
Mansion Damian
Pagi menerjap datang, cahaya hangat mulai menyeruak dan menyebar masuk ke dalam nya.
Gadis itu tampak tak beranjak sedikit pun dari ranjang empuk itu. Di samping nya terlihat bantal yang kosong dengan rasa hangat yang masih tertinggal karena seseorang baru saja meninggalkan nya.
Ia mendengar suara guyuran air, rasa semangat nya untuk ke sekolah menurun drastis padahal ia dulu sangat menyukai suasana sekolah nya.
Anna mulai beranjak bangun dan mencari ponsel nya, ia membuka nya dan tak ada notifikasi dalam bentuk apapun.
Grup kelas nya sepi seperti teman-teman nya memiliki grup kelas lain nya tanpa diri nya.
"Kau sudah bangun? Mau gunakan kamar mandi?"
Anna tersentak, ponsel yang berada di tangan nya langsung terjatuh dan menatap ke arah pria itu.
"Ti.. tidak..." jawab nya lirih sembari mematikan ponsel nya.
"Bukan nya kau sekolah hari ini?" tanya Lucas sembari beranjak ke ruang ganti nya.
Anna terdiam sejenak, ia menatap ke arah pria yang baru saja menghabiskan malam penuh gairah dengan nya itu.
"Luc? Aku boleh libur ga hari ini? Itu ku masih sakit..." ucap nya lirih pada pria yang hampir menghilang di balik pintu ruangan ganti itu.
Lucas menoleh, ia menatap ke arah gadis yang biasa nya tak pernah mau meminta izin libur untuk hal seperti itu.
"Biasa nya kau tidak pernah minta libur, tapi kalau menurut mu begitu kau bisa istirahat saja dulu hari ini. Aku akan beri tau guru mu.' ucap nya sekilas dan kemudian mengganti pakaian nya lebih dulu.
Anna tak mengatakan apapun lagi, bagian inti nya memang tidak terlalu perih karna malam yang ia lalui masih wajar dan bukan nya di perang sampai sampai tetes darah penghabisan.
Namun tetap nya, mengingat hal yang ia dapat kan di sekolah membuat nya merasa kehilangan niat dan semangat nya.
"Semoga besok sudah membaik..." gumam nya yang berharap jika saat ia datang lagi tak ada tatapan yang mengerikan dari teman sekelas nya.
......................
Sementara itu.
Byur!
Rasa dingin dari air yang menyiram wajah nya membuat gadis itu langsung terbangun.
"Astaga!" ia memekik seketika saat merasakan air yang jatuh ke wajah nya itu.
"Kamu ini! Harus nya kamu itu buat sarapan dulu baru tidur! Kamu kerja nya apa sih? Kenapa selalu malam pulang pagi malah kadang sekalian ga pulang? Jual diri kamu?"
Samantha tak menjawab apapun, baru saja ia tertidur namun sudah mendapat satu siraman air berserta dengan ocehan yang ingin membuat telinga nya meledak.
"Mama lapar? Sam buat sarapan nya dulu ya." ucap nya yang memilih tak menjawab ocehan ibu nya dan bergerak bangun untuk membuatkan sarapan.
Wanita itu menarik napas nya, ia sangat merindukan hidup nya dulu. Memiliki kedua tangan yang normal, rumah yang bagus, pekerjaan serta suami yang sempurna.
Namun sekarang?
Semua begitu terbalik sampai ia terus merasakan mimpi buruk, bahkan saudara nya tampak sudah enggan lagi membantu nya.
"Kamu masih berhubungan sama Gevan?" tanya Mrs. Laura saat makanan yang di buat putri nya sudah terhidang.
"Kak Gevan? Udah engga, kan waktu itu paman bilang sama kita buat ga berhubungan lagi sama mereka." jawab gadis itu yang ingat jika paman nya itu sudah muak memberi ibu nya uang secara terus menerus dalam jumlah banyak.
__ADS_1
"Kamu coba temui Gevan dan minta uang sama dia, kita buka usaha aja. Minta mereka bayar untuk izin usaha sama toko nya," Ucap nya yang melihat ke arah putri nya.
"Mah!" Samantha menarik napas nya, ia sudah tebal muka untuk meminta uang dengan paman nya lagi atau dengan kakak sepupu nya.
"Kenapa lihat Mamah begitu? Kamu kan juga perlu sekolah! Lagi pula kalau begini terus kita bisa mati di sini!" ucap nya sembari membuang napas nya.
Samantha diam sejenak, "Sam yang bakal kumpulin uang nya, jadi Sam harap Mama ga pakai uang Sam buat belanja lagi." ucap nya lirih.
Mrs. Laura langsung menatap tajam ke arah putri nya, "Mama tuh baru beberapa kali pakai uang kamu? Sudah merasa hebat ya kamu? Kamu tuh harus nya bersyukur bisa di urusin dari kecil!" ucap nya yang memarahi putri nya sekali lagi.
Samantha tak mengatakan apapun, ia hanya melanjutkan makan nya karna ia sudah terbiasa dengan ocehan seperti itu.
......................
Tiga Minggu kemudian.
Tak ada perubahan sama sekali, yang ada gangguan yang ia terima semakin menjadi.
Mata biru itu menatap ke arah seragam olahraga nya yang tampak kotor dan sobek seperti di gunting oleh orang lain.
Ia mengambil nya dan membuang nya ke tempat sampah, karna tentu ia tak akan bisa memakai nya sama sekali.
