
Mansion Damian.
Langkah kaki yang mungil itu langsung berlari begitu sampai.
Ia tak mengerti apa itu penculik atau kantor polisi yang ia tau ingin segera kembali dan menemui ibu yang sangat ia sayangi.
"Mama!"
Teriak anak tampan itu memenuhi seisi ruangan yang ia lewati hingga menuju ke kamar.
Greb!
Begitu sampai tubuh mungil nya langsung memeluk sang ibu.
"Kenapa? Kangen Mama?" tanya Anna yang mengusap kepala mungil putra nya yang memeluk nya dengan erat.
Estelle mengangguk dan menengadah menatap ke arah sang ibu.
"Ma? Penculik itu apa Ma?" tanya Estelle dengan mata abu-abu gelap nya sembari menatap ke arah sang ibu.
"Penculik? Estelle dengar dari siapa?" tanya Anna yang mengernyit menatap ke arah putra nya.
"Tadi waktu Papa jemput kata Miss Papa penculik telus ketemu pak polsi," ucap Estelle yang menatap ke arah sang ibu.
Anna diam sejenak mendengar nya, "Miss kamu bilang kalau Papa itu penculik?" tanya Anna mengulang.
Estelle tak menjawab namun ia mengangguk mendengar ucapan ibu nya.
"Kenapa Estelle ga bilang dia Papa Estelle?" tanya Anna yang bingung menatap ke arah putra nya.
Estelle tak menjawab, ia hanya memeluk ibu nya dan menatap ke arah wanita itu setelah pelukan nya di lepas.
Tentu sebagai anak ia mau punya ayah yang pernah ia temui di Swiss sebelum nya walau ia tak pernah menunjukkan senyum nya.
"Papa Estelle bisa di tukal sama yang dulu ga Ma?" tanya nya lirih dengan nada yang lesu pada sang ibu.
Anna diam sejenak, ia menatap ke arah putra nya dan menarik napas nya.
"Papa Nestle yang ada di sini, jangan bilang begitu ya? Kan Papa juga sayang Estelle..." ucap Anna yang memeluk putra nya sembari menaikkan ke pangkuan nya.
Estelle diam tak menjawab, walaupun ia masih kecil namun perasaan yang sensitif tentu tau mana orang yang suka dan mana yang tidak menyukai nya.
"Papa bilang Estelle harus nya ga ada, tapi kalau Estelle ga ada nanti Mama ga ada yang nemenin..." ucap nya lirih.
Ia tak bermaksud mengadu namun terkadang ia sering mendengar nya saat sang ayah berdecak pada nya.
Tentu saja setiap kali ia melihat, jarak yang jauh dengan tembok yang kokoh berdiri sendiri nya tanpa terlihat.
Anna terdiam, waktu berlalu namun pria itu masih sama.
Belum menerima putra nya sama sekali!
"Estelle salah dengar mungkin? Papa sayang Estelle kok," ucap nya yang menatap ke arah putra nya karna tak ingin membuat anak kecil itu membenci ayah nya.
Estelle tak menjawab, ia hanya diam dan menatap ke arah ibu nya.
__ADS_1
Tak mengatakan apapun karna ia tau jawaban nya tetap akan sama, ibu nya seperti terlihat selalu membela sang ayah dan ia tak bisa membantah hal itu.
....
Anna melihat ke arah kaki nya yang tampak memerah, rantai nya kali ini sudah di lepas dan ia bisa berjalan di sekitar mansion pria itu namun kini ia tak kemanapun dan duduk di pangkuan pria itu.
"Luc? Tadi Estelle bilang kalau kamu ke kantor polisi?" tanya Anna yang menatap ke arah pria itu.
"Ya, dia membuat ku sangat jengkel." jawab Lucas sembari memeluk erat wanita yang berada di atas pangkuan nya.
"Dia..."
"Masih hidup kan?" tanya Anna lirih yang terdengar samar saat bertanya karna ia merasa pria itu bisa melakukan apa saja.
"Rencana nya dia hanya hidup sampai malam ini," jawab Lucas enteng.
Anna diam sejenak saat mendengar nya, ia langsung meraih pundak pria itu dan menatap ke arah nya.
"Tapi kan sekarang aku sama kamu, mungkin karna itu Pekerjaan nya dia harus lebih hati-hati," ucap Anna yang menatap ke arah pria itu dan kemudian memegang rahang kekar nya.
Lucas diam sejenak, ia menengandah melihat ke arah wanita cantik yang terlihat begitu jelas itu.
"Apa tidak bisa hanya kita saja? Kau dan aku..."
"Aku ingin menyingkirkan anak itu..."
Anna tak menjawab apapun, pria itu bergumam namun ia mendengar nya dengan jelas.
"Luc? Estelle bilang dia suka kamu jemput dia, dia suka loh sama kamu..." ucap Anna yang selalu mencoba membuat kedua orang itu setidak nya menjadi lebih dekat.
"Aku hanya menyukai mu, hanya kau..." jawab Lucas lirih sembari mengecupi leher istri nya.
