Calm Down! Mr. Psycho!

Calm Down! Mr. Psycho!
Mengukir nama


__ADS_3

Mansion Damian


Wajah gadis itu memerah, napas dan aliran darah nya seakan terhenti di tenggorokan.


Suara nya tercekat, mata biru nya yang jernih itu mulai berair. Tangan kecil nya memegang erat dan bahkan terkadang mencakar tangan yang masih dengan kuat nya melingkar di leher jenjang nya.


"S..sir..."


Panggil nya lirih berharap agar pria itu berhenti mencekik nya, seluruh tubuh dan kaki nya sudah menggeliat menunjukkan jika ia tengah berusaha memberontak.


Namun sia-sia, tenaga nya tak mampu mengalahkan pria yang sudah di selimuti awan hitam itu.


Mata yang menunjukkan kemarahan atau kecemburuan?


Begitu tak senang dengan emosi yang tercurah walaupun menampilkan wajah yang begitu datar.


Mungkin benar apa yang di katakan Diego pada nya, jika pria itu tak menyukai nya ia akan mati.


Dan jika pria itu sangat menyukai nya bahkan mungkin mencintai nya ia juga akan mati.


Pilihan yang akan mengantarkan nya pada hasil yang sama.


Lucas perlahan melonggarkan tangan nya, ia menurunkan tenaga nya perlahan dan menatap ke arah gadis yang hampir saja kehilangan kesadaran nya atau mungkin bisa saja kehilangan nyawa nya.


"Kau, berani sekali melihat pria lain saat aku di samping mu? Hm?"


Anna meremang, napas nya masih tersengal-sengal mencoba menarik udara sebanyak mungkin setelah ia tak bisa menghirup nya tadi.


Mata biru nya tampak sendu dan di penuhi dengan lelehan buliran bening yang membasahi pipi nya.


Tangan nya yang gemetar menyentuh ke leher nya, ia takut sampai suara pun enggan keluar. Kepala nya menggeleng mengisyaratkan agar pria itu tak mencekik nya lagi.


Akh!


Suara ringisan terdengar, tangan yang kuat dan kekar itu menarik setiap helaian dari rambut yang berwarna pirang ke kecoklatan itu.


"Katakan, apa kesalahan mu?" ucap pria itu sembari menarik rambut panjang gadis remaja itu.


Anna meringis, lidah nya kelu untuk bisa mengatakan sesuatu. Bahkan ia tak bisa memikirkan apapun.


"Ma..maaf..." ucap nya lirih dengan suara gemetar.


Lucas tak menunjukkan ekspresi apapun, entah sudah benar atau tidak namun yang jelas nya ia tak puas dengan jawaban yang di berikan karna memang bukan itu jawaban nya.


"Aku mau jawaban, bukan pernyataan maaf." ucap nya sembari semakin menarik rambut gadis itu.


Anna menahan suara ringisan nya, kepala nya terasa begitu sakit. Setiap helaian dari rambut nya terasa akan tercabut dengan kulit kepala nya sekaligus.


"Sa..saya me..melihat p..pria.. lain..." ucap nya tersendat dengan gagap dengan suara serak dan gemetar.


Mata biru itu terus menampilkan dinding kaca yang membendung sampai jatuh dari kelopak nya membasahi pipi nya.


Uhump!


Tak cukup dengan rambut nya yang masih di jambak, pria itu mencengkram rahang kecil yang dapat memenuhi satu tangan nya.


"Ya, kau membuat pria tertarik pada mu sampai bisa memikirkan hal kotor." ucap nya dengan tatapan tajam dan wajah yang datar namun bisa menyalurkan tenaga yang begitu kuat.


Anna tak bisa mengatakan apapun, ia tak mampu bicara saat pria itu mencengkram rahang nya dengan erat hingga membuat nya sesak.


Seluruh tubuh nya gemetar, ia memang terbiasa di pukuli sampai membuat nya bisa menahan suara tangisan nya, menahan ucapan memohon untuk berhenti dan hanya diam lalu mengatakan maaf.


Namun bukan nya itu lebih tidak normal?


