Calm Down! Mr. Psycho!

Calm Down! Mr. Psycho!
My Sugar Daddy


__ADS_3

Tiga hari kemudian.


Mata biru itu menatap ke arah pria yang tengah memakan sarapan nya, sedangkan makanan di depan nya tak tersentuh sama sekali kecuali salad yang berkurang.


Setelah malam-malam datang ke kamar nya dan mengatakan suka lalu mencium nya pria itu tidur sampai pagi dan tak ingin beranjak dari pangkuan nya.


Namun setelah pagi pria itu tak lagi terlihat sampai hari ini datang dan sarapan dengan nya.


"Kenapa? Kau tidak suka makanan nya?" Lucas menghentikan makan nya dan menatap ke arah gadis itu.


Anna tersenyum dan menggeleng, ia marah atau tidak senang atau tidak yang pasti ia harus selalu menaikkan sudut bibir nya.


"A..anda sibuk belakangan ini?" tanya nya lirih.


Lucas menarik napas nya, ia memang sibuk dan sangat sibuk apa lagi kali ini ia tengah mendapat masalah yang di sebabkan kerabat nya sendiri.


"Ya, aku akan New York besok dan kembali dua Minggu lagi." jawab nya yang memang membutuhkan waktu untuk menyelesaikan pekerjaan yang lebih rumit.


Mata jernih itu membulat mendengar nya, entah mengapa ia marasa senang karena setidaknya akan terhindar dari pria yang tak bisa ia tebak itu.


"Benarkah?" tanya nya yang tanpa sadar mengulas senyum.


"Kau terlihat senang aku akan pergi?" tanya Lucas mengernyit saat melihat ekspresi yang baru dari gadis itu lagi.


"Eh?" Anna tersentak, seharusnya ia mengatur ekspresi nya lebih baik lagi.


"Sa..saya senang? Sa..saya kan sedih..." ucap nya yang langsung menunduk lesu namun mata nya tampak begitu bersemangat.


Lucas mengernyit menatap dengan tatapan tak mempercayai apa yang baru saja gadis itu katakan.


"Haruskah aku membawa mu juga?" tanya nya pada Anna.


"Tidak Sir!" jawab Anna dengan cepat seketika saat mendengar pria itu ingin ikut membawa nya.


"Kau bilang sedih kalau aku pergi tapi kenapa langsung menolak?" tanya Lucas yang langsung membuat gadis itu terdiam.


"Saya memang sangat sedih, tapi..."


"Ta..tapi kalau saya libur terus saja bisa tinggal kelas dan ti..tidak tamat..." ucap nya lirih pada pria itu mencari alasan.


"Akan ku pastikan kau tetap tamat nanti," ucap Lucas yang bisa menjamin hal tersebut karna ia mempunyai penyelesaian nya.


Yaitu uang!


Anna diam sejenak ia memutar kembali mencari alasan agar pria itu mengurungkan niat nya.


"Sa..saya merepotkan! Saya juga sebentar lagi akan ada festival dan..." ucap nya yang menciba mencari alasan.


Lucas membuang napas nya, "Katakan saja kalau kau tidak mau ikut." ucap nya sembari melanjutkan kembali makan nya.


"Memang nya saya boleh bilang langsung begitu?" celetuk Anna tanpa sadar pada pria tampan itu.


"Tidak, kau kan tidak boleh menolak ku." jawab Lucas tanpa menoleh dan tetap melihat ke arah makanan nya.


"Berarti saya akan ikut Sir?" tanya Anna lirih.


"Tidak," jawab Lucas singkat, awal nya ia memang berniat membawa gadis itu namun sejenak ia sadar jika ia pergi bukan untuk bersenang-senang melainkan karna masalah pekerjaan.


"Ha?" Anna masih loading mendengar jawaban pria itu sebelum benar-benar masuk ke kepala nya.


"Sungguh?!" tanya nya lagi dengan suara yang bersemangat.


Lucas tak menjawab namun ia menoleh ke arah gadis itu.


Seperti satu-satu nya berlian di atas tumpukan jerami, seperti itu lah bayangan gadis itu di mata nya.


Bersinar, jelas, penuh warna dan tampak hidup.


"Kau dari panti asuhan kan?" tanya Lucas setelah meminum air mineral nya.


Anna mengangguk dan meletakkan sendok nya lalu melihat ke arah pria yang berada di samping nya.


"Pernah di adopsi?" tanya nya walau sudah tau jawaban nya.


Wajah gadis itu langsung berubah, sesaat sorot dan garis wajah nya seperti berbeda orang.


"Kenapa anda bertanya hal seperti itu Sir?" wajah nya tampak tak bersemangat dan terlihat mengkerut.


"Aku bertanya lebih dulu, jadi kau harus nya hanya menjawab ku bukan kembali bertanya." ucap Lucas dengan tajam.


Anna diam sejenak, wajah nya tampak sangat tak menyukai pertanyaan tersebut tapi pada akhirnya ia tetap menjawab, "Ya, saya pernah." jawab nya lirih.


