Calm Down! Mr. Psycho!

Calm Down! Mr. Psycho!
Just one night


__ADS_3

JNN grup


Lucas berjalan ke ruang divisi pengembangan dan perencanaan dari produk yang di keluarkan oleh perusahaan besar itu.


Dan untuk pengembangan chip itu sendiri merupakan produk yang hanya di ketahui oleh sebagian orang di perusahaan saja.


"Kalian sudah cek chip 072?" ucap nya yang mengatakan tentang kode chip yang di tanam di tubuh gadis itu.


"Ada gelombang merah, radiasi nya seperti nya terlalu tinggi," jawab salah satu pengemban dari produk yang belum di pasarkan namun sudah mendapatkan pro dan kontra itu.


"Tidak ada suara yang bisa di dengar," ucap nya yang menunjuk ke arah layar.


Jika chip itu sedang berfungsi dengan baik maka semua pembicaraan gadis itu akan terdengar namun sebalik nya.


Saat ini tak ada yang terdengar satu pun dari gadis remaja itu, ia hanya mendengar suara berisik yang berpasir seperti radio yang tengah mencari sinyal.


"Seperti nya gelombang nya terlalu berat, mungkin karna fitur tambahan." ucap Dr. Sally salah satu peneliti dari yang pengemban pembuatan chip tersebut.


"Fitur tambahan? Pengekang?" tanya nya mengernyit yang mengingat tentang fitur tambahan.


Fitur tambahan yang dapat membuat rasa sakit seperti di kuliti dengan isi organ yang di gilas dan di gulung.


Ia memang tak pernah mengaktifkan nya karna bisa membuat jantung seseorang berhenti berdetak karna tak sanggup menghadapi nya.


"Tapi aku tidak pernah mengaktifkan nya," ucap nya yang memang tak pernah mengaktifkan fitur tersebut.


"Tetap saja akan berpengaruh karna menambahkan fitur lain berarti menambah berat gelombang," ucap nya atasan nya itu.


Drrtt... drrtt... drrtt...


Ponsel nya bergetar ia menatap ke arah yang memanggil nya.


"Halo?" jawab nya seketika.


"Buka jalur belakang, kami akan ke lab!"


Suara yang terdengar buru-buru itu membuat nya mengernyit.


"Ada apa?" tanya nya yang mendengar suara yang berbeda dari sepupu nya itu.


Ia tak tau jika alarm peringatan yang masuk ke ponsel nya juga membuat pengguna nya merasakan efek yang menyakitkan.


"Buka saja jalur belakang!"


Jawab pria itu dan kemudian mematikan panggilan nya.


Lucas terdiam sejenak, namun ia beranjak ke telpon yang berada di ruangan itu dan menekan tombol dua untuk sambungan ke ruang sistem perusahaan.


"Buka jalur belakang," perintah nya.


"Baik, Sir!" jawab dari sambungan telpon itu.


Jalur belakang merupakan jalur yang hanya di ketahui oleh sebagian orang-orang VIP perusahaan karna merupakan jalur yang bisa mengakses seluruh ruangan namun tidak di ketahui orang lain.


"Buka Lab!" perintah nya agar ruangan tersebut tak terkunci.


Walaupun ia tak tau apa yang sedang terjadi namun ia tau pasti jika sesuatu telah terjadi pada gadis remaja itu karna Diego meminta untuk membuka jalur belakang dan lab.


Ia tau gadis itu tak mungkin di bawa ke rumah sakit karna akan langsung menemukan chip yang di tanam jika di ronsen dan walaupun tak di ronsen pun pasti akan di temukan keanehan nya.


"Cari cara untuk turunkan gelombang nya," ucap nya dan sembari berlalu.


...


Sementara itu mobil mewah itu memasuki jalanan tol yang bebas hambatan agar lebih mudah menginjak gas nya.


"Saya baik-baik saja Sir..." ucap Anna lirih, ia tak memang tak merasakan apapun namun penglihatan nya mulai gamang.


