
Tiga hari kemudian
Suara napas yang berat dengan deritan yang terdengar di kasur empuk itu menjadi hentakan terakhir.
Kini suasana nya kembali hening tanpa apapun yang terdengar.
"A.. aku..."
"Aku boleh tidur di sini?" tanya nya lirih yang kali ini tak mau pulang.
Pertengkaran terkahir nya dengan kedua orang tua nya membuat nya merasa sedikit berat.
Kartu hitam tak terbatas itu pun sudah di patahkan oleh sang ayah karna sampai akhir pun ia tetap menutup mulut nya untuk tak mengatakan apapun tentang sandi nya.
"Kau bisa di sini sampai pagi," ucap pria itu yang beranjak membersihkan tubuh nya lebih dulu dan kemudian pergi.
"Ya, terimakasih..." jawab nya lirih.
Seperti layanan tambahan yang di lakukan di luar club' karna gadis itu juga membiarkan pria itu melakukan nya di hotel.
Dan tentu bayaran yang ia terima pun menjadi lebih banyak, ia tau yang ia lakukan saat ini adalah kesalahan.
Namun ia juga tak bisa berhenti, tarikan napas panjang terdengar lirih saat ia menjatuhkan tubuh kembali ke atas ranjang yang empuk itu.
Suara shower yang kali ini terdengar berhenti dan tentu hal itu dapat di simpulkan jika pria yang sedang membersihkan diri itu sudah selesai mandi.
Tak ada satu pun percakapan setelah ia selesai berhubungan dan kini hanya kebisuan yang melanda sampai pada akhirnya pria itu keluar dari kamar hotel itu dengan sendiri nya.
......................
3 Bulan kemudian.
Pengobatan yang di lakukan semakin membaik dan menunjukkan hasil yang nyata namun tetap saja gadis itu tak bisa keluar sama sekali.
Suara tangan yang mengusap punggung yang halus dan tak lagi memiliki bekas luka itu meraba nya dari balik baju pasien itu.
"Luc? Uhm..."
Suara lirih yang tertahan saat pria yang memangku nya berulang kali mengecup bibir nya sebelum kecupan tersebut melayang ke leher jenjang itu.
Bekas kemerahan tertinggal di leher putih yang memiliki warna susu itu, tangan nya yang besar dan hangat meraba seluruh tubuh kecil dan semakin kurus itu semanjak sakit.
"Luc? Aku..." gumam nya lirih saat pria yang memaku nya itu kini mulai menanggalkan apa yang ia kenakan.
Pria itu tak mengatakan apapun, awal nya ia hanya mencium bibir gadis itu karna merindukan nya namun seperti gejolak jika ia ternyata menginginkan hal yang lebih selain hanya ciuman belaka.
Ia pun sudah mendiskusi kan hal ini dengan dokter yang menangani gadis nya, apakah ia bisa tau tidak untuk melakukan hubungan tersebut.
"Kalau sakit bilang," bisik nya di telinga gadis itu saat ia mulai menangkup piramida merah muda itu yang sudah menantang di depan mata nya.
__ADS_1
Ia bukan nya tiba-tiba bersikap lembut, melainkan ia tau ada beberapa resiko perdarahan yang mungkin bisa terjadi ketika ia melakukan penyatuan.
Anna mengangguk, stress yang selama berbulan-bulan di kurung membuat nya menjadi lebih penurut.
Bruk!
Lucas menarik tubuh langsing yang sedang berada di pangkuan nya dan menidurkan nya di atas sofa yang ia duduki.
"Ann?"
"Anna..."
Pria itu bergumam menyebutkan nama gadis nya sembari melucuti semua yang berada di tubuh gadis itu.
Ia tak menggebu atau melakukan nya dengan cepat, kaki kanan gadis itu kini berada di tangan nya.
Ia mencium punggung kaki seseorang dan tentu saja hal itu tak akan pernah terbayangkan oleh seseorang.
Sentuhan bibir yang terasa lembab namun hangat itu membuat tubuh Anna tersentak.
Sedangkan Lucas tak berhenti sama sekali, ia berulang kali menciumi punggung kaki gadis itu dan tangan yang mengusap nya namun naik ke pangkal kaki jenjang itu.
Dan tentu saja kecupan nya pun juga naik secara perlahan sampai ke tempat di mana ia berhenti.
Ugh!
Tubuh yang bagai tersengat listrik itu tersentak seketika saat lidah basah pria itu mulai membuat nya merasa tertusuk namun bukan hal yang akan menyakiti nya.
