
Suara yang terdengar berat, udara yang terasa panas dan ranjang yang berderit di ruangan yang tak sebentar hotel mewah karna hanya sebuah kamar di tempat club' malam yang memiliki kepasitas yang besar.
Pria itu memeluk dan merengkuh tubuh gadis remaja itu.
Ia selesai lagi kali ini, ia tersenyum dan merasa puas. Membuang napas nya sejenak dan kemudian melepaskan nya sebelum ia bangun.
"Kau benar-benar memuaskan, kalau saja wanita itu juga bisa seperti mu." ucap nya yang mengingat tentang sang istri yang di rumah.
Gadis itu hanya tersenyum, ia tak bisa mengatakan apapun dan hanya terdiam.
"Ini, aku memberikan nya lebih untuk mu. Kau mau keluar lagi dengan ku nanti? Kita bisa lakukan di hotel yang lebih baik," ucap nya yang suka dengan gadis remaja di tempat hiburan itu.
Masih diam tak mengatakan apapun, namun ia mengambil uang bonus yang di berikan untuk nya karna upah nya yang sebenarnya akan di berikan oleh manager club'
"Terimaksih tuan, saya terima uang nya dengan baik..." ucap nya yang tersenyum dengan cerah.
"Si*l! Harus nya aku menyewa mu sepanjang malam!" ucap nya yang gemas dan ingin kembali menyentuh tubuh gadis itu namun tak bisa karna seseorang yang menunggu nya di rumah sudah menelpon nya berulang kali.
Gadis itu tak menjawab, ia merasa jijik namun ia tetap tersenyum. Ia bahkan tak tau siapa pria di depan nya.
Tidak dengan nama apalagi kehidupan nya dan yang ia tau hanya hubungan di atas ranjang.
"Aku pergi dulu cantik, aku akan kembali lagi Minggu depan," ucap nya yang memakai kemeja nya dan keluar dari ruangan kamar itu.
Senyuman yang tadi tampak ramah kini terlihat datar seketika, ia memang tak selalu menerima tawaran dari setiap pria yang menginginkan tubuh nya.
Namun saat ada penawaran yang cukup bagus ia tak bisa menolak nya.
"Cukup untuk bayar bunga hutang nya Papa..." ucap nya yang menghitung lembaran uang bonus itu dan tentu ia akan mendapatkan upah dari pekerjaan kotor nya juga nanti.
"Hah..."
Gadis itu membuang napas nya, ia menidurkan diri nya lagi dan menatap langit-langit kamar itu.
"Apa aku bunuh diri saja? Aku harus seperti ini terus?" gumam nya lirih yang tentu tak ingin menjadi pel*cur dan wanita penghibur seumur hidup nya.
......................
JNN grup
Mata biru itu kini terbuka, ia menatap ke arah pria di depan nya dengan kondisi yang lebih baik setelah efek dari bahan kimia itu memudar.
"Kita boleh keluar?" tanya nya lirih dengan tatapan yang tampak menginginkan nya.
Lucas menoleh, tangan nya yang tengah mengupas kulit apel itu berhenti sejenak.
"Kau mau ke mana? Wajah mu saja masih pucat," ucap nya yang mengatakan dalam artian tak lain jika gadis nya tak boleh keluar.
"Terserah! Kemana aja tapi bukan di sini! Jendela nya saja tidak ada..." ucap Anna lirih dengan wajah yang di tekuk.
Memang ruangan yang di dominasi dengan warna putih itu tampak mewah, elegan, dan cantik namun tetap saja karna berada di ruang yang di rahasiakan dari induk perusahaan besar itu maka tak ada satupun jendela kecuali penyaring udara.
Lucas menarik napas nya, ia memberikan apel yang ia kupas pada gadis itu.
"Kalau kau jadi anak baik aku akan membiarkan mu keluar, kau tau kan? Kita masih di JNN jadi kalau kau keluar kau harus datang ke ruangan ku." ucap nya sembari mengusap rambut halus gadis itu.
Anna mengangguk, namun ia tak memakan apel nya sama sekali karna selera makan nya entah mengapa semakin menurun dan menghilang.
"Luc?" panggil nya lirih pada pria itu sekali lagi.
Lucas tak menjawab, namun ia hanya mengupas kulit apel itu dan membentuk nya menjadi karakter lucu agar gadis nya mau memakan nya.
"Berhenti dulu," ucap Anna yang mengambil pisau dan apel itu lalu meletakan nya ke atas meja.
__ADS_1
Tak ada sepatah kata pun yang di ucapkan saat ini, ia beranjak duduk di atas pangkuan pria itu dan melihat dengan mata jernih yang berwarna biru serta wajah yang tampak pucat.