"Sekarang mana orang tua angkat mu?" tanya nya pada gadis itu.


"Saya di kembalikan dalam kurung waktu kurang dari sebulan." jawab Anna lirih.


"Kenapa?" Lucas terus bertanya.


Tak semua yang ada di atas kertas sesuai dengan cerita asli nya.

__ADS_1


Anna diam sesaat, tanpa sadar ia menunduk dan menjentikkan ibu jari serta telunjuk nya dengan kuku.


"Mereka memuku-"


"Saya tidak cacat!"


Lucas terdiam, ucapan nya terpotong begitu gadis itu mengatakan sesuatu yang membuat nya bingung.


"Aku tidak pernah bilang kalau kau cacat," ucap nya dengan heran pada gadis itu.


"Ha?" Anna tersentak, ia baru sadar jika ia tak sengaja mengatakan hal yang bodoh.


"Ma..maaf..." ucap nya lirih.


Lucas diam tak menjawab pernyataan maaf itu.


"Lain kali jawab aku dengan benar," ucap nya yang tak lagi menanyakan apapun dan mengusap bibir nya lalu berdiri.


Ia berdiri mendekat ke arah di mana gadis itu masih duduk.


Anna menengandah menatap ke arah pria yang berdiri di depan nya, mata biru gelap yang jernih itu menatap ke atas sampai membuat bayangan di iris nya.


Lucas membungkuk menatap dekat wajah yang terlihat dengan sangat jelas itu.


"Apa harus nya aku bawa kau saja?" gumam nya lirih.


"Ya, Sir?" Anna melihat ke arah pria itu dengan tubuh yang sedikit menghindar menjauh.


"Aku tidak akan bertemu wajah ini sampai dua Minggu," ucap nya mulai berubah pikiran.


"Ya?" Anna semakin bingung dengan pria yang seperti berbicara sendiri itu.


Lucas diam tak mengatakan apapun namun namun ia berdiri dengan tegak lagi. Tangan nya menyentuh dagu gadis itu dan mengusap bawah dagu nya seperti tengah mengusap kucing peliharaan.


"A..anda berarti nanti tidak akan datang di festival Sir?" tanya Anna lirih sembari membuka pembahasan.


"Kau mau aku datang?" tanya pria itu dan tetap mengusap bawah gadis itu.


"Tidak," jawab Anna tanpa sadar, "Eh? Bukan! Maksud saya kan anda bilang mau datang..." ucap nya lirih yang langsung memperbaiki ucapan nya.


Lucas tak memberikan jawaban apapun, ia hanya tersenyum tipis melihat wajah kaku yang tersenyum paksa itu.


"Pakai yang ku tinggalkan di kamar mu dan mulai sekarang akan ada yang mengantar mu ke sekolah," ucap nya sembari berbalik pergi.


"Iya?" Anna masih mematung.


Jantung nya berdegup kencang, bukan karna berdebar atas perlakuan pria itu namun berdebar karna takut akan mendapatkan hak yang sama seperti boneka sebelum nya.


......................


Sekolah


Semua mata kini semakin tertuju pada gadis yang memakai barang ternama keluaran terbaru dari mulai kaki sampai ujung rambut kecuali seragam nya.


Anna berjalan memasuki kelas nya, tatapan yang tertuju pada nya membuat nya tak nyaman.


"Tas baru lagi Ann?" tanya Samantha yang bingung melihat teman nya itu terus menerus menjadi orang kaya baru.


"Ini asli gak ya Sam?" bisik nya sembari mendekat ke arah teman nya.


Untunglah hadiah yang di berikan pria sinting itu kali normal, tentu saja!


Karna Diego yang memilih nya bukan nya ia sendiri.


"Kalau di lihat langsung asli si ini Ann, kau benar-benar tidak melakukan pekerjaan yang..." tanya Samantha menggantung.


"Apa? Jual diri?" celetuk Anna dan langsung membuat bibir teman nya tertutup rapat.


"Kalau bukan itu kau tidak menjual narkoba kan? Pengedar? Bandar?" tanya Samantha yang berbisik pada teman nya.


Ctak!


"Aduh! Sakit Ann!" keluh Samantha sembari mengusap dahi nya yang baru saja di pukul menggunakan pensil.


"Gak lah! Dari pada jadi pengedar mending yang punya ladang ganja aja!" jawab Anna pada gadis itu.


"Sama aja Ann!" ucap Samantha yang menggeleng mendengar ucapan teman nya.


"Kalau punya ladang nya berarti punya tanah nya Sam," celetuk Anna tersenyum.


Samantha hanya menggelengkan kepala nya mendengar ucapan teman nya itu.


Bel istirahat mulai berbunyi, kali ini tak ada gangguan dari kakak kelas yang tampan nan menyebalkan itu sehingga membuat kedua gadis itu bisa keluar makan siang bersama.


Bruk!


Anna terjatuh, seseorang menabrak dan menginjak kaki nya dengan sengaja.


