
Satu Minggu kemudian
Mansion Damian
Lucas melihat ke arah daftar nama yang berpotensi sebagai penyerang mansion nya.
Ia tak mengatakan apapun, hawa yang mengelilingi nya semakin hitam. Ia semakin tak bisa tidur di malam hari.
Pekerjaan nya mulai kacau saat pikiran nya pun tak lagi seimbang karna ia terus memikirkan gadis nya tanpa henti.
"Luc?"
Suara ketukan beserta dengan panggilan terdengar membuat pria itu tersadar dan melihat ke arah pintu lebih dulu.
"Kau sudah lihat ini?" tanya Diego sembari menyerahkan beberapa orang yang di curigai meledakkan mansion sepupu nya.
Mata nya melirik ke arah beberapa daftar nama yang berpotensi namun bukan dari yang ia berikan.
Tak ada nama nya!
Berarti ia masih aman untuk saat ini!
Lucas mengambil nya, ada beberapa kecocokan dengan yang ia terima sebelum nya.
"Selidiki orang-orang ini dan jika sudah memastikan aku mau kau membawa nya ke kamar biasa," ucap Lucas dengan wajah yang datar.
"Dan lagi cari dengan fitur pengenalan wajah, di semua bandara, stasiun, atau pelabuhan. Anna tidak menaiki pesawat itu." ucap nya memberi perintah.
"Ya," Diego menurut.
Padahal prediksi nya Lucas akan menganggap Anna naik pesawat dan menyadari nya sekitar waktu satu bulan namun ternyata lebih cepat dari itu.
"Dan..."
Lucas diam sejenak seakan memikirkan ucapan nya sekali lagi.
"Tidak ada, kau bisa keluar." ucap nya yang mengusir sepupu nya dari ruangan kerja nya.
Diego menarik napas nya, ia tak pernah melihat sepupu nya itu tampak ragu.
"Kapan kau akan ke perusahaan lagi? Kau tau kan? Sekarang perusahaan sedang sangat sibuk," ucap nya Diego yang mengingatkan tentang kehadiran pria itu sangat di perlukan di masa sekarang ini.
"Keluar," tak ada jawaban melainkan hanya satu kata yang terdengar dingin itu.
Diego tak lagi mengatakan apapun, ia memilih untuk menurut dan segera keluar dari ruangan kerja sepupu nya.
Sekali aja, kamu bisa pilih aku dulu? Dari pada perusahaan kamu, saham kamu!
Suara yang terdengar parau itu terngiang di telinga nya. Tiba-tiba ia teringat dengan dengan ucapan gadis itu saat berita tentang skandal nya dengan Luciana tersebar.
Dan ia memilih untuk membiarkan nya lebih dulu.
"Hah..."
Ia membuang napas nya kasar, pikiran nya semakin kacau.
"Kalau aku jawab berbeda waktu itu kau tidak akan kabur?"
Gumam Lucas yang tampak masih begitu sulit menjalani pekerjaan nya secara normal padahal ia adalah pria yang tak bisa di ganggu pekerjaan nya.
"Bagaimana cara nya agar kau tetap di sisi ku?"
"Apa aku harus membunuh mu saja? Lalu mengawetkan mu?"
Lucas tak bisa berpikir jernih, di balik wajah yang datar dan baik-baik saja itu ia sudah begitu kacau.
Tangan menarik laci yang berada di tempat kerja nya itu, ia membuka nya dan melihat ke arah kotak cincin yang tampak mewah itu dah tentu di dalam nya lagi memiliki sesuatu yang lebih mewah.
"Padahal kita akan menikah..."
Gumam nya yang melihat ke arah cincin yang sudah ia pesan, seharusnya permata yang berada di tengah cincin itu berwarna biru seperti mata gadis nya namun kali ini ia tak bisa membedakan nya karna semua nya hanya seperti abu-abu.
......................
Hiddensee
Anna menghirup udara segar di tempat itu, ia memang berada jauh dari jantung negara nya namun ia merasa lebih tenang di sana.
"Apa aku belajar mengemudi lebih dulu?" gumam Anna yang mulai memikirkan pekerjaan yang akan ia lakukan.
"Iya deh, belajar bawa mobil dulu." gumam nya lirih yang kemudian beranjak dari tidur nya dan berjalan ke dapur kemudian mengoleskan selai di atas roti yang lembut itu.
"Sayang? Nanti kita belajar bawa mobil ya?" ucap nya yang menyapa perut rata nya.
Ia masih baik-baik saja selama beberapa hari ini, ia merasakan kebebasan nya kembali.
Tapi kenapa sekarang sedikit membosankan?
