Calm Down! Mr. Psycho!

Calm Down! Mr. Psycho!
Because of you


__ADS_3

Tiga hari kemudian.


Liburan masih belum berakhir, dua hari sudah di lewati dengan mengelilingi beberapa objek tempat yang biasa di kunjungi dan hari terakhir hanya berada di dalam vila saja.


"Kau yakin tidak mau pergi kemana pun lagi?" tanya Lucas yang duduk di samping gadis itu.


Anna menggeleng, "Aku mau istirahat." jawab wanita itu tanpa menoleh ke arah pria di samping nya.


"Besok kita pulang kan?" tanya Anna yang jujur ia memang suka namun ia tak bisa berhenti untuk khawatir pada putra nya.


"Bukan nya kau mau keluar? Setelah aku membantu mu kau malah tanya kapan ingin pulang?" tanya Lucas yang mengernyit.


"Itu..."


"Ternyata menghabiskan waktu di rumah sambil nunggu kamu juga menyenangkan," jawab Anna yang bisa memikirkan jawaban dengan cepat.


Lucas diam sejenak, ia tak mengatakan apapun dan melihat ke arah wajah sang istri.


"Ke sini," ucap Lucas yang menarik tangan kecil itu seperti tengah meminta nya untuk duduk di atas pangkuan nya.


Anna menurut tanpa ada nya sedikit penolakan sedikit pun.


Ia duduk di pangkuan pria itu dan kemudian membiarkan tangan yang mengusap rambut panjang nya dengan peralatan dan kemudian menatap ke arah nya.


Anna tak berkata-kata lagi, tangan pria itu mengusap nya terus menerus dan ia pun hanya duduk dengan tenang.


"Kamu tidur?" tanya Anna yang menatap ke arah pria yang menjatuhkan kepala di pundak nya namun tangan yang besar itu masih terus mengusap kepala nya.


"Hm,"


"Seperti nya aku mudah mengantuk sekarang..." jawab Lucas lirih yang memeluk tubuh kecil sang istri.


Anna tak mengatakan apapun, ia tak tau apa itu termasuk efek dari senyawa kimia yang ia berikan dengan jumlah yang tak beraturan atau memang pria itu yang kurang tidur karena terus menganggu nya setiap malam.


"Berarti sekarang kita memang harus nya di Villa aja kan? Kan kamu sendiri juga lelah kan?" tanya Anna yang tersenyum dan kemudian bertanya.


Lucas mengangkat kepala nya, ia mencium pipi yang halus dan selalu memiliki warna yang memerah jika ada perubahan suhu lalu jika wanita itu merasa malu maka pipi itu akan lebih memerah.


"Kita di sini saja? Tanpa melalukan apapun?" tanya Lucas yang menatap ke arah wanita itu.


"Pasti kamu mikir nya yang lain kan?" tanya Anna dengan mata yang sudah dapat menyimpulkan apa yang ada di balik kepala pria berwajah dingin itu.


"Lagi pula udara nya dingin, kau tidak mau merasa hangat?" bisik pria itu yang bersikap seperti bagaimana ia yang biasa.


......................


Satu Minggu kemudian.


Mansion Damian


Anna diam melihat para dokter yang memeriksa kondisi putra nya.

__ADS_1


"Kita bisa melepas oksigen nya sekarang, kondisi nya membaik tapi kami masih belum tau kapan dia bisa bangun." ucap sang dokter setelah memeriksa tubuh mungil itu.


Anna hanya mengangguk dan kemudian menatap ke arah para tenaga medis itu kemudian melihat nya sekali lagi.


Setelah orang-orang berjas itu keluar, Anna kembali mendekat ke arah putra nya.


"Estelle? Estelle dengar Mama ya nak? Maka nya udah mulai membaik?" tanya nya dengan senyuman tipis sembari menciumi tangan mungil itu.


Tak ada respon sama sekali, jangankan memberikan tatapan.


Menatap nya saja pun tak bisa, Anna menarik napas nya yang terasa berat ketika melihat anak kecil itu.


"Mama janji bakal lindungi Estelle..."


"Estelle jangan tinggalin Mama ya?"


Wanita itu berkata sendirian, ia menatap ke arah putra nya.


"Maaf..."


"Mama ga bisa jadi orang yang baik, padahal Mama yang selalu bilang biar kamu ga bakal, tapi Mama yang nakal..."


