Calm Down! Mr. Psycho!

Calm Down! Mr. Psycho!
Jealous?


__ADS_3

Anna berdiri tepat melihat mobil mewah berwarna hitam itu melaju kencang pergi dari sekolah nya.


"Buru-buru sekali? Takut gak di kasih transferan ya?"


Anna mengernyit, ia langsung berbalik dan melihat ke arah sumber yang mengejek nya itu.


"Tadi kenapa sih?" tanya nya yang langsung mendekat ke arah kakak kelas nya yang tiba-tiba melakukan sesuatu di luar dari konsep yang sudah di buat.


Gevan tak menjawab, senyuman nya hilang dan berganti kesal saat gadis itu bertanya pada nya.


"Memang nya aku salah apa sih? Karna lempar minuman? Yauda kan bisa lempar balik!" ucap Anna yang merasa kesal.


Seharusnya ia tak merasa ada masalah karna ia memang tak memiliki hubungan antara pria dan wanita dengan pria itu namun tetap saja ia merasa gelisah dan tak nyaman.


Ia tak melalukan kesalahan apa-apa saja sudah banyak menerima sayatan, apa lagi sampai membuat kesal?


"Kenapa marah? Kalau dia gak kirim uang lagi aku bisa gantikan dia, ATM baru?" tanya Gevan sembari membuang pandangan nya.


Awal nya ia memang tak berniat mencium gadis itu namun saat di penghujung tarian ia melihat ke arah pria yang sempat ia temui di pesta kemarin.


Dan terlebih lagi saat tau gadis itu memiliki hubungan dengan pria lain, ia merasa kesal dan ingin mengacaukan nya.


Anna membuang napas nya kasar dan memalingkan wajah nya, ia beranjak pergi tak lagi meladeni kakak kelas yang menyebalkan itu.


...


Lucas menambah kecepatan mobil nya yang ia kendarai, ia tak tau kenapa bisa sekesal ini ketika melihat gadis itu melakukan kontak fisik yang harus nya dengan diri nya.


Ckit!


Membanting stir dan menghentikan kendaraan mewah itu di pinggir jalan, ia melihat ke arah ponsel nya dan tak lagi berniat mendengarkan penyadap yang di tubuh gadis itu.


"Kenapa aku marah?" tanya nya pada diri sendiri yang semakin kesal.


"Aku suka dia karna dia beda? Bukan karna aku menyukai nya! Dan lagi? Aku juga tertarik waktu itu karna tubuh- ah bukan! Karna wangi- astaga!" decak nya yang begitu kesal dan berbicara sendiri di mobil nya.


Perasaan emosi seperti ini baru pertama kali ia rasakan dan tentu ia bingung bagaimana cara menghadapi nya.


Pria itu mengambil napas nya, memejamkan mata nya dan bermeditasi seperti yang selalu di sarankan oleh terapis nya.


"Jaga tekanan darah..."


"Aku tidak menyukai anak-anak seperti itu..."


"Aku tidak..."


"Aku..."


"Aku..."


Pria itu bergumam sembari memejamkan mata nya namun ia, tetap saja merasa begitu kesal.


"Damn!"


"I already like her!"


Decak nya dengan mata terbuka yang mengingat bayangan wajah yang tampak jelas itu tertutup dengan wajah yang seperti kabut.


Ia masih merasa kesal namun, tiba-tiba klakson mobil terdengar nyaring sampai membuat nya semakin emosi.


Padahal ia biasa nya begitu tenang namun kenapa saat ini, emosi nya sangat mudah meluap?


Entah itu rasa senang, puas, tenang, marah, kesal dan mungkin emosi baru yang belum terdeteksi adalah cemburu?!


"Astaga..."


Ucap nya lirih yang sebelum nya ingin keluar memarahi si pengemudi yang mengklason dengan kuat, namun ia tak jadi keluar.


Mata nya malah menatap seorang ibu yang mengejar anak perempuan nya yang seperti sedang marah dan saat tertangkap memukul bok*ng anak perempuan nya.


"Akan ku pukul juga ****** nya! Dia juga nakal kan?!" ucap nya yang juga ingin memukul bok*ng gadis yang tidak tau apapun itu.


......................


Mansion Damian


Diego menarik napas nya menatap ke arah sepupu sekaligus atasan nya yang terlihat jelas jika suasana hati nya tidak baik.


