
Satu Minggu kemudian.
Sekolah
Anna sedikit canggung saat kembali memasuki wilayah sekolah nya. Beberapa mata melihat ke arah nya dengan tatapan yang sangat berbeda.
Tak bersekolah hampir setahun dan saat masuk kembali ia langsung naik ke tingkat tiga.
Kelas terkahir yang akan tamat tahun ini, gosip aneh mulai menyebar semenjak ia tak datang namun tidak di keluarkan sama sekali.
Alasan cuti pun tak di bocorkan oleh pihak sekolah.
Memang image nya sedikit berubah saat ia berada di kelas satu akibat beberapa orang yang mulai menganggap nya memiliki simpanan pria kaya dan ketika ia tak datang selama hampir setahun rumor aneh yang tak benar pun mulai datang.
Orang-orang tak pernah peduli dengan kebenaran karna yang mereka inginkan adalah kesenangan.
Kesenangan saat membicarakan seseorang lalu mengutuk nya dan melihat seseorang jatuh sehingga bisa merasa memiliki kehidupan yang lebih baik.
"Ann? Kamu kemana aja? Kenapa ga pernah datang?" tanya salah satu siswi pada gadis itu.
Senyuman di balik wajah terlihat samar seperti ingin mentertawakan karna ia sudah memiliki jawaban yang ia percayai sendiri nya.
"Ada sedikit masalah," jawab Anna dengan senyuman tipis yang canggung namun ia masih sedikit sulit untuk kembali bersosialisasi karna takut dengan pria yang bisa selalu tau apa yang ia lakukan.
Sekolah berjalan dengan seperti seharusnya, dan memang gadis itu kini tak memiliki begitu banyak teman sehingga ia sendirian.
Namun itu tak terlalu buruk untuk nya, cahaya mentari yang terang dan hangat, pohon yang tumbuh ke atas, rumput hijau yang membuat mata nya segar, suara dari orang-orang yang berbicara dan tertawa.
Semua itu membuat nya merasa lebih hidup, ia sadar jika ia bukan lah hanya sebuah manusia kayu yang berada di satu tempat yang terkurung.
...
"Anda yang menjemput saya?" tanya Anna pada pria yang ia kenali.
"Ya, seperti nya karna Lucas mau membawa mu dengan nya." jawab Diego yang selalu tersenyum.
Senyuman formalitas yang selalu menjadi ekspresi di wajah nya.
Anna mengangguk kecil, ia masuk dan duduk di samping bangku kemudi mobil itu.
"Anda tidak ada pekerjaan?" tanya Anna pada pria yang menyetir itu karna seperti supir yang menjemput nya setelah pulang sekolah.
"Maksud mu aku pengangguran? Apa aku terlihat seperti itu?" tanya Diego yang menoleh sekilas ke arah gadis yang duduk sembari memeluk tas nya dari depan itu.
"Ti.. tidak! Hanya saja kan yang menjemput saya bisa supir." ucap Anna yang langsung menjawab nya.
"Ya, tapi sepupu yang menyebalkan itu malah menyuruh ku." ucap nya yang membalas dengan candaan.
Anna tak mengatakan apapun, ia tak menjawab nya dan hanya diam.
"Lalu? Bagaimana sekolah mu tadi? Menyenangkan?" tanya nya pada gadis itu.
"Seperti biasa..." jawab Anna lirih dengan wajah yang memperlihatkan ekspresi yang tampak tak sedang senang atau pun gembira.
Diego diam sejenak, ia menatap sekilas ke arah gadis remaja itu.
"Anna? Mau ku beri tau rahasia?" tanya nya dengan suara yang sedikit berbisik.
"Ya?" Gadis itu menoleh dan mengernyitkan dahi nya.
"Sekarang kau bisa berteman dengan siapa saja di sekolah mu, dia tidak akan tau selama tidak di lihat dengan mata nya. Jadi jangan terlalu pendiam." ucap nya yang tak bisa mengatakan terang-terangan jika dulu gadis itu di tanami chip di tubuh nya yang membuat semua pergerakan nya di ketahui.
"Ya? Tapi..." ucap Anna lirih yang tentu ia ragu.
