
Mansion Damian
Anna kembali, wajah nya masih berseri karna tadi ia banyak tertawa setelah kabur dari pesta pernikahan ketika ia menyanyikan lagu yang salah.
"Luc?" sapa nya saat melihat ke arah pria yang menunggu nya di kamar sembari melihat ke arah luar jendela.
Pria itu berbalik, ia menatap ke arah gadis yang berdiri di depan nya.
"Aku tadi cari kamu, kamu tau ga? Aku bawa muffin, rasa nya enak. Kamu pasti suka! Ga terlalu manis, pakai teh pasti cocok!" ucap Anna tersenyum.
Ia seperti anak kecil yang baru kembali dari bermain dan mendatangi ibu nya dengan membawa permen.
Lucas tak mengatakan apapun, melihat senyuman dan wajah senang gadis itu membuat nya semakin jengkel. Di tambah dengan cake yang di bawa menunjukan jika ia tadi baru saja makan dengan seseorang.
"Sama siapa tadi?" tanya nya yang menahan gejolak amarah dalam diri nya.
Dan memang emosi yang tak stabil ini lah yang di takutkan oleh dokter psikiater nya karna setiap kali terapi berakhir dan memberikan gambar maka jawaban nya adalah wanita yang terjerat di rantai.
"Te.. teman..." Anna langsung menciut, ia menatap ke arah pria yang tampak sedang kesal dan begitu marah dengan nya itu.
"Luc? Kamu marah? Aku kan tadi udah bilang bakal pulang terlambat," ucap nya yang menatap ke arah pria itu dan mendekati nya.
Lucas tak menjawab apapun, ia meraih cake yang di belikan untuk nya dan melihat dengan cara membuka kotak makanan itu dan menjatuhkan nya ke lantai.
"Luc! Kamu kenapa buang-buang makanan!" ucap Anna seketika yang tampak tak terima jika melihat seseorang menyia-nyiakan makanan karna ia yang paling tau sakit nya menahan lapar karna tak memiliki uang.
"Kau memberi ku ini setelah makan dengan pria lain?" tanya pria itu dengan tatapan sinis saat melihat muffin yang hancur itu.
"A.. apa?" Anna tersentak, ia mengatakan jika ia pergi dengan teman nya walau ia tak mengatakan pergi dengan siapa.
"Dan lagi kau bukan kerja kelompok tapi pergi ke pernikahan orang lain dan bernyanyi, yah aku tidak masalah tentang itu. Tapi!" ucap nya yang mendekat dan menarik ke arah lengan gadis itu dengan kuat.
Ack!
Anna tersentak, lengan nya di cengkram dengan erat dan membuat senyuman cerah nya yang tadi begitu berbinar langsung berubah.
"Kau berbohong untuk keluar dengan pria lain? Kalian seperti nya sangat dekat? Hm?" tanya nya yang semakin mencengkram lengan gadis itu.
"Bu.. bukan begitu.. ga de.. dekat kok..."
"Di.. dia itu cu.. cuma pelayan yang main pi.. piano nya, terus wa.. waktu selesai dia.. dia ngajak kabur karna aku sa.. salah nyanyi..."
__ADS_1
"A.. aku kan ga.. ga tau ba.. bahasa I.. Inggris..."
Anna berusaha mencari alasan yang tepat, dan tentu nya tak melibatkan sama sekali dengan menyebutkan nama kakak kelas nya itu.
Lucas tersenyum sinis, "Oh? Tidak tau ya? Tapi kau tersenyum sangat lebar tadi?" tanya nya dengan wajah mengintimidasi yang begitu menekan gadis itu.
"I.. iya ka.. karna dia bawa aku la.. lari tadi..." ucap Anna lirih.
Lucas tak mengatakan apapun, ia menarik dan menyeret gadis itu ke kamar mandi.
Bruk!
Pria itu melempar tubuh kecil gadis itu ke lantai yang dingin di kamar mandi nya. Tangan pun langsung beranjak menarik shower dan memberikan pengaturan air di suhu yang tinggi.