"Ya? Ada apa? Kau menginginkan sesuatu yang lain?" tanya nya yang meraih pipi yang lembut dan halus itu.
Anna terdiam sejenak, untuk duduk di pangkuan pria itu bukan lah hal yang sulit karna ia saja pernah berlutut dan menyandarkan kepala nya di kaki pria itu seperti peliharaan yang patuh.
"Kamu bisa bilang sama mereka untuk berhenti? Aku ga sakit..." ucap nya yang mencoba kembali membujuk pria itu karna tak ada satupun yang memberi tau nya tentang penyakit ganas yang menyerang nya.
Lucas menarik napas nya, ia melihat ke arah wajah pucat gadis nya dan mengecup pipi lembut itu berulang kali.
"Kau tidak sakit? Yakin?" tanya nya sembari mengusap wajah pucat itu dengan tangan yang besar dan bisa saja menutupi wajah kecil itu.
"Iya aku ti- ukh!" ucapan nya terhenti, perut nya bergejolak dan seakan meluap memenuhi dada nya.
Gadis itu langsung bangun, langkah nya berlari menuju kamar mandi nya dan menutupi mulut nya.
"Hoek!"
Perut yang bahkan belum terisi itu mengeluarkan apapun yang berada di dalam nya.
Rasa nya begitu tak nyaman dan membuat nya sakit.
Lucas mengikuti nya, ia melihat ke arah gadis yang menumpahkan sesuatu dari mulut nya ke dalam toilet yang terlihat bersih dan putih itu.
"Rambut mu," ucap nya yang mulai merapikan rambut gadis itu dan memegangi nya seperti mengikat nya dengan tangan nya.
Anna menghidupkan air yang membasuh semua muntah yang ia keluarkan. Ia tak mengatakan apapun dan beranjak bangun untuk membersihkan mulut nya di wastafel.
"Ini yang kau bilang tidak sakit?" tanya Lucas yang bahkan ia sendiri tau jika apa yang terjadi saat ini adalah efek lain dari kemoterapi yang di jalani.
Anna mengernyit, jujur ia merasa kesal dan marah saat melihat pria itu terus mendatangkan nya dokter yang ia sendiri pun tak tau untuk apa mereka datang.
"Ini karna kamu suruh mereka datang! Mereka yang buat aku sakit!" ucap nya yang tanpa sadar berteriak dan tak bisa berkata halus saat ia memang sudah benar-benar tak tahan lagi dengan obat-obatan yang di berikan pada nya.
"Kau meninggikan suara mu pada ku?" tanya nya dengan nada yang rendah namun begitu menekan setiap udara di sekitar nya.
Deg!
Anna tersentak, ia menundukkan wajah nya dan tak bisa melihat ke arah pria yang menatap nya dengan tatapan tajam.
Tangan nya mengepal, namun tak ada satu pun perlawanan yang ia berikan dari mulut nya lagi.
Jangan...
Jangan nangis Ann! Kalau aku dia tau aku lebih kuat mungkin...
"Anna?" suara bariton dengan nada yang rendah itu memanggil nya lagi.
Tangan yang selalu terasa hangat itu menyentuh rahang nya seperti sedang membelai nya namun gadis itu bahwa sentuhan lembut itu bagaikan pisau di wajah nya.
"Minta mereka untuk pergi, aku sehat! Aku ga sakit!" ucap nya yang tetap ingin meminta pria itu menghentikan para dokter yang datang pada nya setiap satu Minggu dalam satu bulan dan memberikan nya obat intensif itu.
"Jangan seperti ini, kau tau aku menyukai mu karna kau penurut kan?" ucap Lucas yang mendekat dan berbicara di telinga gadis itu dengan suara berbisik.
"Bukan nya kamu bilang cinta a.. aku.." ucap Anna yang lirih di penghujung karna ia merasakan tatapan intimidasi yang membuat seluruh tubuh nya kaku.
"Ya, karna itu aku melakukan ini." ucap nya pada gadis itu.
Anna mengernyit, ia tak pernah mencintai seseorang sebelum nya sehingga membuat nya bingung apa kah cinta memang seperti itu?
"Kau masih kecil, jadi kau tidak tau apapun." bisik nya di telinga gadis itu.
"Tapi aku bukan anak kecil, kalau aku memang anak kecil harus nya kita tidak tidur bersama kan?" tanya nya pada pria yang terlihat tersenyum simpul saat ia menjawab.
