Calm Down! Mr. Psycho!

Calm Down! Mr. Psycho!
Tidak bisa bernapas


__ADS_3

Dua Minggu kemudian.


Mansion Damian.


Wanita itu menarik napas nya, ia menatap kosong ke arah hamparan luas dari taman yang mewah itu sebelum mengalihkan pandangan nya pada bunga yang berada di depan nya lagi.


Tak!


Ia memotong tangkai nya, hanya menyisakan satu bunga dengan kelopak yang mekar untuk di letakan di dalam vas yang bersisi air.


Mawar putih itu menjadi salah satu dari bunga terakhir yang di masukkan.


Anna membuang napas nya, ia membawa bunga-bunga bermekaran itu yang sudah ia kumpulkan.


Tak ada yang menghalangi langkah nya, ia bisa menuju ke ruangan mana pun yang ia inginkan.


Suara dari heels itu terdengar, tangan yang membuka pintu dari ruangan yang terdapat anak mungil menggemaskan yang bahkan belum tersadar sama sekali bahkan sudah memasuki usia setengah tahun.


"Estelle Mama? Sayang..."


Suara nya memanggil dengan manis dan kemudian menatap ke arah putra kecil nya.


Tak ada balasan di setiap sapaan nya namun ia terus saja memanggil nya.


"Mama ganti bunga nya ya?" tanya Anna yang mengganti bunga-bunga yang sudah layu itu dengan yang baru.


Anak kecil itu tentu tak menjawab, sedangkan wanita yang selesai mengganti bunga nya pun menatap ke arah putra kesayangan nya.


"Estelle? Estelle masih sakit ya? Maka nya terus tidur?" tanya Anna yang terus menerus bertanya pada putra nya.


"Sakit nya tukar ke Mama aja mau sayang? Mama aja yang gantiin Estelle?" tanya Anna sekali lagi sembari memegang tangan mungil putra nya.


Estelle masih tak memberikan jawaban apapun, Anna menatap nya. Mengecup dahi anak itu sekali lagi namun ia tak bisa mengatakan apa-apa.


"Estelle? Mama..."


"Seperti nya Mama juga ga bisa..."


Gumam nya lirih, ia mengatakan semua yang ia lakukan pada putra nya. Tak tau apa anak kecil itu bisa menyadari suara nya atau tidak.


"Mama mau berhenti..."


"Mama ga bahagia, walaupun itu yang Mama mau..."


"Mama ga bisa lindungi kamu..."


"Maaf nak,"


Ucap nya lirih pada putra nya yang tak sadar sama sekali itu, ia tak bisa memilih.


Melihat putra nya yang masih terbaring lemah dan seseorang yang mulai kehilangan tentang diri nya sendiri membuat Anna semakin kehilangan tentang apa yang sebenarnya ia inginkan.


"Kalau Mama berhenti kamu marah ga sama Mama? Kamu bakal tetap bangun kan? Estelle? Kasih tau Mama nak..." ucap nya lirih yang menatap ke arah anak mungil nya yang tampan itu.


......................


JNN Grup


Rapat sudah selesai, Lucas kembali ke ruangan nya dan menatap ke arah seseorang yang menunggu nya di depan.


Tak menghiraukan nya sama sekali dan mencoba untuk melewati nya.


"Tunggu! Luc? Ada yang mau Paman bicarakan."

__ADS_1


Ucap pria paruh baya yang tampak mencegah nya.


"Dengan ku?" tanya Lucas yang menunjuk ke arah diri nya sendiri.


"Ya, dengan mu." ucap pria paruh baya itu yang mendekat.


Lucas diam sejenak namun ia berjalan tak memasuki ruangan nya yang berarti ia menuruti apa yang di minta dari suami bibi nya itu.


...


Cafe perusahaan.


"Ada apa? Katakan dengan cepat," Ucap Lucas yang langsung memulai topik dan bahkan enggan membawa pria itu untuk masuk ke dalam ruangan nya.


"Begini, kau tau kan sepupu mu sedang mendapat masalah sekarang? Dia juga masih anak bibi mu kan? Maka nya apa aku bisa mendapatkan sedikit bantuan?"


"Kenapa aku harus membantu nya? Dia sendiri yang terjerat hal seperti itu? Dan lagi, bibi sudah banyak memberikan harta nya saat dia mati kan?" tanya Lucas dengan wajah nya yang datar.


"Iya! Benar tapi memang-"


"Kau ke sini hanya untuk meminta ku membantu anak yang terjerat dengan narkotika? Itu bukan urusan ku, kalau kau memiliki uang untuk melepaskan nya silahkan lakukan."


"Dan jika tidak maka tidak perlu melakukan nya." ucap nya sekali lagi yang menatap ke arah pria itu.


Pria itu paruh baya itu menarik napas nya, ia tau sangat sulit untuk meminta bantuan pada seseorang yang bahkan seperti tak pernah menunjukkan emosi nya.


"Pembicaraan selesai," ucap Lucas yang berbalik dan pergi lebih dulu.


Sedangkan pria itu hanya bisa diam dan menahan kekesalan nya karna kesombongan yang di miliki oleh sepupu nya.


Sementara itu Diego mendatangi nya lebih cepat dan kemudian menatap ke arah nya.


"Dia mencari mu?" tanya pria itu yang langsung berjalan beriringan.


