Calm Down! Mr. Psycho!

Calm Down! Mr. Psycho!
Cup Cup


__ADS_3

Mansion Damian


Pukul 01.34 am


Lucas menatap ke arah anak kecil yang tengah memejam itu, kondisi yang memungkinkan untuk tau di sekitar nya namun tak memiliki kesadaran untuk membuka mata nya.


"Kau masih tidak sadar? Ku harap kau tidak akan bangun," ucap nya yang menatap ke arah anak kecil itu.


Tak ada jawaban, mata nya memandang dingin. Ia tak membenci nya namun ia juga tak bisa menyayangi nya.


Sesuatu yang mengambil perhatian dari orang yang ia cintai.


"Setidak nya jangan bangun sampai aku mati lebih dulu. Tidak akan lama lagi jadi kau tetap lah tertidur seperti ini..." ucap nya yang menatap ke arah anak kecil itu.


Lucas menatap nya sejenak, wajah itu memiliki aura dan wajah yang mirip dengan sang istri.


Namun tetap saja anak itu bukan lah wanita nya, walaupun bagian dari diri nya dan wanita yang ia cintai namun tetap saja berbeda.


Sama hal nya dengan wanita yang ia culik dan ia coba untuk membuat sendiri 'Anna' yang ia inginkan.


Walaupun ia sudah mendapatkan semua wanita dengan ciri khas yang sama namun tetap saja tak bisa membuat nya mendapatkan 'Anna' yang ia mau.


....


Lucas kembali, mata yang berwarna abu-abu gelap itu menatap sekali lagi pada wanita yang tertidur di atas ranjang nya.


Tangan nya mengusap pelan ke arah wajah dan kepala sang istri.


"Uhh..."


Anna mengeluh dalam tidur nya saat ia merasa terganggu.


"Sstt, hush..." bisik nya pelan dan kemudian naik kembali ke atas ranjang nya dengan perlahan lalu memeluk istri nya.


....


Ke esokkan pagi nya.


Pukul 07.45


Wanita membuka mata nya perlahan, iris yang biru itu menatap dengan mata yang memudar dan terasa kabur untuk sesaat.


Mata nya menatap ke sisi di samping nya, seseorang yang biasa nya selalu terbangun lebih pagi kini masih tertidur.


Wajah nya tampak semakin pucat dengan warna kulit yang tampak mulai berubah.


Anna tak mengatakan apapun, ia terdiam sesaat dan kemudian terpaku pada pria itu dengan tatapan yang tak beralih.


Ia menatap dari samping dengan melihat ke arah nya, perasaan nya kacau namun ia tak bisa berhenti.


Cara untuk menghentikan diri nya sendiri terasa begitu sulit, ia tak bisa berhenti sama sekali.


Sesuatu yang tak bisa ia ungkapkan dan tak bisa ia katakan seperti apa.


Ujung jemari nya yang dingin dan halus itu menyentuh wajah pria yang masih tampak gagah itu.


Greb!


Anna tersentak, ia menatap ke arah tangan nya yang seperti tertangkap saat menyentuh sesuatu yang bukan milik nya.


"Kau menyentuh orang yang sedang tertidur? Hm?" tanya pria itu yang membuka mata abu-abu gelap nya sembari menatap dengan tatapan yang masih tampak berat itu.


Suara nya terdengar serak khas seseorang yang baru saja bangun tidur.


"Tidak, aku hanya mau melihat mu." ucap Anna yang menatap ke arah sang suami dengan senyuman kecil.


"Morning my hubby..." ucap nya dengan senyuman yang cerah seperti mentari yang hari ini mengeluarkan sinar nya dengan lebih gemerlap.


"Morning too," jawab Lucas yang kemudian menarik tangan wanita itu dan memeluk nya sembari memasukkan nya kembali ke dalam selimut.


"Kamu bangun lebih lama?" tanya Anna yang berada di dalam pelukan pria itu.


"Ya, aku masih mengantuk. Kita pergi nanti sore." ucap Lucas yang memeluk wanita itu dengan erat.


Anna tak menjawab, ia merasa pria itu terus menerus ingin tidur dengan perubahan yang mulai terlihat.


"Luc?" panggil nya lirih tanpa menatap ke arah pria itu.


"Hm?" Lucas menjawab hanya dengan berdehem dan tetap memejamkan mata nya.


"Maaf..." ucap Anna lirih namun tak mengatakan untuk apa kata maaf nya.


"Kau selingkuh?" tanya Lucas yang masih memeluk tubuh sang istri.


