Calm Down! Mr. Psycho!

Calm Down! Mr. Psycho!
Danau


__ADS_3

Pesawat


Mata bulat dan jernih itu menatap ke arah sang ibu yang sejak tadi tampak gelisah.


"Varsha? Tidak apa-apa, aku sudah bertanya tadi, Diego bilang dia pergi ke Spanyol hari ini." ucap Camilla sebelum duduk di bangku nya karna yang berada di sebelah gadis itu adalah putra nya.


Anna masih gemetar, napas nya terasa sesak dan wajah nya masih pucat.


"Mama sakit?" tanya Estelle yang memberikan kubik nya sebagai tanda sedang menghibur.


Anna menoleh kali ini, ia melihat ke arah putra nya yang tampak polos. Tangan nya mulai beranjak merengkuh tubuh mungil anak kecil itu.


"Estelle? Lain kali jangan lari sendirian? Kalau ada barang kamu yang jatuh ga usah di ambil, Mama yang akan belikan lagi. Ya sayang?" ucap nya yang mengecupi putra nya.


Pesawat yang akan lepas landas dan menuju ke Swiss itu berangkat sekarang.


Anna masih gugup, ia memegang tangan kecil putra nya untuk mengurangi kegugupan nya.


"Bisa berikan aku air hangat?" ucap Anna saat pesawat itu kini sudah mulai berada di atas awan.


Pramugari yang tinggi dan cantik itu segera datang dengan wajah yang ramah karna penumpang di kelas bisnis itu memanggil nya.


"Tentu, apa anda membutuhkan sesuatu yang lain lagi?" tanya pramugari tersebut.


"Dan bawakan selimut tambahan, putra ku seperti nya merasa dingin." ucap Anna yang melirik ke arah putra nya.


"Baik, nona." ucap pramugari tersebut dengan senyuman.


Sementara itu


Di pesawat yang lain yang kali ini menuju ke Spanyol untuk melakukan perjalanan bisnis, pria itu diam seperti manekin yang hanya melihat ke arah iPad nya untuk membuka beberapa dokumen yang belum yang baca.


Pria itu membuang napas nya, menatap sejenak ke arah jendela dan melihat ke arah yang selalu memberikan pemandangan yang sama karena ia sudah muak untuk melihat nya.


"Aku harus segera kembali..." gumam nya yang kurang menyukai untuk bepergian jauh.


......................


San Fransisco


Apart


Gadis itu menatap ke arah pria yang tampak gelisah saat menerima panggilan telpon barusan.


"Itu siapa?" tanya nya yang mendekat.


Kini ia memiliki dua mata, satu mata yang asli milik nya sejak lahir dan satu lagi mata palsu yang di tempelkan.


Penampilan nya memang kembali namun tentu tidak dengan penglihatan nya sekaligus gerak nya yang memang berbeda.


"Bukan nya sedikit merepotkan kalau kau memakai nya di sini? Kau kan tidak ada keluar?" ucap Diego yang menatap ke arah gadis itu yang selalu memakai mata palsu nya.


"Aku terlihat mengerikan kalau tidak memakai nya," ucap Samantha lirih yang tentu ia ingin selalu menjaga penampilan nya untuk seseorang yang ia sukai.


"Kau terlihat cantik, apapun itu..." ucap nya yang menarik napas nya.


Setelah tiga tahun berlalu gadis itu masih takut dengan dunia luar. Bahkan tanpa perlu mengurung nya gadis itu sudah mengurung diri nya sendiri.


"Tadi siapa?" tanya Samantha mengulang.


"Bukan siapa-siapa, tidak perlu kau pikirkan." ucap nya yang menatap ke arah gadis itu.


"Oh ya? Aku lupa, kita bukan nya harus pergi ke dokter hari ini? Ini jadwal mu kan?" ucap Diego yang baru ingat untuk konsultasi ke dokter ginekologi.


"Seperti nya sekarang sudah baik-baik saja," ucap Samantha yang teringat dan kemudian memundur mendengar nya.