Diego mengernyit, ia menatap ke arah gadis remaja itu.


Wajah yang pucat, darah yang terus menerus keluar dari hidung nya secara tak wajar hingga membuat tissue yang berada di mobil mulai habis.


"Tapi mimisan mu tidak wajar!" ucap nya pada gadis remaja itu.


Anna diam tak menjawab lagi, ia hanya memegangi tissu dengan kepala yang menengadah ke atas.


"Tahan sebentar lagi," ucap Diego lirih.


"Sir? Kenapa anda..." tenaga nya terasa habis terkuras, ia seperti tak bisa merasakan apapun lagi.


Penglihatan yang gamang dan gelap membuat nya perlahan ingin tertidur.


"Bangunkan saya kalau sudah sampai..." ucap nya lirih yang hampir tak terdengar karna hanya seperti bergumam di bibir bulat nya.


......................


JNN grup


Laboratorium


Lucas tersentak melihat ke arah sepupu nya yang mengendong gadis remaja yang tak sadar dan di penuhi dengan seragam yang kotor dengan warna yang sangat bisa ia kenali dengan warna merah itu.

__ADS_1


"Mimisan!" jawab Diego cepat dan meletakkan gadis remaja itu ke atas ranjang pasien yang berada di ruang lab tersebut.


Beberapa orang yang memang memiliki kemapuan di bidang yang sesuai itu langsung mendekat dan memeriksa keadaan gadis itu.


2 Jam kemudian


Kini semua sudah kembali tenang, gelombang yang tadi nya naik tak beraturan pun saat ini sudah tak lagi bersuara.


"Kau tidak mau mengambil chip itu?" tanya Diego sembari melipat tangan nya dan melihat ke arah sepupu nya yang diam dengan tatapan lurus menatap ke arah gadis yang masih tak sadar itu.


"Apa yang kau katakan? Dia objek yang paling tepat untuk itu, mungkin sebaik nya di ganti dengan chip 034 saja." jawab Lucas dengan wajah nya yang datar.


"Kalau chip 072 terlalu berat bukan berarti chip lain nya tidak akan membawa perubahan, dia sudah terpapar sekarang mungkin masih anemia tapi kemungkinan besar dia akan terkena leukimia atau kanker hati," ucap pada pria berhati dingin itu.


"Lalu?" tanya Lucas mengernyit.


Ya! Mungkin bukan berhati dingin lagi namun berhati batu.


"Bukan nya kau menyukai anak itu?" tanya nya pada sepupu nya yang terlihat tak memiliki perubahan itu.


"Ya, tapi kalau pun dia mati aku bisa awetkan dan ambil mata nya, jadi tidak akan ada yang berubah kan? Kita juga jadi tau seberapa banyak kecocokan antara chip itu di tubuh manusia kan?" tanya nya pada pria itu.


"Ini memang akan menguntungkan perusahaan tapi kau akan baik-baik saja?" tanya nya pada pria itu.


"Tentu, aku akan baik-baik saja, lagi pula tidak ada alasan untuk tidak baik-baik saja kan?" tanya nya pada pria itu.


Diego tak mengatakan apapun lagi, memang sulit mengajari anak yang baru mulai telungkup untuk langsung berlari.


Sebuah ungkapan untuk mengatakan tentang pertumbuhan dari emosi pria itu.


"Luc? Kau benar-benar berubah, aku jadi sedikit rindu dengan kau yang dulu." ucap yang menarik napas nya dan beranjak keluar dari ruangan tersebut.


Ia mengenal pria itu sejak begitu kecil, mungkin sejak mereka bayi pun sudah di masukkan ke dalam lingkaran yang sama.


Walaupun dulu sepupu nya itu memang lebih pendiam dari anak lain nya, namun setidaknya masih memiliki rasa kemanusiaan dan bertingkah seperti layak nya 'Manusia' normal.


"Memang nya aku yang dulu seperti apa?" gumam Lucas mengernyit.