"Apa?" Anna mengernyit dan terkejut mendengar nya, "Tidak! Kenapa kau pikir begitu?" tanya nya tak percaya dengan apa yang baru ia dengar saat ini.


"Lalu kenapa minta maaf? Kalau kau tidak melakukan apapun?" jawab Lucas dengan nada yang datar pada sang istri.


Anna tak menjawab dan mana mungkin ia bisa menjawab nya.


......................


Skip


Europa Park


Anna menatap takjub ke tempat yang ia datangi saat ini.


Memang banyak taman hiburan di negara nya namun yang ini baru pertama kali ia datangi karna cukup jauh dari tempat ia tinggali.


"Ke sana!" ucap Anna yang menarik tangan pria itu dan membawa nya melihat ke arah teater yang selalu di sediakan sebagai bentuk dari atraksi yang di berikan selain wahana nya.


Lucas tak mengatakan apapun namun ia menurut saja ketika sang istri menarik tangan nya.


"Kalau Estelle ikut dia pasti suka, nanti aku bawa dia ke sini juga!" ucap Anna tanpa sadar yang memang setiap kali ia merasa suka dengan sesuatu maka putra nya ada di pemikiran pertama nya.


Lucas langsung menoleh saat mendengar sang istri menyebutkan nama putra nya.


Bukan ia membenci namun ia tak suka jika wanita itu memikirkan orang lain saat sedang bersama dengan diri nya.


"Kalau begitu semoga dia tidak akan bangun," jawab Lucas di samping gadis itu yang tentu merasa cemburu saat mendengar hal itu.


Tak terkecuali untuk siapapun termasuk darah daging nya sendiri.


Senyuman di wajah cantik itu perlahan turun, Anna terdiam beberapa saat dan memandang ke arah teater itu dengan pikiran yang tak melihat pada apa yang di depan nya.


"Luc? Kita mau beli permen kapas?" tanya Anna yang kemudian tersenyum dan menggandeng tangan sang suami.


Ia tak menunjukkan amarah sama sekali atau pun kata-kata yang seolah mengatakan jika ia tak terima atas apa yang di katakan suami nya saat ini.


"Kau mau?" tanya Lucas yang menoleh tanpa mengatakan atau membahas tentang putra nya yang masih tak sadar sama sekali.


Anna tersenyum, mata nya yang biru rambut yang pirang nya yang cerah dengan kulit seputih susu nya membuat ia tampak begitu bersinar.


"Ya!" jawab nya singkat.


Seperti anak kecil yang membawa dan menyeret ayah nya semacam itu lah yang ia lakukan saat ini.


Lucas mengikuti semua yang di inginkan istri nya, menaiki beberapa wahana yang cukup menegangkan.

__ADS_1


"Takut?" tanya Lucas yang duduk di samping kursi roller coaster itu.


"Sedikit," jawab Anna dengan senyuman yang gugup.


"Mau turun saja?" tanya Lucas yang menawarkan agar tak menaiki wahana itu sama sekali.


"Jangan! Kan kita mau liburan! Aku mau coba semua nya!" ucap Anna yang tersenyum.


"Karna kan aku pergi ke sini cuma sama kamu, kalau sama yang lain pasti ga bisa!" sambung wanita itu sekali lagi padahal beberapa jam yang lalu ia baru mengatakan akan membawa putra nya ke tempat itu suatu saat nanti.


Lucas tersenyum tipis mendengar nya, walaupun yang ia dengar mungkin kebohongan namun ia tak membenci nya dan cenderung menyukai nya.


Suara mesin wahana mulai terdengar, roller coaster yang besar itu pun mulai bergerak. Anna gugup namun seperti biasa seseorang mulai memegang tangan nya.


Angin yang kencang dan kemudian mendorong rambut panjang nya serta dengan teriakan kencang pengunjung lain nya bahkan untuk bebetapa orang ada yang tak sadarkan diri.


Drak!


Roller Coaster itu berhenti dan pengaman duduk yang terpasang pun mulai di bantu buka oleh staf taman hiburan.


"Astaga! Jantung ku!" ucap Anna dengan kaki yang masih gemetar saat ia turun.


Mata biru nya menatap ke arah pria yang hanya tersenyum tipis pada nya, sejak tadi pun tak berteriak seperti kebanyakan orang.


"Kamu ga takut?" tanya Anna yang menatap ke arah sang suami.


"Aku punya hal yang ku takutkan, tapi bukan ini." jawab Lucas yang hanya tersenyum kecil.


Tentu dengan defisit emosi yang ia rasakan, bukan hanya emosi orang lain namun untuk emosi nya sendiri pun juga berbeda.


