
Tetesan dari cairan berwarna merah kental itu terus mengalir, warna yang cerah terlihat di atas kulit putih yang pucat itu.
Pria itu terlihat menikmati setiap tetesan darah yang jatuh, ia memangku gadis yang tampak begitu pucat dan terkadang menunjukkan wajah yang meringis ketika luka nya di tekan.
"Hey? Kau masih dengar aku kan?" tanya nya sembari beranjak memegang dagu gadis yang tampak sayu itu.
Anna melihat ke arah pria itu, darah nya seperti terkuras habis saat ujung benda tajam itu menari di atas kulit nya.
"Kau yakin tidak ada siapapun yang harus mendapat hukuman juga?" tanya nya sembari melihat ke arah gadis yang berlumuran darah itu.
Anna mengangguk walaupun wajah nya mulai tampak sayu, sedangkan Lucas dengan senang nya memangku tubuh kecil itu yang membuat nya seperti predator pemangsa.
"Siapa yang mengatakan kau pel*cur?" tanya nya yang mengungkit tentang sesuatu yang ia dengar.
Anna masih menatap nya diam, memang tak ada yang mengatai nya demikian dan kata itu pun keluar dari mulut nya sendiri karna merasa di hina.
"Tidak ada..." jawab gadis itu lirih dengan suara yang sayup.
"Benarkah?" tanya Lucas dengan menaikkan satu alis nya menatap gadis itu.
Anna tak menjawab, mata nya semakin menatap sayup dengan wajah yang terlihat lebih pucat lagi.
"Jangan tidur," ucap Lucas sembari menekan ibu jari nya dari salah satu luka yang tergores di tubuh kecil itu.
Ukh!
Wajah pucat itu meringis, mata nya kembali terbuka saat merasakan perih.
"Sir?"
"Anda sudah tidak marah lagi?"
Tanya gadis itu lirih dengan suara yang melemah.
Lucas menatap nya, memang benar jika rasa kesal nya sudah hilang karna gadis itu berbohong.
"Kenapa?" tanya nya singkat pada gadis yang melihat nya dengan iris biru yang semakin tampak menyipit.
Anna menggerakkan tangan nya yang terlihat penuh darah itu, ia bergerak dengan sisa tenaga nya dan memeluk pundak pria yang memangku nya.
"Kalau begitu saya boleh tidur?" tanya nya lirih pada pria itu.
Lucas diam sejenak, aroma anyir yang ia sukai tercium jelas di hidung nya dan pelukan gadis itu membuat nya merasa nyaman.
"Kau bisa istirahat, hukuman mu sudah cukup." ucap nya sembari membalas pelukan gadis itu dan menepuk punggung nya beberapa kali.
__ADS_1
Anna bukan nya mengantuk atau lelah, ia hanya sulit untuk menjaga mata dan pandangan nya yang seperti gamang dan gelap.
...
Wajah pucat dengan kelopak tertutup yang di penuhi dengan buku mata lentik itu terlihat tenang kali ini.
Pakaian yang lebih tipis hingga membuat beberapa perban putih itu terlihat.
Wajah yang halus dengan kulit yang pucat itu terus terbelai, pria itu tak kembali ke kamar nya ataupun tertidur.
"Anak nakal..."
Gumam nya lirih yang terus mengusap kepala gadis itu.
Tak ada perasaan bersalah sedikit pun di hati nya setelah menyayat gadis itu dengan banyak goresan.
Cup...
Kecupan kecil melayang di kening gadis itu, "Coba saja kalau kau penurut seperti sebelum nya, apa aku ikatkan saja kalung rantai di leher mu?" gumam nya yang merasa lebih mudah memelihara sesuatu dengan cara seperti itu.
Bagi nya hal seperti itu menunjukkan kasih sayang nya karna ia tetap membiarkan gadis itu untuk hidup dan selama gadis itu tetap hidup maka tak ada kesalahan apapun.
Terlebih lagi kasih sayang yang ia miliki seperti ambigu karna ia tak bisa membaca nya, entah itu kasih sayang untuk sesuatu yang baru dan ia sukai seperti 'warna' yang hanya begitu jelas dengan gadis itu.
