
Mansion Damian.
Barang-barang yang berserakan di lantai, vas yang pecah lampu tidur yang sudah berhamburan serta banyak hal yang tak lagi berbentuk.
Gadis remaja itu meringis, ia menahan suara tangisan nya, menutup mata nya dan berharap agar semua nya cepat berlalu.
Lucas?
Apa boleh ku ganti nama itu?
Aku jadi teringat nama malaikat yang menjadi iblis...
Lucifer?
Tapi...
Ukh!
Anna meringis, ia meremas piyama tidur pria yang tengah mengigit bahu nya itu.
Tanpa mengatakan apapun atau melakukan pemberontakan, gadis itu pasrah dalam pelukan seseorang yang memiliki tubuh dua kali lipat dari nya.
"Hilangkan rasa sakit ku..."
Bisik nya yang menengandah melihat ke arah gadis remaja dengan wajah yang basah karna tangis.
Bagaimana?
Gadis itu tak tau apapun, jika ia mempunyai kekuatan menghilangkan rasa sakit maka ia sudah melakukan nya lebih dulu untuk diri nya.
"Seperti tadi..."
"Dia terus bicara..."
Mata kosong pria itu menatap tajam, tatapan yang tampak tak bisa di baca dengan aura yang terasa begitu menekan nya.
Lucas menatap ke arah mata biru yang bersinar dengan gelap itu. Tangan nya perlahan membelai ia menatap wajah yang tampak takut dengan tubuh yang gemetar.
"Kenapa diam? Tadi kau membuat rasa sakit berhenti..."
Tanya nya dengan suara yang halus dan rendah membuat gadis itu semakin meremang merasa takut.
Kepala yang terasa akan pecah itu perlahan memudar, tangan yang hangat memegang kedua sisi pipi nya.
Sinar mata yang sama membuat nya teralihkan, dengungan di telinga nya menghilang, wajah yang bisa membuat nya tenang seperti ekstasi, aroma anyir yang tercium membuat seluruh rasa gelisah yang tak nyaman hilang.
Tangan gadis itu bergetar, warna merah memenuhi telapak tangan nya, ia memegang wajah pria itu.
Lucas memejam saat merasakan tangan gadis itu di wajah lagi, ia merasa melupakan sesuatu yang ia rindukan.
Tapi apa?
Apa yang sudah ia lewatkan?
Apa yang sudah pergi dari nya dan membuat nya hilang?
"S..Sir..."
"Sa..saya.."
Anna kehabisan kata-kata, lidah nya kelu tak mampu mengatakan sesuatu lagi.
Pria itu kembali membuka mata nya, ia menatap gadis itu, tangan kecil yang basah akan darah tak mempengaruhi nya walaupun memegang wajah nya.
Senyuman simpul nya naik, mata nya menatap lurus membuat Anna merasa takut sekaligus tak bisa mengatakan apapun.
Humph!
Dorongan yang membuat ny bergerak impulsif, ciuman panas yang membuat gadis itu terdorong.
Pelukan yang terasa erat tanpa banyak bicara, sesuatu yang ingin keluar memberontak.
Ia tidak tau siapa gadis itu sampai membuat nya sangat terusik namun yang ia tau gadis itu adalah ekstasi terbesar nya yang membuat seluruh rasa sakit nya hilang.
...
Pagi menerjap, sinar mentari meninggi dengan cahaya hangat yang akan membangunkan setiap orang.
Tidur yang sangat nyenyak akhir nya terbangun, pria itu membuka mata nya. Ia merasa lebih segar dari pagi-pagi yang pernah ia lewati.
Walaupun ia sendiri jarang bermimpi namun ia sangat sering merasa gelisah dan kemarin?
Perasaan gelisah itu hilang sejenak seperti saat meminum obat penenang yang di resepkan oleh dokter nya.
Ia tersentak sejenak saat melihat seseorang di samping nya, bahkan dengan orang yang sangat ia kenal ia tak suka membagi ranjang di kamar nya.
"Kenapa dia..." Gumam nya sembari menyentuh wajah yang bengkak karna tangisan tadi malam.
Beberapa sisi dari kulit yang sebelum nya berwarna putih susu itu kini tampak terlihat memiliki memar kebiruan dengan bekas luka yang tampak di beberapa bagian.
Lucas membuang napas nya, ia ingat semua yang terjadi kemarin malam membuat nya menghela nafas nya.
Tangan nya beranjak memegang wajah gadis yang masih tampak tertidur itu, satu persatu untaian rambut yang menghalangi wajah cantik itu.