Anna terdiam sejenak menarik napas nya yang sesak, ia terus menerus mencampurkan Etionin ke dalam minuman atau makanan sang suami.


Pikiran nya buntu dan hanya menarik cara bagaimana cara nya bisa menyelamatkan putra mungil nya yang tampan agar tetap bisa hidup.


Dan ia pun mengambil kesimpulan jika ingin bintang yang sangat ia sayangi tetap bersama nya maka ia harus menyingkirkan salah satu yang ingin meredupkan bintang nya.


"Kamu benci ya sama Mama ya? Iya..."


"Yang jadi jahat harus nya Mama aja, Estelle jangan..."


"Estelle kan anak baik Mama..."


Anna mengecup beberapa kali wajah tampan menggemaskan yang sedang tertidur itu.


Ia seperti membuat pengakuan dosa pada putra nya dan kemudian menatap putra nya dengan mata yang sayup.


"Kalau Estelle bangun, nanti Mama bakal bawa kamu ke rumah lama kita lagi, Mama bakal biarin kamu main sepuas nya di pantai..."


"Mama bakal pegang tangan kamu, kamu suka kan? Mama bakal bawa kamu pulang..." ucap nya lirih dengan senyuman tipis.


"Bukan..."


"Bukan pulang, Mama mau kita bebas..."


Suara serak yang tercekat itu terdengar sayup namun seseorang bisa mendengar nya dari segala rekaman cctv di segala arah yang juga merekam suara.


Pria itu mengetuk jemari nya di atas meja, ia melihat ke arah cctv yang berada di kamar putra nya sembari melepaskan earphone di telinga nya.


"Kebebasan?" gumam nya lirih.

__ADS_1


Lucas terdiam untuk beberapa saat dan kemudian tersenyum tipis, senyuman yang sekaan mentertawakan sesuatu.


Wanita yang bagi nya adalah segala-gala nya, ia tak peduli perasaan yang ia miliki adalah sekedar obsesi, rasa cinta, tertarik, penasaran atau kepemilikan.


Ia hanya ingin membuat gadis itu tetapi bersama nya. Berada di samping nya dan hanya memperhatikan nya.


Tak perlu memikirkan apapun, semua kebutuhan akan ia penuhi. Seperti mengisi vas cantik dan kemudian menjadi pajangan untuk menemani nya.


Salah?


Bagi nya tidak, namun ia lupa jika wanita bukan lah vas yang bisa di simpan tanpa melakukan sesiatu dan hanya tetap diam saja di jadikan 'Benda' kesayangan.


Wanita itu menginginkan pilihan dan sebuah kebebasan dalam bentuk apapun, dan ia tak bisa memberikan nya.


Rasa kepercayaan nya yang begitu minim atau mungkin minus karna ia tak mau lagi kehilangan untuk kedua kali nya.


Rasa yang memecah itu membuat nya gila, dan dari pada merasakan kegilaan seperti itu lagi ia akan lebih memilih jalan lain.


Jalan apapun asalkan wanita itu tetap bersama nya.


Benar...


Kalau kau mau kebebasan kau harus membebaskan ku lebih dulu kan?


Kau yang meminta untuk di miliki terlebih dahulu...


Kau yang pertama kali bilang kalau aku boleh terosebsi pada mu...


Kau yang membuat ku segila ini sekarang...


Entahlah...


Aku marah tapi aku aku tidak bisa memarahi mu.


Aku suka senyuman dan mata yang hanya tertuju pada ku, aku suka pernyataan cinta itu walaupun aku tau itu bukan sungguhan...


Aku juga penasaran...


Kenapa aku tetap bertahan sampai sekarang?


Karna aku egois? Atau karna aku terlalu mencintai ego ku?


Aku tidak tau...


Tidak ada kesenangan apapun ketika aku melihat seseorang yang mati di tangan ku, dan tidak ada emosi apapun yang ku rasakan.


Aku hanya penasaran dengan warna yang cantik menyala itu sama seperti warna mu...


Kalau kau berniat membunuh ku...


Lakukan saja, karna aku tidak akan berniat melepaskan mu sama sekali...

__ADS_1


*Karna itu membuat ku tau setidak nya tau kenapa dunia yang melelahkan ini bisa menjadi menyenangkan...


Dan itu karna mu*...


__ADS_2