
34 tahun yang lalu.
Rumah sakit.
Gadis itu melihat sang ayah yang memegang selembar kertas berisi tagihan, jika saja kecelakaan itu tidak terjadi maka situasi tak akan sekacau ini.
Tunjangan yang di berikan tak cukup untuk pembelian obat-obatan.
"Papa?" panggil gadis itu yang mendekat ke sang ayah.
"Kamu kenapa di sini? Maurenne mana?" tanya pria itu yang melihat ke arah putrinya yang masih remaja itu.
"Renne kata nya ada urusan Pa," jawab gadis yang memiliki mata yang biru gelap itu serta wajah cantik bak boneka.
"Sudah makan siang?" tanya pria itu sekali lagi.
"Lyn bawa untuk Papa!" ucapnya yang mencoba tersenyum sembari menunjukkan plastik yang berisi roti itu.
Pria itu tersenyum dan mengusap kepala putrinya.
"Pa? Papa udah dapat pekerjaan?" tanya gadis berusia 16 tahun itu pada sang ayah.
"Papa bodoh ya? Sudah punya pekerjaan bagus malah keluar dan mau buat usaha, ternyata sekarang kondisi kita begini," ucap pria itu yang merasa menyesal meninggalkan pekerjaannya dulu untuk membuat usaha toko kue.
"Papa ga salah kok, kita kan ga tau kalau Mama bakal kecelakaan." ucapnya pada sang ayah sembari menepuk punggung pria itu.
"Iya," jawab pria itu tersenyum kecil sembari berpikir apa ia akan menjual tokonya lagi untuk pengobatan sang istri.
...
Sementara itu.
Cafe.
Gadis itu membuang napas nya kasar, ia menghitung buku catatannya yang berisi beberapa pekerjaan yang akan ia lakukan nantinya.
Bruk!
Gadis itu tersentak, buku catatannya jatuh namun untuk nya tak terkena kain pel nya karna ia sedang membersihkan tempat itu.
"Maaf," ucap pria itu sembari mengambil buku catatan yang jatuh itu dan melihat ke arah isi nya sekilas.
Mata nya tajam, wajah yang tampan dan tubuh yang atletis.
Gadis itu terpesona sesaat dan kemudian ia menjawab nya lalu segera pergi karna menghalangi pengunjung.
Pukul 05.12 pm
Petang sudah datang dan gadis itu pun beranjak keluar untuk kembali ke rumahnya karna jam kerjanya sudah habis.
"Nona? Bisa kita bicara?"
Langkahnya terhenti melihat ke arah pria yang menghalangi jalan nya. Pria tampan yang siang tadi ia temui.
"Ya? Ada apa?" tanyanya yang menatap ke arah pria itu.
"Saya ingin bicara tapi saya butuh tempat yang lebih nyaman," ucapnya sembari memberikan kartu nama nya dan membuat gadis itu langsung terkejut.
...
Restoran.
Ruangan privat dengan pembicaraan yang privat juga.
"I.. ini bukan penipuan kan? Tapi kenapa saya?" tanyanya yang merasa bingung.
"Bukan dan lagi jika anda setuju akan perjanjian notaris saya akan memberikan perjanjian nya." ucap pria itu dengan wajah datar dan mata yang dingin.
"Dan lagi kau membutuhkan uang kan? Aku membutuhkan anak dari pasangan yang tidak akan merepotkan." ucapnya yang menatap ke arah gadis itu.
Gadis itu diam sejenak namun kemudian ia mengusap tangannya lalu mengulurkannya.
"Maurenne Giovenetta," ucap nya yang lupa jika ia belum memperkenalkan dirinya.
Pria itu melirik tangan kecil yang di ulurkan padanya dan kemudian membalas jabat tangan itu, "Kau sudah tau nama ku kan?" ucapnya karna tadi sudah memberikan kartu namanya.
"Tuan Alexander Damian," jawab gadis itu lirih.
......................
Skip
"Boom!"
Ucap gadis itu yang mengejutkan sang kakak yang tengah melamun.
"Mikirin apa sih kak? Kenapa diam terus?" tanya gadis itu.
"Mikirin mau buang kamu ke jalan!" jawab gadis itu kesal.
Kedua gadis yang kembar identik begitu sulit membedakannya jika tak di perhatikan. Tak hanya kembar identik bahkan selera pakaian dan mode nya pun sama.
Maurenne Giovenetta dan Marilyn Giovenetta.
Yang berbeda adalah sang adik yang memiliki mata biru yang lebih gelap di bandingkan sang kakak dan rambut yang bergelombang berbeda dengan sang kakak yang memiliki rambut yang lurus.