"Tidak, kau sekarang sering mengeluh sakit kalau kita melakukan nya." ucap Diego yang menatap dan melihat ke arah gadis itu.


"Aku tidak punya penyakit menular!" ucap Samantha yang gugup dan tidak ingin priksa.


"Sam? Aku tau, kau tidak punya dan kita sudah pernah priksa itu dulu. Tapi yang ini beda Sam!" ucap Diego yang melihat kegugupan gadis itu.


...


Rumah sakit


Setelah pemeriksaan secara berulang di dapatkan salah satu diagnosis.


"Sindrom Asherman?" gumam Samantha mengulang dan kemudian menatap ke arah pria di samping nya.


"Ya, suatu gangguan pada rahim dengan adanya jaringan parut dan perlengketan pada rahim, ini sebenarnya kasus yang jarang terjadi." ucap pria itu yang merupakan dokter kandungan yang cukup mahir di bidang nya.


"Kenapa dia bisa kena?" tanya Diego yang mengernyit.


"Biasa nya karna pernah melakukan kuretase tapi bisa juga di sebabkan karena trauma atau cedera." jawab dr. Smith sembari membenarkan posisi kaca mata nya.


"Kuretase? Dia?" tanya Diego yang langsung terkejut.


Samantha terdiam sejenak, "Ya.. Sa.. saya pernah melakukan kuretase..." jawab nya lirih.


dr. Smith pun menarik napas nya dan menjelaskan tentang penyakit itu dan memberi tau bagaimana penyembuhan nya.


....


Apart


"Kuret?! Kau pernah melakukan kuret?!" tanya Pria itu yang langsung menuntut jawaban.


Samantha diam, ia memang tak pernah mengatakan apapun tentang bayi nya yang keguguran karna ia mengalami stres berat saat itu.


"Sam!" panggil Diego sekali lagi.


Samantha tersentak dan kemudian mengangguk.


Diego menarik napasnya namun ia tak langsung merasa jika itu adalah anak nya mengingat gadis di depan nya juga sebelum mengenal diri nya punya banyak mantan pacar dan setelah mengenal nya juga pernah bekerja sebagai wanita penghibur.


"Anak siapa?" tanya nya yang langsung membuat gadis itu mendongak.


"Kamu tanya anak siapa?" tanya Samantha yang mengernyit mendengar nya.


"Kenapa kau bersikap seperti aku harus nya tidak tanya? Bukannya wajar bagi ku untuk tanya?" ucap Diego yang menatap ke arah gadis itu.


Samantha diam sejenak, ya memang tak salah jika pria itu bertanya demikian.

__ADS_1


"Kalau aku bilang anak kamu, kamu bakal percaya?" tanya Samantha lirih.


Diego mengernyit mendengar nya, "Kapan?"


Samantha menelan saliva nya dengan sulit saat ia melihat ke arah wajah yang kurang mempercayai nya.


"Sebelum aku bilang mau putuskan hubungan majikan dan sewaan? Aku baru keguguran saat itu," ucap yang menjawab walau ia merasa sakit karna pria itu seperti tak percaya pada nya.


"Kau gugurkan anak itu dengan sengaja?" tanya Diego yang menatap dengan mata yang menuntut jawaban.


Samantha kali ini diam lagi, ia bingung. Selama ini pria di depan nya melihat nya seperti apa?


"Tidak, aku keguguran karna stres berat." ucap nya yang ingat dengan diagnosa dokter saat itu.


"Kenapa tidak bilang pada ku sejak awal? Kalau itu memang anak ku, walau dia mati atau hidup aku harus tau kan? Astaga! Samantha..." ucap Diego yang memijat pelipis nya saat merasa frustasi.


"Kalau kamu tau memang nya kamu bakal apa?" tanya Samantha yang menatap ke arah pria itu.


Bahkan setelah tiga tahun, hubungan masih ambigu. Tak ada ajakan pacaran sama sekali, tidak ada ikatan pernikahan dan tak ada komitmen yang bisa di pegang.


"Memberi mu tunjangan, dan anak itu mungkin bisa tetap hidup." ucap nya yang memang tak keberatan untuk memiliki anak.


