Calm Down! Mr. Psycho!

Calm Down! Mr. Psycho!
Hukuman kecil


__ADS_3

8 Minggu kemudian.


Sekolah.


Ukh!


Gadis itu tak bisa bernapas, ia merasa sesak saat teman nya memeluk nya begitu erat.


"Kemana aja sih? Kangen tau!" ucap Samantha sembari melepaskan pelukan nya.


"Bisa gak masuk sekolah lagi aku Sam!" keluh Anna dengan kesal pada teman nya yang seenak hati memeluk nya sampai sesak.


Samantha tersenyum melihat ke arah teman nya yang baru datang setelah sekian lama itu.


"Kamu cat rambut Sam?" tanya nya yang melihat warna rambut gadis itu berbeda.


Ia tau rambut teman nya berwarna hitam namun kini sedikit berubah kecoklatan.


"Ann? Sekarang itu bukan warna rambut ku yang perlu di tanya! Tapi ini!" ucap nya sembari mengeluarkan catatan beserta dengan kerja kelompok.


"Kita satu kelompok?" tanya Anna melihat ke arah buku yang di berikan teman sebangku nya.


"Iyalah! Kalau misal nya bukan aku memang nya ada yang mau sekelompok sama anak yang sering ga datang!" sindir Samantha yang masih kesal karna teman nya itu tak mengangkat telpon nya selama tidak datang.


"Kan aku sakit Sam..." ucap nya pada teman nya sembari bergelayut di lengan teman nya.


"Sakit apa sih kamu Ann?" tanya Samantha sembari melihat ke arah wajah teman nya.


Bagian leher nya sudah tidak terasa sakit lagi namun memar keunguan masih begitu terasa, dan karna ia yang masih meminta sekolah, akhirnya ia di biarkan pergi dengan meminta pelayan yang sudah ia ajak berteman di mansion untuk menutupi bekas luka nya dengan make up.


"Aku tuh sakit kalau gak ada kamu..." gombal nya pada teman nya itu.


"Ish! Serius tanya ini!" ucap Samantha kesal.


"Aku juga serius tau Sam!" jawab Anna terkekeh yang tak mungkin memberi tau pada teman nya yang cerewet dan centil itu walau saat pertama kali berkenalan ia berpikir gadis itu sangat pendiam dan kaku.


Pukul 01.15 pm


Anna melihat ke arah kakak kelas nya yang sudah masuk seperti biasa juga, "Kaki nya gak pincang kak?" tanya nya dengan polos dan juga menyebalkan.


Ctak!


Auch!


Gadis itu meringis memegang dahi nya yang terasa sakit, ia melihat dengan tatapan kesal dan dahi yang mengernyit.


"Sakit tau!" keluh nya sembari menatap remaja tampan itu.


"Rasain! Maka nya jangan suka ngejek!" ucap Gevan yang kesal dengan pertanyaan gadis itu.


"Kan aku cuma tanya!" jawab Anna sembari mengusap dahi nya.


"Kemana aja? Gak datang hampir dua Minggu lebih?" tanya Gevan pada gadis itu.


"Kangen yah?" tanya Anna dengan mata yang berbinar serta senyuman yang mengembang.


Awal nya ia memang takut dengan remaja itu namun semakin ia kenal ternyata remaja tampan itu masih lah seperti anak-anak seusia nya yang berulah hanya karna menginginkan perhatian.


Tidak seburuk yang ia bayangkan sebelum nya.


"Kenapa makin hari kau makin menyebalkan? Padahal dulu tidak?" tanya Gevan yang melihat senyuman gadis yang tengah menggoda nya itu.


"Uhh, kakak Gevan gak boleh malah-malah nanti ganteng nya hilang loh..." ucap nya yang menirukan suara anak kecil.


Gevan terdiam sejenak, melihat gadis itu yang semakin menyebalkan ketika menganggu nya.


"Sial! Anak ini! Kau mau mati ya?" tanya yang langsung mengapit kepala gadis itu ke ketiak nya.


Ukh!


"Kak! Kak! Ampun kak!"


Anna berputar, sembari menepuk lengan pria itu agar melepaskan Capitan nya.


Gevan melepaskan gadis itu, rambut ikal nya tampak berantakan dengan wajah yang menatap kesal dan membuat nya tertawa.


Auch!


Anna kembali meringis, pipi nya yang bulat dan lembut itu di tarik tiba-tiba hingga membuat nya meringis.


"Adik Anna gak boleh nakal! Nanti kakak talik pipi nya sampai jatuh ke bawah..." ucap nya yang menarik pipi lembut itu seperti memainkan squisy sembari menirukan suara anak kecil.


"Ih! Sebel denger nya," ucap Anna saat pria itu melepaskan tangan nya sembari mengusap pipi nya.


"Sebel kan? Sama! Tadi aku juga!" keluh Gevan yang menatap kesal ke arah gadis itu.


Anna terdiam sembari melihat ke arah wajah tampan yang tampak marah seperti anak SD itu sedangkan Gavan pun mulai melirik ke arah nya.


"Pft!"


Gadis itu tiba-tiba tersenyum dan tertawa saat melihat ke arah kakak kelas nya itu.


Gevan awal nya mengernyitkan dahi nya sembari menatap bingung namun benar apa kata orang jika senyuman dan tawa itu menular.


