
Dua Minggu kemudian
Mansion Damian
Lucas menatap lurus ke arah gadis remaja itu, sedangkan Anna yang berpura-pura tak di lihat terlihat begitu risih.
Pria itu penasaran, pembicaraan apa yang di lakukan sebelum nya pada sang kakek. Namun gadis itu tak mengatakan apapun.
Dan kini?
Lucas selalu memastikan ponsel nya memiliki banyak daya dan selalu mengaktifkan chip yang berada di tubuh Anna setiap saat dan hanya menonaktifkan saat ia melihat gadis itu di depan mata nya.
"Sir? Ada yang salah?" tanya Anna yang kini sudah tak tahan dengan tatapan mata yang menusuk ke arah nya.
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Lucas yang selalu mengajukan pertanyaan yang sama.
"Tentang?" tanya Anna yang tak mengira pria itu masih akan begitu penasaran.
"Yang pria tua itu katakan pada mu," ucap Lucas memperjelas.
"Kenapa anda tidak sopan dengan kakek anda Sir?" tanya Anna pada pria itu.
"Jangan mengalihkan pembicaraan, dia mengancam mu? Atau dia mengusir mu?" tanya Lucas sekali lagi.
Ia sangat mengenal sifat sang kakek, dan tentu gadis remaja yang bahkan tak memenuhi syarat untuk bersama nya pasti akan segera di singkirkan.
Tanpa tau kini sang kakek sudah merasa lelah mengurus hal seperti itu lagi.
"Dia terlihat menyayangi anda," ucap Anna yang tentu tak akan mengatakan jika kakek pria psikopat itu menginginkan ia segera hamil dan memberikan nya cicit.
"Dia?" tanya Lucas dengan menaikkan satu alis nya dan merasa mendengar suatu yang begitu tak masuk akal.
"Iya! Sir!" ucap Anna yang mendekat pada pria yang menatap dengan mata yang tajam itu.
"Apa?" tanya Lucas dengan wajah datar walaupun terlihat ada mata yang menggebu-gebu di wajah gadis remaja itu.
"Kenapa anda sekali berpikir negatif? Coba positifkan pikiran anda..." ucap Anna yang menatap dari dekat ke arah wajah tampan itu.
"Aku selalu di penuhi aura negatif," ucap Lucas dangan nada percaya diri.
Anna yang mendengar nya hanya tersenyum lirih, "Aura positif? Negatif yang ada," gumam nya yang mendengar hal tersebut.
Tak!
Lucas menjentikkan tangan nya ke dahi yang bisa ia dengar tengah membicarakan hal yang buruk tentang nya.
"Sakit Sir!" ucap Anna seketika pada pria tampan itu.
Lucas hanya tersenyum kecil, ia menarik tangan gadis itu dan membuat nya jatuh ke pangkuan nya dalam posisi yang menghadap ke arah nya.
Punggung yang kecil dengan pinggang yang ramping menjadi usapan dari tangan pria itu.
Lucas tak mengatakan apapun dan terus melihat ke arah wajah cantik gadis itu.
"Apa pun yang dia katakan, kau tetap akan dengan ku. Jadi jangan masukkan semua kata-kata nya ke sini." ucap Lucas yang menunjuk kepala kecil gadis itu.
Pria itu tak tau apa yang di bicarakan dan tentu ia menganggap sang kakek ingin menyingkirkan satu satu nya keindahan dunia yang ia miliki.
"Sir? Anda bilang saya penuh warna kan? Juga mata saya." ucap Anna pada pria itu.
Lucas tak menjawab namun mata nya masih memperhatikan gadis yang berbicara itu.
"Kalau saya bisa membuat anda kembali melihat dengan sempurna lagi, anda akan tetap bersama saya?" tanya Anna pada pria itu yang tentu berpikir ia akan di tinggalkan.
Lucas menarik napas nya, ia menatap ke arah gadis remaja yang berbicara pada nya.
"Ya, kau bisa dapatkan semua yang kau mau kalau kau menurut pada ku." ucap nya yang beranjak mengusap rambut pirang panjang yang bergelombang itu.
"Tapi kalau kau tidak menjadi anak penurut dan malah membangkang, kau juga akan mendapatkan konsekuensi dari pilihan mu." ucap pria itu yang perlahan menarik rambut Anna dalam genggaman nya.
