
Mansion Damian
Lucas menatap ke arah sang istri yang terus tersenyum di depan laptop yang berada di depan nya.
"Lihat apa?" tanya nya mendekat sembari berdiri ke samping wanita itu.
Mata pria itu mengernyit melihat ke arah gambar tak jelas yang di ambil oleh putra nya dan kemudian melihat nya.
"Bagus kan? Estelle yang ambil, kalau dia berlatih lagi pasti akan banyak yang bisa di lihat." ucap Anna yang begitu menyukai hadiah kecil dari putra nya.
Lucas tak menjawab namun ia melihat ke arah wajah cantik yang tersenyum itu.
Cup!
Satu kecupan melayang di pipi yang halus dan lembut itu.
"Mau ke pergi dengan ku? Liburan? Aku punya jadwal kosong dua minggu lagi." ucap Lucas yang setelah satu tahun lebih baru mengajak wanita itu untuk keluar lagi.
Anna langsung menoleh saat mendengar nya, tentu ia akan langsung menyetujui nya.
"Benarkah? Itu sungguhan? Estelle juga ikut kan?" tanya Anna yang menatap ke arah pria itu dengan bersemangat.
Lucas diam sejenak, ia sedikit ragu untuk menjawab nya karna ia tentu tak ingin membawa anak kecil yang bagi nya menganggu.
"Luc? Boleh kan? Estelle ikut juga kan? Kita bisa pergi ke wilayah pengunungan," ucap Anna yang tak bisa menyembunyikan rasa senang nya.
"Bukanya kau lebih suka wilayah pantai?" tanya Lucas yang mengernyit mendengar nya.
"Aku suka pegunungan juga," jawab Anna yang kesukaan nya mulai berubah karena mengikuti kemauan nya putra tampan nya.
"Kau memang mau ke sana atau karna anak itu yang suka?" tanya Lucas yang menatap dengan raut wajah yang kesal.
"Aku suka kemanapun asalkan dengan mu," jawab Anna yang memilih jawaban yang aman.
Lucas diam sejenak, ia tak menjawab apapun dan menatap ke arah sang istri.
"Hanya kita, kalau kau tidak mau kita tidak akan keluar." ucap nya yang sama sekali tak mau putra nya ikut.
Anna langsung terdiam, ia tak menjawab apapun karna memang yang ia sukai adalah berpergian dengan putra nya.
"Kamu masih belum bisa terima Estelle? Kenapa? Dia ga ngerepotin kan? Ga banyak minta apa-apa juga." ucap Anna lirih yang mengajukan pertanyaan pada suami nya.
"Dia mengambil perhatian mu, aku membenci nya." jawab Lucas dengan cepat.
Anna diam sejenak, sejak awal pria itu hanya menginginkan bukan anak yang di miliki bersama dan berada di dalam kandungan nya.
"Luc?" panggil nya lirih yang memutar tubuh nya agar bisa menatap erat ke arah pria itu lebih dalam lagi.
"Kamu bilang aku bisa buat kamu lihat warna lagi kan? Kamu bilang aku itu satu-satu nya orang yang bisa buat kamu punya emosi kan?" tanya Anna yang menatap ke arah pria itu.
Lucas tak menjawab, ia menatap tanpa satu kata pun pada wanita itu.
"Aku bakal ajarin semua, rasa bahagia, sedih, atau mau melindungi seseorang." sambung nya dengan senyuman tipis.
"Aku sudah merasakan semua nya, kau tidak perlu mengajari apapun pada ku dan kalau kau mau, aku ingin kau selalu bersama ku saja." ucap Lucas yang menatap ke arah gadis itu.
"Ya, tapi kau tidak tau apa yang di rasakan orang lain," jawab Anna lirih dengan senyuman tipis.
......................
Dua Minggu kemudian.
Estelle mendengarkan apa yang guru nya katakan.
Sebentar lagi rapat orang tua dengan festival yang hampir sama dengan acara anak dan orang tua membuat sang guru mengatakan jika orang tua dari murid nya harus datang.