"Luc? A.. aku ga buat apa-"
Cras!
Akh!
Gadis itu memekik, ucapan nya belum selesai habis dan air yang terasa panas itu jatuh ke kulit nya.
Memang tak mendidih atau sampai membuat kulit nya melepuh namun tentu meninggalkan rasa perih dan kemerahan.
"Luc! Berhenti! Panas..." Anna meringis, biarpun kulit putih nya tak melepuh namun seluruh permukaan tubuh nya sudah memerah.
Ia tak tahan, ia pun beranjak bangun dan mencoba menyingkir serta pergi dari siraman air pria itu.
Tak!
Lucas melepaskan shower nya dan menjatuhkan ke atas lantai marmer itu. Ia berjalan dan meraih gadis yang ingin kabur dari nya itu.
Auch!
Anna meringis, rambut nya yang panjang itu terjerat di antara jemari tangan pria yang menarik nya dengan erat.
"A... aku benar-benar ga buat apa-apa sama dia, di.. dia cuma pelayan yang ta.. tadi bantuin aku..." ucap Anna lirih yang tentu tetap tak ingin melibatkan kakak kelas nya yang sekarang berubah menjadi kakak tingkat nya itu.
"Oh? Cuma pelayan tapi dekat sekali ya?" tanya nya yang malah semakin geram jika ada pria yang bisa sedekat itu dengan gadis nya walaupun baru kenal.
Wajah nya datar, ekspresi nya kosong kecuali mata yang menunjukkan semua yang ia rasakan.
__ADS_1
"Akh! Sakit Lucas!" ucap Anna yang berusaha melepaskan jemari tangan pria itu yang menarik rambut nya dan membawa nya ke depan cermin.
"Lihat! Gadis ku sangat cantik sampai membuat semua orang menyukai mu. Kau bilang ingin jadi bintang kan?" tanya nya yang memeluk tubuh yang gemetar itu dengan mata yang berkaca karna takut dengan nya.
"Lu.. Luc? A.. aku minta maaf..."
"Kau ja.. janji ga akan ulangi la.. lagi..."
Anna berusaha menahan tangis nya, mencoba membujuk pria itu seperti biasa nya.
"Kau bahkan bukan bintang yang bersinar, masih belum tapi sudah terlalu banyak batu yang mendekati mu."
Pria itu berbicara lirih di telinga gadis itu, menatap dengan tatapan yang seperti akan meledak.
Emosi nya memang masih belum stabil sama sekali walau ia sudah bisa melihat secara normal.
Hanya pandangan nya, tidak dengan otak nya yang bermasalah itu.
Tangan pria itu mengusap dan mengelus kepala gadis itu dengan perlahan sampai mulai menarik nya.
"Akh! Luc!" Anna meringis kepala nya menengandah ke atas saat rambut nya di tarik kuat.
Tak ada kata apapun, yang menjadi jawaban namun.
Prang!
Cermin yang memantulkan bayangan kedua orang itu kini pecah berhamburan ke bawah.
Warna merah menyala melekat di serpihan yang tajam itu, wajah cantik itu mulai sayu seketika saat ia mendapatkan benturan secara tiba-tiba.
Rasa nya begitu singkat, perih dan hanya seperti dentuman keras secara tiba-tiba membuat nya tak bisa memikirkan apapun untuk beberapa saat kecuali rasa sakit yang tertuju di satu titik tubuh nya.
Pria itu membalik nya, menatap gadis yang terluka itu.
Ia tak tau akan membekas atau tidak, dan jika akan berbekas pun ia tak berniat menghilangkan nya kali ini walaupun akan membuat luka cacat di wajah.
"Anna?"
Panggil nya dengan senyuman tipis di wajah nya.
"Aku mencintai mu dalam waktu apapun," bisik nya lirih.
__ADS_1
"Dan aku mencintai mu yang sudah rusak..." bisik nya yang mulai mengecup bibir gadis itu.
"Hanya aku..." sambung pria itu sembari melepaskan gaun gadis yang terdiam dan hanya melihat nya dengan sayup.