Mana ada orang yang biasa dengan pukulan, jika di pukul tetap akan sakit, dan jika terluka pun tetap akan merasa kan sakit.


Tidak ada seorang pun yang menginginkan rasa sakit di dunia ini.


"Kau bahkan lupa kalau kau milik ku atau tidak." ucap nya pada gadis itu.


Anna hanya menggeleng, lidah nya kelu seakan membeku sampai membuat nya kesulitan berbicara.


"Tidak apa, aku akan membuat mu selalu ingat nanti." ucap pria itu sembari menarik senyuman simpul.


Iris biru gadis remaja itu membesar, jantung nya berdetak lebih cepat dengan rasa takut yang menyelimuti tubuh nya.


Jika pria itu sedang marah dan bukan nya tatapan penuh emosi yang di keluarkan melainkan senyuman menggertak maka ia sedang berada di zona merah yang berbahaya.


Ukh!


Lucas bangun dari sofa dan langung menyeret gadis itu, rambut panjang nya tertarik dan di seret sampai ke kamar.


Bukan nya menaiki lift yang ada malah pria itu memilih naik ke kamar nya menggunakan tangga dan tentu gadis itu akan di seret semakin lama.


Suara tangisan yang tertahan, teriakan yang juga tercekat di tenggorokan nya seperti sinyal pertahanan diri nya yang mengatakan ia memang tak boleh bersuara sama sekali.

__ADS_1


Lucas melepaskan jambakan nya dengan kasar, Anna limbung hampir terjatuh namun ia segara bertahan di meja hias kamar yang besar dengan nuansa hitam putih yang tampak elegan dan mewah.


"Hiks..."


Gadis itu menahan tangisan nya, ia berdiri di tempat nya semula tanpa bergerak sedikit pun atau pun mencoba melihat apa yang sedang pria itu lakukan.


Setidak nya ia tidak di bawa di kamar yang memiliki jeruji besi seperti kandang itu, namun tetap saja yang terjadi pada nya akan sama.


Lucas mencoba membuka lemari nya, setiap suara yang cukup besar terdengar maka gadis yang menangis tanpa suara itu akan tersentak dan semakin merasa takut.


Pria itu sudah selesai memilih satu pisau tajam yang runcing seperti pena. Begitu mengkilap dengan kilauan yang indah.


Ia pun beranjak mengambil satu dasi nya dan beranjak mendekati gadis yang berdiri membelakangi nya itu.


Sreg!


Anna tersentak, ia terkejut walau ujung pisau itu tak menyakiti kulit nya namun merobek gaun nya.


Gaun berwarna abu-abu muda itu lolos ke lantai dengan sempurna, pakaian yang tertanggal ke lantai dan tangan yang langsung di tarik kebelakang dan di ikat dengan kuat menggunakan dasi yang memiliki kualitas terbaik itu.


Anna meremang, bisa di rasakan ujung jemari nya dingin saat ia begitu takut.


Ukh!


"Ma..maaf S..sir..." tangis nya yang terus mengatakan maaf untuk kesalahan yang bahkan tak ia ketahui.


Bruk!


Pria itu tak mengatakan apapun, setelah mengikat tangan gadis itu ke belakang pria


itu langsung menyeret nya ke ranjang nya dan membanting nya di atas tempat tidur empuk itu.


Anna tertekan, pria itu menindih nya dan dapat ia rasakan tubuh nya seakan ingin tenggelam di dalam ranjang empuk itu.


"Aku, akan membuat mu ingat kalau kau hanya milik ku bukan milik siapapun." ucap yang menindih tubuh gadis itu dari belakang sembari berbisik di telinga nya.


Selesai mengatakan nya ia kembali duduk, punggung yang mulus kecuali dengan beberapa bekas luka tikam dan juga bekas operasi chip yang sebenarnya sudah hampir hilang total tak terlihat.


Pria itu membuka kaitan penyangga Piramida gadis itu, kini tangan nya bisa mengusap dari pangkal pundak sampai ke punggung tanpa terhalang sesuatu.


Anna meremang, ia semakin takut namun tak bisa mengatakan apapun.


Akh!