Tidak ada yang mengekang nya lagi namun ia masih merasakan menjadi tahanan.
Anna menggelengkan kepala nya dengan cepat, ia menarik napas nya dan terus berusaha berpikir untuk mengatakan pada diri nya jika ia baik-baik saja.
"Ada apa dengan ku? Kenapa aku memikirkan dia?"
Gumam nya saat terbesit ingatan tentang pria itu.
Memang begitu sulit untuk melepaskan ketergantungan dari hubungan yang tak sehat dan toxic itu belum lagi ia memang berada di dalam Stockholm Syndrom.
Sehingga membuat mata nya buta untuk melihat kebenaran jika ia merupakan korban yang harus nya melaporkan dan membenci pria yang menjadikan nya sandera selama bertahun-tahun tanpa ia sadari.
Ya, mana mungkin ia sadar jika ia adalah sandera karna masih di beri sedikit kebebasan bahkan masih bisa di kuliahkan.
Rasa takut, cemas, gelisah, marah dan perasaan yang begitu bergantung itu beradu satu dan masih mengaduk emosi nya.
"Tidak apa-apa, lagi pula dia juga akan segara melupakan ku! Dia sudah memiliki semua nya kan? Dia bisa melihat warna dan menikah dengan Lucy."
"Dan aku bisa hidup dengan anak ku, Tidak apa-apa Anna! Kamu pasti bisa! Dulu aja kamu bisa kok tetap hidup sendiri waktu lepas dari panti!"
Ucap Anna yang menyemangati diri nya sendiri, mau senormal apapun ia berusaha tentu untuk mengobati jiwa yang sudah terlanjur luka memerlukan waktu.
......................
Dua Minggu kemudian.
JNN Grup
Pencarian yang nihil, walaupun gadis itu tak di temukan pergi menaiki pesawat namun tetap saja tak ada jejak yang tertinggal.
__ADS_1
Memang masih berjalan tiga Minggu namun bagi pria itu waktu berjalan begitu lambat.
Prang!
Lucas melempar hiasan yang berada di ruangan kerja nya saat ini.
Emosi nya menjadi semakin tak stabil. Suara ketukan di pintu nya kembali terdengar.
"Masuk!" ucap nya ketus dengan wajah yang kali ini semakin menunjukkan kegelisahan nya.
"Nona Luciana meminta bertemu," ucap salah satu asisten sekertaris yang menjaga tempat pria itu.
"Dia di sini?" tanya Lucas yang menatap ke arah pria itu.
"Ya, Sir." jawab pria itu dengan satu anggukan di kepala nya.
"Bawa dia ke ruang tunggu, aku akan menemui nya." ucap Lucas sejenak dan kemudian berjalan keluar.
Sementara itu wanita yang tampak elegan itu duduk dengan tenang tanpa ada teriakan yang menunjukan keangkuhan atau sikap kekanakan.
"Anda sangat sulit di temui akhir-akhir ini," ucap Luciana yang berdiri menatap ke arah pria pemilik tempat itu untuk datang.
"Ada urusan apa?" tanya Lucas setelah menenangkan sedikit gelora di wajah nya.
Luciana menarik napas nya sejenak sebelum bicara, tentu ia tak datang dengan tanpa urusan karna ia memang memiliki satu alasan bisnis yang tak akan bisa di lewatkan oleh pria itu.
"Baik, akan ku minta tim perancang kami merubah nya." ucap Lucas yang menatap ke arah wanita itu walau kini wajah nya tak lagi bisa terbuka.
"Kau masih tidak mau memikirkan tawaran ku? Kalau pernikahan itu sedikit sulit bagaimana kalau kau memberikan sedikit benih mu? Kau tau aku suka kesempurnaan kan? Anak itu akan jadi karya yang hebat." ucap Luciana yang menatap ke arah pria yang ingin segara pergi itu.
Pembicaraan di mana ia pernah mengatakan untuk meminta benih pria itu agar membuahi sel telur nya, walau pun bukan di lakukan dengan cara langsung namun ia ingin kedua sel yang terbaik agar mendapatkan keturunan yang terbaik juga.
Dan dulu Anna mendengar nya sepotong dari pembicaraan nya hingga salah memahami pembicaraan itu.
"Tutup mulut mu, kau hanya bicara sesuatu yang memuakkan!" ucap Lucas yang semakin geram mendengar nya.
"Kau bersikap terlalu jauh untuk anak itu, aku bingung apa yang istimewa dari nya?" ucap Luciana yang tak tau pria yang bersama nya saat ini sedang berada dalam mode gila yang berpura-pura waras.
