
Langit malam yang tampak gelap namun dinding kaca yang tebal itu memperlihatkan kilauan kota dan jalan yang bersinar dengan lampu kendaraan seperti sungai cahaya.
Wanita itu berdecak, padahal sudah lewat dua Minggu namun ia masih belum bisa melupakan nya.
Rasa nya begitu kesal dan juga sedikit menyesal karna sudah hampir satu langkah lagi.
"Aroma ini wangi?" tanya nya yang menatap ke arah pria yang datang seperti tengah menyembah kaki nya.
"Ya, tentu saja..."
"Anda selalu harum nona..."
Jawab pria itu yang tampak begitu memuja wanita cantik yang masih tak bisa menghilangkan kekesalan nya.
"Seperti nya aku bukan ingin mengalahkan nya atau menjadikan nya milik ku," ucap nya yang berbicara sembari menatap ke arah pria yang tunduk dengan nya itu.
"Aku ingin memotong lidah si*lan nya itu," ucap nya yang tampak begitu kesal dan marah.
***
Flashback On
15 Hari yang lalu
Hotel
Pintu lift terbuka yang sebelum nya sudah menurunkan satu lantai dari aula yang tengah sibuk dengan pesta mewah nya.
Langkah ke empat orang itu terdengar berirama dan salah satu langkah menyeret.
Suara pintu hotel di salah satu kamar presiden suite itu terbuka, setelah dua orang pria yang membawa seseorang yang setengah sadar itu ke atas ranjang mereka pun melepaskan nya.
"Kenapa membawa mu sangat sulit?" ucap wanita itu dengan suara menghela napas nya melihat ke arah pria yang tengah setengah sadar itu.
Ia perlahan membuka gaun nya, satu lolosan dan membuat kain yang memiliki harga mahal itu jatuh ke lantai.
Tak hanya itu, ia pun juga naik ke atas ranjang, melepaskan jas berwarna hitam itu dan dasi yang mengikat di leher nya.
Jas itu tercampak ke lantai, sedangkan pria yang memiliki wajah tampan itu masih terpejam dan terkadang menatap sayup.
Humh...
Suara kecupan terdengar, tangan nya membuka satu persatu kancing kemeja putih itu dan meraba dada bidang serta perut yang berotot itu.
Tangan nya yang sudah tau dan begitu pandai membuka ikat pinggang dengan resleting itu pun bisa dengan cepat meloloskan nya.
Ini ukuran belum bangun? Gila!
Duk!
Mata coklat gelap itu tersentak seketika saat tiba-tiba pria yang berada di bawah tubuh nya itu bergerak dan mendorong nya.
"Huh..."
"Bau sekali..."
Suara gumam yang terdengar itu membuat nya tersentak dan langsung mencium aroma tubuh nya.
"Si*l!" ucap nya yang berdecak dan kemudian bangun sembari melepaskan seluruh sisa pakaian nya yang masih menempel di tubuh nya dan kemudian beranjak ke kamar mandi.
Suara pintu terdengar tertutup, shower yang menyala terdengar di dalam ruangan yang besar itu.
Mata abu-abu yang mengkilap itu terbuka dengan normal. Obat tidur yang berada di minuman nya tak akan mempan.
Karna jika ia butuh obat tidur dengan dosis lebih kuat untuk nya.
Cuih!
"Wanita si*lan! Aku benar-benar akan membunuh mu suatu saat nanti!" ucap pria tampan itu yang begitu kesal sembari mengusap bibir nya.
Ia perlahan bangun, jika saja ia masih belum pernah bersentuhan dengan seseorang seperti dulu mungkin ia akan langsung muntah saat bibir seksi itu mel*mat nya.
Namun ia bisa tahan bahkan sampai ketika tubuh nya di raba dan tak bisa menangani nya lagi begitu tangan wanita itu menyentuh lampu gantung ajaib milik nya.
Pria itu tak membereskan pakaian nya lebih dulu, karna di bandingkan itu ia harus mencari sesuatu yang ia butuhkan karna itu adalah alasan mengapa ia bisa mengikuti permainan wanita itu.
Langkah nya berjalan dan mencari tas yang berada di ruangan itu.
Namun bukan tas yang ia cari karna yang ia inginkan adalah ponsel yang harus nya selalu di bawa oleh wanita itu.