"Tunjangan?" tanya Samantha mengulang.


"Diego?" panggil nya yang sekarang tak lagi formal seperti dulu.


"Sebenarnya kita ini dalam hubungan apa? Aku tidak mengerti," ucap Samantha yang mencoba mencari jawaban.


"Kau bisa artikan sesuka mu, aku akan memberi hubungan apapun yang kau mau selain pernikahan." jawab Diego.


"Apa? Kau bilang kau tidak masalah punya anak tapi tidak mau menikah?" tanya Samantha yang bingung.


"Punya anak tidak harus menikah, dan aku tidak suka hubungan yang mengikat seperti itu. Tapi walaupun begitu karna kita sedang dalam hubungan sekarang, aku tidak akan melihat wanita lain selain kau. Aku akan memberi mu semua nya tapi tidak untuk pernikahan." ucap nya yang memegang bahu gadis itu.


Samantha diam sejenak, sentuhan nya lembut dan suara nya lembut tapi kenapa kelembutan itu menusuk hati nya dan bukan nya memeluk?


"Lalu bagaimana kalau aku tetap mau menikah? Apa yang akan kau lakukan?" tanya nya mengulang.


"Kalau begitu cari pria yang ingin menikah dengan mu, aku tidak akan menghalangi nya dan semua kebutuhan mu tetap akan ku penuhi sampai kau punya penanggung jawab yang lain." ucap Diego tanpa berpikir dua kali.


"Kalau aku tetap ingin dengan mu?" tanya Sam dengan suara tercekat karna ia juga bingung dengan situasi nya.


"Kalau begitu kau bisa lakukan, tapi untuk tetap tinggal di sisi ku kau harus ikuti aturan ku." ucap Diego yang menatap ke arah gadis itu.


Berbeda dengan sepupu nya yang tak ingin memliki anak, ia sendiri tak menginginkan hubungan mengikat. Bagi nya pernikahan adalah sesuatu yang menunjukkan eksistensi keegoisan untuk mengikat seseorang.


Dan tentu hal ini tak terlepas dari asupan yang ia terima oleh kedua orang tua nya hingga stigma pernikahan terlihat jelek di mata nya.


"Kamu cinta ku?" tanya Samantha dengan suara bergetar.


"Ya," jawab Diego singkat.


"Cinta atau tanggung jawab?" tanya gadis itu mengulang.


"Kalau cinta sudah pasti tanggung jawab kan? Cinta tanpa tanggung jawab sama saja omong kosong," ucap Diego yang memang tak salah.


"Terus kenapa bisa melepas aku dengan mudah?" tanya nya lirih.


"Kau punya kebebasan untuk memilih, aku tidak suka menahan seseorang yang mau pergi. Aku tidak mau serakah untuk seseorang lagi." ucap nya pada gadis itu.


Samantha diam sejenak, ia menutup mata nya dan dengan seketika buliran bening itu langsung jatuh.


"Aku mau cuci muka dulu," ucap nya yang beranjak pergi.


......................


Dua Minggu kemudian


Berlin


Mansion Damian


Lucas kali ini sudah kembali ke mansion nya, ia melepas dasi nya dan juga jas nya lalu beranjak ke ruang di mana ia mencoba membuat boneka yang mirip dengan seseorang.


Lonceng itu kembali berbunyi, suara rantai yang terdengar menyatu dengan lantai memberi tau seberapa takut gadis yang terjebak itu.


Pria itu hanya menatap datar, ia sudah mencari yang mirip namun tak ada yang sama seperti yang ia inginkan.


Lucas beranjak ke laptop nya, ia melihat membuka nya dan menampilkan kembali layar hologram yang menunjukkan seberapa persen kemiripan gadis-gadis yang menjadi sandera nya dan gadis yang ia inginkan.


"Kau di mana? Kenapa tidak ada?" gumam nya lirih yang merasa frustasi karena tak bisa menemukan nya.


Hasil pencocokan wajah dengan foto Anna dan sandera yang berada di laptop nya menunjukkan hasil 34 % persen yang berarti hal itu berbeda.