Pelajaran olahraga di mulai, semua anak-anak yang berada di kelas itu kini berkumpul di gedung olahraga yang biasa di gunakan untuk bermain basket.
"Kau? Kemana seragam mu?" tanya pelatih yang merupakan guru olahraga di sekolah itu.
"Saya lupa membawa nya," jawab Anna lirih.
Mata nya bisa merasakan tawa yang bersembunyi di balik tangan yang menutup mulut itu saat memandang diri nya.
"Ck! Mana bisa kau tidak mematuhi peraturan! Lari keliling lapangan ini tiga kali setelah pelajaran selesai." ucap sang guru yang kesal saat melihat ada siswi yang tak mematuhi aturan.
Anna menangguk, ia menuruti hukuman yang di berikan pada nya.
Mata nya mengandar menatap ke sekitar dan dapat merasakan nya.
...
Anna kembali ke kelas nya, ia sudah mengikuti hukuman yang di berikan oleh guru olahraga nya sehingga ia kembali lebih lambat.
Gadis itu beranjak ke meja nya yang masih penuh dengan coretan walau ia selalu menghapus nya setiap hari.
Ia beranjak mengambil botol minum nya dan mulai meminum karna merasa haus.
"Hoek!"
Air tersebut langsung tumpah seketika ke lantai, warna yang keruh dan terasa pesing.
Suara tawa lirih terdengar, tatapan mata yang menatap nya dengan sinis seperti melempar silet.
Tangan nya gemetar sekali lagi, ia tak tau air apa yang di masukkan ke dalam botol minum nya. Namun rasa dan bau nya menjijikan seperti cairan yang bisa ia kenali.
"Bu.. bukan nya kalian sudah keterlaluan?" tanya nya lirih sembari mengeratkan gigi nya.
"Apa sih? Ga jelas banget! Mungkin air nya ikutan kotor karna yang minum itu kotor!" sahut salah satu siswi yang merupakan teman sekelas Anna.
"Mungkin dia cuma mau minum ****** nya laki-laki mungkin?" sambung siswa lain nya.
Teman-teman remaja laki-laki itu langsung tertawa mendengar nya.
__ADS_1
Anna memejam, kata-kata kotor dan vulgar menjadi ejekan nya.
"Lihat aja tuh! Di tas nya pasti banyak bekas ****** yang masih banyak ****** nya!"
Tak laki-laki tak perempuan semua nya sama saja saat menghina gadis itu.
Anna mengernyit, ia langsung membuka tas nya dan melihat ke arah di dalam nya.
Buku-buku nya tampak rusak, alat kontr*sepsi bekas yang masih memiliki isi di buang ke dalam tas nya.
Begitu menjijikan dan membuat nya risih, belum lagi tadi ia yang sempat terminum air yang kotor dan bau membuat nya semakin ingin muntah.
Mata biru nya menatap sekali lagi ke arah teman-teman nya sekelas nya yang sudah menindas nya selama beberapa Minggu terakhir.
Byur!
Ia memercikkan semua air yang berada di botol minum nya ke seisi kelas nya, mengenai tas dan teman-teman nya yang lain.
"Kau gila?!" ucap salah satu siswi yang langsung berteriak dan menghindar agar tak terkena cairan yang pesing dan bau itu.
"Aku gila? Kalian yang gila! B*ngsat!" ucap nya yang sudah tak tahan lagi hingga membuat nya memaki dan mengacungkan jari tengah nya.
Terkahir kali ia berkelahi adalah waktu SD dan saat itu pun ibu nya masih hidup dan membuat wanita yang melahirkan nya itu di panggil ke sekolah.
Ia memang anak yang berusaha tersenyum dan baik, namun bukan berarti ia tak pernah sekali pun membuat masalah dan merupakan tipe naif yang cocok di tindas.
Semua sikap ramah nya adalah cara nya untuk bertahan hidup.
"A.. apa! Lihat! Dia nunjukin wajah asli nya! Dasar Jal*ng!" ucap salah satu siswi yang merasa begitu kesal.
Brak!
Anna membanting botol minum nya, dan mendekat ke arah teman sekelas nya yang baru saja memaki nya itu.
"Aku jal*ng? Kalau aku ******, yang pertama ku goda itu ayah mu duluan, lumayan kan? Kalau aku jadi ibu tiri mu bakal setiap hari ku siksa! Oh iya, sekalian ibu mu juga bakal ku usir biar kalian nangis di pojokan rumah!" ucap nya yang tersenyum kesal dan ingin langsung berbalik.
"A.. apa?" wajah yang memerah kesal itu tampak begitu marah mendengar nya.
Greb!
Ia langsung berlari mendekat dan menarik rambut pirang bergelombang itu.
Auch!
Anna meringis, ia tau di kelas itu tak ada yang akan membantu nya.
Ia pun berbalik, dan kembali menarik balik rambut gadis yang menjambak nya lebih dulu.
"Si*l! Lepas! Dasar jal*ng!"
"Kau yang lepas bangs*t! Dasar upil kuda!"
Mulut kecil nya mulai kembali memaki, ia ingat ia tak pernah lagi mengatakan sumpah serapah selain di dalam hati nya begitu ia masuk ke panti asuhan.
Anna! Kenapa buat masalah?
Sekarang kamu itu ga punya Mama lagi buat datang!
Siapa yang datang nanti!
__ADS_1
Tapi?!
Sudah lah! Rambut ku sakit!