Lucas menahan napas nya sejenak, ia sendiri sangat sensitif saat gadis nya di sebut.
"Jangan membuang sesuatu yang berharga untuk sesuatu yang murah," ucap Lucina yang entah memberi nasihat atau sindiran.
Kali ini tali kesabaran dan kewarasan nya putus, ia berbalik dan.
Ukh!
"Apa yang kau lakukan?!"
Luciana tersentak, tangan pria itu segara mencekik nya hingga membuat leher nya sekaan ingin patah dan napas nya terasa akan melayang.
"Ini yang kau mau kan?" tanya Lucas dengan senyuman tipis sembari tangan nya menarik dan meremas kuat melon besar di balik pakaian formal yang seksi itu.
"Akh!"
Luciana meringis, ia tak bisa bernapas dan di bagian dada nya terasa begitu nyeri secara tiba-tiba.
Lucas berhenti dan melepaskan nya dengan kasar. Ia melihat wanita itu batuk sampai hampir terjatuh ke lantai.
"Kau gila?! Aku bisa melaporkan untuk pelec*han yang kau lakukan!" ucap Luciana yang marah sembari masih menghirup napas nya.
"Kau akan menyesal melakukan ini!" ucap Luciana yang merasa di rendahkan oleh pria di depan nya.
"Murahan," gumam Lucas saat melihat ke arah wanita itu.
"Apa?" Luciana mengernyit mendengar nya.
"Aku hanya mengatakan kalimat yang pernah kau ucapkan," jawab Lucas yang mengembalikan ucapan wanita itu.
"Kau tidak berpikir dampak dari perbuatan mu sekarang? Kau bisa menjadi pelaku dari pel*cehan dan percobaan pembunuhan, kau tau?" tanya Luciana yang begitu geram melihat ke arah pria itu.
"Percobaan pembunuhan? Aku tidak pernah berniat melakukan nya, tapi kalau kau mau kau bisa menuntut ku. Karna bukan aku saja yang mengalami kerugian." jawab Lucas yang menatap ke arah wanita itu.
Luciana diam sejenak dan kali ini Lucas beranjak pergi.
"Dan satu lagi, kau tidak berhak mengomentari wanita ku." ucap nya yang kali ini menutup pintu ruangan itu dengan suara yang lebih keras.
...
Hoek!
Heuk!
Pria itu memuntahkan isi perut nya, ia merasa begitu mual. Sangat mual bahkan membuat nya sangat sulit mengontrol nya.
Berbeda hal nya saat ia melihat darah yang bagi nya tampak indah dan tak menjijikkan.
Namun begitu ia melakukan kontak fisik yang cukup banyak seperti itu apalagi di bagian yang terbilang cukup privasi dengan wanita atau pria ia selalu menganggap jijik.
Ia sendiri bingung mengapa dulu bisa mencium dan meniduri Anna dengan mudah padahal ia tak suka sentuhan karna membuat nya mual.
"Si*l!" ucap Lucas yang mengusap bibir nya saat ia ingat dengan peach yang ia remas namun bukan milik gadis itu.
Ia kembali mencuci tangan nya, busa sabun itu melimpah itu dan saling menggosok dengan kuat di kedua tangan nya hingga membuat luka namun ia tak baja merasakan nya.
Drrtt... Drrtt... Drrtt
Lucas berhenti sejenak, ia membilas tangan nya dan kemudian melihat ke arah ponsel nya ketika seseorang menelpon nya.
"Kami sudah menemukan pelaku yang menembak ledakan di mansion."
"Ya," jawab Lucas singkat dan kemudian mematikan ponsel nya.
......................
Agensi
Gevan meminum air mineral yang berada di dalam botol itu karna ia yang habis berlatih menyanyi.
Ia kembali melihat ke arah ponsel nya yang masih tak ada balasan dan juga Anna yang tak kunjung masuk kuliah.
"Dia kemana? Apa sekarang dia pindah dan tidak mau menemui ku lagi?"
Gumam pria tampan itu saat merasa tak ada sedikit pun kabar yang bisa ia ketahui.
......................
Skip
__ADS_1
Hiddensee
Anna baru kembali dari kota utama setelah memeriksakan kandungan nya.
Walaupun ia sudah lari selama tiga Minggu namun beberapa waktu singkat itu masih belum bisa memperbaiki nutrisi nya yang sempat rusak sehingga ia di berikan resep lain nya.
"Hati-hati dengan kandungan mu, minum obat nya yang teratur dan banyak makan apa yang dia sarankan." ucap Camila karna ia lah yang mengantar gadis itu.
