
Mansion Damian
Gadis itu tersenyum kecil di depan cermin, memang usia nya masih tergolong muda, di usia yang 20 ia di nyatakan positif hamil namun hal itu tak membuat nya sedih sama sekali.
Memang ia tak tau apa yang terjadi namun setidak nya ia bisa melakukan apa yang dulu ia impikan.
Memiliki kelurga sendiri, punya suami, memiliki anak.
Memang terdengar sederhana dan remeh namun ia tak pernah memiliki nya dulu. Ia bahkan tak tau definisi keluarga yang ia tau seperti apa.
"Apa nanti dia akan senang? Senang kan?" gumam nya yang memegang perut ramping nya dan tak sabar ingin memberi tau pria itu.
Ting!
Ponsel nya berbunyi, langkah nya pun langsung mendekat dan mencari ke arah ponsel nya.
Aku akan ke New York malam ini, ada urusan mendesak. Akan ku usahakan pulang secepat nya.
Anna terdiam, senyuman nya hilang dan runtuh perlahan namun ia tau jika hal itu tak bisa ia hindari.
Tangan nya bergerak dan menuliskan kalimat balasan.
Iya! Hati-hati ^^
Balas nya singkat pada pria itu dan kemudian meletakkan lagi ponsel nya.
"Benar, kan bisa bilang nya nanti." ucap nya yang menarik napas nya.
Wajah nya menunduk menatap ke arah perut ramping nya.
"Sabar yah di dalam nanti aku bakalan kasih tau Papa kamu!" ucap Anna yang terus mengusap perut rata nya.
......................
Skip
New York
Hotel
"Besok siapkan rapat dan susun tim hukum untuk itu," perintah pria tampan itu pada seseorang yang mengikutinya.
Pria itu keluar dan kini hanya tinggal ia sendiri yang berada di kamar hotel itu.
"Berani sekali orang-orang si*lan itu!" ucap Lucas yang membuang napas nya kasar.
Chip yang di tanamkan ke dalam tubuh itu sudah di modifikasi sekarang dan tentu banyak perubahan serta perkembangan sejak ia menanamkan nya pada subjek hidup.
Tapi sekarang?
Ketika peluncuran chip itu sudah keluar dan berjalan satu tahun ternyata ada yang mencoba mengklaimnya dan menyatakan plagiat padanya yang mengeluarkan lebih dulu.
Tentu nya ia langsung mengurus semua tim hukum nya untuk melegalisasi kembali.
Lucas menarik napasnya, ia melihat ke arah ponsel nya, ia ingin menelpon namun ada perbedaan waktu antara tempat yang ia miliki dengan tempat gadisnya.
"Hah..."
"Ku rasa tidur ku tidak akan nyenyak kali ini..."
......................
Universitas.
Pria itu menghentikan langkah nya, hari ini tak ada jadwal kelas yang sama jadi ia hanya bisa melihat nya tanpa duduk bersebelahan di kelas.
Ia menarik napas nya sejenak dan kemudian kembali melangkah mendekat.
"Ann?" panggil nya yang kemudian menepuk punggung gadis itu.
Anna menoleh, "Ya?" jawab gadis itu dengan raut wajah yang sedikit lebih baik.
"Kau sudah beri tau dia?" tanya Gevan yang beranjak duduk di sebelah gadis itu.
Anna menggeleng mendengar nya, ia mengayunkan kaki nya yang menggantung karna tempat duduk nya lebih tinggi.
"Dia pergi ke New York semalam, kata nya ada urusan mendesak." ucap nya pada pria itu.
"Begitu..." Gevan menjawab lirih mendengar nya.
Hari itu sebelum Anna sadar ia berulang kali berpikir tentang bagaimana reaksi gadis itu saat mengetahui kehamilan nya.
Dan ternyata?
Gadis itu merasa senang namun entah mengapa ia sedikit merasa kecewa.
"Tapi kenapa kau masih kecil saja?" tanya Gevan yang berbicara dengan nada yang gaya yang seperti biasa ia lakukan.
"Apa?" tanya Anna yang tampak bingung.
"Kau, setidak nya kau harus makan lebih banyak atau pun menambah vitamin kan? Jangan bilang kau tidak tau." ucap Gevan pada gadis itu.
Anna terdiam namun ia memang tak tau apa yang harus di lakukan saat hamil dan apa yang tidak boleh di lakukan.
"Aku sedikit sulit untuk makan, tapi aku nanti akan mencoba menambah makanan ku." ucap Anna yang masih tak memiliki selera apapun.
"Kau juga harus cek rutin," ucap Gevan sekali lagi.