"Nanti Miss kasih undangan nya jangan lupa kasih ke orang tua ya?" ucap wanita itu yang menatap ke arah anak didik nya.
__ADS_1
Semua anak yang berada di sana mengangguk kecuali satu orang.
Estelle memegang surat undangan yang tampak lucu dan menggemaskan itu.
......................
Mansion Damian
Sesampai nya di mansion Estelle langsung memberikan nya pada sang ibu.
"Ini buat Mama, Mama Minggu depan udah sehat kan? Bial bisa ikut Ma..." ucap nya yang berharap sang ibu datang.
Anna diam sejenak, ia membuka nya dan menatap undangan yang di berikan putra nya.
Tertulis jelas kapan harus datang dan kapan acara tersebut di mulai.
"Kalau Mama ga bisa datang, Estelle sama Papa ya?" tanya Anna yang tersenyum menatap ke arah putra nya.
Estelle tak menjawab, ia diam sejenak dan melihat ke arah sang ibu dan kemudian mengangguk karna ia merasa tak bisa menolak hal itu.
"Pinter anak Mama," Ucap Anna yang tersenyum walaupun ia sendiri juga bingung bagaimana nanti membujuk sang suami untuk datang ke tempat itu.
....
"Tidak mau!"
Suara pria itu menjawab dengan tegas, ia menatap ke arah wanita yang berbicara dengan nya.
"A... aku yang di atas selama satu Mi.. Minggu..."
Ucap Anna lirih namun pria itu masih diam tak menjawab apapun lagi dan tentu itu berarti penawaran nya kurang.
"A.. aku setuju kalau di kolam ta.. tapi cctv harus mati sama waktu Estelle sekolah..." ucap nya lirih yang menatap ke arah pria itu.
"Waktu siang dia sekolah, dan waktu malam aku berada di rumah." ucap Lucas yang tak bisa setuju pada poin terkahir.
"And dinner? Just us." ucap Lucas sekali lagi.
"Ya," jawab Anna dengan satu anggukan kecil.
Pria itu tersenyum tipis, "Aku akan berikan pakaian yang cocok, kau harus mengenakan nya yang dalam dan luar sesuai yang ku pilih dan kita makan malam di taman." jawab Lucas singkat karna taman nya pun sudah sangat besar dan terbilang cukup bagus.
Anna hanya mengangguk, "Berarti kamu setuju kan? Nanti kamu bakal datang kan?" tanya Anna sekali lagi.
......................
Satu Minggu kemudian.
Suasana yang ramai, para orang tua yang berbicara dan menemani putra putri mereka namun ada yang hanya diam tanpa mengatakan apapun.
Estelle tak berani mengajak pria di samping nya itu melakukan apapun walaupun sang guru sudah menyuruh setiap orang tua untuk mengikuti lomba yang akan di kerjakan bersama anak-anak nya.
"Estelle? Kenapa ga main sama Papa nya?" tanya sang guru mendekat ke arah anak tampan itu namun tak berani melihat ke arah pria di samping nya.
"Ga apa-apa," jawab Estelle singkat tanpa mengatakan apapun.
"Kenapa kau menganggu? Sana pergi," Ucap Lucas yang mengusir nya tanpa ada sedikitpun wajah yang ramah.
Sang guru pun tak bisa mengatakan apapun lagi, ia tersenyum dan menyuruh Estelle untuk bermain dan kemudian beranjak pergi.
"Kau kenapa terus seperti itu?" tanya Lucas yang kemudian menatap ke arah anak kecil yang terus berwajah masam itu.
"Mau pulang bawa itu buat Mama," Ucap nya lirih karna sejak tadi ia memperhatikan wajah tersenyum ibu teman-teman nya saat mereka memberikan mendali atau hadiah yang di dapatkan saat menang lomba.
Setelah itu ia menatap ke arah sang ayah, seperti menunggu jawaban karna menginginkan nya.
"Apa?" tanya Lucas saat melihat tatapan polos putra nya.
__ADS_1
"Mama..." ucap nya sekali lagi yang menyebutkan ibu nya.
