Calm Down! Mr. Psycho!

Calm Down! Mr. Psycho!
Aku takut


__ADS_3

Rumah sakit


Lucas membawa gadis itu untuk mendapatkan perawatan sementara.


"Kami memerlukan pemeriksaan lebih lanjut untuk tau apakah ada luka dalam atau tidak." ucap salah satu dokter yang keluar dan mengatakan tentang prosedur yang akan di lakukan.


"Tidak perlu, hentikan saja pendarahan nya." ucap Lucas yang menolak karna ia hanya perlu pengobatan sementara sampai dokter yang biasa ia panggil bisa untuk datang.


Karna ia tau gadis itu masih memiliki Chip di kepala nya yang tak semua orang tau tentang hal itu bahkan gadis itu sendiri.


Para dokter itu saling memandang satu sama lain, terlihat jelas jika luka yang di terima adalah luka pukulan.


"Anda memiliki hubungan apa dengan pasien? Kami butuh konfirmasi nya." ucap salah satu dokter yang perlu meninjau apakah pria itu adalah pelaku atau tidak.


"Aku wali nya," jawab Lucas singkat.


Para dokter itu masih terlihat tak begitu mempercayai nya. Tentu saja hal itu pun akan di rasakan setiap orang yang melihat.


Pria yang berlumuran darah membawa gadis yang terluka di sekujur tubuh nya.


Namun pemikiran tersebut buyar ketika gadis itu sudah sadar.


Akh!


Teriakan terdengar, Anna tersentak saat salah satu suster memasukkan nya cairan antibiotik dari suntikan yang tentu memiliki rasa ngilu yang luar biasa.


Mendengar ada nya suara temukan yang ia kenali Lucas pun langsung beranjak.


"Sudah! Jangan berteriak lagi, aku sudah datang!" ucap nya yang menarik tangan gadis itu dan membuat nya untuk menatap nya.


Anna terdiam sejenak, ia membatu beberapa saat dan kemudian menangis sembari tak beranjak sedikit pun untuk melawan pria itu atau menipis tangan nya.


"Sstt.."


"Aku akan menghukum nya nanti, jangan menangis lagi..." ucap nya yang memeluk punggung yang gemetar karna tangis itu.


Melihat pasien nya sudah memiliki kedekatan satu sama lain menghilangkan kecurigaan jika pria yang membawa gadis itu adalah pelaku.


......................


Mansion Damian.


Diego sudah mengurus nya, mulai dari pihak polisi yang sudah terlanjur di libatkan dan juga pria yang menyamar menjadi supir pribadi dari gadis nya.


Sejauh yang sudah di dapat kan, supir yang harus menjemput Anna sore ini tiba-tiba di serempet oleh mobil lain dan orang yang berada di dalam mobil keluar setelah itu memukul dan memaksa supir yang harus nya datang untuk keluar.


Setelah berganti tentu cerita selanjut nya adalah hal yang terjadi sekarang.


"Kau letakkan dia di mana?" tanya nya pada Diego saat melihat sepupu nya datang.


"Di kamar itu," jawab Diego yang tentu dapat di mengerti oleh Lucas.


Lucas pun tak mengatakan apapun lagi, ia ke kamar di mana tempat seseorang yang ingin ia tanyai berada.


"Sudah bangun ya?"


Suara bariton yang rendah dan serak itu terdengar. Pria yang di ikat kedua tangan dan kaki nya di atas single bad dengan rantai itu pun langsung menoleh.


Ia terluka di bagian kepala dan bagian lain, namun ia masih tetap hidup.


"Baik, aku akan mulai pertanyaan nya." ucap Lucas yang mengambil salah satu pisau tipis.


"Siapa yang menyuruh mu?" tanya nya pada pria itu.


Pria itu diam tak mengatakan apapun, ia tak menjawab apa lagi menyebut nama seseorang yang membayar nya.


Lucas memiringkan kepala nya saat tak mendengar jawaban apapun.