"Umhp!"
Anna tanpa sadar menjepit kepala pria itu, dan merasakan sesuatu yang selama ini tak lagi ia rasakan.
Lucas mengangkat kepala nya kepala nya untuk melihat ke arah wajah sayu yang tampak yang begitu lemas hanya karna ia membuat nya mengeluarkan energi nya satu kali.
"Anak nakal," ucap Lucas dengan senyuman simpul sembari mengusap bibir nya yang basah.
Mata gadis itu tampak sayu, untuk sesaat ia tak tau yang mana benar dan mana yang salah karna ia sudah hampir gila di kurung di tempat yang tak di suka namun kegilaan nya akan sedikit sirna jika ia bertemu dengan pria itu.
"Ya, aku nakal..."
"Kalau begitu kamu kan bisa hukum aku..."
Ucap nya lirih dan tanpa sadar ia menggoda pria itu dengan suara berat nya dah wajah serta tubuh yang tampak menggairahkan.
Lucas tersenyum melihat nya, rasa nya ia benar-benar tak bisa berpikir apapun lagi selain keinginan untuk menyerang gadis itu.
Ia menarik tangan gadis itu sampai terjatuh dan tetap di depan paha nya.
"Hisap!" ucap nya yang memberi kata perintah alih-alih ucapan manis yang mengatakan rayuan.
__ADS_1
Anna menurut lagi, ia membuka mulut nya dan kembali memakan sesuatu yang paksa masuk ke dalam mulut nya walaupun tak ia sukai.
Lucas meng*rang, ia menyatukan semua rambut gadis itu bagai mengikat nya satu dalam kepalan tangan nya.
"Si*l!" ucap nya saat ia merasakan sesuatu kenikmatan yang sempat membuat nya lupa.
Ia tak tahan lagi, tangan nya yang tengah memegang rambut halus itu langsung ia tarik dan mendorong nya hingga telentang kembali.
"Kau mau di hukum? Ya kau membutuhkan nya..." ucap nya yang mulai mendorong.
Ukh!
Anna tersentak, tubuh nya bergeser sejenak akibat pria yang dengan mudah nya kini mulai bergerak.
"Luc!"
Gadis itu meringis sembari menyebut nama pria itu dengan sedikit keras.
Tubuh nya terkejut dengan gerakan yang awal nya lembut namun kian kasar ketika kini n*fsu yang membeludak itu sudah datang.
Dan memang beberapa efek dari kemoterapi membuat nya sedikit menghilangkan minat untuk hubungan seperti itu jika tak cukup kuat untuk pemanasan.
"D*mn, say my name angin and cry more!" ucap nya yang mengumpat saat ia merasakan kembali awan yang membuat nya melayang itu.
Gadis itu meringis, awal nya memang merasa ikut menikmati nya namun kini sudah bercampur dengan rasa perih.
Tangan nya menarik dan mencakar lengan yang terus bergerak dengan kasar itu seperti mel*mat dan memporak-porandakan tubuh kecil nya.
"Luc? Uhh.. Luc..."
Buliran bening itu jatuh di mata yang berwarna biru itu, entah sakit atau sesuatu yang mungkin tak ia ketahui apa itu penyebab nya.
Pria itu semakin bersemangat, wajah yang memelas dan menangis di bawah nya membuat nya semakin gila.
Tak!
Suara yang beradu kuat itu terdengar jelas dan ketika ia sampai di titik nya sembari merengkuh tubuh kecil itu.
"Thanks babe..." ucap lirih yang mengecup telinga gadis itu setelah ia yang tanpa sadar memuntahkan lava panas itu tanpa ada nya penghalang yang melindungi.
Tak ada jawaban, kuku yang menancap di punggung nya dan cakaran dari tenaga gadis yang memeluk nya menjadi lemas.
Ia mengangkat wajah nya, melihat ke arah gadis pucat yang terlihat tertidur itu.
"Kau pingsan? Padahal kita masih satu kali mela-"
Deg!
Ucapan nya terpotong, ketika ia bangun mata nya menoleh ke arah darah yang keluar di tempat tadi ia merasa nyaman.
__ADS_1
"Anna?" panggil nya sembari menepuk pipi pucat itu.
Memang harus nya melakukan hubungan seperti itu di masa pengobatan adalah hal yang aman namun tentu akan menimbulkan masalah jika berlebihan.