__ADS_1
Ukh!
Anna mengernyit, beberapa bulan ia tinggal dengan pria itu pun ia tak bisa benar-benar membaca sifat nya dan apa yang ingin di lakukan.
Seperti barusan, tangan yang awal nya hanya mengusap nya dengan lembut kini tangan itu sudah menarik rambut nya seperti ingin melepaskan nya.
"Sa..saya penurut Sir..." ucap nya yang mulai tersenyum kembali untuk membuat pria itu senang.
Lucas tersenyum tipis, ia tak marah sama sekali namun ia memang tak bisa mengontrol kekuatan tangan nya itu tak menghancurkan tubuh kecil itu.
Tangan yang menarik rambut pirang dari genggaman itu tak di lepas sama sekali, pria itu malah beranjak menarik nya dan menautkan bibir nya.
Bagi nya gadis itu adalah sumber keindahan yang membuat nya tenang dan membawa nya pada suatu titik kepuasan sekaligus keserakahan karna ia merasa gadis itu tak akan cukup untuk nya sebanyak apapun ia sudah menggali nya.
Anna memejam, ia selalu membiarkan pria itu menciumi nya karna menolak pun tak akan ada guna selama ia masih berada dalam genggaman pria itu.
......................
Bugh!
Tubuh pria itu terlempar, orang-orang yang selalu mengejar nya kini sudah menemukan nya.
"Sa..saya akan segara membay-"
Bugh!
Satu pukulan keras melayang ke wajah pria itu tanpa di kesempatan untuk menyelesaikan permohonan nya.
"Banyak bicara!" ucap salah satu pria yang mirip dengan preman atau tak lain adalah lintah darat itu.
"Kau punya ginjal yang sehat kan? Bagaimana kalau aku ambil dulu satu ginjal mu dan kemudian nanti aku akan memberikan nya saat kau sudah melunasi semua hutang mu." ucap pria itu yang mengatakan negosiasi.
Mr. Harris terdiam, mana mungkin ia mau ginjal nya di ambil oleh orang-orang yang bahkan tak berpengalaman apapun itu.
"Sa..saya akan segera melunasi nya, ja..jadi saya mohon..." ucap nya yang berusaha meyakinkan para preman itu.
...
Rumah Mr. Harris
"Apa yang kalian lakukan?" tanya Mrs. Laura yang langsung menjerit berusaha untuk melindungi semua barang-barang yang ia miliki karna di ambil paksa oleh seseorang.
"Tinggal rumah ini dalam waktu dua hari, kami sudah punya surat nya jadi kalau kalian tetap tidak mau pergi kami akan mengusir secara paksa." ucap salah seorang pria bertubuh tegap itu.
Mrs. Laura terasa lemas mendengar nya, suami nya telah menggadaikan seluruh harta yang mereka miliki hanya untuk perjudian?
Sedangkan Samantha merangkul sang ibu, ia memang libur beberapa hari namun ia kini masuk kembali tanpa tau bagaiman cara nya nanti membuat uang sekolah nya.
"Bawakan aku air," ucap Mrs. Laura yang tersebar lemas.
Samantha langsung dengan sigap mengambilkan minuman untuk sang ibu.
Mrs. Laura menegak nya sampai habis, ia tak lagi bisa memikirkan apa yang terjadi ke depan nya.
Ia tak lagi sempurna dan sang suami yang pergi entah kemana terus saja mengadaikan semua benda yang mereka miliki.
......................
Skip
Sekolah
Anna melihat ke arah teman nya itu, gadis yang dulu nya tampak ceria kini terlihat muram dan sendu.
Memang itu mungkin saja karna kini musibah dan nasib buruk terus berdatangan.
Namun Anna tak mendekat atau pun menanyai kabar nya. Ia diam seperti tak terjadi apapun dan tak ingin tau.
Bagi gadis itu luka nya juga perlu di sembuhkan, ia masih belum pulih untuk bisa mengobati luka orang lain.
__ADS_1
"Ann?"
Suara yang ia kenali memanggil nya, padahal sebelum nya ia duduk sendirian di bangku taman sekolah itu.
Ia tak menjawab namun melihat ke arah teman nya yang tampak murung itu.
