
Apart
Matahari mulai meninggi, sinar tanpa warna itu mulai datang menyebar merata namun cahaya tersebut tak masuk ke dalam apart kecil itu.
"Uhh..."
Gadis itu meringkuk lirih sembari menahan sakit di perut nya, ia sudah minum obat pereda nyeri yang biasa di minum ibu nya.
Namun tetap sama saja kali ini, tak berkurang dan malah membuat nya tak bisa tidur satu malam.
"Sam?"
Suara wanita itu tampak masuk dan membuka pintu kamar putri nya, tentu nya ia datang untuk bertanya mengapa sarapan nya belum tersedia padahal ia sudah lapar.
"Hey? Sam? Kamu kenapa?"
Raut yang marah dan kesal itu berubah, mau sejungkir balik apapun hidup nya dan seberubah apapun diri nya, ia tetap seorang ibu.
Putri tak menjawab, hanya suara ringisan lirih yang terdengar di dalam ringkuk gadis itu.
"Darah?" wanita itu menoleh, ia menatap ke arah matras putri yang mengeluarkan banyak darah.
"Datang Bulan Mah, tapi yang ini lebih sakit." jawab gadis itu sembari melihat sang ibu.
"Sam? Kamu pucat sekali!" Mrs. Laura tersentak saat melihat wajah putri nya.
"Bangun! Kita ke rumah sakit sekarang!" ucap nya yang berusaha menarik putri nya dengan satu tangan yang ia miliki.
Gadis itu menolak, rumah sakit membutuhkan biaya dan biaya itu adalah uang.
"Ga usah Mah! Bentar lagi juga sembuh!" ucap nya yang kembali tiduran.
Plak!
Wanita itu memukul punggung putri nya agar bangun, "Kita ke rumah sakit! Mamah punya uang! Ga usah takut kamu!" ucap nya pada putri semata wayang nya itu.
"Uang dari mana Mah! Nanti kalau malah hutang sama rumah sakit aku juga yang bayar! Udah lah! Kalau mati biar mati sekalian aja!" ucap nya berteriak pada sang ibu karna ia masih merasa sensitif.
Mrs. Laura tersentak. Ia memang tak memiliki uang namun ia memiliki beberapa barang bermerek yang asli dan bisa ia jual lagi karna kondisi nya masih bagus.
Beberapa rentenir tentu tak tau jika barang-barang seperti tas dan sepatu wanita memiliki rentang harga yang beberapa di antara nya cukup tinggi.
"Gak! Kita ke rumah sakit! Mamah punya uang!" ucap wanita itu yang keras memaksa putri nya dan terus menarik nya hingga bangun.
......................
Rumah Sakit
UGD
Setelah mengantar putri nya wanita itu tentu kembali lagi ke apart kecil nya dan menjual semua barang yang memiliki nilai dan kemudian kembali lagi ke rumah sakit.
Tapi apa yang ia dengar?
"Apa? Coba ulangi?" tanya Mrs. Laura mengulang mencoba mencari tau apa pendengaran nya salah.
"Putri anda keguguran, usia kandungan nya masih satu bulan dan pemicu nya karna stres berkepanjangan." ucap sang dokter mengulang pada wanita yang datang dengan putri nya.
Mrs. Laura mengambil napas nya, ia terkejut dan tersentak sejenak.
Namun jujur saja tak ada rasa sedih kehilangan cucu nya selain rasa terkejut.
Srek!
Ia menarik tirai yang menutupi ranjang putri nya di ruang UGD itu dan melihat ke arah anak gadis nya yang masih tertidur setelah efek obat nya bekerja.
Wanita itu tak membangunkan sama sekali dan menunggu putri nya yang segera bangun.
......................
Mansion Damian
Gadis itu terbangun lebih siang kali ini dan untung nya kelas yang akan ia hadiri kali ini masuk pada siang hari.
Gadis itu menggeliat sembari menarik selimut tebal yang menutupi tubuh polos yang penuh dengan bekas kepemilikan itu.
Ia hanya ingin menghadiri pesta yang di ajak pada nya, tapi bukan nya dapat pergi ia malah tertahan dan mendapat gempa susulan.
"Kau masuk siang hari ini?"