Pria itu mengangguk, ia tak tau cara membuat seseorang mengatakan nya ataupun metode yang ia lakukan akan memaksa seseorang atau tidak karna tak pernah ia bayangkan hobi nya akan menjadi jalan termudah saat ia ingin bertanya.


"Baik, kita akan mulai dari kaki mu dulu." ucap nya yang mendekat.

__ADS_1


Ujung pisau yang tajam itu mulai menancap dan memotong dari jempol kaki pria itu.


Tangan yang begitu lihai sampai bisa menyayat kulit seseorang dengan begitu mudah mengalahkan seorang dokter.


Akh!


Teriakan pria itu menggema, kulit telapak kaki nya mulai terangkat.


Suara satisfying dari kulit yang terangkat berbarengan dengan teriakan yang ia dengar membuat Lucas sedikit bersemangat karena ia sudah lama tak menguliti seseorang.


Krek!


Iya menarik nya saat sudah tertinggal sedikit.


Kuku kaki pria itu pun juga ikut tercabut berbarengan dengan kulit nya.


Ranjang itu tentu mulai memiliki darah yang merembes turun, suara lonceng dari tangan dan kaki yang berontak saat ia mengikuti membuat Lucas semakin senang.


"Masih belum? Kalau begitu kaki selanjutnya?" tanya Lucas yang sangat tidak keberatan untuk menguliti semua yang ada di pria itu.


Pria itu menjerit sejadi-jadi nya dengan bergerak segala arah namun ia tentu tak akan bisa kabur saat ia sudah di rantai sepenuh nya.


Lucas diam dengan wajah datar nya walaupun ia merasakan kepuasan tersendiri.


Ia mengganti pisau nya saat ia sudah mengambil kulit kaki pria itu sampai ke lutut.


"Aku punya gergaji mesin, tapi jarang ku gunakan." ucap nya yang merasa gerjagi mesin hanya akan membuat potongan yang berantakan.


"Maka nya aku punya pisau pemotong papan," ucap nya yang berbalik sembari membawa alat benda tajam itu.


Berbentuk bundar dan akan berputar dengan cepat lalu memotong semua yang berada di depan nya.


Lucas menghidupkan nya, suara mesin yang terdengar begitu keras memenuhi setiap isi ruangan tersebut.


AKH!!!


Sekali lagi pria itu berteriak kesakitan saat pemotong benda tajam. itu membuat kaki nya terpisah dari tubuh nya.


"A...aku akan bicara!" ucap nya yang sudah tak tangan lagi.


"Aku tidak tau siapa yang menyuruh ku, dia hanya memberikan perintah lewat pesan! Dan kalau aku mengatakan hal ini maka dia akan membunuh ku!" ucap pria itu yang tak tahan lagi.


Mengaku di bunuh dan saat diam pun di bunuh.


"Begitu?" Lucas hanya bereaksi kecil mendengar nya.


Namun ia kembali menghidupkan lagi mesin dari alat tajam yang ia pegang.


"Kalau begitu aku akan memotong jari-jari tangan mu dulu." ucap nya yang melayangkan alat nya yang berputar cepat dengan memiliki ketajaman yang luar biasa.


"ARGH! Kau bilang kalau aku mengatakan kau akan melepaskan ku!" ucap pria itu yang kesulitan dan berteriak kencang.


"Memang nya aku pernah bilang akan melepaskan mu?" tanya Lucas saat sudah memotong jari-jari tangan itu dan beranjak memotong ujung dada ramping pria itu.


Argghhh!


Teriak nya yang begitu kesakitan saat ia di potong hidup-hidup bahkan tak menggunakan anastesi sedikit pun.


...


Pukul 12.45 am


Gadis remaja yang penuh luka itu kini sudah di obati, ia tampak tertidur namun berkeringat.


Para dokter yang biasa mengecek kondisi rutin gadis remaja itu mengatakan jika bekas luka tusukan yang ia terima mungkin akan berbekas sama seperti bekas tikam yang beraga di punggung gadis itu.