Seperti rasa takut, bahagia, atau senang sedih nya berbeda dari kebanyakan orang lain.


"Apa itu?" tanya Anna dengan mata penasaran saat berjalan sembari memegang tangan pria itu untuk menumpu tubuh nya agar tak jatuh.


"Kenapa penasaran? Kau mau menakuti ku?" tanya Lucas yang menatap ke arah sang istri.


"Kamu kan kelihatan ga pernah takut sama apapun, jadi aku penasaran apa yang bisa buat kamu takut, aku mau tau." jawab Anna yang menatap ke arah sang suami.


Lucas tak menjawab nya, tentu ia juga tidak bisa mengatakan apa yang membuat nya takut walaupun pada wanita yang cintai karna pada dasar nya ia tak mempercayai siapapun.


"Kita minum dulu! Haus!" ucap Anna yang melihat ke arah cafe dan tempat istirahat yang berserakan di tempat itu.


Lucas tak menjawab namun ia membawa istri nya ke tempat yang di inginkan.


Tempat yang nyaman dengan menjadi sebuah liburan yang menyenangkan sekaligus melelahkan.


"Kamu mau coba?" tanya Anna yang menawarkan milk shake dengan banyak cream itu pada sang suami.


Lucas menggeleng, ia menatap ke arah wanita itu sekilas dan menarik napas nya.


Deg!


"Ukh!"


Suara pria itu terdengar meringis pelan namun Anna tak mendengar nya, ia menatap ke arah ponsel nya dengan beberapa gambar yang sudah ia ambil dan ingin ia tunjukkan pada putra nya yang masih tak sadarkan diri itu.


"Aku ke toilet sebentar, kau tetap di sini." ucap Lucas pada sang istri dan kemudian menoleh ke salah satu pria yang mirip dengan pengunjung lain namun orang-orang itu adalah bawahan nya.


Karna setiap kali istri nya keluar mau dengan diri nya atau sendirian akan tetap ada pengawal yang mengawasi.


"Kamu kenapa?" tanya Anna yang menyimpan ponsel nya dan kemudian menatap ke arah sang suami.


"Tidak ada, apa aku harus sakit baru bisa ke toilet?" tanya Lucas yang memang cara bicara nya ketus.


"Ti.. tidak! Cepat kembali," jawab Anna menggeleng dengan senyuman yang tampak kecil dan gugup.


...


Ukh!


Pria itu menutup closet di depan nya dan menghidupkan tombol flush, ia pun berbalik ke arah wastafel dan kemudian mencuci tangan nya.


Wajah tampan itu masih mengernyit, sesuatu yang tak nyaman membuat nya ingin muntah setiap saat.


"Hah..."


Lucas menarik napas nya, ia merasa lelah bahkan dengan apa yang baru ia lakukan saat ini.


Pria itu merintih pelan, bagian tulang rusuk nya terasa begitu penuh dan menyesakkan.


Ting!


Luc? Kamu masih lama?


Sebuah pesan yang masuk ke dalam ponsel nya membuat Lucas menoleh dan menatap nya seketika.


Ia menarik napas nya sekali lagi mengatur kembali ekspresi nya, tak ada balasan namun ia langsung keluar dari ruangan itu karna istri nya sudah terlalu lama menunggu.


......................


Mansion Damian


Anna kembali, ia membeli banyak permen dan coklat yang di sukai putra nya.


"Estelle? Sayang Mama? Lihat?" ucap nya yang datang dengan banyak hadiah di tangan nya walau ia tau putra nya tak akan bisa memakan nya sama sekali.


"Mama bawa banyak buat kamu!" ucap Anna yang tersenyum tipis pada putra tampan nya.


Tentu tak ada balasan sama sekali, "Ini Papa kamu loh yang beliin, dia juga bilang nanti kalau kamu bangun kita pergi bareng." ucap nya yang terkadang masih sesekali mengatakan hal yang baik tentang ayah dari putra tampan nya itu.


Walaupun ia terkadang juga membuat putra nya seperti pengakuan dosa yang ia lakukan.


"Estelle? Bangun nak, kalau kamu ga ada Mama gimana? Sayang..."


"Bangun ya nak?"


Emosi wanita itu cepat berubah, ia terkadang bisa tersenyum dengan cerah ataupun marah dengan mudah dan terkadang menangis atau sedih secara tiba-tiba.


......................


Skip


Satu Minggu kemudian


JNN Grup


Diego menatap ke arah sepupu nya saat pria itu menyiapkan pengacara.