"Renne!" ucap Marilyn yang kesal pada sang kakak.
"Papa gimana?" tanya Renne yang memilih tak bertengkar dengan sang adik.
"Masih sama, kayaknya Papa mau jual toko deh kak..." ucap Lyn yang tampak sendu.
Gadis itu diam sejenak, "Lyn? Dengerin aku, aku ketemu pekerjaan baru tapi harus tinggal di sana satu tahun tapi bayaran nya besar banget! Menurut kamu ambil aja ga?" tanyanya yang tentu tak menyebutkan jika persyaratan ia harus mau hamil dan memiliki anak pria yang memberi nya kesepakatan walau usia nya masih terlalu berisiko untuk hamil.
"Kalau bayarannya besar kan ga apa-apa, kalau kamu kerja nya yang jauh nanti aku ikut jadi bisa bantuin kamu di sana." jawab gadis itu dengan polos nya tak tau tawaran apa yang di berikan pada sang kakak.
Atau bagaimana dampak yang akan terjadi pada sang kakak nantinya karna terlibat dengan orang gila seperti itu.
Maurenne diam sejenak dan kemudian tersenyum tipis, "Kamu di rumah aja, jaga Mama Papa terus sekolah yang pinter. Nanti kamu bakal aku kirim les di kursus pastry terus kamu yang jalanin toko kue Papa,"
Ucap nya yang tau impian adiknya, "Tapi kak kalau bayarannya besar, kamu ga jual diri kan?" tanya Lyn dengan mata polos yang menatap ke arah sang kakak.
Plak!
Dengan secepat kilat tangannya menyambar kepala adik nya karna kesal.
"Mulut mu itu bisa bilang yang baik aja ga sih?" tanya gadis itu yang kemudian berlanjut memukuli dengan bantal.
"Aduh! Sakit kak! Ampun!" ucapnya yang sembari menarik untaian rambut halus sang kakak.
Pertengkaran antar saudara yang selalu terjadi setidak nya dua hari sekali.
......................
__ADS_1
Satu Minggu kemudian.
Maurenne menghubungi kartu nama yang di berikan pada nya dan menyetujui semua yang di katakan di restoran sebelum nya.
Alexander menawarkan pernikahan yang hanya sebatas sampai ia bisa melahirkan satu anak tak peduli perempuan atau laki-laki.
Dan pembuatan anak nya pun tak di lakukan dengan berhubungan namun dengan inseminasi buatan karna pria itu sudah mengatakan ia memiliki kekasih.
Selama pernikahan ia akan di berikan fasilitas dan uang bulanan dan tentu gadis itu pun juga mendapatkan uang muka dan uang belakang.
"Kami akan memeriksa kesuburan nona," ucap wanita yang merupakan Sekertaris pria yang menjabat sebagai Presdir itu.
Maurenne pun mengangguk dan menurut walaupun ia juga merasa begitu gugup.
......................
Skip
7 Bulan kemudian.
Perut gadis itu telah membesar, ia mendapatkan semua hak sebagai istri kecuali untuk masalah ranjang selama pernikahan nya.
Dan ia pun tau mengapa pria itu membutuhkan wanita untuk anak nya karna kekasih pria itu selama tak akan bisa mengandung.
Ya! Tentu saja, tak mungkin seorang pria bisa memiliki anak bukan?
"Eh?"
Langkah nya terhenti, gadis itu memakai headset sehingga tak mendengar suara bariton yang tengah mend*sah itu sampai ia melihatnya sendiri.
"Ma.. maaf! Lanjutkan lagi!" ucap nya yang kemudian berlari pergi.
Padahal ia hanya lewat ke ruang tengah dan tak pernah sekalipun memasuki kamar sang suami yang bahkan sangat jarang berbicara pada nya.
"Aku sudah bilang di kamar kan? Kau tidak mendengar," ucap pria itu yang menyingkir agar pria yang masih berkuda itu terlepas.
Pria tampan itu tak peduli, ia kembali menarik kekasih yang masih tak lain adalah adiknya sendiri dan kembali mengecup nya.
"Dia sudah pergi kan? Sudah ku bilang dia itu tau diri." ucap nya yang mengecup bibir pria itu.
Sedangkan gadis yang membawa perut besar nya itu ke ruangan yang lain.
"Astaga, kenapa mereka melakukan itu di mana saja?" ucap Renne menggerutu.
"Kamu nanti jangan begitu ya nak? Anak ganteng Mama, kita makan yuk!" ucap nya yang mengusap perut bulat nya dan ingin kembali makan lagi.