Suara pria itu mendekat dengan stelan rapi karna ia selalu terbangun lebih dulu di bandingkan gadis remaja itu.
Anna menangguk ia menatap ke arah pria yang tentu tak mungkin merasa bersalah pada nya.
"Latihan mu bagaimana?" tanya Lucas yang tentu menanyakan tentang perkembangan vokal gadis itu.
"Lumayan," jawab Anna sekedar nya karna ia pun sebenarnya sedang kesal dengan pria itu.
Lucas mengangguk kecil, "Kalau begitu aku pergi dulu. Jangan lupa sarapan." ucap nya yang beranjak mencium pipi gadis itu dan pergi ke perusahaan nya walau ia pun sebenarnya sudah cukup terlambat.
Anna menangguk, tentu rutinitas seperti ciuman di pagi hari adalah sesuatu yang sudah seperti kebiasaan untuk nya.
......................
Universitas
Anna duduk ke tempat nya, ia menatap ke arah pria yang datang dan tentu selalu berada di samping jika memiliki kelas yang sama.
"Kau tidak datang semalam?" tanya nya yang melihat ke arah gadis itu.
Anna menggeleng, "Ada urusan." jawab nya singkat pada pria itu.
__ADS_1
"Ann? Kau masih sama sugar mu yang kemarin itu? Ga niat ganti? Kalau mau ganti kan bisa ke aku." ucap Gevan yang bertanya sekaligus menawarkan diri.
"Hush! Dia ga bisa di tukar tambah, tukar nyawa yang iya nanti!" jawab Anna yang tentu tau seperti apa pria yang selalu memberi nya segala itu.
Segala rasa senang dan bahagia serta segala rasa takut dan kesedihan.
"Memang nya dia bakal bunuh orang? Kalau dia buat begitu dan sampai di ketahui publik bakal abis sih, kecuali kalau dia pakai pesuruh." ucap Gevan yang tau orang berpengaruh tak akan mau mengambil keputusan gegabah dengan mengotori tangan nya sendiri.
Anna hanya menarik napas nya, ia sudah melihat beberapa yang mati di tangan pria itu dan tentu beberapa di antara nya adalah yang ia kenali.
Kelas pun berakhir, mahasiswa dan mahasiswi yang berada di tempat itu pun mulai beranjak bangun dan kembali pulang.
Gevan melihat ke arah gadis yang berada di samping nya, ia ingin lebih lama bersama gadis itu dan tentu mencari alasan untuk keinginan nya.
"Ann? Hari ini ada banyak kegiatan ga?" tanya Gevan pada gadis itu.
"Kenapa?" Anna mengernyitkan dahi nya dan menatap ke arah pria itu.
"Aku dapat undangan, yah sebenarnya bukan teman ku sih yang menikah tapi teman ku itu mau kasih kekacauan kecil di pernikahan mantan nya," ucap nya pada gadis itu.
"Kekacauan?" Anna menoleh dengan mata yang bingung.
"Kau bisa nyanyi kan? Waktu itu di pensi sekolah kau kan pernah ikut," ucap Gevan pada gadis itu.
"Nyanyi? Bisa sih tapi masih belajar juga, eh? Tapi aku ga mau deh! Pasti mau nyuruh aku kan? Memang nya ini mau ngapain sih?" tanya nya yang menebak dan langsung menolak sebelum di ajak.
"Kalau ga mau, temani aku aja? Dia soal nya minta untuk ngisi pemain piano nya." ucap Gevan yang memang tak berbohong.
Teman nya itu memang meminta nya untuk menggantikan pemusik yang harus nya mengisi datang ke pernikahan mantan nya dan kemudian di ganti dengan diri nya sembari meminta nya menyanyikan lagu untuk menyindir mantan nya.
"Serius? Ga mau ikut? Seru loh," ucap nya yang tentu selalu mengajak gadis itu melakukan hal yang nakal.
"Ga boleh tau buat kacau di suasana bahagia orang lain," Anna menarik napas nya sembari memberikan ceramah.
"Bukan buat kacau yang sampai rusak pernikahan kok, temen ku cuma mau nyindir mantan nya yang nikah sama selingkuhan nya aja." jawab Gevan pada gadis itu.