"Sandi si*lan," gumam nya yang kemudian mengambil chip di salah satu saku celana nya.
Chip yang berfungsi untuk dapat meretas sesuatu yang di tanamkan di dalam nya.
Pria itu melirik sesekali pada pintu yang masih tertutup rapat itu dengan suara guyuran air yang masih terdengar.
Ia memindahkan semua data nya, dan tentu butuh waktu untuk itu.
Pemindahan kini sudah mendekati 100 % dan ia tentu harus segera membuat ponsel itu seperti bentuk yang sebelum nya.
Lingkaran itu telah penuh, semua data telah terjalin bahkan untuk bagian yang sangat kecil.
Ia kembali meletakkan nya seperti semula dan mengembalikan tampilan yang sebelum nya dari ponsel wanita itu.
Dan tentu kali ini ia baru bisa kembali memperbaiki pakaian dalam artian merapikan kembali seperti tali pinggang, resleting, dan kemeja.
Suara guyuran air kini berhenti setelah beberapa detik ia mengembalikan ponsel itu seperti semula.
"Anna?"
Dahi nya mengernyit, ia mendengar suara yang memanggil nama yang begitu ia kenali hingga membuat nya berbalik menatap ke arah gadis yang mematung itu.
Flashback off
***
Prang!
Wanita cantik dengan mata yang tajam itu berdecak, tak pernah seseorang pun menghina nya sejauh itu.
Dan tentu semakin harga diri nya di jatuhkan semakin keras dan semakin besar juga rasa ingin memiliki nya.
......................
Mansion Damian
Laser merah itu, datang menyinari titik luka sehingga membuat nya menutup kembali.
Gadis itu tak mengatakan apapun, ia tak meringis atau pun tak merasa takut dengan tatapan intimidasi dari seseorang itu.
"Sudah selesai nona," Ucap sang dokter yang kemudian membereskan alat-alat nya dan kemudian pergi.
Lucas tak mengatakan apapun untuk beberapa saat sampai ia sudah merasa hanya tinggal ia dan gadis nya.
"Apa maksud nya tadi? Berani sekali kau membuang milik ku sesuka hati mu?" tanya pria itu sembari menarik dagu gadis yang masih duduk di atas sofa itu sedangkan ia berdiri.
"Milik mu? Apa yang ku buang?" tanya Anna yang tampak tak mengerti sembari melihat ke arah yang tampak marah walau pun wajah nya masih terlihat dingin dan datar itu.
"Darah, darah mu itu milik ku. Mau kau menangis, terluka atau mati sekalipun aku yang menentukan!" ucap nya yang tak terima dengan apa yang di lakukan oleh gadis itu.
Bagi nya Anna sengaja, karna tak mungkin seseorang sampai tak menyadari hampir memotong tangan nya sendiri saat sedang membelah roti.
Anna tak mengatakan apapun, tatapan nya tampak gemetar dan gelisah lalu membuat nya menurunkan pandangan nya.
__ADS_1
Tak ada lagi gadis berani yang selalu mencoba bertahan hidup itu karna kini ia bahkan tak tau jika ia masih hidup atau tidak.
"Luc..." panggil nya lirih dengan gelombang suara yang gemetar.
Tangan nya yang kecil itu meraih jari kelingking pria yang berada di depan nya.
"Nikahi aku..."
"Aku tidak tahan dengan berita tentang mu dan Lucy..."
Lucas diam sejenak, jujur ia merasa senang dengan permintaan yang terdengar seperti ucapan penyambung nyawa itu.
"Tentu, aku akan melakukan nya tapi tidak sekarang." jawab pria itu yang tentu masih memiliki pertimbangan lain.
Setidak nya sekarang ia tak bisa melakukan apapun pada wanita itu karna masih ada proyek yang menyangkut dengan nya.
Jika sesuatu terjadi pada Luciana dengan keterlibatan nya maka ia akan mengalami kerugian besar.
Bukan jutaan dollar namun mungkin miliaran dollar, karna resiko sebanding dengan keuntungan.
Maka dari itu baik Luciana mau pun diri nya sama-sama tak bisa menyerang satu sama lain untuk sementara waktu.