Ia tak merasa tertekan secara batin karna sejak awal ia tau pria itu tak mencintai nya dan bahkan tak pernah memberi harapan untuk nya.
Yang ada ia hanya menikmati seluruh hari sembari mengirim uang untuk keluarga nya dan menunggu kelahiran putra nya setelah itu mendapatkan kompensasi.
......................
Skip.
8 Tahun kemudian.
Kini gadis yang dulu nya hamil muda itu telah bertukar menjadi wanita yang terlihat begitu bahagia.
8 tahun yang lalu ia bercerai dan memberikan semua hak asuh bayi nya pada sang suami.
Awal nya ia memang tak masalah memberikan anak itu, namun karna ASI akhirnya Alexander memanggil nya lagi dan menyuruh nya untuk memberikan ASI selama dua tahun.
Dan ternyata dalam dua tahun itu perkembangan emosional antara ibu dan anak mulai terjalin hingga membuat nya memohon untuk tetap bisa menemui putra nya walaupun tak di berikan uang.
Seseorang yang terlahir tanpa memiliki emosi.
Kini Maurenne menikmati hidup nya, toko kue sang ayah kini sudah berjalan dengan lancar. Adik nya yang bisa kuliah dan Ibu nya yang kini sudah sembuh.
Namun tak ada yang tau apa yang ia lakukan bahkan seluruh keluarga nya pun tak tau jika ia pernah memiliki seorang anak.
"Mau kemana Ren?" tanya wanita itu yang baru mengeluarkan roti yang di panggang.
"Ada deh," jawab Maurenne dengan senyuman cerah nya dan pergi dengan membawa roti nya.
Keceriaan itu setidaknya masih bertahan hingga kedua orang tuanya mengalami kecelakaan saat liburan nanti.
......................
Mansion
Ia melihat ke arah dua anak kecil yang memakan apa yang ia bawa, kini kedua nya sudah berusia 8 tahun.
Yang tak memiliki ekspresi itu adalah putra nya dan anak lelaki yang berada di samping nya itu adalah putra kekasih mantan suami nya dan tentu juga mungkin di lahirkan dengan memakai ibu sewaan seperti nya dulu.
"Luc? Diego? Suka? Besok mau aku bawain yang banyak? Nanti aku bawa yang bentuk kura-kura," ucap Maurenne yang mengusap kedua kelapa anak-anak yang tampan itu.
Wajah menggemaskan tanpa emosi itu menoleh, melihat sang ibu yang mengusap kepala anak lain.
Walaupun ia masih kecil dan tak tau cara menyalurkan emosi sehingga membuat wajah nya selalu tak berekspresi namun ia tau sesuatu tentang rasa tak suka dalam artian kecemburuan pertama nya.
"Yang anak Mama kan cuma aku, ga perlu pegang dia juga! Ga perlu bawain roti buat dia juga, kan dia punya Mama sendiri." ucap nya yang tak senang karna tak ingin membagi kasih sayang ibu nya.
"Lucas anak Mama cemburu? Manis nya," ucap Renne sembari mengecupi pipi anak laki-laki yang tak pernah menunjukan wajah tersenyum walaupun ketika bayi sampai berusia dua tahun anak itu tampak normal seperti bayi lain nya.
Sementara itu Diego mengentikan makan nya, ia juga ingin memiliki ibu seperti itu namun apa daya ibu yang ia miliki tak pernah ia lihat.
Maurenne menghentikan kecupan nya yang bertubi pada putra nya dan kemudian mendekat ke arah sepupu dari putra nya itu.
"Diego juga anak manis," ucap nya yang mencium anak lelaki dengan penuh senyuman dan ekspresi itu.
Lucas tak mengatakan apapun namun ia memeluk sang ibu dengan erat agar wanita itu hanya memperhatikan nya.
...
Skip
Dua bulan kemudian
Taman bermain.
"Astaga! Ada apa ini?" ucap nya yang menarik tubuh kecil putra yang memukuli anak lain dengan batu sampai penuh darah.
"Luc? Sayang? Kenapa nak?" tanya Maurenne yang menatap ke arah putra nya yang tak menunjukkan wajah bersalah itu.
"Dia jatuhin es krim ku tapi ga mau minta maaf," jawab Lucas kecil pada ibu nya dengan wajah yang polos namun mata yang tak memiliki emosi.
"Terus kamu pukul pakai batu?" tanya nya Renne pada putra nya.
"Kenapa? Ga boleh? Papa juga begitu," jawab nya yang tak merasa bersalah.
"Tidak! Kamu ga boleh pukul begitu, bilang apa?" tanya nya pada anak lelaki itu.
