
Mobil jemputan datang kembali, gadis bermata biru itu tak begitu memperhatikan. Ia melamun untuk beberapa saat bahkan ketika klakson di bunyikan di depan nya.
"Hey? Itu mobil kamu kan?"
Salah satu mahasiswa menyenggol bahu gadis yang tampak melamun itu walaupun sudah ada mobil yang berdiri di depan nya dengan menghidupkan klakson bahkan kaca sang supir pun sudah di turunkan untuk memanggil.
"Eh? Iya?" Anna tersentak, sesaat mata nya menoleh ke arah mobil yang sudah menjemput nya, "Eh? Aku udah di jemput? Makasih ya." ucap nya yang seperti orang kebingungan sembari menundukkan kepala nya dan beranjak pergi.
Anna segera memasuki mobil nya, ia masih terdiam. Ia takut dan gugup jika pria gila itu tau apa yang baru saja terjadi.
Karna ia ingat sebelum nya pria itu bak peramal yang mengetahui semua yang ia lakukan di luar dah bahkan percakapan detail nya.
Dan tentu ia tak tau jika 'kekuatan peramal' itu berasal dari chip yang bahkan sudah di cabut di tubuh nya.
......................
Mansion Damian
Langkah nya terhenti, ia menatap ke arah pria yang menunggu nya di ruang tengah.
"Lu.. Luc?"
Anna bergumam lirih, tentu seseorang yang merasa berbuat salah maka akan merasa takut.
Lucas memberikan kan senyuman kecil, ia membuka tangan nya agar gadis itu mendekat.
"Bagaimana tadi? Semua lancar?" tanya pria itu dengan senyuman tipis karna ia tak tau apa yang terjadi dan tentu tak bisa mendengar apapun percakapan gadis nya dengan orang lain.
"I..iya! Semua lancar! Tadi perkenalan nya juga lancar, aku senang! Hihi!" Anna bercerita dengan tawa kecil untuk menutupi kegugupan nya.
Lucas tak merasakan rasa takut gadis itu, ia tersenyum dan mencium pipi gadis nya sekilas.
"Kau sudah makan tadi di sana?" tanya nya pada gadis itu.
Anna menangguk dengan senyuman di wajah nya, ia menatap ke arah pria yang hanya melihat nya itu.
"Topi mu mana? Tadi seingat ku kau pergi memakai nya?" tanya Lucas yang tak melihat apapun tentang topi gadis itu.
"Entahlah, tadi waktu aku mau pulang aku ju.. juga baru sadar topi nya ga ada." ucap Anna yang tampak gugup saat ia mengatakan kebohongan karna yang mengambil topi nya adalah kakak kelas nya.
Lucas mengangguk, ia tak peduli seberapa mahal topi yang ia berikan asalkan bukan gadis itu yang hilang.
"Ini jadwal mu," ucap Lucas yang memberikan selembar kerta berisi tentang jadwal guru vokal nya dan juga beberapa rancangan untuk membuat gadis itu kembali menjadi bintang iklan.
Anna menerima nya, ia memang mengambil jurusan seni namun seni acting untuk seni peran dan tentu menjadi musisi juga hal yang berbeda.
Senyuman naik di sudut bibir nya hingga membuat pipi nya terangkat dan menjadi senang.
Greb!
Pelukan nya menyambar pria itu dan tentu ia merasa begitu menyukai nya. Tak perlu casting untuk menjadi bintang iklan di perusahaan ternama karna ia sudah memiliki jalur dalam dari pemilik perusahaan itu sendiri.
Lucas mengusap punggung gadis itu ketika memeluk nya.
"Kalau begitu beri aku ucapan terimakasih," bisik Lucas dengan wajah nya yang menginginkan sesuatu itu.
"Tapi aku hari ini lagi ada lampu merah," balas Anna pada pria itu dengan suara bisikan juga.
"Kau tidak sariawan kan? Tangan mu juga tidak patah kan? Masih banyak cara, jangan beralasan." ucap Lucas pada gadis nya dan membuat Anna terdiam.
Gadis itu menarik napas nya dan mulai mendekatkan bibir nya, sesuatu yang lembut itu menyentuh nya perlahan dan kemudian hisapan kecil nua mencoba memangut bibir pria itu.
Lucas memejamkan mata nya, ia menarik tubuh gadis nya hingga duduk tepat di pangkuan nya dan mel*mat bibir merah muda itu.
.......................
Sementara itu.
Hotel.
Lantai ke 7 tempat di mana terletak salah satu restoran yang memiliki makanan yang memiliki cita rasa tinggi beserta dengan pemandangan yang bagus dari jendela nya.
"Setelah ini kita baru pesan kamar?"
__ADS_1
Makanan yang tersaji namun belum tersentuh, gadis itu harus tau berapa banyak porsi yang ia makan karena ia takut memuntahkan nya nanti saat tubuh nya di guncang.