"Kau juga bisa pergi ke tempat yang kau mau selagi itu tidak bahaya dan kalau kau mau melakukan sesuatu di belakang pria itu mungkin kau bisa melakukan nya sekarang." ucap nya pada gadis itu.
"Memang dia tetap akan mengawasi mu, tapi tidak akan seketat dulu lagi." sambung nya pada gadis itu.
"Anda membicarakan sesuatu yang ambigu dan hanya akan menjadi masalah untuk saya." ucap Anna pada pria yang memberi tau nya itu.
__ADS_1
Diego tertawa kecil mendengar nya, "Baik, aku akan diam saja. Aku hanya memberi tau sesuatu yang mungkin bisa membatu mu." ucap nya yang kemudian tak mengatakan apapun lagi.
Anna menarik napas nya, pria itu pun membuat musik di mobil nya dan mengantarkan gadis itu sampai ke tempat tujuan nya.
......................
Mansion Damian
Pukul 09.45 pm
Gadis itu masih belum tertidur sama sekali, tubuh nya masih tetap duduk di meja belajar nya dengan beberapa buku yang terbuka itu.
"Kau sudah cukup belajar nya, lagi pula kau juga tetap akan tamat walaupun tidak mengerjakan soal mu dengan baik."
Suara pria yang di ikuti dengan sentuhan hangat di pipi nya membuat Anna menoleh.
Pluk!
Kepala gadis itu langsung jatuh dan bersandar di perut keras yang seperti roti sobek itu.
Karna posisi nya yang duduk di kursi dan pria itu yang berdiri tentu membuat nya bisa mendapatkan sandaran.
"Luc? Mau langsung kuliah aja bisa ga sih?" tanya nya lirih pada pria itu.
Pria itu tersenyum tipis, ia membelai kepala yang bersandar dengan nya itu dan tentu ia merasa senang karna gadis itu masih manja pada nya. Hasil yang tampak setelah mengurung nya cukup lama di satu ruangan tanpa orang lain.
"Kamu mau tidur?" tanya Anna yang mengangkat kepala nya bahkan sebelum pria itu selesai mengusap nya.
"Nanti, aku juga ada yang harus ku kerjakan." ucap Lucas pada gadis nya.
Anna menarik napas nya dan mulai mengikuti pria itu tanpa membereskan lebih dulu buku nya yang masih berserakan.
"Apa yang kamu kerjain?" ucap Anna yang mengikuti langkah pria itu sampai mendekat ke nakas di samping ranjang nya.
Karna sekarang ia sudah tidur di ruangan yang sama tentu beberapa hal juga sudah di pindahkan di ruangan kamar utama yang paling besar itu.
"Besok? Aku boleh ikut?" tanya Anna yang sekarang sudah memiliki kebiasaan mengekor pria tampan itu.
"Tidak, ini pertemuan di club," ucap Lucas pada gadis itu yang kali ini tak lagi mengizinkan gadis nya ke club' malam manapun.
Anna tersentak sejenak, sesaat ia ingat dengan teman nya yang sekarang sudah bekerja di club' malam.
Dan ia pun tak lagi membahas nya dengan pria yang tampak tak ingin mendengar pembahasan itu lagi.
"Ah.. iya..." ucap nya yang tersenyum seperti biasa.
Anna menarik napas nya, untuk sesaat ia berpikir akan sesuatu yang sebelum nya menganggu nya.
Sam kan masih di sana, tapi aku juga ga bisa keluar malam...
Gadis itu hanya bisa bersuara di dalam hati nya, ia ingat dengan teman nya dan ia ingin mengeluarkan teman nya itu.
......................
Satu Minggu kemudian.
Club'
Saat siang, tempat yang tampak glamor itu terlihat redup sangat berbeda saat malam.
"Belum buka ya?" gumam nya lirih melihat ke arah tempat yang sebelum nya pernah satu kali ia masuki.
Walaupun ia terdengar tak mendengarkan dan menolak apa yang di katakan Diego namun nyata nya ucapan itu membuat nya berani bolos dan malah pergi diam-diam ke tempat yang tak boleh ia datangi.
Tak ada lagi chip yang mengontrol nya seperti dulu, memang ada GPS di ponsel nya dan jam nya namun ponsel yang ia miliki sedang mati dan jam tangan yang ia pakai ia tinggal di loker saat mengganti pakaian olahraga dan sekaligus untuk pergi bolos.