Ia bahkan hampir melupakan bagaimana bentuk warna dan keindahan yang pernah ia lihat karna sudah terlalu lama tak mengingat nya.


Masa kecil nya yang bahkan tak bisa ia ingat seluruhnya dan tak ingin coba ia ingat karna bagi nya mungkin ingatan itu tak penting sehingga ia tak mengingat nya.


......................


Gadis remaja itu memutar bola mata nya dengan malas.


"Yaudah! Berarti kamu gak bisa kan?!" tanya nya dengan nada ketus dan kesal.


"Cuma satu minggu Sam!" ucap nya pada gadis remaja itu.


Pria itu tampak membuang napas nya dengan kasar, dan melihat ke arah kekasih nya yang tampak cemberut.


Sebelum ia menjadikan gadis itu sebagai kekasih nya, tak terlihat sama sekali sifat manja namun kini terlihat semua.


"Iya, nanti ya? Pulang dari study aku." ucap nya pada gadis itu yang menyakinkan nya karna ia pun pergi bukan untuk bermain melainkan menyelesaikan kuliah nya.


"Jadi kamu gak ikut?" tanya nya lagi pada pria itu.


Pria itu tersenyum, ia memegang tangan gadis yang duduk di samping nya dan memangut bibir nya sejenak.


"Iya, nanti waktu aku pulang, kita piknik nya dari aku aja." ucap nya merayu gadis nya yang cemberut itu.


Gadis itu tersenyum, ia melanjutkan makanan nya kembali.


"Kamu ga makan?" tanya nya saat rasa kesal nya hilang.


"Sudah selesai," ucap nya yang memang menunggu gadis itu selesai makan dan mengantar nya pulang.


"Tadi kamu bilang ada urusan kan?" tanya Samantha pada pria itu.


Pria itu mengangguk kecil mendengar pertanyaan kekasih nya.


"Yasudah, duluan saja. Nanti aku pulang sendiri." ucap nya pada pria itu.


"Aku antar saja, sudah malam." ucap nya pada gadis itu.


"Ga apa-apa, lagi pula nanti malah jadi ke ganggu. Nanti aku kabari kalau sudah sampai sama mau pulang." jawab Samantha yang dengan santai memasukkan makanan nya.


Pria itu diam sejenak dan melihat ke arah jam tangan nya, ia pun beranjak bangun dan mendekat ke arah gadis itu.


Cup!


"Beri tau kalau sudah sampai," ucap nya pada gadis itu dan beranjak pergi.


Samantha mengangguk kecil sembari melihat ke arah kekasih nya yang sudah keluar dari restoran tempat ia makan.


Setelah makan ia pun beranjak keluar, perut yang sudah terisi dan ia pun memainkan ponsel nya saat berjalan.


Duk!


Ponsel gadis itu terjatuh, karna hanya berfokus pada ponsel nya membuat nya tak bisa melihat ke arah sekitar nya.

__ADS_1


"Sorry, Sir." ucap nya tanpa menoleh dan langsung mengambil ponsel nya dan kembali berjalan.


"Kalau maaf bisa menyelesaikan semua masalah tidak akan ada polisi,"


Gadis itu langsung berhenti dan menoleh ke belakang.


Ia terdiam begitu melihat pria yang ia kenali, "Ah.. Iya, Ma..maaf..." ucap nya yang menjadi canggung.


Pria itu melihat nya dengan wajah yang seperti tak menunjukkan apapun, "Kau takut dengan ku?" tanya nya menatap ke arah gadis itu.


"Ti..tidak! Ke..kenapa saya takut?" gadis itu langsung meninggikan suara nya khas seseorang yang sedang gugup.


Pria itu hanya menarik senyuman nya, "Hey? Wanna do something crazy again?" tanya pada gadis itu.


Mata gadis itu langsung melihat nya seketika, "Saya tidak akan tergoda lagi!" ucap nya pada pria itu.