"Tidak, aku hanya mau makan malam. Hari ini aku tidak berminat." ucap pria itu yang menjawab karna ia kali ini sedang butuh teman untuk bicara.
"Sungguh? Kalau begitu aku bisa makan dengan banyak?" tanya Samantha sekali lagi dengan lirih.
"Ya, Memang nya kau bisa makan sebanyak apa?" ucap Diego membuang napas nya.
Gadis itu tersenyum, kali ini ia bisa makan dengan bebas karna nanti nya ia tak perlu melayani pria itu di ranjang.
"Kau mengecat rambut mu?" Diego melihat dan memperhatikan rambut yang kali ini berwarna coklat tak seperti warna asli rambut gadis itu.
"Iya, apa aneh?" tanya nya sembari menatap ke arah pria yang duduk di depan nya.
Diego menggeleng, "Tidak, itu terlihat bagus untuk mu." jawab nya sembari melihat ke arah wajah yang tampak bersemangat itu.
15 menit kemudian.
Steik dan sup cream mushroom yang di pesan kini sudah habis, mata yang berbinar itu menatap ke arah pria di depan nya.
"Kau mau?" tanya Diego dengan nada yang panjang saat mata yang berbinar itu mengarah ke makanan yang belum habis.
"Tidak! Saya kan sudah banyak makan tadi," jawab gadis itu menolak sembari menggelengkan kepala nya.
"Yakin? Kau mau pesan lagi?" tanya Diego yang menawarkan.
"Mau!" jawab gadis itu tanpa sadar.
Mungkin karna ia yang kini sudah jarang memakan makanan yang enak membuat nya sangat suka jika di belikan makanan.
Pria itu tak mengatakan apapun dan kemudian memanggil pelayan untuk datang ke meja nya.
"Pesan makanan yang sama seperti sebelum nya," Ucap nya pada pelayan yang datang ke meja nya.
Tak lama kemudian makanan yang di pesan pun datang, mata hitam yang memakai lensa hijau itu langsung menatap dengan lapar dan ingin menyerbu nya seketika.
Diego tercengang sejenak melihat gadis yang biasa nya selalu makan sedikit karna memikirkan diet kini memakan secara asal.
"Kau mau sekolah lagi? Aku bisa ambil ujian paket untuk mu." ucap nya yang memilih tak membahas cara makan gadis itu dan menanyakan hal lain.
Sebelum nya ia termasuk murid yang pintar karna selalu mendapat peringkat satu di kelas walau bukan peringkat satu seangkatan.
"Ya, tapi ada syarat nya." jawab Diego yang tentu tak bisa melakukan dengan bebas apa yang ia mau karna gadis itu masuk ke dalam daftar hitam sepupu nya.
"Apa itu?" Samantha menoleh menatap dengan bingung.
"Lepaskan orang tua mu, jangan berhubungan dengan mereka lagi untuk hal apapun dan soal rentenir yang mengejar ayah mu akan ku pastikan mereka tidak akan mengincar mu lagi." ucap Diego pada gadis itu.
Samantha terdiam sejenak, ia menatap ke arah pria yang menyuruh nya untuk lepas tangan pada keluarga nya.
"Ibu ku tidak bisa bekerja karna tangah nya, kalau aku melepaskan nya juga lalu apa yang akan terjadi?" tanya nya lirih yang tentu tak bisa membuang keluarga nya begitu saja.
"Aku tidak tau, yang terpenting selama kau masih berurusan dengan keluarga mu, aku tak bisa bantu apapun." ucap Diego yang sudah memberi tau.
"Memang nya kenapa orang tua ku? Mereka selalu baik! Mereka itu orang baik tapi kenapa semua ora-"
"Baik? Pft!" pria itu tertawa kecil mendengar nya.
"Ibu mu merebut suami orang lain dan menghancurkan pernikahan orang lain, dan dalam pernikahan ada keluarga kan? Berati ibu mu sudah berhasil menghancurkan keluarga seseorang,"
"Ayah mu meninggalkan istri dan anak sah nya untuk wanita selingkuhan nya dan anak haram nya, mengabaikan tanggung jawab menyiksa anak dan istri nya secara psikis,"
Samantha terdiam, ia tak bisa mengatakan apapun. Orang tua nya adalah orang yang baik menurut nya dan tak tau bagaimana versi di mata orang lain.
"Dan keluarga yang di hancurkan oleh ibu mu adalah keluarga teman mu sendiri selain itu psikis anak yang rusak dan di buang di panti asuhan itu juga teman mu sendiri." sambung pria itu dengan senyuman kecil.
Gadis itu kehilangan kata-kata, makanan yang tadi nya sangat bersemangat untuk ia makan pun kini tak lagi berminat sama sekali.
"Habiskan makanan mu, kau sudah pesan tadi kan?" tanya Diego saat suasana nya sedikit berubah.