"Luc? Kau bukan akan mati sekarang?! Masih bisa di obati?! Kenapa pesimis mau mati?!" tanya Diego yang begitu kesal saat sepupu nya sudah menyiapkan warisan.


"Kalau aku kecelakaan atau mati tiba-tiba warisan ku perlu di buat juga kan? Kau tau mereka akan langsung mengigit Anna kalau aku tidak ada." jawab Lucas dangan santai.


Walaupun para sanak saudara nya sudah tak lagi memiliki taring namun jika ia tak ada maka kuku para serigala lapar itu pun akan segara tumbuh dan menyerang wanita nya.


"Kau tidak mau menjalani pengobatan? Belum terlambat," ucap Diego sekali lagi.


Lucas tak menjawab, bahkan jika ia melakukan nya pun sang istri tetap akan memberikan nya zat kimia yang sama untuk merusak organ penting nya lagi.


Dan tak bisa dilakukan pengobatan dan pengrusakan sekaligus.

__ADS_1


"Akan ku pikirkan," jawab Lucas singkat pada sepupu nya.


"Kau terlihat aneh! Sungguh!" ucap Diego pada sepupu sekaligus atasan nya itu.


"Atau karna kau memang mau mati? Maka nya jadi bersikap aneh?" tanya Diego sekali lagi.


Lucas tak menjawab apapun, ia hanya memandang dengan tatapan mata nya yang dingin.


"Siapkan saja pengacara untuk ku, kau sendiri kenapa tiba-tiba peduli?" tanya Lucas pada sepupu nya.


"Aku benci mengatakan nya tapi kau kan juga termasuk keluarga ku," jawab Diego sembari membuang wajah nya.


"Terdengar menggelikan," ucap Lucas yang menatap dengan wajah yang geli.


"Si*l! Aku tau! Tidak usah memasang ekspresi wajah yang seperti itu," ucap Diego yang menatap ke arah sepupu nya.


....


Tiga pengacara yang datang ke ruangan yang paling utama dari perusahaan besar itu sudah membereskan beberapa dokumen nya.


"Yang terpenting nanti mereka tidak boleh mengambil sedikit pun dari apa yang ku berikan untuk istri dan anak ku, lalu tidak ada wali sebelum anak ku dewasa selain ibu nya." ucap Lucas sekali lagi.


"Posisi bisa di ambil alih tapi untuk saham dan properti tidak ada perwakilan, dan kalian semua yang ada di sini bertanggung jawab sampai anak itu berumur 17 tahun jika istri ku tidak bisa mengatur atau mengerti tentang kelola saham."


"Baik! Sir!" ucap para pengacara itu yang sebelum nya sudah menandatangi perjanjian juga.


Lucas memang tidak menyukai putra nya namun ia tau jika ia tak melakukan hal ini lebih dulu maka setelah ia pergi atau terjadi sesuatu pada diri nya maka istri dan makhluk mungil yang saat ini belum sadar itu akan menjadi santapan sanak saudara nya yang memang ingin memburu setiap saat.


Beberapa nama saham memang sudah ia berikan untuk Anna bahkan sebelum wanita itu melakukan apapun pada nya.


Dan tentu ia melakukan nya agar tak terlalu terlihat kesenjangan sosial yang ia miliki dan tentu untuk menutup mulut yang berkomentar tentang wanita yang ia nikahi.


"Kami akan segera menyiapkan dokumen yang di minta secepat nya," ucap sang pengacara dan kemudian permisi untuk segera keluar.


Lucas memberikan satu anggukan dan kemudian menarik napas nya.


Tangan nya memegang bagian atas perut nya yang terasa sesak dan tak nyaman.


Ku harap kau saja yang pergi...


Kalimat yang selalu terngiang di kepala nya, ia menarik napas nya dan kemudian menyandarkan diri nya.


Tak terlalu marah atau pun kecewa dengan apa yang di lakukan sang istri karna sejak awal ia sudah mengetahui semua nya.


......................


Mansion Damian.


Anna meletakkan makan malam yang ia buat ke atas meja, kali ini tak mencampur di masakan nya sama sekali atau minuman yang ia sediakan.


"Kamu hari ini lembur lagi?" tanya Anna yang menatap ke arah sang suami.


"Ya, kau akan membuatkan ku teh lagi nanti?" tanya Lucas yang sembari memakan makan malam nya.


"Ka.. kalau kamu mau aku buatkan..." jawab Anna dengan senyuman tipis dan kemudian menatap ke arah pria itu.


"Ya, dan aku lebih suka kalau kau juga menemani ku." jawab Lucas yang memberikan satu anggukan kecil.