"Cek rutin? Apa itu sangat penting?" Anna yang tak begitu menyukai pemeriksaan tentu tak bisa menerima nya begitu saja.
"Tentu, kalau kau mau bayi mu sehat." jawab Gevan pada gadis itu.
Mata biru itu berkedip, bibir nya tersenyum tipis mendengar kata 'Bayi mu' tangan nya kembali mengusap perut rata nya.
"Iya, Bayi ku..." ulang Anna lirih dengan senyuman tipis.
Ia seperti memiliki sesuatu yang hanya untuk nya dan seseorang yang tidak akan berkhianat pada nya.
Gevan diam tak mengatakan apapun, ia tak bisa membatah atau pun mengatakan sesuatu yang sebenernya ingin ia katakan.
......................
4 Hari kemudian
Mansion Damian.
Pluk!
Lucas terkejut, begitu ia datang gadis nya langsung mendekat dan secepat kilat memeluk nya dengan erat.
Ia tak mengatakan apapun melainkan memberikan balasan dengan memeluk tubuh kecil itu dengan erat sembari mengesap aroma tubuh yang membuat nya rindu.
"Gimana urusan nya? Sekarang kamu ga akan pergi lagi kan?" tanya Anna yang melepaskan pelukan nya dan menatap ke arah pria yang mengusap anak rambut di kepala nya dengan lembut.
"Lain kali aku akan membawa mu kalau pergi," ucap Lucas yang memeluk gadis itu sekali lagi.
Anna tersenyum tipis, ia tak sabar untuk memberi tau pria itu tentang kehamilan nya.
"Luc?" panggil nya lirih yang menatap ke arah pria itu sembari sesekali membuang pandangan nya pada dada bidang yang keras di balik kemeja rapi itu.
Lucas tak menjawab namun ia menatap ke arah gadis itu sembari menunggu apa yang ingin di katakan.
"Kita akan menikah kan?" tanya Anna dengan senyuman tipis yang selalu menuntut jawaban dari pria itu.
Lucas mengangguk kecil, "Ya. Tentu saja," jawab nya sembari mengusap sirau yang halus itu.
Anna masih tersenyum mendengar nya, "Kalau begitu nanti kita punya anak berapa? Satu dua? Aku mau punya tiga! Biar rame!" ucap gadis itu bersemangat.
Wajah pria itu langsung berubah begitu mendengar kata anak karna ia memang tak berniat ingin memiliki nya.
"Anna? Ku rasa aku belum bilang ini pada mu," ucap nya yang menatap mata yang bersinar itu.
"Ya?" Anna masih menengandah sembari menatap ke arah pria itu.
"Aku tidak mau punya anak," ucap nya pada gadis itu.
Deg!
__ADS_1
Gadis itu langsung tersentak mendengar nya, senyuman nya runtuh seketika saat pria itu bicara.
"Kenapa? Kamu bilang mau nikahin aku?" tanya nya yang menatap dan memegang tangan pria itu.
"Aku mau menikah, bukan memiliki anak." ucap Lucas pada gadis itu dengan nada tegas.
"Kenapa? Alasan nya?" tanya Anna yang menatap ke arah pria itu dengan mengerutkan dahi nya tak mengerti.
Harus nya jika pria itu mencintai nya maka tak akan masalah kan?
"Alasan nya karna aku tidak mau, apa aku perlu menjelaskan apapun pada mu?" tanya Lucas yang tidak suka jika keputusan nya di pertanyakan.
"Walaupun anak nya dari aku? Kamu bilang kamu cinta aku?" tanya Anna sekali lagi.
"Aku hanya mencintai mu tapi tidak dengan anak mu," ucap nya yang menatap dengan mata kukuh yang tak goyah.
"Anak ku? Hanya anak ku? Kalau aku punya anak kan berarti juga anak mu, aku buat nya ga sendirian..." ucap Anna lirih dengan raut wajah yang tak berseri seperti sebelum nya.
Lucas tak menjawab hal itu, ia tak ingin memiliki anak dan keputusan nya itu adalah hal yang mutlak.
"Kenapa kau tanya hal seperti itu? Kau hamil?" tanya Lucas dengan mengernyitkan dahi nya.
Memang sekarang ia melakukan hubungan yang terkadang menggunakan pengaman dan terkadang tidak namun ia tetap memberikan pil pencegah kehamilan untuk gadis itu.
"Kalau aku hamil?" tanya Anna yang menatap ke arah pria itu.
"Gugurkan," jawab nya singkat dengan datar.
Deg!
Bagai petir di lautan cerah, jawaban itu langsung menyambar dan membuat gadis itu kehilangan kata-kata nya untuk sesaat.
