Calm Down! Mr. Psycho!

Calm Down! Mr. Psycho!
Menghindar


__ADS_3

Lucas memegang dagu nya dengan menatap gadis yang tengah memakan permen kapas nya dengan wajah yang memerah.


"Coba sini," ucap nya yang mendekat dan ingin mencoba lagi rasa permen kapas itu.


Anna menarik makanan nya tanpa sadar karna ingat pria itu pernah menghabiskan nya.


"Ja..jangan di habisin..." ucap nya yang spontan dengan masih cegukan akibat tangis nya.


Lucas tak mengatakan apapun namun ia mendekat dan mengigit sendiri permen kapas yang seakan bisa menenggelamkan wajah nya.


Anna menoleh dan pria pun menarik wajah nya lagi.


Lucas diam sejenak, rasa nya kembali enak jika sudah terkena tangan gadis itu, lebih berasa dari sebelum nya.


"Anda mau beli yang baru?" tanya Anna yang melihat ke arah pria itu agar tak memakan makanan yang di belikan untuk nya.


"Ck! Dasar pelit!" ucap Lucas berdecak, walaupun sebenarnya makanan itu juga berasal dari uang nya dan ia juga yang membelikan nya.


Anna diam tak mengatakan apapun, ia bahkan tak mengadu sama sekali karna takut pria itu akan menyakiti seperti sebelum nya yang pernah ia lihat.


Gadis remaja itu hanya berfokus pada makanan nya, tanpa mengatakan apapun.


Tap!


Mata biru yang bersinar itu membulat, tangan yang besar itu mendarat di kepala nya dan menepuk nya.


"Kau itu kalau menangis jelek, maka nya jangan nangis." ucap Lucas yang ingin mengatakan agar gadis itu tak menangis namun ia tidak tau kata penghiburan.


Anna tak mengatakan apapun, ia hanya memakan permen kapas nya.


......................


Mansion Damian


Lucas melihat ke arah berkas yang berisi tentang data orang tua dari gadis itu, ia sudah mendapatkan nya dan tentu harus memberikan nya.


Suara ketukan di pintu ruangan kerja nya terdengar, ia menoleh dan menatap ke arah sumber suara.


"Ada apa, Sir?" tanya Anna yang baru saja datang.


Gadis itu tampak mengenakan piyama tidur yang panjang selutut berwarna putih.


"Apa kau tadi sudah mau tidur?" tanya Lucas mengernyit.


Gadis itu menggeleng mendengar nya, ia masuk dan mendekat, "Tidak, tapi saya baru mandi Sir." jawab nya pada pria itu.


Lucas beranjak ke arah sofa di mana gadis itu berdiri melihat nya.


"Sini, duduk." ucap nya yang menepuk satu sisi paha nya agar gadis itu duduk pangkuan nya.


Anna tak lagi asing dengan perintah seperti itu, ia pun melangkah mendekat dan duduk di atas paha pria itu.


"Berat mu sudah bertambah sekarang? Tapi kenapa masih pendek?" tanya nya saat ia merasa gadis itu lebih berat dari sebelum nya.


Anna tak menjawab nya, jika ia gemuk itu salah siapa?


Tentu nya salah pria yang terus menyuruh nya makan dan makan setiap saat.


"Saya perlu diet, Sir?" tanya Anna pada pria itu.


"Diet? Aku lebih suka yang seperti ini, banyak yang bisa di remas dan di gigit." jawab nya sembari mengendus dada gadis itu yang terasa wangi karna aroma sabun nya masih melekat.


Anna tersentak, ia tak merasa pria itu mes*m saat mengatakan nya, melainkan sebalik nya, ia merasa pria itu akan benar-benar memakan nya seperti sapi yang di gemukkan lalu di potong setelah berdaging.


"A..anda be..benar benar akan menjadikan sa..saya sup?" tanya nya lirih yang masih ingat dengan ucapan Diego saat mengerjai nya.


"Sup apa? Kau kan bukan sapi," jawab Lucas mengernyit yang masih tak mengerti mengapa gadis itu selalu takut ia jadikan sup.