"Oh? Oke, aku ikut." jawab Anna yang langsung setuju karna mendengar kata selingkuh itu. Ia memang begitu sensitif dengan hal tersebut.
"Serius?" Gevan terkejut namun ia senang karna gadis itu setuju untuk ikut dengan nya.
"Iyaps! Jadi kita sekarang ke mana?" tanya nya yang mendekat ke arah pria itu.
"Pertama! Kita ubah penampilan dulu!" ucap Gevan yang tersenyum kecil.
......................
Salon
Gadis itu menatap bingung melihat ke arah penampilan nya, bukan nya tercengang karna merasa cantik namun karna merasa aneh saat memakai gaun yang tampak tak cocok untuk menghadiri pernikahan.
"Gev? Ga apa-apa nih kita kayak begini?" tanya nya sembari memiringkan kepala nya dan menggaruk rambut nya.
Make yang tampak tak menunjukkan sisi polos sama sekali dan menonjolkan sisi yang lebih dewasa.
"Yaps! Cocok! Lagi pula mereka juga mau yang beda dan kau mau mereka kenal kita nanti? Malah kita mau salah nyanyi di pesta nikah nya lagi." ucap Gevan yang merasa sudah benar-benar pas.
"Eh? Iya juga ya? Tapi kamu kenapa ga berubah?" tanya Anna yang hanya diri nya yang di make up.
"Aku pakai masker! Jadi aman! Kan aku cuma mainin piano nya," ucap Gevan yang mengacungkan jempol nya.
"Oh? Okey," Anna menjawab lirih.
Tentu ada beberapa hal yang tak bisa di berikan Lucas namun bisa di berikan oleh pria di depan nya. Yaitu adalah hal yang akan di ingat oleh anak-anak yang masih dalam proses pencarian jati diri kedewasaan yang sebenarnya.
......................
Hotel
Aula pernikahan.
Anna sudah ingin mundur, tempat pernikahan itu tampak mewah dan tentu yang menikah atau menghadiri nya bukanlah orang sembarangan.
"Gev? Balik aja yuk? Bahaya nih? Nikah nya aja begini," ucap nya lirih berbisik pada pria itu.
Memang sekarang hanya tinggal pesta nya saja karna ikrar yang suci itu sudah terlewati.
"Iyalah, yang nikah tuh Presdir Grup Red Sun," jawab Gevan berbisik.
"Ha? Serius? Ih! Kalau tau begini ga ikut aku tuh!" ucap Anna lirih.
"Jadi kau mau di sini saja? Kalau begitu tunggu aku aja? Aku ke atas sendiri..." ucap nya lirih yang tampak menyedihkan.
"Ih! Iya! Iya!" Anna menarik napas nya melihat tak tega pada pria itu jika ia menyalahi janji.
Lantunan piano mulai terdengar, beberapa pengunjung yang datang pun tentu menikmati apa yang di sajikan oleh pengantin di pesta pernikahan nya.
Anna sedikit gugup, namun ia juga memiliki kepercayaan diri karna pelafalan bahasa Inggris nya tak begitu buruk setelah ia di paksa belajar berbulan-bulan untuk itu.
Dan lagu yang di nyanyikan adalah Wildest Dream by Taylor Swift
...Wildest Dream ...
...He said let's get out of this town. Drive out of the city. Away from the crowds....
...Dia bilang, ayo kita pergi dari kota ini. Tinggalkan kota ini. Menjauh dari keramaian...
...I thought heaven can't help me now. Nothing lasts forever, but this is gonna take me down....
...Kupikir hubungan ini tak bisa di selamatkan lagi. Tak ada yang abadi, tapi ini juga pasti kan menyakitkan....
__ADS_1
...He's so tall, and handsome as hell. He's so bad but he does it so well....
...Dia begitu tinggi, dan tampan sekali. Dia begitu jahat tapi memperlakukan ku dengan baik....
...I can see the end as it begins. My one condition is......
...Aku tau hubungan ini akan hancur saat di mulai. Satu janji ku adalah......
...Say you'll remember me. Standing in a nice dress, staring at the sun set babe....
...Katakan kau kan mengingatku. Berdiri kenakan gaun indah, menatap mentari tenggelam...
...Red lips and rosy cheeks. Say you'll see me again even if it's just in your wildest dreams......