"Aku ngapain? Nanti kamu malah ga fokus?" tanya Anna dengan mata biru nya yang terkadang menyembunyikan kegugupan nya.


"Aku mau kau dekat dengan ku, kalau aku tidak meminta nya kau akan ada di kamar anak itu lagi Kan?" tanya Luas yang masih menunjukkan ketidaksukaan nya pada sang buah hati.


"Dia bukan 'anak itu' tapi Estelle, Estelle kita Luc..." ucap Anna lirih yang terkadang tak bisa menyembunyikan rasa sakit hati nya jika pria itu bersikap seperti tak mau mengakui anak nya.


"Bagi ku kata 'kita' itu hanya ada 'Kau dan Aku' bukan dengan yang lain, mau itu anak atau orang lain." jawab Lucas yang masih kukuh dengan pendirian nya.


Ia menyukai seseorang dan tentu dengan struktur neuron yang berbeda membuat nya sulit untuk menyukai orang lain lagi walupun masih terhubung dengan darah daging nya sendiri.


Anna tak menjawab, ia tak bisa mengatakan apapun karna ia sendiri pun bukan orang yang berhak untuk berkomentar saat ini.


....


Suara sendok yang memutar di dalam segelas teh itu terdengar, sekali lagi ia menuangkan beberapa tetes dari zat kimia yang ia dapatkan dan mencampur nya ke dalam teh.


"Tidak apa-apa, aku..."


Anna menarik napas nya, adukan sendok yang memutar itu semakin berjalan lambat dan ia pun bisa menatap bayangan diri nya sendiri di atas teh berwarna coklat bening itu.


Wanita itu menyimpan ampul yang berisi zat kimia yang bisa merusak hati itu dan kemudian membawa nya.


Ia mengetuk pintu ruangan kerja sang suami dan kemudian beranjak masuk.


"Ini, kamu masih lama?" tanya Anna yang meletakkan segelas teh di samping meja kanan pria itu dan kemudian beranjak berdiri di samping sang suami.


Tangan nya memegang pundak yang masih terasa kekar dan penuh otot itu.


Lucas menoleh, ia menarik tangan kecil istri nya dan kemudian mendudukkan di pangkuan nya.


"Ke sini," Ucap Lucas yang kemudian membuat wanita itu duduk di pangkuan nya.


"Setelah ku cari tau kau membuat yogurt saat kabur? Berarti kau juga tau cara nya menjalankan bisnis?" tanya Lucas sembari mengaku sang istri.


"Sedikit," jawab Anna dengan menatap mata sang suami.


Lucas mengangguk kecil, ia kemudian menunjuk ke arah kertas di depan nya dan memberikan beberapa pelajaran dan pengetahuan umum yang singkat.


"Jadi nanti kalau aku tidak ada, jangan sampai ada yang mencuri sesuatu dari mu." ucap nya yang mengecup bahu putih sang istri.


Anna diam sejenak, "Kamu memang nya mau kemana?" tanya nya dengan mata yang menyembunyikan sesuatu serta tampak terluka walau ia sendiri yang membuat luka nya.


"Entahlah," jawab Lucas singkat sembari membalik pangkuan nya agar wanita itu menghadap ke arah nya.


"Kau akan menarik ku kemana lagi sekarang?" tanyanya dengan senyuman tipis sembari menyentuh pipi halus yang bulat itu.


Anna selalu menarik tangan nya ketika ia ingin sesuatu, seperti bagaimana tentang ketika mereka pergi ke taman hiburan.


Wanita itu terdiam, ia tak bisa melihat senyuman di wajah yang dingin itu.


Tes...


Mata biru itu berkabut, kaca bening yang tampak membendung itu kini jatuh.


"Aku hanya tanya, kenapa kau menangis?" tanya Lucas yang mengusap air mata yang jatuh di pipi yang yang terlihat memerah ketika wajah putih itu menangis.


Tak ada jawaban sama sekali, tangan yang bersandar di pundak kokoh itu tampak gemetar.


"Luc? Aku..."


"Aku mau berhenti narik kamu ke tempat yang aku mau..."


"Tapi aku..."


"Aku ga bisa berhenti, aku takut sama diri kau sendiri..." ucap Anna dengan suara yang gemetar dan tercekat.


Lucas tak menjawab apapun, ia menarik kepala gadis itu dan kemudian memeluknya.


Usapan yang lembut memeluk punggung yang gemetar itu dengan perlahan.


"Sstt..."

__ADS_1


"Cup cup anak manis..."


Ucap nya yang seperti menenangkan anak kecil seperti ia melihat karyawannya menenangkan anaknya.


__ADS_2