"Ta..tapi Sir Diego bilang a..anda suka makan sup manusia..." jawab Anna terbata dengan takut.


Lucas diam sejenak, ia menarik napas nya dan memilih untuk tidak berkomentar.


"Sudahlah, aku sedang tidak mau membahas itu." ucap nya pada gadis remaja yang duduk di pangkuan nya.


"Lalu anda mau bahas apa?" tanya Anna tanpa sadar.


"Aku menemukan ayah mu," ucap nya pada gadis itu sembari menatap mata biru yang jernih bersinar itu.


Deg!


Anna tersentak, ia membeku sejenak tak dapat memberikan komentar balasan saat mendengar nya.


"Be..benarkah?" tanya nya yang memalingkan wajah nya tanpa sadar sebagai bentuk ketidaksiapan nya untuk mengetahui keadaan dan siapa orang yang membuat nya sampai di titik ini.


"Hm, apa yang akan kau lakukan sekarang?" tanya Lucas sembari memeluk pinggang ramping gadis itu.


Anna terdiam, ia tak tau apa yang harus ia lakukan ataupun balasan apa yang ia inginkan untuk meredakan perasaan nya yang sudah terluka cukup lama itu.


"Hey? Kenapa diam?" tanya pria itu yang beranjak mencium pipi bulat yang terasa lembut dan wangi itu.


Mata nya masih menatap ke arah bagian yang memerah, jika hanya karna tangis harus nya sudah hilang bukan?


Ia bisa tau kalau bekas memerah itu bukan karna tangisan saja.


Anna tersentak, ia menatap pria yang melihat ke arah nya dengan mata yang berkedip sesekali.


"Saya tidak tau..." jawab nya lirih yang hanya memegang map itu tanpa keberanian untuk membuka nya sama sekali.


"Kau ingin aku membunuh mereka?" tanya Lucas yang menawarkan jasa pembunuhan pada gadis remaja itu.


Anna terdiam, ia membenci dan mengutuk sang ayah berulang kali dalam hati nya, namun menginginkan kematian nya ia tak pernah terlintas.


"Memang nya kalau anda membunuh nya sampai kapan dia akan menderita? Satu jam? Dua jam? Atau mungkin hari? Satu hari? Satu Minggu?" tanya nya lirih dengan tanpa sadar tersenyum getir mendengar nya.


"Bukan nya melihat orang yang kita benci mati menderita adalah hal yang menyenangkan?" tanya nya pada gadis itu.


Anna menggeleng mendengar nya, jika sang ayah mati dengan waktu beberapa jam maka penderitaan nya hanya akan sampai di beberapa jam itu, lalu dia sendiri?


Bagaimana dengan nya? Ia terluka dan kesepian bertahun-tahun dan semua hari itu bahkan tak bisa ia ulang.

__ADS_1


"Lalu kau mau membiarkan mereka?" tanya nya pada gadis itu.


Anna menoleh, ia menatap ke arah mata pria yang itu namun selalu mengarahkan mata nya ke arah lain karna tak bisa menatap iris tajam pria itu terlalu lama.


"Saya..."


"Saya ingin melihat mereka menderita juga, saya tidak ingin mereka mati. Saya ingin mereka tetap menjalani hidup nya tapi saya tidak mau mereka bahagia..." sambung nya lirih dengan pandangan yang menunduk ke lantai.


Lucas diam sejenak mendengar nya, memang prespektif setiap orang dalam menyalurkan rasa amarah nya berbeda.


"Berarti yang terpenting mereka tidak mati?" tanya nya pada gadis itu.


"Saya tidak suka melihat kematian, untuk siapapun itu." jawab nya pada pria itu.


"Lalu kau tidak akan membuka nya," tanya nya yang menunjuk ke arah kertas map yang membungkus rapi data yang tersimpan di dalam nya.


Anna diam sejenak, ia melihat ke arah pria yang memberikan apa yang ia mau.