Dan alasan yang membuat nya diam bahkan setelah saham nya di curi, berita skandal serta malam yang membuat nya sangat jengah tentu ketika pikiran rasional untuk perusahaan nya masih berjalan.
Anna terdiam sejenak, kalau bilang sekarang kapan?
Apa pria itu berniat menikahi wanita cantik itu lebih dulu dan kemudian menjadikan nya simpanan?
Menjadi predikat wanita yang sangat ia benci!
"Kapan? Kamu punya niat jadiin aku simpanan? Selingkuhan mu? Begitu?" tanya Anna dengan suara yang gemetar.
"Selingkuh apa? Aku saja tidak punya hubungan dengan wanita lain, bagaimana kau bisa jadi selingkuhan?" tanya Lucas yang tampak tak mengerti dengan jalan pikiran gadis itu.
Anna tak mengatakan apapun, ia diam dan hanya menatap dengan iris nya yang melihat lirih ke arah pria itu.
"Sekali aja, kamu bisa pilih aku dulu? Dari pada perusahaan kamu, saham kamu!" ucap nya yang mulai menuntut walau pun ia tak mengerti apapun tentang bisnis.
"Aku pilih kedua nya, tanpa kekayaan dan kekuasaan yang ku miliki, kau pasti tak akan bisa tetap di sini kan?" tanya nya dengan tatapan tajam yang seakan menggores gadis itu.
Anna tak mengatakan apapun lagi, ia melepaskan genggaman nya.
Rasa cemas dan gelisah semakin menyelimuti nya. Bahkan mungkin rambut nya mulai rontok walau pun ia tak menjalani kemoterapi seperti dulu.
Semua makanan yang masuk ke mulut nya terasa hambar dan ia yang sering tersentak serta terbangun setiap malam karna mimpi buruk.
"Kau sedang datang bulan kan? Tidurlah lebih awal." ucap Lucas sembari meninggalkan gadis itu sendirian.
......................
JNN grup
Siang itu rapat yang melelahkan telah usai, dokumen yang bertumpuk meminta di periksa pun sedang menunggu di atas meja kerja pria itu.
"Kau mau membawa dia makan siang lagi?" tanya Lucas yang menatap ke arah sepupu nya dengan tatapan curiga.
"Ya, kalau kau tidak mau menganggap nya sebagai adik mu aku yang akan menganggap nya sebagai adik ku." jawab Diego yang berusaha mendapat kan izin.
Memang ia bisa melakukan nya diam-diam, namun untuk masalah seperti ini lebih baik pria itu tau karna ia harus rutin melakukan nya.
Dan tentu hal itu bukan makan siang biasa karna ia mencoba menjalani konseling untuk kejiwaan gadis itu secara perlahan dan tanpa di ketahui oleh sepupu nya.
"Dia bukan adik mu dan aku juga tidak tau apa kau punya ketertarikan se***al atau tidak dengan nya, kau masih pria normal." ucap Lucas yang dengan gamblang menunjukan ketidakpercayaan nya.
"Kau tau aku tidak punya ketertarikan seperti itu pada nya kan? Lagi pula aku ingin menyemangati nya karna berita mu tentang Luciana yang semakin menjadi." ucap nya yang berdalih dengan kebenaran.
Lucas diam sejenak, memang beberapa waktu terakhir gadis nya begitu gelisah dengan berita yang menyebar tentang nya.
"Lakukan, tapi setiap kali kau bersama nya sambungkan pada ku. Aku akan dengar pembicaraan kalian." ucap Lucas yang tak bisa mempercayai penuh sepupu nya yang bahkan pernah hampir mati di tangan nya itu.
......................
Universitas.
"Pelajaran tadi membosankan, iya kan?" tanya Gevan yang membuka pembicaraan.
"Iya..." jawab Anna lirih dengan nada yang singkat.
"Kau juga tidak suka mata kuliah nya?" tanya Gevan yang terus mencoba mengajak bicara.
"Iya..." jawab Anna yang masih sama.
"Apa kita nanti jangan mengambil kelas dia lagi?" tanya Gevan yang menatap ke arah gadis itu.
"Iya..." jawaban yang seperti kaset berulang itu terus terdengar.
"Kau tidak mendengarkan ku?" tanya Gevan yang menatap dengan mengerutkan dahi nya.
"Iya..." jawab Anna yang seperti Copy Paste.