Lucas menarik napas nya, kali ini ia sudah menjadwalkan operasi untuk membuat kulit putih susu itu kembali mulus seperti yang seharusnya.


Ia tak menunggu lagi persetujuan gadis itu untuk menghilangkan bekas luka di tubuh nya.


"Apa yang kau lihat di mimpi mu? Kau masih takut?" tanya nya lirih pada gadis yang tampak gelisah di tidur nya.

__ADS_1


Deg!


Hah...


Hah...


Anna tersentak, ia begitu takut akan kejadian yang menimpa nya siang tadi hingga membuat nya memimpikan semua peristiwa buruk saat ia hampir kehilangan nyawa nya.


"Kenapa? Sadar lah, sekarang kau sudah pulang." ucap pria itu yang menarik gadis yang terkejut itu.


Pulang? Aku pulang?


Aku punya rumah?


Gadis itu diam, ia tak bisa bicara apapun saat ini karna begitu terkejut.


Greb!


Pria itu menarik nya, dan membuat tubuh kecil itu tenggelam dalam pelukan nya.


"Kau kan sudah pulang, sekarang sudah baik-baik saja. Aku di sini..." bisik pria itu yang mengatakan tentang situasi yang sudah aman.


Namun gadis remaja itu?


Anna terdiam, 'pulang dan rumah' adalah dua hal yang ia inginkan dan ia rindukan saat bersama dengan ibu nya.


Kata-kata yang sederhana namun menyentuh hati nya.


"Hiks..." tangisan lirih terdengar dari dalam pelukan pria itu.


Lucas mengernyit, ia menoleh dan langsung melihat ke arah gadis yang tampak menangis itu.


"Kenapa kau cengeng sekali?" tanya nya yang melihat ke arah wajah yang penuh memar.


Anna tak mengatakan apapun, ia hanya menangis tanpa memperdulikan bagaimana ekspresi wajah nya saat ini karna ia biasa nya selalu tersenyum.


Lucas diam, ia tak tau cara menghentikan tangisan gadis itu. Ia bahkan tak mengerti bagaimana menghibur seseorang.


Tapi ia tau bagaimana cara nya memberikan sedikit ketenangan, dan sebenarnya ia hanya menggunakan cara yang ia inginkan jika gadis itu berusaha menghibur nya kelak.


Cup!


Tak ada lum*tan agresif, tidak ada juga hisapan yang saling membelit.


Hanya bibir lembut yang disatukan dan menempel satu sama lain.


Anna berhenti menangis, ia tampak terkejut namun bukan dalam artian yang buruk ia menolak nya.


Kecupan yang membuat nya sedikit lega dan tenang dengan sedikit rasa aman karna pria itu seperti tak akan 'Mengigit' nya saat ini.


Melihat gadis yang berhenti menangis, Lucas melepaskan kecupan nya tanpa mengisap bibir ranum itu sama sekali.


"Sekarang sudah lebih baik?" tanya nya sembari menatap ke arah Anna.


Anna terdiam, ia masih tak mengatakan apapun. Kalau ini adalah rumah nya ia boleh melakukan sesuatu yang ia inginkan, bukan?


Gadis remaja itu tak menjawab sama sekali, ia diam sejenak seperti membatu. Namun,


Greb!


Tubuh ramping itu beranjak memeluk pria di depan nya. Kondisi mental nya terguncang yang membuat semua tindakan nya hari ini mungkin akan ia lupakan.


Lucas terdiam, setiap kali gadis itu menyentuh nya lebih dulu ia selalu merasakan luapan di dada nya yang bergemuruh namun ia tau itu bukan amarah.


Tangan kecil itu memeluk pundak yang kokoh dan lebar itu.


"Aku takut..."


"Aku juga tidak baik-baik saja..."


"Aku sakit..."

__ADS_1


Hiks...


Adu nya seperti saat ia kecil dulu bersama sang ibu. Tak ada cara bicara formal 'Anda, Saya' lagi yang ada hanya komunikasi saat bersama seseorang yang ia percayai.


__ADS_2