Tangan nya bergerak membuka map tersebut, ia awal nya tak terkejut, hanya ada nama beserta riwayat hidup nya sampai ia membuka lembar kedua yang berisi foto.


Deg!


Gadis itu tersentak, ia membatu sekali lagi. Walau hanya dalam foto pun ia bisa mengenal wajah seseorang yang sebelum nya menampar nya tiba-tiba.


"Hah..."


Napas nya terdengar lirih dan gemetar, dada nya terasa sesak dan membuat lidah nya kelu tak mampu mengatakan apapun lagi.


"Aku belum menemukan anak nya, tapi akan ku temukan." ucap Lucas pada gadis yang masih terdiam itu.


Tes...


Tak ada suara tangisan, mata biru yang cerah itu kini tampak bersinar saat di tutup oleh cairan bening yang menumpuk itu.


Ann?


Mau ini?


Ih! Cantik! Kita beli yang samaan?


Anna tak mengatakan apapun, ia hanya teringat dengan seseorang yang bersangkutan dengan pria yang berada di foto tersebut.


Senyuman tawa yang tampak begitu bahagia tanpa beban sedikit pun, ia tak membenci nya namun ia merasa begitu iri.


Kenapa bisa begitu berbeda seperti berada di dunia yang tak sama padahal harus nya ia juga mendapatkan semua hak kebahagian itu?


"Cumi?" panggil pria itu yang melihat gadis yang ada di pangkuan nya menangis tertahan dengan terus membanjiri kertas yang ada di pegang nya dengan hujan yang turun dari mata itu.


Pria itu diam, kini gadis itu mengeluarkan suara yang sama seperti tadi siang saat ia baru mengaktifkan chip nya lagi dan mendengar tangisan jarak jauh itu.


Lucas tak mengatakan apapun lagi, ia beranjak menarik kepala gadis itu dan langsung mendekap di dada bidang nya, tangan nya menepuk bahu gadis yang tengah menangis tersedu itu.


"Kenapa bayi cumi ini sangat cengeng? Dari siang hanya tau menangis saja..." ucap nya yang menepuk bahu gadis itu.


Anna tak mengatakan balasan apapun, memang nya ia menangis karna mau?


Ia bahkan tak tau kenapa ia menangis dan untuk apa air mata itu keluar. Ia juga tidak tau apa yang membuat nya merasa begitu kecewa.


Apa yang membuat dada nya begitu sesak sampai tak bisa bernapas dan merasakan tenggorokan yang tercekat.


Tidak adil!


Hanya itu yang ada di pikiran gadis itu, rasa iri dan sakit.


Kesepian dan takut, sesuatu yang meluap di dada nya sampai membuat nya kehabisan kata-kata.


Lucas diam tak mengatakan apapun lagi, ia tak suka sesuatu yang kotor selain darah namun saat ini air mata gadis itu membasahi kemeja nya sampai membuat kulit nya terasa.


"Padahal aku sudah bilang kalau kau cuma boleh menangis untuk ku..." gumam nya yang merasa jengkel dengan seseorang yang membuat gadis nya itu memberikan air mata.


......................


Rumah Samantha


Mr. Harris sudah mengirim putri nya untuk menginap di luar, membuat nya tak pulang malam ini karna ia ingin berbicara hal yang sensitif pada sang istri.


"Anak itu masih hidup kan?" tanya nya pada wanita yang tengah membuatkan nya teh.


Mrs. Laura tampak tersentak, ia masih tak mengerti apa yang di katakan oleh suami nya.


"Maksud kamu?" tanya nya yang masih tersenyum pada sang suami.


"Anak Lyn!" jawab pria itu dengan meninggikan suara nya.


Ia bahkan tak menyebutkan nama putri nya yang lain itu karna ia tak bisa mengingat nya. Dulu ia begitu tak peduli sampai tak mengetahui apapun tentang putri nya itu bahkan nama pun ia lupakan.


Wanita itu tersentak, ia menjatuhkan teh yang berada dalam adukan nya, air yang masih panas itu mengenai kaki nya yang mulus dan membuat lantai bening itu seketika kotor dengan air berwarna pekat dan serpihan kaca yang berserakan.


