
Wegen, Swiss
Pria itu menatap ke arah wanita yang masih memejam itu, menurunkan suhu ruangan nya yang membuat tempat itu menjadi semakin dingin.
Mata abu-abu gelap itu kini terdiam seperti tak lagi bisa bicara.
Ia menatap ke arah sang istri yang memejam dengan kulit yang membiru.
Tap!
Bedak yang berwarna memberikan kesan hidup itu di tabur, ia tak tau cara menggunakan make up namun menggunakan nya kali ini seperti ia sudah sangat menghafal nya.
"Kita akan pulang malam ini, aku dengar dia sudah sadar." ucap Lucas yang memegang tangan yang sedingin es itu.
Perasaan yang tidak bisa sembunyikan atau ia ketahui seperti membuat nya ingin meledak seketika.
Kalut, takut, kesepian, gelisah dan kesedihan.
Perasaan yang bahkan ia sendiri bingung bagaimana menyalurkan nya.
......................
2 Hari kemudian.
Jerman.
Mansion Damian
Mata abu-abu jernih itu menatap ke arah sekeliling nya dan melihat ke arah para pelayan namun tak bisa melihat sang ibu.
"Mama?"
Satu kata yang selalu terucap di bibir mungil itu sejak sadar.
"Nanti Mama pulang sama Papa, mereka bakal bawa banyak makanan untuk tuan," ucap sang pengawal yang menatap ke arah anak kecil itu.
__ADS_1
Estelle tak mengatakan apapun lagi karna ia memang bukan tipe anak yang cerewet.
Namun tentu ia selalu mengulang apa yang ingin ia tanyakan.
Suara pintu yang terbuka dan beberapa orang yang memasuki mansion mewah itu terdengar.
Philip pun langsung keluar, ia yang merupakan pengawal sekaligus penjaga dan pengasuh anak kecil itu semenjak di temukan di hari pertama membuat nya langsung melihat.
"Mama pulang?"
Estelle turun dari ranjang nya, walau tentu tenaga dan otot nya masih melemah namun itu lebih baik di bandingkan di saat ia pertama kali tersadar.
Belum sempat ada jawaban langkah kecil itu sudah pergi lebih dulu dan mendatangi ibu nya.
Kaki mungil nya berhenti. Ia menatap sang ayah yang menggendong wanita dengan rambut pirang yang panjang itu.
"Mama?"
Panggil nya yang tampak bingung dan ingin meraih ibu nya, tak ada pembahasan apapun atau ucapan yang bisa menjadi balasan.
"Ma-"
Ucap Lucas saat melewati pengawal nya, tak lama kemudian Estelle pun kembali di gendong ke kamar dan kemudian mata yang jernih itu mengikuti langkah sang ayah yang masih menggendong ibu nya.
...
Pukul 09.23 pm
"Nyonya seperti mayat, iya kan?"
"Bukan! Bukan seperti tapi dia memang sudah menjadi mayat! Dia sudah mati kan?"
"Tadi aku lihat warna tubuh nya sudah berubah dan wajah nya juga memang sudah seperti orang mati,"
"Tapi dia tidak membusuk atau bau, mungkin tuan memberikan sesuatu pada nya."
__ADS_1
Sementara anak kecil yang mendengar obrolan yang tak ia mengerti itu melangkah dan berjalan ke arah kamar kedua orang tua nya.
Anak tampan itu datang ke kamar sang ibu. Mengetuk nya berulang kali walau tak ada jawaban sampai seseorang membuka nya.
"Mama?"
Tanya nya dengan wajah yang polos menengandah menatap ke arah sang ayah yang berdiri dengan postur tubuh yang lebih tinggi dari nya.
"Kau mau menemui nya? Temui dia,"
Estelle tak menjawab namun ia perlahan masuk dan mendekat ke arah sang ibu.
Langkah nya terhenti, memang wanita yang biasa memeluk nya itu masih tampak cantik namun sudah ada perubahan di warna kulit karna ia sendiri mati karna meminum racun.
Di tambah dengan wajah yang pucat yang tampak seperti tak ada lagi darah apapun.
"Mama? Mama kenapa? Mama sakit? Mama bilang mau bawa pulang Estelle?" tanya nya yang mendekat dan memegang tangan sang ibu yang sedingin es.
Deg!
"Mama kedinginan? Estelle pegangin ya tangan nya." ucap nya dengan polos dan memegang erat tangan sang ibu dengan kedua tangan mungil nya.
Ada banyak yang ingin ia tanyakan, termasuk arti kata mayat dan mati pada ibu nya.
Lucas diam tanpa mengatakan apapun, ia melihat ke arah sang istri yang masih tak kunjung bangun.
Ia tau tak ada lagi detak atau nadi yang berjalan di tubuh istri nya namun walaupun tau ia sulit menerima nya.
Sekarang aku sudah memberikan Estelle mu kan?
Kau bisa bangun, jangan tidur terlalu lama...
Mereka terus mengatakan omong kosong kalau aku membawa orang mati...
Kau harus tetap hidup...
__ADS_1
Karna kau belum membunuh ku.
Seharusnya kau membunuh ku lebih dulu, bukan nya pergi lebih dulu dari ku...