Gevan kehilangan kata-kata, gadis itu tampak tenggelam dalam lamunan nya.
"Kantin yuk? Aku yang nanti gila duluan karna bicara dengan mu," ucap nya yang kemudian menarik tangan gadis itu.
"Iya..." jawab Anna yang masih sama.
Gevan menarik napas nya, saat mendengar jawaban yang tetap sama itu.
"Kalau begitu mau jadi pacar ku?" tanya nya iseng karna gadis itu selalu menjawab 'Iya' dan kalau jawaban nya tetap sama tentu hal itu adalah keberkahan.
"Tidak..." jawab Anna yang kali ini menjawab dengan benar.
Gevan menarik napas nya dan menatap kesal, "Iya seperti nya aku akan kesurupan sebentar lagi, mungkin akan ada pengusiran setan untuk ku nanti." ucap nya yang mengatakan kalimat ganti sebagai perwujudan dari rasa kesal nya.
......................
Skip
Restoran
Kali ini wanita ramah yang melakukan pembicaraan dengan nya sebelum nya datang lagi.
Wanita itu terus berusaha untuk mendapatkan respon nya namun ia masih begitu datar dan tak menganggap nya.
Tentu hal itu masih belum terlalu berpengaruh karena baru saja mengalami satu konseling dan ini juga baru kedua kali nya.
Wajah cantik itu masih diam tak mengatakan apapun atau merespon nya.
Ia mulai gelisah lagi, dan kali menelpon pria yang membawa nya ke tempat itu berulang kali.
Bukan karna merasa tak nyaman namun ia merasa takut untuk bersama seseorang yang tak ia kenali.
"Aku lama tadi?" tanya Diego yang datang dengan senyuman seperti biasa.
"Ya, anda lama sekali Sir." jawab Anna yang mengatakan sesuai dengan apa yang ia rasakan.
......................
Satu Minggu kemudian.
Lagi-lagi hubungan yang sebatas bisnis merepotkan karna sudah terlanjur memasukan dana yang banyak membuat pria itu kembali bertemu dengan wanita di depan nya setelah hampir satu bulan sejak kejadian terakhir.
__ADS_1
"Kau melihat ku seperti seorang penjahat," ucap Luciana yang memainkan gelas nya.
Jujur saja ia juga merasa geram dengan pria itu namun tentu ia tak bisa melakukan sesuatu yang banyak karna keuntungan dan kerugian nya nya juga mengikat miliaran dollar.
"Kalau begitu aku akan meminta maaf," ucap nya yang menatap ke arah wanita itu.
"Tapi kau mitra yang sangat merepotkan," sambung Lucas yang mengatakan suatu kesalahan nya.
"Lalu kau berpikir kau mitra yang menyenangkan?" balas Luciana yang juga menyindir pria itu.
Lucas tak menjawab lagi namun ia menatap dengan tatapan tajam pada wanita yang begitu membuat nya jengah.
Setelah produk itu keluar aku akan membunuh mu.
Pria itu tentu tak bisa mengatakan nya secara langsung.
Luciana pun meletakan gelas white wine nya dan mulai melakukan pembicaraan yang hanya sebatas tentang bisnis itu.
Setelah peluncuran aku akan membuat mu menjadi anj*ng!
Mata yang tampak tajam itu berulang kali melirik seperti menatap dengan makian yang tersimpan.
......................
Tiga Minggu kemudian.
Perut gadis itu terasa begitu bergejolak, semua aroma semakin sensitif untuk nya.
Hoek!
Kali ini ia tak bisa menahan rasa mual nya untuk makanan yang akan masuk ke dalam mulut nya.
Lucas mengentikan sendok nya ia menatap ke arah gadis nya yang terus seperti itu sejak beberapa hari terakhir.
"Siang nanti aku akan panggil dokter," ucap nya yang menatap ke arah wajah cantik yang menutup mulut nya itu.
Anna menggeleng, mau dokter atau apapun ia tak ingin ada yang memeriksa tubuh nya.
Rasa nya jengah saat ada yang menyentuh nya, stetoskop dingin yang mendarat di atas permukaan kulit nya membuat nya trauma.
"Ma.. maaf..." ucap nya lirih yang kemudian menahan rasa mual yang sangat merajalela itu dan tetap memaksa agar bisa menghabiskan makanan nya.