Tentu ia membutuhkan bantuan teknologi seperti itu untuk mengenali wajah karna ia tak bisa membedakan wajah korban nya walaupun memiliki ciri-ciri yang sama.


Ia berbalik mengambil pisau tajam nya dan mendekat ke arah wajah gadis itu.


"Ku.. ku mohon..."


"Ak.. aku akan ja.. jadi dia..."


ucap gadis itu menangis karna ia tau pria di depan nya sedang mencari seseorang.


"Kau? Kau bukan dia," jawab Lucas singkat karna gadis itu tak akan bisa meniru Anna milik nya yang penuh dengan warna.


Greb!


Ia menarik rambut panjang itu, ujung pisau tajam itu mulai menyayat dari kulit telinga, darah segar itu mulai mengalir keluar.


"Akh!"


"Sakit! Tolong! Tolong aku!"


Kring!


Kring!


Kring!


Tangis gadis memberontak hingga membuat lonceng dan rantai nya bergemuruh saling bersautan.


Lucas menatap kesal ke arah gadis yang terus berteriak itu padahal ia ingin mengambil kulit wajah dan rambut nya dengan tenang.

__ADS_1


Dusk!


"Ukh!"


Gadis itu tersentak, pisau tajam itu berhenti menyayat kulit di belakang kepala nya dan malah mulai menusuk dada nya dengan pisau.


Ia terbungkam sejenak, pisau itu di putar dan di tancapkan dengan dalam. Darah segar itu mengalir keluar tak hanya dari luka tusukan namun dari mulut nya juga.


"Sekarang kau bisa tenang?" tanya Lucas dengan lirih dan mencabut pisau nya dengan kasar.


Crash!


Darah segar itu langsung menyiprat ke wajah nya namun ia tak peduli dan melanjutkan kembali tugas nya yang ingin menguliti.


...


Darah segar itu berceceran di lantai ruangan itu, tak ada lagi bunyi karna seseorang yang tadi nya memberontak kini telah mati.


Pria itu meletakkan kulit yang ia baru ia ambil dan menjahit nya di salah satu boneka dengan kualitas yang bagus dan bisa di gerakkan seperti manekin lentur.


"Bukan! Bukan seperti ini juga!" decak nya yang kesal dan membanting boneka buatan nya yang tercipta atas nyawa manusia itu.


Lucas terduduk di lantai, selain warna merah tak ada yang bisa ia lihat.


"Aku akan menemukan mu..."


"Aku akan segera menemukan mu, tunggu aku..."


Gumam nya lirih sembari meraih lagi boneka yang sudah ia jahit dengan mata yang berwarna biru dan rambut pirang namun tetap saja tak membuat nya bisa melihat gadis nya.


Tentu bukan ia yang menculik para gadis yang memiliki karakteristik dan usia yang mirip dengan istri nya yang kabur itu.


Ia membeli nya dari seseorang, dari pengadah yang juga tak tau siapa diri nya dan ia juga tak tau siapa pengadah nya untuk menjaga informasi dan lagi ia juga bukan pembeli langsung karena akan ada seseorang yang menjadi suruhan nya.


Skema yang cocok dan tak akan membuat keburukan nya terbongkar hingga mati.


Lucas menarik napas nya, kali ini ia memilih untuk membersihkan diri nya dan kemudian keluar mansion nya untuk mencari udara segar.



"Hah..."


"Si*l!" decak nya yang menunduk dan melihat ke arah sepatu nya sembari berjalan tanpa arah seperti orang biasa walau ia sebenarnya memiliki status yang sangat tinggi.


......................


Wegen, Swiss


Pegunungan yang dingin dan pemandangan yang baru di pedesaan yang begitu memanjakan mata itu itu.


Setelah dua Minggu sampai di rumah baru nya dan menghadapi kehidupan normal kini gadis itu kembali tenang. Ia berpikir tak akan lagi bertemu dengan pria itu.


"Ma?" Panggil anak kecil itu mendekat ke arah sang ibu yang masih ingin tiduran.


"Ya?" Anna menepuk tangan nya sembari melihat ke arah putra nya yang berdiri di dekat nya.