"Kenapa kau bisa datang ke sini semalam?" tanya nya lirih dengan suara yang sangat pelan.
Cup...
"Dasar cumi-cumi nakal..." sambung nya lirih sembari mengecup dahi gadis itu.
Ia bangun menuruni ranjang nya yang empuk dan besar itu. Mata nya melirik ke arah lantai yang tampak berserakan.
Langkah awal yang di tuju nya adalah kamar mandi, tangan dan tubuh nya penuh akan noda darah yang tampak sudah mengering.
Suara air terdengar, guyuran segar yang membasahi wajah dan tangan nya hingga bersih walau piyama nya masih sama.
Langkah nya berjalan keluar, pria itu membuka ponsel nya dan melihat jadwal operasi yang di tentukan untuk pergantian chip sudah dapat di mulai lusa.
Sekarang apa?
Antara ingin memanfaatkan tubuh gadis itu untuk kepentingan perusahaan yang sangat ia cintai sekaligus ingin membuat gadis itu tak bisa kabur dari nya.
Pertumbuhan sel darah putih nya semakin meningkat.
Kini bukan suara misterius dengan bayangan yang samar yang datang di kepala nya melainkan suara dari peneliti yang mengatakan tentang perubahan genetika di tubuh gadis itu.
"Manusia tidak bisa di percaya,"
"Dia juga bisa kabur kapan saja..."
Gumam nya lirih, walaupun tak terlihat namun trust issue juga menjadi salah satu kelainan nya yang sangat parah.
Ia tak tau apa yang terjadi namun sangat sulit bagi nya untuk mempercayai seseorang walaupun orang tersebut sudah mengatakan ratusan kali jika ia adalah milik nya.
Dan dengan memberikan chip di tubuh gadis itu membuat nya bisa lebih tenang, karna ia bisa tau di mana seseorang yang ia inginkan hanya dengan satu klik tanpa repot mencari dari cctv atau tempat lain nya.
......................
__ADS_1
Udara yang wangi dan lembut dengan suhu yang sejuk.
Pria itu datang dan duduk di kursi yang tampak bisa membuat siapa pun menjadi santai.
Seseorang yang terlihat tengah membalikkan jam pasir yang penuh itu datang.
"Aku bermimpi aneh lagi,"
Suara yang lebih dulu memulai pembicaraan sebelum pria yang memakai kaca mata itu duduk di kursi nya.
"Mimpi aneh? Apa kali ini juga ada yang terkena imbas nya?" tanya pria yang memakai kaca mata dengan jas putih itu.
"Tidak ada yang mati, hanya saja ada yang sedikit..." ucap nya yang bingung bagaimana menjelaskan nya.
"Ada yang terluka," tanya dr. Dave psikiater yang baru menginjak satu tahun menggantikan psikiater sebelum nya yang sudah menemui Tuhan.
"Sedikit," jawab Lucas dengan datar.
"Apa yang anda mimpikan Sir?" tanya nya menatap ke arah pria yang memberi nya gaji besar sekaligus resiko pekerjaan yang tinggi.
"Tangan, langit, suara wanita, api dan darah..." ucap nya mengingat semua hal yang ia mimpikan.
"Tapi setelah aku bangun dia juga terus bicara, dia membuat kepala ku sakit sampai mau menusuk leher orang lain," sambung nya dengan wajah yang datar walau mengatakan hal yang mengerikan.
Sang dokter hanya tetap tersenyum formalitas walau sebenarnya ia juga sudah ketar-ketir mendengar nya.
"Tapi anda sudah melakukan hal yang baik dan begitu luar biasa karena tidak menimbulkan satu nyawa pun yang hilang, dan kalau saya boleh mendengarkan juga bagaimana cara anda menahan diri?" tanya nya yang berbicara sehalus mungkin agar tak menyinggung lawan bicara nya sekaligus tetap dapat berkomunikasi.
"Dia datang, aku tidak tau bagaimana dia bisa datang tapi dia ada di sana. Dia menutup telinga ku dan bertanya kondisi ku." ucap nya sekali lagi.
"Gadis yang memiliki warna mata biru itu?" tanya dr. Dave yang mengingat dan sudah tau mengenai gadis yang di bicarakan di konsultasi yang sebelum nya juga.
"Ya, rasa sakit di kepala ku hilang." ucap seadanya sesuai yang terjadi.
dr. Dave mengangguk, ia sadar sesuatu jika warna mata gadis itu pun tak umum.