"Maaf Ma..." ucap nya menurut dan menunduk pada ibu nya.
__ADS_1
Maurenne pun tentu memanggil seseorang untuk membantu anak kecil itu dan tentu orang tua dari anak yang terluka itu juga datang.
Dan kasus yang terjadi itu hilang seperti tak berbekas ketika Alexander yang turun tangan untuk menutupi kasus putra nya.
....
Skip
Mata abu-abu itu menatap kesal ke arah wanita yang cantik itu, walaupun tak beralasan namun ia tak suka jika wanita itu lebih menyayangi putra nya sendiri padahal bukan kah itu wajar?
Ia tak memiliki satupun hubungan darah dangan wanita itu dan wanita itu bukan lah ibunya.
"Aku boleh panggil bibi Mommy ga? Aku juga mau Mommy, aku juga mau ke taman bermain, aku juga mau di cium Mommy, di elus-elus juga..." pinta nya dengan wajah sendu karna kekesalan nya memang kekesalan yang ingin menangis karna cemburu.
Wanita itu diam sejenak dan kemudian memeluk anak lelaki 8 tahun itu lalu mengusap kepala nya dengan lembut.
"Boleh, kalau Daddy kamu kasih izin kamu boleh kok. Panggil aku Mommy kapanpun kamu mau." ucap Maurenne dengan senyuman yang begitu cantik.
Ia tak pernah tau jika satu kebohongan anak kecil di depannya saat ini akan membuat ia mati dalam keadaan yang begitu mengenaskan.
...
Skip
Kecemburuan anak lelaki yang tampan itu semakin membengkak, ia bersaing untuk mendapatkan kasih sayang wanita itu dengan anak kandung wanita itu sendiri.
"Kenapa kamu ambil semua yang di kasih Mama ke aku? Kan itu punya aku!" ucap Lucas yang mengernyit melihat sepupu nya selalu mengambil semua barang-barang yang di berikan oleh sang ibu walau tak mahal.
"Aku kan cuma mau lihat!" ucap Diego kecil berteriak pada sepupu nya yang bahkan tak bisa menunjukkan kemarahan yang sama sepertinya.
"Tapi kamu buat rusak! Kenapa semuanya di banting?" ucap Lucas kecil yang kemudian memungut benda-benda kecil itu dan mengambil nya.
Diego kecil itu mengepalkan tangan nya, tak seperti kedua orang tua nya yang memiliki hubungan kekasih ia dan sepupunya tak akur.
"Memang nya Mommy mau punya anak kayak kamu! Kamu aja ga bisa ketawa! Ga bisa senyum! Lihat tuh! Muka kamu aja selalu begitu! Nanti Mommy juga ga bakal mau punya anak kayak kamu!" ucap nya yang kesal dan menyalahkan sepupu nya.
Lucas kecil diam tak menjawab, ia hanya berkedip dan tak membalas ucapan tersebut sampai sepupu nya pergi dari kamar nya.
Langkah kaki nya menuju ke arah cermin, ia melihat wajahnya yang menunjukan ketampanan sejak dini itu.
Tangannya menyentuh pantulan wajahnya di cermin, "Tersenyum? Aku juga mau, tapi gimana cara nya..." gumam nya lirih dengan wajah datar dan tanpa ekspresi itu namun suara yang terdengar itu begitu polos.
Tak memiliki emosi atau mungkin sulit untuk memahami dan mengekspresikan emosi mungkin di turunkan dari sang ayah memiliki genetik yang kuat di darah nya.
...
Skip
Hari ini Diego kecil tengah begitu marah, lebih kesal nya ia marah karna merasa cemburu dengan sepupunya yang saat berada di sekolah dan Maurenne lebih memilih menemani putranya bermain dengan lomba terlebih dahulu dari pada dirinya.
Mungkin aneh tapi ia ingin selalu di dahulukan melebihi anak kandung wanita itu.
"Paman?" panggil nya yang mengejar kekasih ayahnya itu.
"Paman tau ga? Tadi kan waktu di sekolah Bibi Rene bilang kalau Paman orang kotor, dia bilang Paman sama Daddy pacaran, terus dia juga bilang kalau Lucas itu juga anak nakal karna punya Papa kayak Paman," ucapnya dengan wajah polos walaupun ia mengatakan kebohongan.
Alexander hanya tersenyum tipis tak percaya dan tentu saja ia berpikir anak kecil itu tak akan pandai berbohong karna putranya memang tak bisa berbohong lebih tepat putranya itu selalu bicara gamblang.
"Dia bilang begitu?" tanya nya mengulang.