"A.. Apa?" tanya Anna dengan terbata yang tak bisa mencerna ucapan pria itu.
"Gugurkan anak itu, aku bilang aku tidak menginginkan nya kan?" ucap Lucas sekali lagi dengan mempertegas apa yang ia katakan.
"Walaupun anak kamu sendiri? Kamu mau bunuh anak kamu sendiri?" tanya Anna yang tak percaya mendengar nya.
"Lalu aku harus membunuh nya setelah lahir? Bukan nya dia akan menyusahkan mu selama 9 bulan kalau dia berada di tubuh mu?" ucap pria itu yang tampak begitu kukuh dengan pendirian.
Anna terdiam, wajah nya begitu terkejut mendengar nya. Apapun alasan nya ia tak bisa mengerti.
Bukan nya orang-orang berpengaruh seperti itu menginginkan keturunan untuk meneruskan garis nama?
"Kenapa kau sangat aneh? Bertanya tentang hal seperti itu?" tanya Lucas dengan mengernyitkan dahi nya.
Tangan nya beranjak memegang kedua sisi bahu gadis itu dan menatap nya dengan dalam.
"Jangan bilang kau-"
"Tidak! Aku hanya..."
"Memimpikan hal seperti itu dan ku rasa..."
Anna langsung memotong ucapan Lucas bahkan sebelum pria itu menyelesaikan kalimat nya.
Tanpa sadar ia berbohong, bibir nya tak bisa mengatakan kondisi nya saat ini.
"Kamu pasti lelah kan? Ka.. kamu bisa istirahat dulu," ucap Anna yang kemudian berbalik dan pergi lebih dulu.
Ia mencoba menahan tangis nya, dan tentu ia pergi ke kamar mandi untuk melepaskan suara kesedihan nya itu.
Kran air dan shower ia nyalakan, terdengar guyuran air yang deras jatuh ke lantai namun tak membasahi siapapun.
"Heuk!"
"Hiks..."
Tubuh nya gemetar, percakapan tadi sangat sensitif untuk nya hingga membuat nya terus menitihkan air mata.
Cermin yang besar dan jernih itu memantulkan bayangan nya, jiwa yang rapuh dengan hati yang sensitif.
Padahal sedikit cahaya itu baru datang dan sekarang ia semakin jatuh dengan rasa depresi yang menumpuk.
Wajah nya tampak sembab, mata nya memerah dan memang tubuh nya tampak lebih ramping karna bobot yang berkurang.
Cermin itu memantulkan semua kondisi nya, "Monster..." gumam nya lirih.
PRANG!!!
Semua berhamburan, mata nya memejam secara refleks agar serpihan kaca yang kecil itu tak mengenai iris nya.
"Anna!"
Suara pria itu memanggil dari luar, gebrakan pintu terdengar mencoba untuk masuk setelah kegaduhan yang ia buat.
Mata biru menoleh, ia menatap ke arah pintu yang tengah bergetar saat seseorang mencoba masuk dengan paksa.
Bagian dalam diri nya telah retak, sesuatu yang hancur itu pun di berikan sedikit perekat dan kemudian di hancurkan lagi.
Kenapa sangat sulit untuk mempertahankan kewarasan?
Padahal ia tadi baik-baik saja, saat di kampus, saat berbicara dan bahkan belum ada satu jam?!
Gadis itu diam, ia menatap ke arah serpihan kaca yang tajam itu. Tak ada niatan untuk mencoba membunuh diri nya sendiri, tapi?!
Brak!
Pria itu tersentak, begitu pintu itu terbuka kaki nya langsung secepat kilat datang dan meraih tangan gadis itu yang tengah memegang ujung cermin yang tajam dan kemudian mengarahkan pada nya.
Plak!
Satu tamparan keras melayang di pipi yang masih tampak bulat walaupun berat tubuh nya sudah turun.
Mata pria itu tampak murka, padahal beberapa waktu yang lalu ia senang melihat gadis nya yang tiba-tiba memeluk nya.
Ia melempar serpihan kaca yang berhasil ia rebut, ujung bibir gadis itu tampak terluka.
Darah segar mengalir secara perlahan, namun tak ada yang di ucapkan.
"Kau ini kenapa? Mau mati? Otak mu sudah hilang?!" ucap pria itu yang tampak begitu murka.
Di pandangan nya gadis itu seperti terlihat ingin membunuh diri nya sendiri dan tentu hal itu membuat nya semakin marah.
Hening...
Masih tak ada jawaban, pria itu mengernyitkan dahi nya melihat gadis di depan nya tampak begitu tenang.