"I.. iya..." jawab Samantha lirih dan mulai melanjutkan makan nya.
......................
__ADS_1
Dua hari kemudian
Universitas.
Mata biru itu tersentak, ia melihat ke arah pria yang datang di kelas nya dan menyusun bangku tepat di samping nya karna memang susunan bangku itu bertingkat.
"Gevan? Eh? Kak maksud nya," ucap Anna yang terkejut melihat pria itu yang duduk di samping nya.
"Kan aku bilang panggil apa aja yang nyaman, lagi pula kalau kau panggil kak saja itu sedikit aneh, kau kan bukan adik ku." ucap nya pada gadis itu.
"Kamu ngapain di sini?" tanya Anna yang menatap bingung ke arah pria itu.
"Kau tidak tau ya? Kalau aku bisa pilih kelas yang sama dengan mu?" ucap pria itu dengan tawa kecil.
"Dan lagi pula di sini tuh bukan SMA tau," sambung nya lagi pada gadis yang tak tau sistem pembelajaran kampus.
"Gev?"
Sapa seorang wanita cantik yang terlihat berada di tingkat yang sama seperti pria itu.
"Nanti malam ada party di rumah Megan, kau ikut kan?" tanya wanita itu yang beranjak duduk di meja depan pria itu.
"Entahlah, mungkin kalau teman ku bisa ikut juga?" jawab pria bermata hijau itu saat melihat ke arah gadis yang berada di samping nya sekilas.
"Wow! Who's she? Your girlfriend?" tanya wanita itu yang langsung menatap dengan mata penuh penasaran.
"Maybe? Or not?" jawab Gevan ambigu dengan di ikuti tawa kecil.
Walaupun Anna tak begitu paham bahasa Inggris namun berkat guru yang mengajar nya dengan ketat membuat nya sekarang sudah sedikit paham.
"No! No! We're just friends!" ucap nya yang langsung menyangkal dan menggelengkan kepala nya.
"Come on honey," ucap wanita itu dengan tertawa kecil seperti sedang menggoda gadis itu, "Wanna join a party this night?" tanya nya yang sekalian mengundang gadis itu.
"Hum? Na.. nanti aku kasih tau ya..." jawab Anna yang tersentak dan bingung seketika saat ia percaya kali mendapat undangan seperti itu.
Percakapan tersebut pun berakhir saat dosen mulai datang dan memberi pelajaran kuliah nya.
Anna banyak mengalami hal baru yang tak pernah ia tau sebelum nya, gadis yang masih memiliki rasa penasaran yang tinggi akan dunia tentu masih ingin menjelajah dan semakin mencoba hal yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.
......................
Mansion Damian
"Pesta? Pesta kolam?" tanya Lucas mengulang.
Anna mengangguk kan kepala nya, tentu ia tidak bisa asal pergi begitu saja dan harus meminta izin lebih dahulu.
"Tidak, kau tau biasa nya pesta seperti itu isi nya bagaimana?" ucap Lucas yang tentu langsung tak menyetujui nya.
"Tapi aku belum pernah, boleh yah?" ucap Anna lirih yang memohon karna merasa tertarik saat mendengar pembicaraan yang ia dengar tadi.
Ack!
Gadis itu tersentak, tangan nya di tarik dan membuat tubuh nya terhempas mendekat ke arah pria yang berdiri depan nya.
"Aku mengkuliahkan mu bukan untuk membuat mu menjadi pembangkang, mengerti?" tanya Lucas dengan suara dan mata yang menekan gadis itu untuk membuat nya diam.
......................
Sementara itu
Apart
Apartemen kecil itu kini berantakan, para rentenir datang lagi dan mengobrak-abrik seluruh isi rumah itu.
Gadis itu hanya menahan air mata nya, ia nya merasa takut begitu pun dengan diri nya walau kini orang-orang yang mengerikan itu sudah pergi.
Ia kembali ke kamar nya, perut nya terasa mulas dan saat ia memeriksa ia terlihat seperti sedang mengalami datang bulan yang cukup parah.
"Apa karna sekarang banyak masalah ya? Maka nya datang bulan nya jadi begini?" ucap nya lirih saat ia memeriksa darah yang keluar lebih banyak dari biasa nya.
Gadis itu tak mengatakan apapun, ia juga berpikir mungkin kali ini ia berdarah cukup banyak karna bulan sebelum nya ia tak mendapatkan siklus nya.
__ADS_1
Ia pun beranjak membersihkan darah nya, perut nya masih terasa sakit dan wajah nya yang begitu pucat namun tentu ia tak memiliki pikiran untuk memeriksa ke rumah sakit karna sekarang ia tak memiliki sedikit pun uang setelah di ambil oleh rentenir.
"Aduh! Tapi kenapa sakit banget sih?" gumam nya lirih yang memeluk perut nya.