"Iya! Terus kata nya Lucas itu aset! Bibi Renne bilang dia bakal bawa Lucas kalau Paman ga nikah sama Bibi Renne!" ucap Diego sekali lagi.
Mendengar putranya yang di jadikan aset tentu ia merasa murka terlebih lagi ia mendengar wanita itu memintanya untuk di nikahi lagi.
"Dia benar-benar bilang begitu?" tanya Alexander yang memastikan.
"Iya!" jawab Diego kecil dengan senyuman polos nya dan dengan lancar kebohongan itu mengalir.
Ia berpikir jika melakukan itu, pamannya tak akan membiarkan Lucas dan ibunya bertemu lagi sehingga kini hanya ia anak yang di miliki wanita itu.
Alexander beranjak pergi, walaupun hal itu tak tau kebenarannya namun putra memang tak bisa dekat padanya walau kadang ia lupa sikap kerasnya itu lah yang membuat putra nya merasa jauh dari nya.
Situasi yang mirip dan kemudian di siram dengan api kebohongan dari anak kecil yang memiliki wajah polos itu tentu membuat nya mulai percaya.
....
Suara tangisan terdengar, rintihan kesakitan itu memenuhi seluruh ruangan dengan darah yang mengotori keramik putih itu.
Anak laki-laki itu kini menangis, ia yang tak pernah memiliki emosi itu kini menangis tersedu.
Sepatu Kets nya yang berwarna putih di hiasi dengan corak merah yang kental dan anyir, ia terus menunduk sembari menahan tangisnya.
Ukh!
Suara rintihan itu terdengar dan kali ini ia menoleh ke arah sang ibu, wanita dengan wajah yang penuh memar serta tubuh yang penuh dengan luka, kepala yang terus mengalirkan cairan merahnya.
"Pa! Jangan Pa! Luc janji jadi anak baik! Jangan! Huhu..." tangisnya yang kali ini berteriak sembari mulai berani mendekat ke arah sang ayah yang mencekik ibunya yang tak berdaya itu.
Anak kecil itu menangis pilu, kali ini tau apa arti kesedihan dan rasa takut. Ia memegang tangan sang ayah dan ingin melepaskannya.
Ia melihat ke arah wajah sang ibu yang merintih kesakitan, mata yang biru cerah itu tampak memerah karna tangis dan ingatan itu terkunci di otak nya seperti ekspresi yang akan mengakar dalam mimpi buruknya kelak.
"Kau menangis untuk wanita ini? Sepertinya kau sudah tau cara mengeluarkan emosi nya?" tanya pria itu dengan smirknya sembari terus mencekik leher wanita yang tak lagi berdaya itu.
Wanita itu tak bisa lagi mengatakan apapun, namun tangannya yang lemah serta penuh luka itu bergerak secara perlahan dan menutup mata putra kecilnya.
Ia tak ingin anak kesayangannya melihat kematian yang tragis atau hal yang mengerikan.
Anak kecil itu menangis, tangan yang basah dengan darah itu menutup wajah nya hingga ingatan yang terakhir saat ia melihat ibu nya hanyalah mata yang biru dengan wajah penuh luka dan rambut pirang yang tertutup cairan merah kental itu.
Aku akan mati sekarang? Kalau aku mati? Bagaimana dengan Lyn? Dia akan sendiri...
Krek!
Terdengar seperti sesuatu yang patah, tangan yang tadi nya masih menutup wajahnya kini jatuh tak lagi memiliki tenaga untuk melakukannya.
"Ma..Mama..." ia terkejut, dan meratap di depan mayat wanita yang sudah terpejam dalam kondisi mengenaskan itu.
Sedangkan sang ayah?
Alexander bangun dan mengambil cairan yang berwarna bening itu kemudian menyiramkan nya ke tubuh wanita yang sudah mati di depannya.
Lucas kecil tersentak saat ia merasakan sang ayah yang menyiram sesuatu dengan bau bahan bakar yang terasa jelas.
Alexander menangkap tubuh kecil putra nya dan menyeret nya hingga memiliki jarak sebelum ia menyalakan pemantiknya.
"Bakar," ucap nya singkat yang kemudian memaksa tangan kecil putranya itu untuk memegang pemantik yang menyala dan melemparkannya ke arah tubuh wanita yang sudah mati itu.
Kobaran api mulai meninggi, kilau sinar Fu membuat mata nya terpaku, rasa panas yang terasa di atas kulitnya dengan darah yang masih menggenang di kakinya.
"Aakkhh!!!"
Jeritan yang begitu keras, anak kecil itu jatuh pingsan seketika saat ia tak mampu menerima lonjakan emosi yang begitu besar itu.
__ADS_1