"A..aku mau tanya..." ucap Samantha dengan gugup karena kini mereka pun tak lagi dekat seperti dulu.
"Apa Sam?" tanya Anna yang mulai menyahut.
"Pekerjaan paruh waktu, di mana saja yang bisa ku kunjungi?" tanya Samantha lirih.
Diantara semua teman yang ia kenal hanya gadis itu lah yang mengetahui paling banyak tentang pekerjaan paruh waktu itu.
"Kenapa?" tanya Anna mengernyit yang tak menyangka jika teman nya itu akan menanyakan tentang pekerjaan paruh waktu.
Samantha tak menjawab, ia tak bisa mengatakan tentang betapa hancur nya keluarga nya saat ini.
"Cuma mau tambah uang jajan aja," jawab Samantha yang kali ini mencoba tersenyum namun Anna yang sudah terlalu sering tersenyum palsu seperti itu tentu tau.
"Nanti ku kabari, aku Carikan yang cocok buat kamu." ucap nya yang menarik napas nya.
Walau tak lagi berteman namun ia tak menunjukkan sikap kebencian yang mendalam sampai menyindir atau pun mencoba mencelakai.
"Terimakasih Ann," ucap Samantha dengan senyuman tipis nya.
......................
Mansion Keluarga Damian
Mr. Ehrlich membuang napas nya, ia melihat salah satu potret keluarga nya yang berisikan tiga orang.
Ia dan dua putra yang sangat ia sayangi, memang ia memiliki tiga orang putri yang lain dengan ibu yang berbeda.
Ia mencintai istri nya, namun ketika sang istri meninggal dan ia pun yang hidup sendirian tetap tak bisa menahan godaan yang datang dan pada akhirnya menghasilkan tiga orang putri dari wanita yang berbeda-beda.
Dan tentu anak-anak yang paling ia sayangi adalah yang di berikan pada satu-satu nya wanita yang ia nikahi.
Namun apa yang terjadi?
Kedua putra yang sangat ia sayangi itu malah mengecewakan nya dengan begitu dalam.
"Hey nak? Aku melihat ada perempuan yang sangat mirip dengan yang pernah kau bawa dulu." ucap nya yang tertawa kecil dengan raut yang tampak sendu sembari menengandah melihat ke arah potret ia dan kedua putra nya itu.
"Kalau aku tau kau dulu hanya memanfaatkan anak malang itu, aku tidak akan bersikap terlalu kasar dengan nya." ucap nya lirih yang ingat dengan perlakuan nya terhadap satu-satu nya menantu yang bagi nya begitu baik namun berasal dari kalangan bawah.
"Kau harus meminta maaf pada nya di sana," ucap nya sekali lagi sembari menatap potret keluarga itu.
......................
Kediaman Veronica
Keributan terjadi, gosip jika sang kakak kini bukan seorang pencinta sesama jenis di tambah lagi sudah memiliki kekasih membuat wanita paruh baya merasa geram.
"Ck! Ternyata hanya debu?" ucap nya yang langsung meremehkan saat melihat ka arah data yang sudah ia dapat tentang gadis remaja yang sembrono saat makan malam keluarga.
Wanita itu sejak dulu menginginkan posisi tertinggi di JNN grup, namun ia yang bernotaben nya anak haram tentu tak bisa memiliki perusahaan besar itu.
Saat kakak-kakak laki-laki nya masih hidup, ia tak bisa menyentuh posisi tertinggi itu.
Dan saat kedua kakak nya yang memiliki orientasi menyimpang itu meninggal posisi tersebut langsung di ambil alih oleh putra nya.
Gosip tentang keponakan nya yang menyukai sesama jenis datang dari nya, dan jika gosip itu tak berhasil ia ingin memasukkan putri nya sebagai istri keponakan nya itu untuk mendominasi posisi yang ia inginkan.
Namun kini?
Semua rencana nya gagal hanya karna satu gadis remaja yang datang dan merusak nya.
"Anak itu! Aku harus singkirkan rumput liar yang menjijikan itu segera!" gumam nya lirih yang merasa jika penghalang dan diri kecil harus ia singkirkan dulu karna ia tak bisa menyingkirkan duri yang besar.
__ADS_1