"Aku baru sampai? Kenapa kau suruh aku ke sini?!" tanya nya dengan kesal padahal ia sudah membayangkan akan masuk ke dalam bathup kamar mandi nya dan berendam aroma terapi.


"Cari tau anak yang menari dengan cumi-cumi itu hari ini," ucap nya memberi perintah dengan wajah dingin nya.


"Gevan Scout Walker anak walikota dan anggota DPR, kemungkinan tahun ini ayah nya akan menjabat sebagai menteri keuangan," jawab Diego yang sudah mencari tau lebih dulu.


Lucas mengernyit, sepupu nya itu terlalu cepat memberikan keterangan seperti Wikipedia padahal ia baru saja menyuruh untuk mencari nya.


"Kenapa melihat ku begitu? Kau kan suruh aku cari tau tentang anak mata biru itu kan?" tanya Diego yang tentu sudah mendapatkan informasi dengan siapa Anna menari hari ini.


Lucas membuang napas nya, ia lupa jika ia menyuruh sekertaris nya untuk itu.


"Ada apa? Apa yang dia lakukan!" tanya nya menatap ke arah pria itu.


"Ciuman," jawab Lucas singkat.


"Apa?" Diego mengernyit menatap dengan bingung.


"Mereka ciuman! Kau tau? Bibir dan bibir bersatu lalu memakan nya!" terang Lucas dengan jelas dan terlihat meninggikan suara nya sejenak.


Diego terdiam sejenak, seperti menghadapi seseorang yang berbeda, "Luc? Kau sudah konsultasi? Apa mungkin sekarang kau sudah punya kepribadian ganda?" tanya Diego yang memundurkan langkah nya.


Seorang pria yang awal nya sangat dingin dan tenang bahkan setelah menguliti seseorang sampai mati pun wajah tampan itu tetap tak tergerak sedikit pun.


Tapi sekarang?

__ADS_1


Marah, kesal, tersenyum tercampur aduk di dalam ekspresi datar itu hingga membuat nya merinding.


"Kalau kau bicara yang tidak berguna lagi, mungkin aku harus memalsukan alasan kematian mu." ucap nya dengan tajam.


Diego terdiam, dan kemudian tersenyum, "Lalu kau cemburu?" tanya nya pada pria itu.


"Hah? Aku?" tanya Lucas dengan tertawa kesal.


Diego menaikkan alis nya menunggu jawaban sebenarnya.


Lucas yang awal nya masih dapat tersenyum kesal itu lambung berubah datar dan tajam sedetik kemudian, "Ku rasa, iya." ucap nya dengan tatapan yang mirip ketika menjadi manusia yang haus darah.


"Apapun itu jangan sampai membunuh anak itu," ucap nya yang menarik napas.


Lucas lambung menoleh, tampak jelas dari mata nya jika ia tidak setuju sama sekali.


"Terlalu banyak kasus kematian nanti, waktu kita di New York kay juga membunuh satu orang dan belum lama ini juga sudah ada yang mati." ucap nya pada pria itu.


"Dia bisa di buat alasan kematian kecelakaan kan?" ucap Lucas yang seperti nya sudah memiliki pikiran lain.


"Dia anak tunggal wali kota, dan kalau kau yang melakukan nya sendiri, alasan kecelakaan pun tidak akan berguna. Mana ada kecelakaan yang sampai membuat semua kulit hilang?" ucap Diego mengingatkan jika metode cara membunuh nya hampir sama di setiap orang.


Lucas diam sejenak, memang akan sedikit menyulitkan jika terjadi masalah apalagi saat ini yang juga baru saja menyelesaikan masalah yang cukup rumit.


"Tapi kalau kau mau dia mati bisa tapi kau tau kan? Jangan menggunakan tangan mu untuk darah nya," sambung Diego sekali lagi.


Lucas tak menjawab, ia tau maksud pria itu. Membunuh tanpa menggunakan tangan sendiri adalah metode untuk membuang penghalang bisnis dalam masalah apapun.


Tak masalah seberapa tinggi kedudukan, tetap akan bisa di bunuh namun tidak dapat ia 'bedah' sendiri.


"Ya, aku tau. Keluar," ucap Lucas sembari mengusir pria itu untuk pergi.