"Maka nya lihat yang benar kalau jalan!"

__ADS_1


Ia mengernyit, seharusnya ia lah yang mengatakan demikian namun malah gadis di depan nya yang menyentak seperti tak suka.


"Sini Ann," ucap Samantha yang membantu teman nya.


Anna melihat ke arah wajah yang tak asing itu, seperti nya ia pernah melihat nya namun lupa di mana.


Anna lupa jika ia melihat nya saat tak sengaja menangkap kakak kelas nya yang tengah berbuat mes*m dengan Gevan tempo hari lalu.


"Aneh! Salah tapi malah marah!" decak Anna sembari menepuk tangan nya satu sama lain untuk membersihkan debu.


Gadis itu menatap tak suka, ia terlihat memiliki ketidakadilan yang sangat kuat.


"Kenapa? Takut yah aset nya rusak? Memang sih yang kerja nya begitu susah," ucapan yang terdengar seperti mentertawakan dengan sengaja.


Anna langsung berbalik padahal awal nya ia ingin pergi.


"Maksud nya apa?" tanya Anna yang kali ini tak terima.


Sudah ia yang di tabrak dengan sengaja, di injak kaki nya, tak ada permintaan maaf malah kini menghina nya.


"Ku dengar kau siswa bantuan dan tidak punya orang tua kan? Tapi setiap hari pakai barang bermerek." jawab nya dengan senyuman sinis, "Kau jadi simpanan kan? Orang tua yang sudah menikah? Atau yang sudah punya cucu?"


Anna membuang napas kasar mendengar nya, wajah nya berubah dengan kesal seketika mendengar nya.


Tidak tau apapun namun berbicara hal buruk tentang nya tanpa dasar.


"Ann? Pergi aja yuk?" ajak Samantha yang melihat teman nya mulai ingin melangkah maju.


Anna tak menghiraukan, ia berjalan mendekat sampai membuat kakak kelas nya yang centil itu memundur seketika.


"A..Apa?" tanya nya yang terkejut sejenak dengan wajah yang tampak suram dan tajam itu.


Anna menatap lurus namun setelah itu tersenyum seketika.


"He love me🎶🎶"


"He give me all his money🎶🎶"


"That Gucci, Prada comfy🎶🎶"


"My SUGAR DADDY!"


Anna tersenyum sembari menyanyikan potongan lagu yang membuat kakak kelas nya semakin geram terutama di akhir kata lagu yang ia nyanyikan begitu menekan kalimat nya.


"Iri ya?" tanya dengan senyuman cerah yang tampak polos pada gadis dengan wajah yang memerah karna kesal itu.


"A..apa?!" gadis itu melihat dengan wajah memerah.


Gadis di depan nya bernyanyi dengan wajah yang seakan mengejek nya.


"Ayo, Sam." Ajak Anna yang langsung menggandeng tangan teman nya yang membatu melihat nya bernyanyi dengan nada mengejek itu.


......................


Sementara itu.


JNN grup.


Uhuk!


Semua petinggi dewan perusahaan itu langsung tersentak ingin mengambilkan air untuk pria yang duduk di ujung meja memegang kekuasaan tertinggi.


"Minum nya Sir?" tanya salah seorang direktur yang duduk nya tak jauh.


"Hahaha!"


Semua yang berada di ruangan rapat yang besar dan megah itu terdiam dan saling memandang.


Tak pernah melihat wajah kaku itu tersenyum namun kini tertawa?


Siapa yang tak akan meremang takut melihat nya?!


Lucas memakai pendengar suara kecil di telinga yang lebih kecil dari ukuran airphone yang biasa ia pakai agar tak terlihat orang lain karna sedang berada di situasi formal, awal nya ia tak menyalakan nya namun karna perdebatan serta pembahasan tanpa hasil membuat nya merasa muak dan bosan sejenak sehingga ia menyalakan chip yang berada di tubuh gadis itu.


Jadi dia menganggap ku seperti itu?


Aku harus senang atau kesal?


Senyuman simpul yang naik di ujung bibir nya semakin membuat para petinggi itu kalang kabut.


"Dia tidak berniat mau membunuh kita di sini kan?" tanya salah satu direktur dengan suara kecil pada teman nya.


"Di pecat sama saja di bunuh!" sahut direktur lain nya yang merasa semakin mencekam melihat pria itu tersenyum sendiri.


"Luc?" bisik Diego sembari menyenggol lengan pria itu.


Lucas mengernyit dan menatap ke arah sekertaris nya saat ini.


"Mereka sudah tua, jangan buat jantung mereka berhenti!" ucap Diego dengan suara berbisik memperingatkan teman nya agar tak membuat para direktur itu terkena serangan jantung karna melihat diri nya yang berbeda.

__ADS_1


"Kenapa kalian tidak lanjutkan?"


Semua nya kembali diam dan senyap, sekarang atasan dengan wajah kaku itu kembali menatap dingin walaupun sebelum nya tertawa lepas.


__ADS_2