Dan tentu ia meminta hal itu karna ingin Estelle kesayangan nya seperti anak lain nya yang di antar atau di jemput orang tua nya di hari pertama masuk sekolah.
......................
Satu Minggu kemudian
Sekolah.
Mata abu-abu gelap itu menatap ke arah seseorang yang memegang benda yang bagi nya asing dan menyorot bunga-bunga di luar wilayah sekolah nya.
Ia tak bertanya namun memegang tangan penjaga nya.
"Ada apa?" tanya Philip yang menatap ke arah anak kecil yang tak mengatakan apapun namun berhenti berjalan dan menatap ke arah pria yang sedang memotret itu.
Estelle masih tak mengatakan apapun namun terlihat jelas wajah yang ingin tau itu.
"Dia sedang memotret, anda tau?" tanya Philip yang membuat wajah mungil nan menggemaskan itu langsung melihat ke arah nya.
"Memolet itu apa?" tanya Estelle yang memang benar jika ia sedang tertarik.
Philip berjongkok, ia menunjuk ke arah alat yang di pegang oleh pria itu.
"Itu nama nya camera, dan kalau kita memotret kita bisa mengambil gambar." ucap nya yang menjawab pertanyaan anak itu namun terlihat jelas jika Estelle tak mengerti apa yang di bicarakan.
__ADS_1
"Seperti ini, ini ponsel dan aku mengambil gambar bunga di depan." ucap Philip yang memberi contoh langsung menggunakan ponsel nya.
Satu tangkapan gambar terjadi, Estelle tampak terkejut namun ia menatap ke arah hasil nya.
"Kalau seperti ini nama nya foto," ucap Philip yang memberikan hasil tangkapan gambar nya.
"Polet itu!" ucap Estelle yang menunjuk pohon yang tampak besar dengan batang yang putih itu.
Philip mengikuti nya dan kemudian menunjukan nya.
"Estelle mau punya juga, nanti bial bisa kasih lihat Mama...." ucap nya yang menatap ke arah pengawal nya.
"Kalau begitu anda bisa meminta camera pada Papa anda," ucap nya yang tentu semua itu membutuhkan persetujuan dari ayah anak laki-laki yang menggemaskan itu.
......................
Mansion Damian
Tangan mungil itu membuka pintu ruangan kerja sang ayah dengan hati-hati dan tampak gugup.
Ia tak pernah sekali pun berbicara atau meminta sesuatu namun kali ini ia ingin melakukan nya agar nanti bisa menunjukkan tempat yang bagus walaupun sang ibu dengan 'sakit' dan harus terkurung di kamar dengan gelang yang membuat gerak nya terbatas.
"Pa..."
"Papa..."
Panggil nya dengan suara lirih yang begitu kecil karna ia tak pernah berhadapan dengan pria itu.
Lucas tau putra nya datang namun ia memilih mengabaikan anak kecil itu dan tetap melanjutkan pekerjaan nya.
"Papa! Estelle mau kamela!" ucap nya yang dengan meneriakkan suara nya dan membuat pria itu menghentikan pekerjaan nya sejenak lalu melihat ke arah anak kecil itu.
"Untuk?" tanya Lucas yang kali ini mendengarkan.
"Ma.. Mama! Mama kan sakit ja.. jadi Estelle mau ambil gamal buat Mama!" jawab anak tampan itu pada sang ayah.
"Kalau ku berikan apa yang akan kau berikan pada ku? Kenapa hal seperti itu saja kau melapor? Menyusahkan," ucap nya yang berdecak dengan tatapan yang selalu sama.
"Kata Paman Philip halus tanya Papa dulu..." ucap nya lirih yang menatap ke arah sang ayah.
"Minta dia belikan untuk mu lalu keluar dan jangan ganggu aku lagi," Lucas mengusir putra nya keluar.
Estelle pun diam sejenak dan kemudian ia beranjak keluar setelah mengatakan apa yang di katakan oleh sang ayah.
....
Dua hari kemudian.
Estelle menunjukkan semua gambar yang ia ambil dengan camera kecil nya, tak sebesar saat yang ia lihat pertama kali karna tentu ia di belikan sesuai dengan ukuran tubuh kecil nya.
"Ini Estelle yang ambil?" tanya Anna yang melihat semua tangkapan gambar putra mungil nya.
Estelle mengangguk, walau tak tersenyum namun ia berharap sang ibu menyukai semua gambar yang ia ambil.
Anna perlahan tersenyum, semua gambar yang di ambil putra nya begitu buruk. Buram, berbayang, tidak fokus dan tak ada satupun yang tampak memiliki bentuk yang bagus.
__ADS_1
Namun ia suka dengan usaha putra kecil nya, "Makasih sayang Mama..."
"Mama suka kok, nanti ambilin terus buat Mama ya?" ucap nya yang tak tau jika ucapan nya bisa membuat putra nya berada dalam petaka dan awal ia mulai mengambil keputusan yang salah.