Memang warna biru cerah terkadang mudah di jumpai, namun biru gelap sedikit sulit untuk orang-orang sekitar nya.
"Anda tidak ingin mengatakan tentang kondisi anda dengan dia Sir? Mungkin dia bisa membantu lebih banyak dari yang Anda kira." ucap dr. Dave
Lucas tak mengatakan apapun ia masih diam tanpa menjawab.
dr. Dave melihat catatan nya sejenak, sejak beberapa bulan lalu pria itu terus mengatakan memimpikan seorang wanita namun tak mengingat nya sama sekali.
"Baik, kalau begitu boleh saya tanyakan beberapa hal?" tanya nya dengan nada yang tenang dan terdengar bersahabat.
"Ya," jawab Lucas singkat.
"Anda ingat dengan ibu anda? Walaupun bukan ingatan yang banyak tapi hanya secuil dari memori anda." ucap pria berkacamata itu.
"Tidak, aku tidak ingat apapun. Lagi pula dia sudah mati sangat lama." ucap nya dengan wajah datar tanpa merasakan kesedihan sama sekali.
Sang ayah mengatakan jika ibu nya telah mati saat melahirkan nya dan ia pun tau jika wanita yang membawa nya ke dunia hanyalah wanita bayaran sang ayah agar mendapatkan keturunan namun tak menganggu kisah asmara sang ayah sendiri.
Dan siapa yang mengatakan semua itu?
"Anda pernah mengunjungi makam ibu anda?" tanya dr. Dave mengulang.
"Tidak," jawab Lucas singkat.
dr. Dave diam sejenak dan mengangguk kecil mendengar nya, ia menatap ke arah pria itu dengan mata yang akan bertanya hal lain lagi.
"Lalu apa anda memiliki kenangan dengan ayah anda Sir? Kenangan masa kecil." ucap sang dokter sekali lagi.
Setelah beberapa terapi yang di lakukan ia mendapat kesimpulan jika pria itu tak ingat sebagian besar kenangan masa kecil nya sampai berumur 8 tahun.
"Ada, dia selalu menusuk seseorang yang punya batang juga." jawab nya dengan datar ketika mengatakan hal yang menjijikan itu bahkan untuk di lihat oleh anak kecil.
"Anda sering melihat nya?" tanya nya lagi.
Ia juga sudah tau alasan mengapa pria itu tak pernah menjalin hubungan asmara dengan siapapun, dan itu tentu saja karna merasa trauma melihat orang tua nya berhubungan secara langsung di depan mata nya.
"Ya, mereka sering melakukan nya di mana saja." jawab nya dengan datar.
Namun kali ini tak begitu merasa mual seperti sebelum nya ataupun mengalami serangan panik saat mengatakan tentang sang ayah.
"Menurut anda dia ayah yang seperti apa? Apa ayah yang baik?" tanya dr. Dave yang selalu memiliki pertanyaan yang berputar.
"Secara spesifik, jawaban nya Ya." ucap nya yang memang sang ayah tak pernah memukul atau memarahi nya namun begitu mendominasi nya untuk mendorong melakukan semua hal yang tak ia inginkan.
"Lalu saya akan bertanya sesuatu, sudah sejauh mana hubungan anda dengan gadis itu?" tanya nya lagi.
"Kenapa kau bertanya tentang itu?" ucap Lucas mengernyit.
"Apa anda tidak merasakan apapun saat melakukan kontak fisik? Seperti mual atau rasa jijik seperti sebelum nya?" dr. Dave terus bertanya untuk mendapatkan jawaban yang ia mau.
"Tidak," jawab Lucas singkat.
dr. Dave pun menyudahi pertanyaan nya, ia berdiri mengambil sesuatu dari laci nya.
Gambar yang abstrak dengan berbagai bentuk berbeda tergantung setiap kali kondisi psikis seseorang yang melihat nya.
"Gambar apa yang anda lihat saat ini?" tanya dr. Dave yang datang dengan sketsa abstrak di atas kertas itu.
"Wanita yang mati dengan tubuh hancur dan di bakar." jawab Lucas dengan datar dan mengatakan seperti apa yang terlihat bagi nya.
dr. Dave tersenyum. Ia kembali menutup gambar yang ia bawa.
Sebulan yang lalu, ia memperlihatkan gambar yang sama dan jawaban pria itu adalah 'seseorang yang di pancung dengan darah yang menetes dari kepala nya' namun kini jawaban nya berbeda walaupun dengan gambar yang sama.