"Apa aku tunggu di sana saja?" gumam nya sembari melihat ke arah salah satu tempat yang bisa ia duduki.
Langkah nya mendekat dan ia menunggu di tempat tersebut dengan seragam sekolah nya yang hanya ia lapisi dengan jaket bewarna peach namun tetap terlihat.
__ADS_1
...
Pukul 08.13 pm
Club' mulai di buka jam 8 malam, beberapa pekerja tentu sudah datang lebih dulu namun ia masih belum melihat teman nya sama sekali dan ia pun sebenarnya jug sudah mulai di cari.
Hanya saja karna ia yang pergi menggunakan bus tentu butuh waktu untuk mencari nya, apa lagi memang jam pulang sekolah nya di sore hari sehingga saat sadar ia tak ada ketika supir nya menunggu terlalu lama.
"Sam?" mata biru itu kini mulai menoleh dan menatap ke arah gadis yang datang dengan pakaian yang terbuka dan ketat itu.
Ia menengandah dan langsung mendatangi nya.
Greb!
"Sam? Sekarang kamu bisa bicara?" ucap nya yang langsung meraih tangan gadis itu.
Samantha tersentak, ia melihat ke arah teman nya itu yang tiba-tiba mendatangi nya.
"Ann? Kamu ngapain di sini?" tanya nya yang terkejut.
Orang-orang mungkin akan ikut salah paham jika gadis berseragam dengan jaket peach itu juga bekerja di club' malam itu karna berdiri di tepat berada di depan nya.
"Sini kamu!" ucap Samantha yang langsung menarik ke sisi yang sunyi agar tak menarik perhatian orang-orang yang ingin masuk ke tempat itu.
Bruk!
Karna tergesa-gesa gadis yang memakai gaun hitam berbentuk itu menabrak seseorang.
Pria botak yang bertubuh tinggi dan besar dengan wajah dan tatapan yang sangar.
"Maaf Sir," ucap Samantha yang langsung menundukkan kepala nya ketika ia sadar sudah menabrak seseorang.
Pria itu tak mengatakan apapun namun mata nya nya melirik ke arah gadis yang memakai pakaian yang seksi itu.
"Kau pikir maaf mu saja berguna! Bahu ku seperti nya patah karna kau menabrak nya!" ucap nya yang tampak marah.
"Ma.. maaf sa.. saya akan ganti dengan biaya obat." ucap Samantha yang mengambil dompet nya karna ingin cepat pergi.
"Kenapa bisa bahu nya patah? Memang itu kertas?" ucap Anna yang mendengar ucapan tak masuk akal itu.
Mana mungkin hanya di tabrak dengan sesuatu yang kecil bisa menyebabkan bahu yang berotot itu langsung patah.
"Seperti nya teman kecil mu ini terlalu banyak bicara ya?" ucap nya yang kesal dan ingin menghampiri gadis yang masih mengenakan seragam itu.
"Tunggu Sir!" Samantha langsung merubah posisi nya dan menghalangi pria yang ingin mendekat ke arah teman nya itu.
"Dasar jal*ng! Kau membuat hari ku kesal saja!" ucap pria tanpa rambut itu yang menatap kesal karna bagi nya gadis yang harus nya menunduk dan diam malah ikut campur.
"Bu.. bukan begitu Sir! Sa-"
Greb!
Akh!
Samantha meringis seketika, pria itu menarik rambut nya dan tampak begitu marah.
Ia pun bisa langsung tau jika itu adalah pria yang menyebalkan dan bahkan jika menjadi klien pun akan semena-mena.
"Banyak bicara jal*ng si*lan!" ucap nya yang ingin mengangkat tangan nya.
Plak!
Kedua sepatu yang memiliki berat yang cukup itu di pukul pada sisi yang berlawanan di kepala yang botak itu.
"Akh! Si*l" ucap nya yang terkejut sekaligus merasakan abu yang masuk ke dalam mata nya karna tapak sepatu yang baru di pukul pada nya itu.
"Sam? Lari!" ucap Anna yang terkejut sembari menarik teman nya itu.
"Ha? Apa? Tu.. tunggu!" ucap Samantha yang berhenti sejenak sembari melepaskan heels nya sebelum berlari.
__ADS_1