"Kenapa? Ku rasa kita akan cocok?" ucap pria itu yang tersenyum seperti biasa.


"Cocok? Dalam hal apa?" tanya nya yang bingung.


"Sama-sama suka bermain?" jawab pria itu yang tersebar seperti candaan.


"Saya tidak mau!" sanggah gadis itu dengan cepat.


Diego hanya tersenyum mendengar nya, "Baik, lagi pula aku juga tidak punya niat untuk melakukan nya dengan paksaan." ucap nya yang mendekat ke arah gadis itu.


"La..lalu sekarang mau apa?" tanya Samantha sembari memundurkan langkah nya.


"Tapi kalau kau mau lagi kau bisa memberi tau ku," ucap nya yang memberikan gadis itu kartu nama nya beserta dengan nomor ponsel nya.


Bermain wanita dewasa memang sudah biasa ia lakukan namun bermain dengan gadis remaja baru ini ia lakukan.


Samantha masih terdiam, sedangkan pria itu sudah berbalik pergi memasuki ke arah restoran yang baru tadi ia kunjungi.


......................


Rumah Samantha


Pukul 11.35 pm


Gadis itu tak bisa tertidur walaupun sudah hampir tengah malam, ia memegang ke arah kartu tanda pengenal yang tadi nya baru di berikan pada nya.


"Astaga? Kenapa pikiran ku ke sana terus sih?" gumam nya yang tak bisa mengalihkan pikiran kotor nya dari malam yang paling panas yang pernah ia lakukan.


"Tapi..."


"Rasanya memang beda..." gumam nya lirih yang merasakan panas saat membayangkan sesuatu yang tidak pernah ia dapat dari kekasih nya maupun mantan kekasih nya.


"Coba saja kalau waktu itu aku tidak setuju!" sambung nya lagi yang berdecak meningkat bagaimana awal nya ia bisa berakhir dengan memesan kamar.


....


....


...


Flashback


Club'


Dentuman musik yang keras berbunyi, orang yang menari, bau alkohol dan asap dari rokok elektrik itu tercium.


Gadis itu berjalan melewati orang-orang yang menari dan mencari tempat nya sendiri.


Greb!


Ia tersentak, seseorang memegang tangan nya dan menarik nya.


"Bukan nya kau masih di bawah umur untuk di sini?"


Gadis itu mengernyit ia menatap ke arah suara yang berbicara pada nya, lampu gemerlap yang remang-remang itu membuat nya tak bisa melihat dengan jelas sampai ia harus menyipitkan mata nya untuk melihat.


"Astaga! Sir!" ucap nya yang terkejut.


"Kenapa bisa anak kecil ada di sini?" tanya nya yang mengernyit dan ia pun tau seharusnya umur gadis itu belum cukup untuk memasuki tempat tersebut.


"Kau memalsukan tanda pengenal mu?" tanya nya pada gadis itu.


"Ti..tidak! Sa..saya sudah dewasa! A..anda salah orang!" ucap nya yang memutar bola mata nya ke arah lain tak ingin melihat ke atas pria itu.


"Benarkah?" secarik senyuman naik melihat ke arah seseorang yang keras kepala ketika berbohong hal yang bahkan sudah ketahuan.


"Mana bukti nya?" tanya nya lagi pada gadis itu.


"Saya sudah dewasa! Anda salah orang!" jawab nya yang ingin melepaskan tangan gadis itu.


"Okay, if you're an adult, wanna do something crazy? it will be a pleasant experience, I swear." bisik nya di telinga gadis itu.


"Just one night," sambung nya pada gadis itu.


Mata yang berwarna hitam itu terdiam sejenak, sementara setan berbisik memberikan nya godaan yang membuat nya goyah.

__ADS_1


"Just one night? Aku mau kalau pakai pengaman," ucap nya lirih yang terlihat ingin dan tidak.


"Setuju," jawab pria itu yang tersenyum seperti biasa dengan menyetujui syarat yang di berikan gadis itu.


__ADS_2