"Ka...kamu bi..bilang apa?" tanya nya lirih yang merasa takut mendengar suara sang suami yang menggelegar.


Mr. Haris mendekat ia menarik lengan sang istri dan kembali bertanya.


"Anak itu masih hidup! Aku lihat dengan mata kepala ku sendiri!" ucap nya sekali lagi yang menanyai sang istri.


Mrs. Laura menepis tangan sang suami, "Mungkin kamu salah! Dia juga mati waktu!" ucap nya yang tetap menyanggah kebenaran nya.


"Salah? Dia bahkan tau nama Lyn, dia yang bilang kalau Lyn itu ibu nya!" balas pria itu yang membuat sang istri terdiam.


"I..itu..." Mrs. Laura tak bisa mengatakan apapun. Ia tampak kaku tak bisa mencari alasan dengan cepat.


"Kenapa kau bohong? Ha?!" tanya Mr. Haris sekali lagi pada sang istri.


Merasa diri nya sudah terpojok, wanita itu pun kembali melihat ke arah suami nya.


"Kamu pikir aku begitu karna siapa? Karna kamu!" ucap nya yang menunjuk dada bidang suami nya.


"Kamu belum nikahin aku sampai Sam udah umur 10 tahun karna istri mu itu masih hidup! Aku juga butuh di nikahin! Terus kalau anak itu hidup juga kamu bisa cari alasan yang lain kan?!" ucap Mrs. Laura yang mengatakan alasan untuk membela diri nya.


"Tapi kamu harus nya tetap kasih tau aku! Lagi pula aku bakal nikahin kamu juga kan?!" balas pria itu yang memarahi sang istri.

__ADS_1


"Kasih tau? Buat apa? Kamu juga ga pernah peduli sama anak itu kan? Kamu aja ga pernah nyebut nama dia! Kamu tau memang nya nama nya siapa?" tanya Mrs. Laura yang menyindir sang suami.


Deg!


Pria itu merasakan tamparan di kata-kata sang istri, memang yang baru di ucapkan itu tak salah sama sekali.


Ia memamg tak ingat apa yang di sukai putri nya itu, bagaimana wajah nya, apa yang di katakan saat pertama kali masuk sekolah, dan kue apa yang di makan saat ulang tahun pertama nya.


Bahkan nama nya ia saja tak mengingat nya!


"Kenapa? Kamu diam? Karna yang aku bilang memang bener kan? Jangan merasa kamu yang paling benar seperti Dewa!" sambung Mrs. Laura pada sang suami.


"Kamu ini beda banget ya?! Lyn aja tidak pernah tidak pernah melawan!" ucap nya yang mengelak dan menyebutkan mantan istri nya itu.


"Kamu bandingin aku sama dia sekarang?!" tanya Mrs. Laura yang seketika terpancing emosi.


"Memang iya kan?!" balas pria itu yang gak mau kalah.


Pertengkaran terdengar kuat, semua permasalahan muncul dan memantik emosi.


Saling menyalahkan satu sama lain dan juga tak ada satupun yang mau mengalah.


......................


Mansion Damian


Gadis itu mendorong pelan pria yang kini sudah menindih nya di atas sofa.


Pipi nya terasa geli saat pria itu mengusap air mata nya menggunakan bibir nya.


"S..sir..." panggil nya lirih yang mendorong pelan.


Air mata nya telah habis, ia tak lagi kembali menangis dan mulai tenang.


"Ada apa? Sekarang kau sudah tak menangisi orang-orang tidak berguna itu lagi?" tanya nya yang perlahan bangun dan membuka kemeja nya yang basah karna air mata gadis itu.


Anna mengalihkan pandangan nya, ia diam saja dan tak ingin melihat nya. Ia bahkan sedang dalam keadaaan yang tak ingin melakukan aktivitas apapun.


"Sekarang kau-"


Greb!


"Sir!" Anna yang langsung bangun dan memeluk pria itu sebelum sempat melakukan sesuatu pada nya lagi.