Jawaban yang memiliki satu persamaan yaitu tentang penyiksaan yang sadis dan kematian.
Padahal jika orang yang normal melihat nya pasti jawaban nya adalah pohon besar ataupun kupu-kupu dengan sayap yang indah.
Namun pria itu selalu mengatakan hal yang tidak normal.
"Waktu nya sudah habis," ucap Lucas saat melirik ke arah jam pasir yang sudah habis terbalik itu.
dr. Dave pun berdiri dan kembali ke meja nya lalu menuliskan resep obat pria itu sejenak.
"Baik, semoga anda memiliki hari yang baik." ucap dr. Dave yang menjabat tangan pria itu sebelum pergi.
Lucas berjalan keluar meninggalkan ruangan konsultasi yang terasa nyaman namun selalu tak ia sukai itu namun harus tetap ia datangi.
dr. Dave kembali ke meja nya. Ia menuliskan beberapa hal tentang konsultasi nya hari ini dengan konsultasi yang sebelum nya.
"Wanita, mata, warna dan wajah..." gumam nya lirih.
Ia pun lantas juga meningkatkan angka delapan sesuai dengan usia di mana pria itu banyak melupakan sesuatu.
......................
Mansion Damian
Pria itu menatap tanpa suara melihat gadis yang terlihat kesulitan memakai salep luka di punggung nya.
"Sini, dasar siput."
__ADS_1
Anna tersentak, ia langsung menyilangkan kedua tangan nya di dada untuk menutupi aset masa depan nya itu karna ia memang sedang tak memakai atasan apapun.
"Ka..kapan anda datang Sir?" tanya nya yang terkejut pada pria yang tengah memberikan nya salep luka di punggung nya.
Luka yang tentu hand Made dari pria itu langsung.
"Kau juga datang ke kamar pria dengan tiba-tiba." jawab Lucas yang menyinggung tentang malam sebelum nya saat gadis itu tiba-tiba mendatangi nya.
Anna tak mengatakan apapun, ia hanya tak sengaja melihat namun tanpa sadar ia bergerak masuk sendiri saat melihat pria itu kesakitan mirip seperti orang yang ia sangat ia kenali dulu nya.
"Ma..maaf..." ucap nya lirih yang malah ia yang mengatakan kata maaf pada pria itu, padahal ia lah yang sebenarnya korban.
Lucas tak mengatakan apapun atau menjawab pertanyaan gadis remaja itu.
Cup!
Ia mencium bahu gadis itu sekilas dan mengusap lengan nya.
Anna tersentak, nafas pria itu terasa di lengkung leher nya. Aroma mint yang menyegarkan tercium.
"Mau ku beri tau rahasia?" bisik nya dari belakang pada gadis itu.
Anna diam tak menjawab, nyawa nya saja sudah terancam tanpa mengetahui rahasia yang lain dari pria itu.
Apalagi jika pria itu mengatakan sendiri rahasia nya yang lain?
"Aku kesulitan dalam hal melihat," bisik nya di telinga gadis itu tanpa mengatakan tentang penyakit mental nya.
Anna mengernyit, kesulitan dalam melihat? Tapi bagi nya pria itu malah sangat jelas ketika melakukan sesuatu.
Ia langsung berbalik dengan tangan yang masih menutupi dada nya.
"Kesulitan?" tanya nya mengulang dengan bingung.
"Ya, bukan tak bisa melihat. Hanya saja aku tidak bisa membedakan wajah orang lain dan tidak bisa melihat warna kecuali warna darah," ucap pria itu saat melihat ke arah mata yang tampak jernih itu.
"Jadi sekarang anda tidak bisa melihat wajah saya? Bukan nya anda suka mata saya?" tanya nya dengan bingung.
Lucas tak menjawab dan hanya melihat ke arah wajah cantik gadis itu yang tampak begitu jelas.
"Tidak, kau pengecualian. Aku bisa melihat semua warna yang ada pada mu." ucap nya sembari mendekat dan mendorong gadis itu ke dinding.
Ia mengecup lengkung leher gadis remaja itu dan semakin memojokkan tubuh kecil itu hingga menyandar ke dinding.
"Ma..maksud nya?" tanya Anna bingung sembari kesulitan mempertahankan tangan yang tengah menyilang menutupi dada nya sedangkan pria itu menciumi leher nya dengan tangan yang mengusap ke rok pendek yang tengah ia kenakan.
"Kau itu beda, kau terlihat jelas..." jawab Lucas yang mengangkat wajah nya namun tangan nya masih mengusap dan mengelus kulit halus gadis remaja itu.