Seluruh tubuh nya tampak diam, tak ada suara tangisan atau keberatan atas pukulan nya.
"Mata..." gumam gadis itu lirih sembari memegang tangan pria di depan nya.
Lucas tampak bingung, gadis itu bergumam sesuatu yang tak bisa ia dengar sama sekali.
"Aku lapar, apa kita bisa makan malam di luar?" tanya Anna yang menengandah melihat ke arah pria di depan nya.
Lucas tak mengatakan apapun, tampak jelas netra yang bingung itu melihat ke arah gadis yang menengandah ke arah nya dengan ujung bibir yang tampak pecah karena tamparan nya dan wajah yang tampak sembab karna tangisan.
"Hah..." Lucas membuang napas nya, ia merasa seperti nya gadis itu ingin bermain-main dengan nya.
Greb!
Ukh!
Anna tersentak, siapa yang tidak? Jika seseorang meletakan tangan di leher nya.
"Jangan mencoba bermain hal yang seperti ini lagi. Ini peringatan terakhir! Kalau kau sangat ingin merasakan sakit aku bisa memberikan 100 kali lipat!" bisik nya dengan suara yang lembut namun begitu menekan sembari mencekik gadis itu.
Ia merasa marah, harus nya yang bisa melukai gadis itu hanya diri nya.
Karna gadis itu milik nya!
"Uhuk!"
Anna tak bisa menjawab, wajah yang tadi memerah kini tampak membiru saat leher jenjang nya di cekik.
......................
__ADS_1
Dua hari kemudian
Universitas.
Setelah di jemput dari kampus kini gadis itu berada di dalam mobil.
Gadis itu diam, tak mengatakan apapun mobik yang ia tumpangi saat ini sedang menuju pulang sampai mata biru nya menatap ke arah rumah sakit yang ia lewati.
Pemeriksaan? Tapi anak ini...
"Akh! He.. hentikan mobil nya! Kepala ku tiba-tiba sakit!" ucap nya pada sang supir.
Supir yang membawa mobil pun langsung berhenti dan kemudian dan menatap ke arah gadis itu.
"Anda baik-baik saja nona?" tanyanya yang menatap ke arah gadis itu.
"Rumah sakit!" ucap Anna yang meminta pria itu untuk putar balik.
......................
Skip
Mansion Damian.
Gadis itu kini tampak tenang, tadi ia sudah berhasil kabur ke bagian dokter kandungan dan mendaftarkan nama nya untuk jadwal pemeriksaan.
Identitas?
Tentu ia berbohong untuk itu walau sangat sulit untuk meyakinkan staf admistrasi karna ia tak bisa menunjukkan kartu identitas sampai uang yang berbicara dengan cara menyogok beberapa staf untuk mendaftarkan nama nya dan membuat jadwal dengan dokter kandungan.
Hanya saja tinggal bagaimana cara nya ia untuk datang sekali lagi ke sana.
"Ku dengar tadi kepala mu sakit? Sampai di bawa ke IGD." ucap Lucas yang menatap ke arah gadis itu.
"Iya," jawab nya lirih dengan gugup.
"Aku akan kirim dokter untuk mu," ucap Lucas sekali lagi.
"Tidak perlu! Mereka bilang kepala ku sakit karna kurang tidur, ja.. jadi malam ini biarkan aku tidur..." ucap Anna yang tampak gugup karna takut ketahuan.
Sikap aneh yang terus menerus berubah-ubah, Pria itu tak mengatakan apapun dan hanya menghela napas nya.
Anna membuang napas lega, saat pria itu pergi tanpa mengatakan apapun.
......................
Rumah Sakit
4 Hari kemudian.
Kali ini pun gadis itu berhasil lolos untuk sesaat dari supir yang selalu mengikuti nya itu.
Dan beruntung memang hanya satu, tapi ia tak bisa mencoba kabur karena untuk kabur sendiri harus di iringi dengan niat dan akal sehat yang masih waras.
"Usia janin anda masih 4 Minggu, masih belum di temukan masalah apapun dengan itu tapi ada sedikit masalah dengan anda yang bisa mempengaruhi janin." ucap sang dokter setelah melihat hasil tes darah.
"Anemia dan juga kurang gizi? Nilai trombosit juga rendah." ucap sang dokter sekali lagi yang melihat ke arah laporan nya.
"Lalu saya harus apa?" tanya Anna yang memang tak tau apapun.
Sang dokter pun mulai menjelaskan apa yang boleh ia lakukan dan yang tak boleh ia lakukan.
Anna mempercepat pemeriksaan dan konsultasi nya karna ia tau supir yang tampak seperti orang biasa itu akan cepat menemukan nya.