Anna langsung menggeliat, tanpa sadar ia berteriak secara refleks saat ia merasakan sesuatu yang begitu tajam menggores punggung di sisi bahu kanan.


Perih dan sakit yang bercampur membuat nya mengigit bibir nya untuk menahan suara teriakan nya atau tangisan nya.


Ia bisa merasakan ada yang menetes di punggung nya menjatuhi sprei yang lembut dan tentu memiliki harga yang mahal itu.


Bau anyir darah pun mulai masuk ke indera penciuman nya, ia tau darah siapa yang di korban kan sekarang.


Ukh...


Pria itu tak mengatakan apapun, ia menekan dan menahan tubuh gadis itu agar terbenam di ranjang dan membuat nya tak bisa bergerak lalu dengan senang nya ia mengukir nama nya di punggung cantik itu seperti hanya mencoret di atas tanah.


Lu Al De ...


Bentuk tulisan latin yang indah seperti tanda tangan yang terlihat di punggung gadis itu.


Mungkin jika pria itu beralih menjadi seniman psikopat pasti karya nya akan begitu laris karna ia mampu menciptakan seni yang dibahas di atas rasa sakit orang lain.


"Sakit?" tanya nya yang seakan pertanyaan bodoh pada seseorang yang baru ia tulis menggunakan pisau.


Anna tak menjawab, suara tangisan nya terbenam di atas tempat tidur yang empuk itu.


Ia meletakan pisau nya, tangan nya mengusap kepala gadis yang menangis seperti anak kecil itu dengan lembut.


"Ingat rasa sakit yang kau rasakan hari ini, bekas nya mungkin akan bertahan beberapa waktu lalu menghilang, tapi kau tidak akan melupakan apapun sekarang." ucap nya sembari mengusap dan mengelus kepala gadis itu.


Jujur saja ia awal nya merasa marah, perasaan yang menggelitik nya sama seperti melihat gadis itu berciuman di atas panggung dengan teman nya.


Namun kali ini amarah nya memuncak, mungkin rasa cemburu?


Tapi kecemburuan kali ini benar-benar memancing emosi nya, tak hanya emosi dengan pria yang menginginkan milik nya ia juga merasakan luapan amarah pada gadis sebenarnya tak tau jika ia memancing keinginan pria lain dengan kepolosan nya.


Anna tak mengatakan apapun, ia hanya menangis dengan suara yang tertahan.


Lucas menarik tangan gadis itu, membuat nya duduk dan menatap ke arah nya. Mata biru itu terus basah.


Wajah putih itu tampak merah karna tangisan yang tak kunjung berhenti.


Ia pun perlahan mengusap air mata gadis itu dengan ibu jari nya, tangan yang bahkan masih tercium jelas aroma darah yang segar itu.


"Aku maafkan kesalahan mu kali ini," ucap nya sembari mengecup pipi yang basah itu dan membuat nya dapat merasakan air mata yang jatuh itu.

__ADS_1


Anna tak mengatakan apapun, ia masih tak bisa mengatur ekspresi nya dan hanya menangis.


"Tertawa, kalau kau terus menangis seperti itu aku jadi ingin menyiksa mu." ucap Lucas dangan wajah datar dan tatapan yang begitu tajam dengan kata-kata yang bukan lelucon.


"He..hehe..." gadis itu berusaha menarik senyuman nya di wajah sendu itu.


"Hiks..."


Ia tertawa namun menangis di ujung tawa nya, menjatuhkan air mata di setiap kedipan nya.


Pria itu tersenyum saat melihat gadis itu tertawa untuk nya tanpa peduli apa yang di rasakan oleh gadis itu.


Bagaimana perasaan nya dan bagaimana rasa sakit nya karna yang memang tak pernah tau bagaimana cara nya agar memiliki perasaan seperti manusia lain nya.


Ia menarik bibir merah muda yang ranum itu dan mencium nya.


Anna pasif, ia membiarkan pria itu dengan senang hati mencium nya atau pun meraba tubuh nya asalkan tak ada lagi ujung pisau tajam yang kembali membelah kulit nya dan masuk ke dalam daging nya.


......................


