari kemarin karna saat ia bangun pagi tadi ia sudah berada di kamar nya.


"Kenapa diam di sana? Ke sini duduk." ucap nya pada gadis itu yang hanya berdiri mematung di depan nya.


"I..iya..." jawab Anna lirih sembari berjalan mendekat ke arah pria itu dan duduk di meja nya seperti biasa.


Lucas menatap ke arah gadis itu dengan tanpa ekspresi, ia tak mengatakan apapun namun saat melihat gadis itu makan ia merasa sedikit berbeda.


"Kenapa?" tanya nya melihat ke arah gadis yang tampak sulit menelan itu.


"Tidak apa-apa Sir, tenggorokan saya se..sedikit sakit saja..." jawab nya dengan senyuman cerah walau ia sebenarnya sedang tak ingin tersenyum sama sekali.


Pria itu tak mengatakan apapun, ia memanggil pelayan yang tak jauh dari mereka.


"Siapkan bubur, dan untuk makanan gunakan daging giling." ucap nya yang menganti menu makanan yang di makan oleh gadis itu.

__ADS_1


"Hum?" Anna menatap ke arah pria yang mengganti menu makanan nya.


"Kenapa? Mau ku suapi juga?" tanya nya dengan nada yang lebih rendah dan terdengar lebih lembut walau wajah nya masih dingin tanpa ekspresi.


"Ti..tidak Sir!" ucap Anna yang langsung menggelengkan kepala nya.


Pria itu menarik napas nya, tangan nya beranjak memegang helaian rambut panjang gadis itu.


"Lain kali jangan terlalu ramah dengan orang yang baru kau temui, kau tidak tau bagaimana dunia bekerja." ucap nya sembari mencium helaian rambut yang berada di tangan nya.


Rambut halus yang ikal kecoklatan serta memiliki aroma harum yang selalu membuat nya kecanduan.


"Sir?" panggil Anna lirih sembari menautkan satu per satu jemari nya karna gugup.


Pria itu tak menjawab namun ia melihat ke arah gadis yang tak berani melihat nya itu.


"A..anda bilang, anda menyukai saya karna saya memiliki warna?" tanya Anna lirih.


Karna pria itu sudah memberi tau setidak nya sebagian dari apa yang terjadi pada nya membuat nya tau sedikit banyak tentang pria itu.


Lucas masih diam, namun ia tak menyanggah sama sekali.


"Be..berarti kalau anda sudah bisa melihat seperti semua orang anda tidak akan menyukai... sa..saya la..lagi kan..?" tanya nya yang sangat terbata di ujung kalimat nya.


Deg!


Anna tersentak, ia melihat mata dan wajah pria itu yang langsung berubah saat mendengar pertanyaan nya.


Ia pun langsung kembali tersenyum agar menenangkan pria itu, "Ta..tapi walaupun begitu sa..saya tetap menyukai anda! Da..dan saya juga milik anda!" ucap nya tersenyum.


Lucas tersenyum tipis, ia bangun dari duduk nya mendekat ke arah gadis itu.


"Ya, tentu kau milik ku." ucap nya yang menunduk menatap ke arah gadis itu.


"Dan berhenti menyukai mu atau tetap menyukai mu itu juga pilihan ku, jangan bertanya sesuatu yang membuat ku merasa kesal, Hm?" pria itu bertanya dengan mata nya yang tajam dengan tangan yang kembali melingkar di leher kecil gadis itu.


Cup!


Gadis itu langsung mengecup pipi pria itu dengan menarik lengan nya.


Lucas tersentak, rasa nya semua kekesalan nya bisa menghilang.


"Sa..saya adalah anak baik yang akan menuruti semua yang anda bilang Sir!" ucap nya tersenyum dengan suara gemetar takut pria itu mencekik nya lagi dan mungkin leher nya bisa patah jika pria itu melakukan nya lagi.

__ADS_1


"Ya, kau benar."


"Turuti semua kemauan ku," ucap nya yang langsung menyambar bibir merah muda gadis itu.


__ADS_2