Dan benar saja!
"Nona!"
Suara itu memanggil bahkan ketika ia baru saja keluar ruangan.
"Kenapa anda bisa di sini?" tanya pria itu yang tampak mencari ke sana dan kemari.
"Aku tersesat," ucap nya sebagai alasan.
......................
Satu Minggu kemudian
Skip.
JNN Grup
Plak!
Mata wanita itu tampak memerah, ucapan yang keluar di mulut kecil gadis itu membuat nya begitu murka.
Padahal harus nya terbalik?
Mata biru itu tampak berkaca, buliran bening jatuh di ujung mata nya dan wajah nya hanya menunduk.
"Kenapa anda memukul saya?" tanya nya yang dengan bahasa formal sembari mengangkat wajah nya.
Hati nya terasa sakit seperti di iris dan kemudian di iris dengan pisau kemudian di peras dengan lemon.
"Ku pikir kau menyengakan, tapi kau tau? Bunga yang tidak memiliki tanah tetap akan layu," ucap nya pada gadis itu.
Anna diam, bukan tak bisa membalas namun ia tak mengerti.
"Murahan," satu kata dengan nada rendah yang terdengar halus namun menusuk.
Ia sudah mendapatkan tamparan nya, lalu kenapa wanita itu tidak? Bukan nya ia boleh melakukan apapun?
Pria itu sendiri yang mengatakan jika ia boleh melakukan apapun.
Gadis itu mengangkat tangan nya, ia hanya ingin membalas apa yang ia terima.
Greb!
Tangan kecil itu terhenti, belum sampai mengenai wanita yang berada di depan nya.
Gadis itu tersentak saat melihat seseorang yang menghentikan nya. Netra nya bergetar yang menatap seseorang yang memegang nya.
"Lepas," ucap nya yang menatap ke arah pria itu.
"Berhenti," pria itu menjawab sembari menatap tajam ke arah wajah gadis nya kemudian menoleh melihat ke arah wanita yang tak mengatakan apapun itu, "Pergi." ucap nya yang mengusir wanita cantik itu.
"Kau tau? Seharus nya kantor bukan tempat untuk peliharaan," balas wanita itu dengan mata tak suka.
"Tutup mulut mu dan pergi," terlihat jelas raut wajah yang begitu marah itu.
Wanita itu tak mengatakan apapun lagi dan kemudian berbalik, setelah tak tampak lagi ia pun melepaskan tangan nya.
"Kamu bilang aku boleh buat apapun?" Mata yang sembab dan juga pipi yang memerah akibat tamparan seseorang.
"Ya, tapi bukan dengan dia." jawab pria itu datar, setiap perbuatan akan ia balas namun untuk beberapa situasi gadis itu tak boleh terlihat.
Bagai hantaman timah gadis itu mematung, ia yang mendapat penghinaan dan pukulan tapi pria itu terlihat tak membela nya.
Hanya wajah tanpa ekspresi yang terlihat, "Hah..." Anna menarik napas nya yang sesak dengan senyuman getir.
"Sekarang aku tau, karna wanita itu kan?" tanya nya yang terlihat tertawa namun juga menangis.
...****************...
Oh iya ada yang mau othor bilang nih, othor ada baca beberapa komen yang sebelum-sebelumnya bab yang lalu bilang kalau ini tuh cerita nya muter aja.
Sebenernya othor bukan nya kukuh dan ga mau dengar pendapat tapi kadang apa yang othor pikirin dengan yang tertuang itu berbeda jadi nya alur nya lebih lambat🤧🤧🤧
Dan othor rasa dari novel pertama othor memang banyak Alur nya yang lebih lambat, maaf banget yah buat yang ga nyaman.
Tapi seperti yang othor bilang kalau, kadang yang ada di kepala othor dengan yang tertuang menjadi cerita itu beda, karna untuk menyambungkan peristiwa satu sama lain itu kadang agak rumit (Secara othor pribadi) Dan sebenarnya othor juga percepat alur tapi tetap sebagaian mungkin akan ada yang merasa lambat atau mutar🤧🤧
Tapi ga apa-apa, othor anggap itu sebagai perbaikan dan coba untuk merubah gaya kepenulisan othor yang alur nya slow motion.
Terimaksih buat komentar yang kadang suka jadi moodboster buat othor💕💕 dan dukungan nya dalam bentuk apapun yang buat othor tambah semangat💕💕💕
Happy Reading💕💕💕
__ADS_1
Oh iya tambahan, untuk mbak Anna 😘
Kamu mau othor matiin atau othor bawa kabur aja mbak? Othor lagi nyari tumbal cerita nich😘😘