Diego tersenyum senang, ia langsung beranjak pergi meninggalkan sepupu nya yang sedang kesal itu.


...


Pukul 04.35 pm


Anna kembali ke mansion mewah itu, ia memang gugup namun bersikap seperti biasa karena setelah ia pikirkan lagi ia tak memiliki kesalahan apapun.


"Lama pulang nya?"


Langkah kaki nya terhenti, jika ingin ke kamar nya ia memang harus melewati pria sinting itu dulu.


"Ya Sir?" jawab nya dengan senyuman dan wajah yang seperti tak pernah melakukan sesuatu yang dapat membuat pria itu marah.


"Aren't you mine?" tanya pria itu dengan nada yang rendah namun membuat gadis itu bergidik.


"Ya, I'm yours!" jawab Anna seketika.


"Tapi kenapa kau melakukan sesuatu yang kita lakukan dengan brandal itu juga?!" tanya nya dan mulai berdiri.


"Sa..saya juga tidak tau..." jawab Anna menciut melihat pria itu datang.


"Ti..tidak! Sa..saya kan su..suka nya dengan anda Sir!" jawab Anna dengan gagap.


"Anak nakal," ucap Lucas dan mengangkat tangan nya.


Deg!


Anna membatu dan tersentak saat melihat tangan yang lebih besar dan tinggi dari nya naik ke atas.


Bruk!


Kedua kaki nya lemas sampai terjatuh dan langsung terduduk di lantai yang keras itu walaupun ia belum di pukul sama sekali.


"Sa..saya..."


"Sa...sa..saya me..menyukai anda..."


"Kul... ja..jangan pu..kul..."


suara nya bergumam dengan tubuh yang gemetar dan mulai memejam kan mata nya.


Lucas tak beraksi kecuali bingung melihat gadis yang gemetar ketakutan padahal ia belum melakukan apapun.


"Kau bilang menyukai ku kan? Kalau begitu lakukan sesuatu yang membuat ucapan mu dapat di percaya?" ucap nya sembari memandang ke arah gadis yang gemetar itu.


Anna membuka mata nya, ia menengandah melihat ke arah pria yang berdiri sembari melihat nya dengan tatapan yang begitu tajam.


"Sa..saya harus apa?" tanya dengan wajah yang sungguh tak tau apapun apalagi ia yang dalam kondisi ketakutan.


"Pertama lepaskan semua seragam mu, semua tanpa sisa!" ucap nya yang penuh dengan hawa menekan.


"Ya?" Anna mengernyit.


Namun ia melihat pria yang kembali duduk di sofa membuat nya mulai perlahan bangun kembali.


"Di..di sini?" tanya mengulang.


"Hm, tidak akan ada yang berani ke sini." jawab Lucas enteng.


Gadis itu ragu, namun keraguan nya lenyap tenggelam oleh rasa takut nya.


Satu persatu jaket yang melekat di tubuh ia lepaskan pertama, setelah itu seragam, rok dan kemudian kain terakhir di tubuh nya.


Tangan nya tampak menutup bagian sensitif untuk menghalangi tatapan yang masih datar itu untuk saat ini.


"Ke sini," ucap Lucas yang ingin membuat gadis itu mendekat.


Greb!


Anna tersentak, tangan nya langsung di tarik dengan kuat ke bawah hingga membuat nya jatuh di paha pria itu namun dalam posisi menungging.

__ADS_1


Plak!


"Ack!"


Ia tersentak, ia memang tak melihat tangan yang memukul b*kong mulus nya dari belakang namun ia bisa merasakan tangan yang lebar dan penuh dengan kekuatan itu saat menyentuh kulit nya.


"Hitung," ucap nya pada gadis itu.


"A..apa?" Anna tersentak dan masih tak dapat berpikir dengan jernih apa yang akan di lakukan pria itu.


Plak!


Ia meringis, tubuh nya bergerak menggeliat dengan sendiri nya.


Walaupun tampak ringan namun dalam sekali pukulan saja, kulit putih nya sudah membawa lima cap jari pria itu yang membekas.


"Hitung,"


Tak ada jawaban lain nya selain menyuruh nya untuk berhitung.


"Sa..satu..." ucap nya yang mengikuti perintah pria itu walau ia tak tau sampai berapa ia harus menghitung nya.