"Aku mendapat panggilan dari rumah sakit, karna kondisi mu terus seperti itu aku minta analisa data yang mereka miliki." jawab Diego yang berjalan cepat seperti sepupu nya.


Lucas tak menjawab, ia tak mengatakan apapun dan tak membantah nya.


"Jalani pengobatan Luc, kau bukan akan mati sekarang! Aku sudah lihat pengacara yang kau bawa? Kau gila?!" tanya Diego yang tak habis pikir.


Lucas menghentikan langkah nya, pengobatan tak akan sejalan dengan apa yang masih ia konsumsi.


"Lakukan saja urusan mu, jangan terlalu mencari tau tentang apa yang ku lakukan." jawab Lucas singkat saat ia terdiam beberapa saat.


Diego kehilangan kata-kata, ia tak bisa mengatakan apapun dan hanya menatap ke arah sepupu nya yang meninggalkan nya sedangkan ia masih berdiri di tempat yang sama ketika pria itu menggantikan langkah nya.


......................


Mansion Damian


Suara dari sepatu cantik yang di kenakan wanita dari istri pemilik mansion itu terdengar.


Ia datang, membawa secangkir teh yang hangat seperti biasa.


"Kamu masih lama?" tanya Anna dengan iris biru nya yang menatap ke arah teh yang berwarna bening itu.


"Ya, kau mau tidur lebih dulu? Kau bisa lakukan, aku akan kembali setelah menyelesaikan yang ini." jawab Lucas tanpa menoleh ke arah sang istri.


Anna mengangguk, ia berbalik. Berjalan keluar dari pintu yang bahkan tak jauh dari tempat ia berdiri.


Ting,


Suara dari cangkir gelas yang terangkat, suara yang terdengar mengesap teh yang hangat sedikit demi sedikit dan kemudian meletakkan nya kembali.

__ADS_1


Anna menghentikan langkah nya, ia tau suami nya kembali meminum apa yang ia berikan tanpa merasa curiga.


"Luc?" ucap nya berbalik dan menatap ke arah pria itu.


Lucas berhenti sejenak dan kemudian menatap ke arah sang istri yang memanggil nya.


Anna tak mengatakan apapun untuk beberapa saat dan kemudian berjalan mendekat lalu berdiri di samping pria itu.


"Ayo tidur bersama, aku tidak mau sendirian." ucap nya dengan senyuman tipis yang mengajak sang suami untuk istirahat lebih cepat.


Lucas melihat nya sejenak kemudian mengalihkan pandangan nya sekali lagi ke depan layar laptop nya.


"Nanti, setelah teh ku habis." ucap nya yang singkat dan kemudian kembali bekerja.


Anna diam sejenak, wajah nya tampak tak bisa mengatakan apapun untuk beberapa saat.


Tak!


Gelas yang masih berisi teh yang terlihat masih penuh itu terangkat dan habis dalam hitungan detik.


Greb!


Prang!


Lucas tersentak, ia langsung meraih tangan kecil itu dan membuat gelas yang bahkan belum turun ke atas meja itu terjatuh hambur di atas lantai.


"Apa yang kau lakukan?! Kau gila?!" tanya nya yang masih bisa mencengkram dengan begitu kuat.


Tak ada jawaban untuk sementara, namun wajah wanita yang cantik dengan mata biru yang indah itu menatap nya dengan senyuman tipis.


"Kita tidur, sudah malam..."


"Lalu besok, kita ke rumah sakit dan kamu harus jalani pengobatan. Kamu sakit kan?" tanya nya yang tampak tersenyum.


Lucas mengernyit, ia menatap heran pada sang istri.


"Aku benci kamu, tapi aku juga ga bisa-"


Suara yang terdengar tercekat itu kemudian melihat ke arah seseorang yang memegang tangan nya dengan begitu erat.


"Kamu harus sembuh terus sehat..." sambung Anna yang tak melanjutkan kata-kata nya dan mengganti nya dengan yang lain.


"Kenapa? Bukan nya kau bilang ingin melihat ku mati?" tanya nya Lucas yang menatap ke arah mata yang terlihat penuh dengan embun yang hampir jatuh itu.


"Lalu kau bisa membunuh Estelle kan?" tanya Anna sekali lagi.


Lucas semakin menatap dengan heran mendengar nya, bukan nya dulu wanita itu tak ingin ia menyentuh seujung jari pun dari anak kecil yang sangat di sayangi itu?


"Setelah itu kamu bisa bunuh aku, aku..."


"Aku yang bakalan pergi sama Estelle ku, jadi kamu bakal baik-baik aja kan?"


"Aku ga sanggup Luc..."


"Aku ga bisa napas kalau dekat kamu, tapi aku juga ga bisa kalau kamu-"


Pria itu tak mengatakan apapun, istri nya sekali lagi menjatuhkan buliran bening nya yang tampak jatuh ke pipi.


Tangan dan bahu kecil nya gemetar karna tangis, namun sekali lagi ia tak bisa merasakan emosi rumit seperti itu.


Pegangan nya semakin mengendur, ia mengusap air mata wanita nya dan menatap nya dengan datar.


"Kau selalu menangis," ucap nya yang menangkup pipi yang basah itu.

__ADS_1


Ia tak tau perasaan dari emosional yang mengeluarkan kesedihan atau rasa bersalah. Namun setidak nya ia tau kalau senyuman di wajah cantik itu lebih baik dari pada sebuah tangisan.


__ADS_2