Atau kasih sayang seperti memelihara sesuatu yang membuat nya senang ketika saat ia memelihara hewan dulu.
Ia membantah dokter nya setiap saat jika ia mendengar tentang penjelasan tentang rasa yang ia miliki untuk gadis itu.
Terasa samar sekaligus menyegarkan untuk nya yang memberikan kesenangan seperti berjalan di atas awan.
...
Mentari pagi kian meninggi, namun gadis itu tak kunjung bangun juga.
Ia terlelap tidur nya yang tenang, entah memiliki mimpi atau tidak namun ia terlihat masih memejam sebelum gangguan datang pada nya.
"Bangun, cumi-cumi pemalas." ucap pria itu yang menyentuh kelopak mata yang tenang tertidur itu.
Kelopak mata gadis itu terlihat bergerak saat di sentuh, mata biru itu perlahan terbuka.
Pandangan yang kabur dan tak jelas pun perlahan menatap ke arah seseorang yang mengganggu tidur nya.
"Sir?"
Anna langsung terbangun, ia menatap ke arah pria yang tampak seperti tak pernah terjadi apapun itu.
__ADS_1
"Pantas saja kau kecil sekali, setiap pagi tidak sarapan dan cuma tidur." ucap Lucas pada gadis itu.
Anna langsung duduk dan menatap ke arah pria itu, seluruh tubuh nya yang terluka sudah di obati dan di perban dengan baik bahkan saat ini tak ada rasa sakit sama sekali karna pagi tadi ia baru di berikan suntikan pereda nyeri.
"Kau mau ini?" tanya Lucas yang menyodorkan makanan pada gadis itu padahal baru saja bangun.
"Sudah dingin," gumam nya yang merasa sarapan gadis itu tak lagi hangat.
Anna masih terdiam, ia lupa mengatur wajah dan ekspresi nya seperti biasa.
"Kenapa kau melihat ku seperti itu? Kau marah?" tanya Lucas mengernyit.
Ia merasa posisi yang harus nya marah adalah diri nya, namun mengapa gadis itu yang memberikan tatapan seperti itu?
Anna langsung tersadar, ia pun langsung mengalihkan mata nya sejenak dan menatap pria yang membuat nya kesakitan tadi malam itu dengan senyuman lagi.
"Pagi Sir," sapa nya yang juga berusaha tak terjadi apapun.
Lucas tersenyum, ia mengusap pipi gadis itu dengan gemas saat mendengarkan sapaan nya.
Pria itu pun lantas memanggil para pelayan dan memberikan kembali banyak makanan yang harus di habiskan oleh gadis bertubuh kecil itu.
"Habiskan," ucap nya sembari menyatukan rambut gadis itu dengan satu tangan nya sama seperti ketika ia ingin menguasai kepala kecil itu untuk kepuasan nya.
Anna melirik ke belakang melihat ke arah Lucas karna setiap kali rambut nya di ikat dengan tangan pria itu ia merasa seperti mengingat sesuatu.
"Ukhuk!"
Gadis itu langsung terbatuk, ia pun mengambil minum nya dan langsung menegak nya.
Tangan pria itu bermain dengan untaian rambut panjang bergelombang yang halus itu.
"Makan nya hati-hati," ucap nya yang terus memainkan rambut lembut itu.
"I..iya Sir..." jawab Anna lirih.
"Aku akan pergi Jepang selama satu Minggu, jadi kau harus bersikap dengan baik selama aku tidak ada kalau tidak kau akan dapatkan hukuman lagi," ucap nya pada gadis itu.
Anna yang mendengar nya entah mengapa merasa lega.
Lucas beranjak ke depan setelah mengepang rambut gadis itu, "Dan jangan mencoba berbohong, aku bisa tau semua nya tentang yang kau lakukan." ucap nya pada gadis itu.
Anna mengangguk, ia merasa tertekan dengan ucapan pria tampan itu.
Lucas mendekat ke telinga gadis itu, membuat Anna bisa merasakan aroma mint yang segar dan nafas hangat yang menerpa punggung nya.
__ADS_1
"Bahkan setiap kali kau bernapas pun aku bisa tau," bisik nya dengan menaikkan smirk nya dan membuat gadis itu meremang.