"Ini tidak buruk..." gumam Lucas saat melihat kulit seputih susu yang mulus itu langsung tampak memerah karna pukulan nya.


Plak!


Sekali lagi pukulan nya membuat peach kenyal gadis itu bergetar dan tubuh yang menggeliat karna merasa perih.


Ia mulai melayangkan tangan nya, awal nya yang hanya kemerahan kini mulai tampak membiru dan gadis itu yang sudah semakin menggeliat ketika ia memukul b*kong nya karna merasa semakin sakit.


"Ti..tiga puluh..."


Suara tersebut terdengar lirih, rasa takut nya memang sedikit berkurang karena ia tak melihat saat pria itu melayangkan tangan nya tapi tetap saja ia merasa sakit.


Lucas berhenti, ya seharusnya ia sudah merasa lebih lega karna memberi hukuman pada cumi-cumi nakal nya.


Tapi kenapa ia malah merasa panas lagi?


Rasa panas yang berbeda seperti tadi siang, panas yang mirip dengan sebelum nya.


Greb!


Ia membalik tubuh gadis itu dan menarik nya agar duduk di pangkuan nya.


Ack!


Namun berbeda dengan ekspetasi nya yang berpikir gadis itu akan duduk di paha nya, Anna malah menggantung dan menarik pundak pria itu tampak sadar agar ****** nya yang biru tak terkena apapun saat ini.


Dalam kata lain ia sedang tak bisa duduk sama sekali karna berulang kali di tampar di tempat yang sama!


Lucas terdiam, darah nya berdesir saat mencium aroma tubuh gadis itu yang membuat nya merasa aneh.


"Kau ingat dengan yang tertunda waktu itu?" bisik nya di telinga gadis itu.


Anna mengernyit, namun seketika bola mata nya yang biru langsung membulat.


Ia baru saja sadar jika saat ia tengah tak memakai apapun dan malah terlihat memeluk pria itu agar ****** tak duduk di atas paha yang keras itu.


"I..itu..." ucap Anna lirih yang merasa begitu terkejut.


"Mau di lanjutkan sekarang? Hm?" tanya nya sembari melihat ke arah wajah yang tampak gelisah itu.


Tangan pria itu mulai membelai punggung halus dengan beberapa bekas luka yang belum menghilang dengan sempurna walaupun ia sudah memberikan dokter kulit terbaik.


"S..sir..." panggil Anna lirih saat merasa tangan pria itu mulai mengelus di bagian depan.


Lucas tersenyum simpul, ia meremas Piramida yang lembut itu dengan gemas sampai membuat gadis itu tersentak dan meringis.


"Aku mau, tapi tidak sekarang." bisik nya yang melepaskan tubuh gadis itu agar bangun.


"Kembali ke kamar mu dan istirahat," ucap nya pada gadis itu, "Kau butuh tenaga untuk besok kan?"


Anna mengernyit, bukan nya besok ia libur? Tenaga untuk apa?


Namun ia tak ingin memikirkan apapun sekarang. Ia mengambil pakaian nya dengan cepat dan memakai nya seketika setelah itu langsung kabur.


......................


Plak!


Plak!


Plak!


Tamparan yang sangat kuat hingga membuat seseorang terjatuh ke tanah, bukan pukulan bogem mentah namun hanya pukulan dari tapak tangan lima jari yang dapat membuat pipi bengkak dan bibir pecah.


"Sial! Siapa kau?!"


Tak ada jawaban, pria yang memakai masker, topi dan sarung tangan itu tak mengatakan apapun.


Saat target berusaha melawan, ia menarik tangan nya dan memelintir nya.


Senyuman di balik masker itu tak terlihat namun tangan yang masuk ke dalam saku dan...


Srek!


Satu kibasan dari benda tajam itu terasa di pergelangan tangan yang awal nya ia pegang.


Akh!


Pria itu terdiam berdiri sejenak menatap ke arah warna merang terang yang mengalir dari pergelangan tangan target nya.


Tak sampai di situ ia pun menarik kaki target nya dan kembali menggoreskan pisau tajam itu ke mata kaki target sehingga membuat teriakan yang cukup memekakan telinga sebanyak cairan merah yang di keluarkan.

__ADS_1


__ADS_2