__ADS_1
"Benar, aku lupa sesuatu kalau kau tidak seperti 'anak kecil' yang lain." ucap Lucas dengan tersenyum.
"Tapi..." ucap nya lirih yang beranjak memutar tubuh gadis itu sehingga memantulkan bayangan diri nya sendiri dan gadis remaja berada di depan nya itu.
Anna tak mengatakan apapun, ia melihat pria itu tersenyum namun bukan sekaan senyuman yang sesungguh nya.
Tangan yang mengelus dan mengusap wajah serta leher nya dengan lembut membuat nya meremang, ia selalu takut walau tak ada tamparan atau cekikan sama sekali.
"Aku tidak membiarkan mu sendirian, aku bersama mu..." bisik pria itu yang memperlihatkan jika ia berada di belakang gadis nya.
Anna diam sejenak, ia masih tak mengerti apa hubungan nya dengan tidak sendirian dan para dokter yang terus mendatangi nya.
"Dan aku melakukan ini semua karena aku mencintai mu, aku ingin tetap bersama mu dan aku ingin kau tidak sendirian." ucap pria itu berbisik.
Anna mengernyit, sesuatu dalam diri nya bergejolak. Jujur saja di kurung dalam ruangan mewah sekalipun namun tak ia sukai dan bahkan tak memiliki satu pun jendela membuat nya stres dan depresi melebihi rasa lelah nya saat ia mengambil 5 pekerjaan paruh waktu dalam sehari.
"Kenapa kau terlihat tidak senang? Itu berarti kau tidak tau bagaimana itu cinta kan? Aku mengajari mu." ucap pria itu dengan suara yang rendah namun begitu masuk ke dalam telinga gadis itu.
"Cukup..." Anna bergumam lirih, ia ingin pria itu berhenti mengatakan sesuatu yang membuat kepala nya sakit.
"Kenapa? Aku mengatakan yang sebenarnya, aku ingin kita tetap bersama tapi kau terlihat tidak menginginkan nya." ucap Lucas yang masih tak bisa menghentikan bisikan halus nya.
Tubuh kecil gadis itu gemetar, kemoterapi yang membuat nya sakit secara fisik dan kurungan yang membuat mental nya semakin lemah.
"Anna? Kemana pergi nya Anna ku yang penurut? Hm?" ucap nya lagi yang menarik dagu gadis itu sehingga melihat cermin.
"Akhh!!"
Gadis itu berteriak, ia mencoba menutup wajah nya sendiri dengan kedua tangan nya walau pria itu ingin ia melihat nya dari cermin.
Lelah...
Rasa nya ia tetap merasa lelah walau ia sudah tidur sebanyak dan selama mungkin.
Pria itu terus berbicara mengatakan sesuatu yang merobek dan memukul sesuatu di dalam diri nya.
Jalan nya terasa buntu, ia seperti tak bisa melihat apapun di depan kegelapan yang ingin menelan nya.
Lucas tersenyum, ia perlukan saat ini adalah gadis itu tetap menjalani pengobatan nya lagi. Ia mencium lengkung leher putih itu dan mengesap nya sekilas.
Tubuh yang masih gemetar itu belum selesai bertengkar dengan diri nya sendiri. Ciuman yang ia berikan di sepanjang leher jenjang itu membuat tubuh kecil yang gemetar itu lebih baik.
Anna terdiam sejenak ia membatu seperti tak bergerak sedikit pun. Ekor mata nya melirik ke arah cermin yang memantulkan dirinya dan melihat ke arah pria tampan itu.
Ia berbalik, karna sekarang ia sudah menemukan jawaban nya.
Humph!
Lucas tersentak, tubuh kecil itu memeluk nya dengan mengalungkan tangan nya ke pundak nya.
Menarik tubuh nya dan memeluk nya dengan erat sembari mencium nya lebih dulu. Ia ingin membalas ciuman itu namun ia memilih menghentikan nya.
Karna ia tau kondisi setelah kemoterapi bukan lah sesuatu yang baik dan rawan dengan infeksi karna penurunan kemampuan tubuh dan akan pulih kurang dari 48 jam nanti.
Ia mendorong pelan tubuh kecil dan beranjak mengecup kening nya.
"Sekarang kau sudah tau kan? Aku melakukan ini untuk mu dan karna aku mencintai mu." ucap Lucas dengan senyuman nya dan tatapan yang tak menunjukkan kebohongan saat ia bicara.
"Ya," jawab Anna singkat dengan senyuman yang tampak pecah dan kosong.
Aku tau...
Sekarang aku tau jawaban nya...
__ADS_1
Dia adalah kegelapan ku dan cahaya untuk ku...