...Bibir merah dan pipi merona. Katakan kau kan bertemu denganku lagi meski hanya dalam mimpi-mimpi terliar mu...
...Wildest dreams...
...Mimpi-mimpi terliar mu...
...I say "No one has to know what we do," His hands are in my hair, his clothes are in my room....
...Kubilang "Tak perlu ada yang tahu apa yang kita lakukan," Tangannya di rambutku, pakaiannya di kamarku....
...And his voice is a familiar sound, nothing lasts forever, but this is getting good now....
...Dan des*han nya terdengar akrab, tak ada yang abadi, tapi ini semakin menyenangkan...
...He's so tall, and handsome as hell. He's so bad but he does it so well....
...Dia begitu tinggi, dan tampan sekali. Dia begitu jahat tapi memperlakukan ku dengan baik....
...And when we've had our very last kiss, but my last request is.......
...Dan saat kita tlah menikmati ciuman terakhir, tapi satu permintaanku adalah...
...Say you'll remember me. Standing in a nice dress, staring at the sun set babe....
...Katakan kau kan mengingatku. Berdiri kenakan gaun indah, menatap mentari tenggelam...
...Red lips and rosy cheeks. Say you'll see me again even if it's just in your wildest dreams......
...Bibir merah dan pipi merona. Katakan kau kan bertemu denganku lagi meski hanya dalam mimpi-mimpi terliar mu...
...Wildest dreams...
...Mimpi-mimpi terliar mu...
...You see me in hindsight, Tangled up with you all night. Burn it down...
...Kau lihat aku setelah semua terjadi. Terjerat bersama mu di ranjang sepanjang malam, begitu menggairahkan....
...Some day when you leave me, I bet these memories follow you around....
...Suatu hari saat kau tinggalkan aku....
...Ku Berani bertaruh, kenangan ini akan menghantui mu....
...You see me in hindsight, Tangled up with you all night. Burn it down...
...Kau lihat aku setelah semua terjadi. Terjerat bersama mu di ranjang sepanjang malam, begitu menggairahkan....
...Some day when you leave me, I bet these memories hunt you around....
...Suatu hari saat kau tinggalkan aku....
...Ku Berani bertaruh, kenangan ini akan menghantui mu....
...Say you'll remember me. Standing in a nice dress, staring at the sun set babe....
...Katakan kau kan mengingatku. Berdiri kenakan gaun indah, menatap mentari tenggelam...
...Red lips and rosy cheeks. Say you'll see me again even if it's just in your wildest dreams......
...Bibir merah dan pipi merona. Katakan kau kan bertemu denganku lagi meski hanya dalam mimpi-mimpi terliar mu...
...Wildest dreams...
...Mimpi-mimpi terliar mu...
...Even if it's just in your wildest dreams, In your wildest dreams...
...Meski cuma di dalam mimpi-mimpi terliarku, Di dalam mimpi-mimpi terliarku...
🎶🎶🎶
Beberapa pengunjung sedikit berpikir jika lagu itu lebih cocok untuk di nyanyikan pada mantan kekasih.
"Apa mantan pacar nya yang mengirim ini untuk pernikahan nya?" ucap pria itu dengan tawa kecil pada atasan sekaligus sepupu nya yang datang ke pesta rekan bisnis nya itu.
Tak ada jawaban sama sekali, mata pria itu hanya melihat ke arah si penyanyi yang ia tau siapa yang berada di balik mic itu.
"Tapi kalau di lihat-lihat dia mirip Anna ya?" tanya Diego melihat ke arah gadis yang menyanyikan satu lagu dan kemudian turun.
"Bukan mirip, itu memang dia." jawab nya Lucas singkat dengan mata tajam yang mengikuti arah gadis itu keluar dengan seorang pria saat sudah menyelesaikan lagu nya.
Tentu ia tau dan bisa membedakan gadis nya dalam wujud apapun dan bahkan sudah make over sebanyak apapun dan bahkan ketika memakai kontak lensa.
Lucas menarik senyuman nya dan meminum sampanye yang di sediakan.
"Hah..."
__ADS_1
"Anak itu mau mati rupa nya..."
Gumam nya lirih dengan tatapan tajam saat mata nya melihat tangan yang bergandengan keluar itu.