Lucas tak mengatakan apapun, ia tak menjawab atau pun menyanggah.
...
Pukul 08.46 pm
Pria itu memperhatikan gadis di depan nya yang terus menerus tampak berbeda itu.
"Kenapa kau terus muntah? Seperti nya juga berat tubuh mu berkurang." ucap nya yang menatap ke arah gadis itu.
Tentu saja bobot tubuh gadis itu menurun, jika ia saja terus menerus mengalami tekanan mental tanpa ia sadari.
Anna menghentikan langkah nya, ia menatap dan menoleh ke arah pria itu.
"Benarkah?" tanya nya yang tak sadar dengan kondisi tubuh nya sendiri.
"Ke sini," ucap Lucas yang mengisyaratkan agar gadis itu mendekat pada nya yang tengah duduk di sofa tunggal itu seperti raja.
Greb!
Tangan nya langsung menarik gadis itu hingga jatuh ke pangkuan nya. Anna tak mengatakan apapun atau menolak nya.
Ia tak tau lagi apa yang harus ia lakukan atau katakan selain menurut.
"Benarkan? Kau kehilangan berat tubuh mu, makan lah penuh banyak nanti." ucap Lucas yang mengecup lengkung leher yang bagi nya selaku memiliki wangi yang khas.
Anna tak menunjukkan penolakan, ia membiarkan pria itu menjamah nya sesuka hati.
Entahlah, mungkin karna sekarang ia sudah tak tau lagi bagaimana cara nya mencintai diri nya sendiri?
Sampai pria itu mengigit telinga nya dengan gemas dan membuat nya meringis.
"Luc..."
"Sakit..."
Ucap gadis itu sembari memegang telinga nya dengan tangan untuk memastikan apa telinga itu masih ada atau tidak.
Lucas diam sejenak, siluet wajah gadis itu dari samping begitu cantik di mata nya.
Ia pun menarik tangan yang sedang memegang telinga itu dan langsung mengecupi bibir merah muda yang ranum itu.
......................
Universitas.
Bruk!
Mentari yang cerah dan cahaya hangat cenderung panas itu membuat seorang gadis kehilangan kesadaran nya.
Dan tentu tubuh nya langsung di bawa ke rumah sakit kampus yang masih berada di wilayah yang besar itu.
"Anna!"
"Anna!"
Suara yang terdengar samar itu masih masuk ke telinga nya namun gadis itu tak memiliki kekuatan untuk menjawab sedikit pun.
...
Skip
Mata biru itu langsung membulat sejenak, bukan fokus tentang masalah kesehatan nya yang membuat nya terkejut namun tentang hasil tes lain yang membuat nya ingin pingsan lagi bahkan setelah ia sadar.
"Hamil?" gumam nya lirih.
"Ya, kau ham-"
"Aku punya bayi?" potong Anna sekali lagi tanpa membiarkan pria yang membawa dan menunggu nya itu selesai bicara.
Senyuman tanpa sadar terukir di wajah nya, ia senang dengan kehadiran makhluk yang berada di dalam tubuh nya.
Gevan tak mengatakan apapun, awal nya gadis itu begitu terkejut namun setelah nya tersenyum begitu cerah.
Senyuman yang keluar lagi setelah sekian lama wajah cantik itu tampak datar.
"Tapi apa pria itu juga senang dengan kehamilan mu?" tanya Gevan tanpa sadar saat mulut nya duluan bergerak dari pada otak nya.
Anna terdiam sesaat, jika pria itu sungguh ingin menikahi nya maka tak masalah kan?
"Tidak, dia juga pasti akan senang..." jawab Anna dengan bergumam suara kecil yang membuat apa yang ia katakan tak begitu jelas terdengar.
Alasan nya untuk kembali hidup seperti mulai tumbuh sekali lagi, ia yakin dengan ada nya anak yang berada di dalam perut nya pria itu pasti setidaknya akan memilih nya kali ini di bandingkan saham yang tak ia mengerti itu.
Tapi ia masih belum tau jika mungkin harapan nya itu akan hancur.
Mengharapkan rasa senang dari seseorang yang tidak ingin memiliki keturunan?
__ADS_1
Bukan belum siap melainkan tidak mau!
Tentu kedua nya sangat berbeda bukan?