Lucas terdiam, ia belum melepas kemeja nya dan masih terpasang. Tubuh kecil gadis itu memeluk nya membuat nya terdiam.


"Sa..saya tidak bisa melakukan apapun sekarang..." ucap nya lirih yang berharap pria itu mendengarkan nya sekali lagi.


Lucas melepaskan pelukan gadis itu dan menatap nya dengan datar.


Tak!


"Kau sedang memikirkan hal kotor?" tanya nya memukul kening gadis itu.


Anna memejam, ia terdiam sejenak dan tak menjawab nya.


Pria itu tersenyum simpul, ia lebih suka gadis itu memasang raut seperti ini di bandingkan raut anak anjing yang menyedihkan.


Humph!


Ia tak mengatakan apapun namun ia menautkan bibir nya dengan menghisap bibir bawah gadis itu.


"Kau mau mereka juga hancur seperti mu?" tanya nya pada gadis itu saat melepaskan ciuman nya.


Anna diam sejenak namun kemudian ia mengangguk mengindahkan ucapan dari pria itu.


"Saya juga bukan orang yang baik dan punya jiwa yang luas..." ucap nya lirih.


Jiwa yang luas dalam artian seseorang yang mudah memaafkan kesalahan orang lain.


"Tidak apa, aku lebih suka orang yang jahat dari pada orang baik..." ucap nya sembari mengusap bibir merah muda yang tampak basah akibat ciuman nya itu.


Anna tak mengatakan apapun, diam tanpa sepatah kata pun dan kali ini mata nya bisa berani menatap ke arah iris pria itu dari dekat.


"Anda juga punya mata yang cantik Sir," ucap nya yang melihat warna abu-abu yang mengkilap saat di perhatikan dari dekat dan jelas.


Lucas diam tak menanggapi gadis itu, mata nya menatap ke arah warna merah yang ranum membuat nya ingin segera memakan nya lagi.


"Kalau kau punya keluhan yang lain kau bisa adukan pada ku juga," bisik nya di telinga gadis itu.


......................


Sekolah


Samantha melihat ke arah teman nya yang tak mengambil makanan yang ia bawa.


"Ann? Masih marah yah? Maaf yah..." ucap nya yang memelas menatap teman nya yang hari ini tak ada berbicara pada nya sama sekali.


Anna masih bergeming, ia tak menunjukkan reaksi apapun.


Ia tak membenci teman nya itu namun ia merasa iri, ia iri bagaimana kehidupan kedua nya begitu berbeda seperti siang dan malam.


Ia juga tak mengatakan apapun saat pria itu mengatakan belum menemui anak sang ayah dengan wanita yang di nikahi sekarang walaupun ia tau siapa orang nya.


"Sam? Aku minta tukar duduk sama Sena, hari ini tukar nya jadi kamu mulai sekarang duduk sama dia." ucap nya yang merasa tak bisa melihat wajah teman nya itu.


Samantha tersentak, ia merasa teman nya marah karna sikap sang ayah.


"Ann! Duduk sama aku aja! Aku ga ganggu kok! Maaf Ann..." ucap nya yang memelas pada gadis itu.


Anna tak menjawab, dulu memang menyenangkan namun sekarang terasa sulit, hati nya berat dan membuat nya tak nyaman.


"Ann? Anna?" panggil nya saat teman nya itu pindah ke bangku yang berada di depan nya.


Gadis itu terdiam, ia menunduk dan merasa gelisah serta merasa bersalah atas tindakan sang ayah menampar teman nya secara tiba-tiba.


Ia tak mengetahui apapun, ia juga remaja yang hanya mengetahui apa yang di perlihatkan oleh orang dewasa di sekitar nya.


"Anna beneran marah? Gak! Dia pasti bakal baikan lagi! Nanti aku bakal bawa cake kesukaan dia!" ucap Sam yang menyemangati diri nya sendiri tanpa tau teman nya itu mengindari nya karna masalah apa.

__ADS_1


__ADS_2