Calm Down! Mr. Psycho!

Calm Down! Mr. Psycho!
Tears


__ADS_3

Rumah sakit.


Wanita itu menatap ke arah pria yang berada di dalam mobil itu sebelum ia turun dari kendaraan mewah itu.


"Kamu mau turun Luc?" tanya Anna yang menatap ke arah pria yang berada di samping nya.


Lucas tak menjawab apapun, ia menatap ke arah sang istri yang masih hanya menunggu nya.


....


Ruangan putih yang banyak menggunakan peralatan medis yang besar dan banyak yang bahkan tak ia ketahui sama sekali.


"Kamu ga apa-apa?" tanya Anna yang menggenggam tangan pria itu saat menjalani pemeriksaan.


"Aku terlihat takut? Atau kau yang takut?" tanya Lucas yang menatap ke arah sang istri.


Anna diam sejenak dan kemudian menatap ke arah sang suami.


Wanita itu tak lagi berkata-kata, mata biru yang cerah itu menatap ke arah sang suami.


Pemeriksaan yang bahkan tak ia ketahui jenis nya itu selesai dalam beberapa waktu yang terbilang cukup lama.


"Seperti nya anda terpapar zat-"


"Luc?"


Anna memotong perkataan dari pria yang memakai kaca mata dengan dengan rambut yang putih itu saat mendengar jika dokter yang memeriksa sang suami ingin mengatakan alasan mengapa bisa terjadi masalah kesehatan seperti itu.


"Luc? Kamu..."


Ia menggantung kalimat nya karna memang tak ada yang bisa ia katakan dan ia pun tak tau harus mengatakan apa.


Lucas menatap dengan datar, wajah yang gelisah dengan mata yang gugup seperti takut ketahuan.


"Katakan saja cara untuk menangani nya, tidak perlu mengatakan hal yang merepotkan." ucap Lucas yang menatap ke arah pria yang terlihat sudah separuh abad lebih itu.


"Anda bisa melihat di sini, ada beberapa kerusakan hati dan saran saya untuk mencari pendonor."


"Memang sedikit sulit tapi kami akan mencoba nya, dan sebelum menemukan nya bisa di lakukan terapi sebelum itu."


Sang dokter menjelaskan, namun saat melihat pasien dan keluarga nya itu seperti tak ingin mencari penyebab penyakit ia pun tak mengatakan apapun.

__ADS_1


......................


Tiga hari kemudian.


Mansion Damian.


Wanita yang berdiri seperti kaki yang tertancap di tanah itu menarik napas nya.


Ia sudah membeli banyak cairan kimia yang biasa ia berikan pada suami nya dan kini?


Kemana semua itu akan ia gunakan? Membuang nya atau tetap menggunakan nya?


"Apa yang dia takutkan? Kematian?" gumam nya yang menatap dengan lirih seperti tak bisa memikirkan apapun.


Hanya kehidupan biasa yang seperti di miliki keluarga lain, namun tentu hal itu sedikit sulit untuk nya.


...


Pria itu menunggu di bangku taman nya yang luas, ia menatap ke arah halaman yang lebar itu tanpa mengatakan apapun karna ia sedang menunggu seseorang.


"Luc?"


Suara yang bagi nya terasa tak asing mendekat pada nya, senyuman yang cerah dengan wajah yang tak bisa ia lupakan.


Lucas tak mengatakan apapun, ia hanya diam dan mengambil nya seperti tak peduli apa yang ada di dalam nya.


Senyuman yang indah itu perlahan memudar dan hanya tampak seperti senyuman tipis yang menatap ke arah pria itu.q


"Gimana rasa nya?" tanya Anna yang menatap sang suami sembari menyangga dagu nya dengan satu tangan.


"Lumayan tapi aku lebih suka kalau hanya mint," jawab Lucas dengan datar.


Anna hanya tersenyum mendengar nya, mata biru nya melirik dan menatap sekilas ke arah teh yang ia berikan.


"Luc?" panggil nya dengan senyuman tipis.


Pria itu tak menjawab namun ia menoleh seperti menunggu untuk sebuah perkataan yang selanjutnya.


"Di dalam teh itu, aku mencampurkan sesuatu yang lain. Sesuatu yang buat hati kamu mengalami kerusakan." ucap Anna dengan senyuman tipis.


Lucas menatap ke arah wanita nya, ia memegang pipi yang terasa dingin dengan udara yang mulai berganti itu.

__ADS_1


"Lalu kenapa sebelum nya kau menyuruh ku ke rumah sakit?" tanya Lucas yang menatap ke arah sang istri.


"Tidak ada, aku hanya tidak mau ketahuan saja." jawab Anna singkat.


"Lalu kenapa kau memberi tau ku sekarang? Barusan bilang tidak mau ketahuan kan?" tanya pria itu yang menatap ke arah wanita nya.


Senyuman cantik itu terurai, "Aku tidak tau, aku mau melihat mu menderita tapi setelah melihat nya aku juga tidak merasa bahagia."


"Aku mau berhenti tapi aku juga tidak bisa, aku berubah pikiran setiap saat." sambung Anna yang sekarang bisa berbicara dengan tenang.


"Lalu apa yang kau mau? Kau meminta ku untuk membunuh mu? Kau mau aku mati? Kau mau aku hidup? Atau apa?" tanya Lucas yang menatap ke arah wanita di depan nya.


"Aku mau kau menyayangi Estelle," jawab Anna singkat.


"Tapi seperti nya akan sulit karna kau mungkin akan mati lebih dulu?" tanya wanita itu dengan wajah yang tampak setengah bingung namun tetap tenang.


"Kau mau aku mati lebih dulu?" tanya Lucas dengan wajah yang datar namun tangan nya menggapai tangan kecil sang istri yang ada di atas meja.


Anna diam sejenak, senyuman nya hilang sesaat dan ia pun menatap ke arah sang suami.


"Kalau begitu kau harus tetap seperti ini, duduk dengan ku dan bersama ku sampai akhir. Lihat kematian ku di depan mata mu sendiri." ucap nya dengan wajah yang dingin namun mata yang mengatakan sesuatu yang lain.


Anna tak mengatakan apapun, tangan yang hangat dan besar itu membuat nya sedikit menyesal telah memberikan lagi campuran zat kimia yang akan merusak hati dari sang suami.


...


Mata biru itu menatap ke arah buah hati nya yang masih tak sadar sama sekali.


Memang untuk kasus dengan kerusakan otak seperti itu akan sangat sulit untuk bangun dan saat bangun pun bukan berarti akan baik-baik saja.


Sentuhan nya meraba wajah yang menggemaskan itu dan dengan senyuman tipis ia menunduk.


Membisikkan kata-kata yang cukup lama namun seperti sebuah rahasia yang ia ingin hanya ia dan putra nya saja yang tau.


Kecupan lembut terasa di pipi bulat itu, suara tarikan napas yang berat dengan tenggorakan yang tercekat membuat wanita itu mengusap air mata nya.


Anna berbalik, ia tersenyum dan melepaskan usapan tangan nya yang lembut lalu beranjak pergi keluar dari kamar anak kecil itu tanpa mengatakan apapun lagi.


Keheningan menelan kamar dari anak pemilik mansion mewah itu.


Tes...

__ADS_1


Buliran bening itu merembes keluar, kelopak mata yang tertutup dengan wajah yang tertidur tanpa suara.


Jemari mungil yang mulai memberikan respon nya namun tak membawa kesadaran.


__ADS_2