Anna terdiam, ia tak bisa berkata apapun untuk saat ini.
Humph!
Bibir nya kembali menjadi bulanan untuk dihisap seperti permen. Tanpa bicara pria itu menyentuh tubuh nya lagi walau tak sampai berhubungan.
...
1 Jam kemudian.
Anna berguling ke sisi ranjang nya, ia menatap ke arah pintu kamar nya yang sudah kembali tertutup dan pria itu pun yang sudah pergi.
Sudut bibir nya masih basah, rambut nya terkena vanila yang tumpah di wajah nya tak hanya di dalam mulut nya saja.
Anna membuang napas kasar, ia menarik selimut nya dan bergulung di dalam nya guna menutupi tubuh polos nya.
Pakaian yang tadi ia kenakan berserakan di lantai, tubuh nya telah sudah terjamah sepenuh nya hanya saja ia masih memiliki kesucian nya saja karna tak ada penyatuan apapun.
"Warna? Wajah ku?" gumam Anna yang memikirkan percakapan nya tadi.
"Berarti kalau dia bisa lihat warna yang lain sama bentuk wajah yang lain aku bisa lepas dong?" gumam nya lirih yang memikirkan suatu cara untuk lepas di sisi pria itu.
Memang ia memiliki hidup yang ia impikan dulu, yaitu bisa makan dan tidur tanpa memikirkan mencari uang.
Namun jika ia harus menghadapi konsekuensi seperti itu dengan nyawa yang terus di ujung tanduk tentu membuat nya lebih memilih bekerja sambilan di beberapa toko.
"Iya! Aku harus buat psikopat gila bisa lihat selain aku!" sambung nya yang memantapkan niat nya sembari menepuk kedua tangan nya secara bersamaan dengan penuh semangat.
...
"Sir?" panggil nya lirih dengan kepala yang beranjak masuk melihat ke dalam ruangan kerja pria itu setelah mengetuk pintu nya.
"Ada apa?" tanya Lucas mengernyit menatap gadis itu yang beberapa jam lalu pun baru ia temui.
"Anda tidak mau keluar?" tanya Anna yang beranjak masuk satu langkah dari pintu.
"Aku kan baru keluar tadi," jawab Lucas pada gadis itu.
"Bu..bukan keluar itu Sir!" ucap Anna yang langsung mengerti sekarang.
"Lalu?" tanya nya dengan bingung.
"Anda kan pernah tanya kalau liburan harus nya kita itu melakukan apa, jadi maksud saya kita keluar dari mansion." ucap nya yang tentu sudah mencari banyak tempat yang memiliki warna.
"Kemana?" tanya Lucas dengan wajah yang enggan ikut.
"Nanti saya tunjukan, anda tidak mau keluar dengan saya?" tanya nya pada pria itu.
Lucas menarik napas nya, ia menatap mata jernih yang meminta nya untuk ikut keluar.
"Siap-siap, kita pergi dua jam lagi." ucap nya yang melihat ke arah jam tangan nya.
......................
Gadis yang tampak menyandar di dinding dengan tas berwarna merah itu membuang napas nya.
"Kenapa gaya yang formal begitu?" gumam nya lirih melihat pria yang berpakaian dan bergaya formal padahal ia pergi ke tempat wisata.
"Aduh," ucap nya lirih yang beberapa saat kemudian keluar mendatangi pria yang menunggu nya.
Lucas melihat gadis itu datang, ia mengusap tangan nya dan menatap dengan wajah nya yang tajam.
"Lama sekali, kau mencari debu di toilet?" tanya nya pada gadis itu.
"Hehe," hanya memilih tertawa seperti orang bodoh dari pada menanggapi pertanyaan pria itu.
"Ayo! Saya bakalan kasih tau semua warna yang belum anda lihat!" ucap nya tersenyum sembari menarik tangan pria yang tengah duduk itu.
Senyuman pengharapan agar usaha nya tak gagal dan pria itu tidak akan meninggikan nya suara saat lagi.
Lucas tak mengatakan apapun, ia merasakan sentuhan hangat dari jemari yang kecil itu.
Sesuatu yang membuat nya merasakan aneh lagi namun ia tak terganggu dengan itu dan menyukai nya.
Greb!
__ADS_1
Anna tersentak, pria itu memutar tangan nya dan beranjak menggenggam tangan gadis itu.
"Kita mau kemana?" tanya nya melihat ke arah wajah yang tampak terkejut itu.