Panggilan putra nya membuyarkan lamunan nya, setiap kali ia ingat pria itu merasakan sakit di tubuh nya dan sentuhan yang terasa hangat dari ujung jemari pria itu di saat bersamaan.


"Jangan memikirkan hal yang tidak perlu Ann!" ucap nya pada diri nya sendiri.



"Dinin!" ucap Estelle karna suhu tempat tinggal nya sekarang memang lebih dingin di bandingkan saat masih di hiddensee.


Anna menarik napas nya dan membuka tangan nya, "Sini, peluk Mama..." ucap nya lirih yang meraih tubuh mungil putra nya dan langsung memeluk nya dengan erat.


Iris yang gelap, bulu mata yang lentik, kulit yang seputih susu seperti dirinya dan pipi yang kemerahan mengikuti rona wajah nya.


Anna memeluk nya dengan erat dan mengusap punggung nya berulang kali dengan lembut hingga membuat anak tampan itu mulai mengantuk dan tertidur.



"Estelle? Sudah tidur?" tanya nya yang melihat ke arah putra yang sudah tertidur.


Anna menarik napas nya dan kemudian mengecup beberapa kali pipi bulat itu.


....


"Bibi?" Panggil Anna yang melihat ke arah wanita yang tengah menyiapkan makan malam itu.


"Di mana Estelle?" tanya Camilla yang menatap ke arah gadis yang tak lagi mewarnai rambut nya atau meluruskan nya sekarang.


Greb!


Anna memeluk wanita itu, Camilla terkejut namun ia tak menolak nya.


Wanita yang sudah berumur 62 tahun itu tentu sudah memiliki dua anak laki-laki yang bekerja di Berlin dan hidup dengan keluarga nya masing-masing.


Sedangkan ia sendirian setelah sang suami meninggal 10 tahun yang lalu. Tentu karna merasa iba dan sudah timbul rasa kasih sayang membuat nya menuruti permintaan gadis itu untuk ikut.


"Terimakasih," ucap Anna tersenyum tipis.


"Tentu kau harus! Aku mengabaikan ucapan putra ku untuk mengikuti mu sampai sini!" ucap nya yang tak terbawa dengan senyuman gadis itu.


"Itu kan bukan salah ku. Lagi pula kenapa bibi milih sama aku?" tanya Anna mencicit melihat wanita itu.


Camilla diam sejenak, "Karna kau sendirian, mereka sudah punya keluarga yang bisa menjaga nya, tapi kau terlalu naif untuk di tinggal sendirian."


Anna diam sejenak, dan kemudian tersenyum lagi. Terkadang ia memang teringat dengan hal manis yang berikatan dengan Lucas karna hubungan nya termasuk toksik yang memberikan madu dan racun.


Namun ia lebih tenang dengan hidup nya yang sekarang.


"Bi? Bibi tau tidak? Lagu yang sering bibi dengarkan itu, penyanyi nya adalah teman ku. Dulu dia suka sama ngejar-ngejar aku loh!" ucap Anna dengan tawa kecil.


Camilla mengerucut tanda tak percaya, "Kalau dia teman mu bawa dia ke sini dan minta tanda tangan nya!"


"Tapi kayak nya dia bakal pura-pura lupa sama aku deh, aku kan nyebelin! Kata nya," ucap Anna dengan tawa kecil mengingat kini kakak kelas nya benar-benar masuk kedalam dunia entertainment dan debut sebagai penyanyi satu tahun yang lalu.


Dan yang lebih beruntung nya lagi, lagi debut pria itu mendapat banyak perhatian hingga menaikkan nama nya.


"Iya! Kau itu memang gadis menyebalkan yang keras kepala," Ucap Camilla yang selalu bernada ketus pada Anna walaupun ia sebenarnya juga menyayangi gadis itu seperti memiliki seorang putri.


Hidup yang terlalu tenang dan damai, akankah semua baik-baik saja?

__ADS_1


Atau seperti danau tenang yang tiba-tiba menghanyutkan dan menerkam saat di pikir aman?


__ADS_2