Kediaman Mr. Gorge


Pria tua yang tampan itu tampak begitu kesal, semua orang selalu meminta nya untuk kerja sama namun kali ini ia mendapatkan penghinaan terbesar di hidup nya.


"Lihat saja! Aku akan membuat pria sombong itu menyesal!" ucap nya yang mungkin kali ini adalah makian yang bisa ia ucapan untuk terakhir kali.


Prang!


Suara kaca yang pecah membuat nya langsung keluar dari kamar nya.


"Hah!"


Pria itu tersentak, ia memundurkan langkah nya.


Para pengawal nya sudah tumbang ke lantai dengan luka tusukan di leher dan darah yang mengalir segar.


Rumah nya terkepung dengan orang-orang asing yang mengenakan jaket dan masker hitam menghabisi semua pengawal serta pengawal nya.


"Kita bertemu lagi,"


Mr. Gorge tersentak, ia melihat ke arah pria itu dan tampak seperti malaikat maut.


"Kau bisa katakan lagi apa yang kau ucapkan tadi siang?" tanya nya mendekat.


Pria yang berumur setengah abad lebih itu tak mengatakan apapun, ia bungkam karna tau jika mengatakan sesuatu yang salah mungkin akan menghilangkan nyawa nya. Bukan hanya sekedar luka di kepala saja.


"Kenapa kau sampai seperti ini! Cuma karena anak pel*cur seperti itu!" tanya pria itu dengan perasaan tak terima.


Lucas tak mengatakan apapun, mungkin terlihat berlebihan jika ia sampai membunuh orang yang berpengaruh hanya karna seorang gadis yang bahkan masih belum terjadi apapun.


"Aku sudah cari tau tentang mu tadi," ucap dengan mata yang tajam.


Hanya dengan waktu yang singkat pria itu sudah mampu menemukan skandal yang di sembunyikan pria di depan nya.


"Kau bermain dengan anak di bawah umur sekitar usia 12 - 16 tahun tidak peduli gender nya," ucap nya yang mengatakan apa yang sudah ia tau.


Dan walaupun gadis itu memiliki umur yang lebih tinggi namun penampilan nya terlihat masih seperti anak kecil karna tubuh nya yang juga kecil dan wajah nya yang imut tak seperti kebanyakan anak remaja yang sudah tampak dewasa di tempat nya.


"Dan semua nya menjadi cacat setelah bermain dengan mu, usus besar keluar, dan robekan yang cukup dalam, apa yang kau masukkan?" gumam nya yang tampak geli.


" Kau juga memukuli yang naik ke atas ranjang mu. Jadi sudah ada 5 anak perempuan yang mati dan 3 anak laki-laki yang mati, 17 yang lain nya cacat permanen." ucap nya yang seakan mengatakan dosa yang di perbuat oleh pria itu.


Walaupun ia sebenarnya juga predator berdarah dingin yang menguliti setiap korban nya namun tak pernah ada yang mati karna pelecahan seperti itu.


"Dan kau juga berniat melakukan hal yang sama dengan dia kan?" tanya nya sekali lagi yang membuat pria itu langsung merasa lemas.


"Ma..maafkan aku! Aku akan kerja sama dengan mu! Aku juga tid-"


Prang!


Akh!


Pria itu langsung terjatuh, tongkat golf itu melayang di kepala nya membuat seluruh darah nya memuncrat.


Prak!


Dugh!


Dugh!


Dugh!


Tak sempat bergerak dan tubuh itu sudah terkapar dengan darah yang mengalir deras saat tongkat golf yang panjang dan berat itu memukul nya seperti bermain bola di Padang rumput.


Pria itu mulai tenang saat darah seseorang yang akan menjadi mitra bisnis nya sudah menyentuh kaki nya.

__ADS_1


Mungkin hanya terlihat masalah yang sepele karna tak mau memberi teman kencan, namun tak ada satupun yang tau jika bagi pemilik JNN grup itu bahwa gadis yang terlihat bukan apa-apa itu adalah keindahan dunia nya.


Objek dari segala bentuk kecantikan dan pemuas serta penenang yang ia miliki. Sesuatu yang mungkin tak ada pengganti nya jika rusak atau menghilang.


__ADS_2