Anna menangguk mendengar nya, memang tak mudah untuk merawat bayi yang masih berada di dalam kandungan itu.
Setelah mengantar Anna kembali ke rumah nya Camila pun pulang.
Anna tersenyum tipis melihat wanita tua yang dingin itu karna ia merasa kehangatan yang berada di hati yang tak terlihat.
"Maaf ya? Mamah kurang perhatian sama kamu." ucap Anna sembari mengusap perut nya.
Ia tak tau tantangan apa lagi yang akan ia hadapi untuk membesarkan bayi nya kelak.
......................
Mansion Damian
Genangan darah itu mengotori lantai marmer putih itu.
Rantai, pakaian, pisau, gergaji, dan paku besar serta anggota tubuh yang tampak berserakan dan tak lagi menyatu.
Seseorang yang mati itu memang rival dari pria psikopat yang membunuh nya namun ia untuk kali ini ia sama sekali di jebak karna bukan ia lah yang mengirimkan ledakan ke mansion mewah itu.
Lucas menatap datar, ia begitu marah pada seseorang yang membuat kerusuhan di mansion nya karna membuat gadis nya kabur.
Sekelebat bayangan yang berwarna membuat pria itu menoleh, Lucas langsung melihat ke arah pintu tepat di mana mata nya memberikan bayangan ilusi yang di bantu dengan otak yang mengirimkan respon warna untuk itu.
"Anna?"
"Anna!"
Ucap nya yang langsung keluar dan mengikuti gadis nya dengan cepat.
"Kau mau kemana! Kembali ku bilang!" ucap Lucas yang mengejar bayangan gadis itu.
Greb!
"Akh! Sir?"
Pelayan wanita itu tersentak saat tuan nya yang penuh dengan darah itu menarik nya secara tiba-tiba.
"Anna?" Lucas masih melihat ke arah pelayan tersebut saat lobus frontal nya menanggap nya melihat objek yang benar.
"S.. Sir..."
Pelayan tersebut bersuara lirih hingga membuat Lucas langsung tersadar. Bayangan gadis yang ia cari langsung menghilang dan berganti dengan seseorang yang memiliki wajah yang abstrak.
Deg!
"Bukan! Kau bukan dia! Kenapa kau pura-pura menjadi dia?"
Crash!
Crash!
Crash!
"Aarrgghh!"
Wanita itu menjerit seketika, satu tebasan dengan pisau yang tajam itu mencabik dan merobek wajah nya tanpa ampun.
Kelopak mata, pipi, hidung dan bibir yang koyak tanpa bentuk itu tampak mengalirkan darah segar nya.
"Sekarang kau lebih cantik," ucap Lucas yang melepaskan wanita itu kemudian langsung jatuh ke lantai dengan wajah yang hancur tak berbentuk akibat di pisau secara brutal.
Lucas hanya melihat dengan datar dan kemudian kembali berjalan.
"Anna?"
"Jangan bermain petak umpet dengan ku, keluarlah..."
Seperti hantu yang berjalan dengan pisau nya yang berlumuran darah itu, Lucas memanggil dengan mata yang kosong.
Kaki nya berjalan tanpa arah, ia seperti seseorang yang sangat membutuhkan obat yang tidak akan bisa di resep kan oleh dokter.
Kini langkah itu kembali ke kamar nya, hanya seperti kamar yang mewah bukan istimewa tanpa kehadiran gadis nya.
Ia melihat sejenak namun bukan itu yang menjadi perhatian nya.
Sreg!
Lucas menggeser semua pakaian gadis nya yang berada di ruang ganti itu.
Ia mengambil salah satu gaun rumah yang biasa di pakai, gaun selutut yang tampak sederhana namun Anna paling sering memakai nya karna terasa nyaman.
"Humm!"
Pria itu menghirup dengan dalam pakaian gadis nya yang biasa di pakai itu. Mungkin sekarang ia terlihat seperti pria m*sum yang gila karna menciumi pakaian seorang gadis.
Lucas beranjak masuk ke dalam lemari pakaian tempat di mana seluruh pakaian gadis nya di gantung.
Ia masih memeluk dan menghirup aroma yang tertinggal di gaun yang ia pegang di tangan yang penuh darah itu.
Anna...
Anna kesayangan ku...
Bukan nya di luar itu mengerikan?
Kau di mana?
Aku...
Aku membenci mu...
Aku sangat membenci mu!
Kau berbohong pada ku, kau bilang akan tetap bersama ku, tidak akan pergi tapi ternyata kau pergi.
Jadi aku membenci mu!
Aku membenci mu tapi...
__ADS_1