Karna memang dunia kecil nya masih di penuhi oleh sang ibu.
"Kau mau menang dan dapatkan itu?" tanya Lucas yang menatap ke arah anak kecil.
Satu anggukan tampak, Estelle tak menjawab namun ia seperti mengatakan segala nya.
"Kalau begitu nanti katakan pada nya kalau kau tidak mau ikut makan malam selama satu bulan," ucap nya yang menatap ke arah anak kecil itu.
"Kenapa?" tanya Estelle yang bingung.
"Kau menganggu," jawab Lucas singkat namun ia harus tetap mempertahankan anak tampan itu karna hanya anak itu yang menjadi jaminan mutlak untuk mengontrol sang istri.
"Tentu kau tak boleh katakan apa yang baru ku sebut tadi, kalau kau mengerti mengangguk," Ucap Lucas.
Satu anggukan terlihat, Lucas menarik napas nya.
Salah satu hal yang tidak ia inginkan memiliki anak karna membuat nya melakukan hal yang merepotkan.
Meluncur, Melempar, dan Melayang ke udara, apapun cara nya dan bagaimana pun jalan nya pria itu membuat semua peringkat pertama di duduki putra nya yang tak memiliki ekspresi itu.
Dua jam kemudian.
Estelle menatap ke arah mendali dan hadiah yang ia terima, pengalaman yang baru dan ia tak begitu membenci nya walau harus membuat pakaian olahraga nya kotor.
"Tinggal senyum..."
Gumam nya lirih yang kemudian mencoba meniru teman-teman nya yang lain karna ia ingin menunjukkan hal yang sama pada ibu nya.
Melatih wajah kaku itu di kaca agar menciptakan senyuman.
Lucas menatap ke arah anak lelaki yang mencoba tersenyum, seperti Dejavu karna ia merasa dulu pernah ada seseorang yang melakukan nya juga dan mencoba nya di depan cermin.
"Apa yang kau lakukan?" tanya nya yang mendekat.
Estelle terkejut dan membuat nya langsung menoleh.
"Kau tidak tau cara melakukan nya? Mau ku ajari?" tanya Lucas padahal ia sendiri pun sangat jarang tersenyum.
Estelle diam tak menjawab namun ia melihat seperti memperhatikan.
"Seperti ini," ucap Lucas yang menunjukkan senyuman yang tampak seperti film horor.
"Seperti itu, kau sudah tau kan?" tanya nya yang kemudian beranjak pergi, ia hanya memberi tau sekilas karna ia merasa untuk sejenak apa yang di lakukan anak kecil itu mirip dengan seseorang.
Dan tentu seseorang itu adalah diri nya sendiri namun ia tak mengingat nya karna hanya itu masa-masa ia ingin bisa tersenyum seperti anak lain nya terutama seperti sepupu nya.
"Wing..." ucap Estelle yang mencoba tersenyum seperti apa yang ia lihat dan membuat wajah tampan nya terlihat seperti serial boneka pembunuh cilik di film horor.
......................
Mansion Damian
Deg!
Anna tersentak, ia melihat putra nya kembali dengan pakaian olahraga yang kotor, membawa mendali dan hadiah lalu tak lupa dengan seringai nya.
"Estelle? Estelle kenapa nak?" tanya Anna yang menatap ke arah putra nya dengan heran dan takut melihat ke arah senyuman itu.
Seringai dengan niat tulus ingin tersenyum itu pun perlahan menghilang saat melihat reaksi sang ibu yang berbeda.
"Kamu ga bawa dia ke tempat u.. untuk jadi tumbal kan di ajaran sesat kan? Ke.. kenapa dia jadi begini?" tanya Anna lirih yang membolak-balik tubuh mungil putra nya.
"Kenapa aku bawa dia ke sana? Kalau aku mau aku yang akan potong leher nya sendiri?" tanya Lucas yang menatap tajam tak suka saat anak kecil itu di peluk.
"Mama? Estelle bawa hadiah..." ucap Estelle yang tak tau jika ia hanya mencoba tersenyum namun sang ibu menatap nya takut.
__ADS_1