"Kenapa? Kok ketawa juga kak?" tanya nya pada pria itu.


"Gak tau juga," jawab Gevan pada gadis itu.


Anna semakin tertawa mendengar nya, memang aneh namun kehidupan remaja yang penuh dengan lika-liku menyebalkan dan sedikit manis memang seperti itu.


......................


Samantha terus tersenyum sembari menggandeng tangan teman nya itu, sedangkan Anna yang terlihat tersenyum itu tampak sedikit gelisah.


Setelah pulang sekolah ia memang tak boleh pergi kemana pun dan kini ia malah bermain dengan teman sebangku nya.


Di marahi gak ya?


Batin nya yang merasa gelisah namun ia juga tak mengatakan apapun selain menyuruh supir yang menjemput nya pulang.


"Kita beli baju dulu!" ucap gadis centil itu sembari membawa tangan teman nya memasuki sebuah toko pakaian.


"Pakai ini Ann," ucap nya yang memasangkan satu sweter hitam yang longgar dan besar dengan rok pendek.

__ADS_1


"Gak deh Sam," tolak nya saat gadis itu memasangkan pakaian pada nya.


"Ga apa-apa! Nanti kan waktu kita makan kamu yang bayar!" jawab Samantha tertawa kecil melihat teman nya itu.


"Yauda aku ambil aja, kalo engga nanti rugi!" jawab Anna yang terkekeh mendengar pernyataan teman nya itu.


Samantha tersenyum dan memilih sweter crop top dengan dalaman fit bra dan celana jeans.


"Cantik nya temen aku..." ucap nya yang melihat Anna keluar setelah mengganti pakaian nya.


"Anna? Coba ini juga!" ucap nya yang memasangkan bando berwarna coklat tua di rambut pirang itu.


"Cantik kan?" tanya nya sembari melihat ke arah cermin.


Anna hanya tersenyum, walaupun banyak yang mengatakan ia cantik tapi sama saja karna setiap hari juga ia mendengar wajah nya mirip cumi-cumi.


"Sama? Muka ku mirip cumi-cumi gak sih?" tanya nya pada teman nya itu.


"Mirip! Kayak bayi cumi! Jadi mau ku makan!" canda Samantha tertawa.


"Serem ih! Masa aku mau di makan!" ketus Anna yang langsung teringat dengan pria yang suka mengigit tubuh nya dengan gemas.


Samantha hanya tertawa mendengar nya, kedua gadis itu pun keluar setelah memilih pakaian ganti agar tak mengenakan seragam.


...


Cafe


"Kamu kok tumben sih? Belanja gini, biasanya ikut les?" tanya Anna sembari meminum milkshake yang ia pesan.


Samantha cemberut sembari memegang minuman nya yang terasa pahit namun ia suka itu.



"Di tanya malah cemberut!" ucap Anna pada teman nya malah memanyunkan bibir nya.


"Aku tu lagi mau refreshing! Malah di tanya belajar," ucap gadis itu yang tampak cemberut.


"Iya, aku juga. Yang penting kan lulus ya kan Sam?" sambung Anna yang mudah tersenyum.


"Oh iya!" gadis itu langsung menggebrak meja yang mengingat sesuatu.


"Hari ini kita ke rumah ku! Ada kerja kelompok!" ucap Samantha yang langsung mengingat tentang tugas nya.


Memang selama Anna tidak datang, ia tetap membuat teman sebangku nya itu di dalam kelompok nya dan mengerjakan bagian nya namun tentu setelah gadis itu masuk kembali ke sekolah berarti harus melakukan kembali tugas nya.


"Kata nya mau refreshing Sam..." ucap Anna memelas.


"Iya, nanti sambung lagi! Lupa kalau ada tugas!" jawab gadis itu yang langsung menarik tangan teman nya.


Kali ini Anna yang tampak memasang wajah murung mendengar ucapan teman nya.


......................


Rumah Samantha


Gadis cantik itu menjelaskan semua tentang pelajaran yang tertinggal pada teman nya itu sekaligus mengatakan tentang tugas yang di berikan.


"Astaga Anna..." keluh nya yang menarik napas panjang ketika melihat teman nya itu malah tidur pulas sembari telungkup di atas karpet bulu di kamar nya.



Panggil nya sembari menggoyangkan tubuh gadis itu yang terlihat tertidur pulas dengan suara dengkuran halus yang terdengar.


"Malah tidur, memang gak bisa belajar nih anak!" keluh Samantha lagi yang membuka buku tugas nya sendirian dan membiarkan teman nya yang dalam pelajaran itu memang sangat lambat.


3 Jam kemudian.


Mata biru itu perlahan terbuka, tubuh kecil yang pulas tertidur di atas karpet itu terbangun sembari menggeliat.


Baru kali ini ia menikmati indah nya tidur setelah setiap malam ia lalui dengan rasa was-was jika Lucas akan datang dan saat ini ia tau jika pria itu tak akan datang.


"Nyenyak tidur nya?" tanya Samantha dengan senyuman kesal sembari menutup buku nya.


"Mana tadi Sam? Biar aku bantuin..." jawab Anna dengan nyawa yang masih setengah nyambung karna baru bangun.


"Mana? Mana? Udah terbang di mimpi!" ketus Samantha sembari menarik pipi gadis itu.


"Aduh!"


Gadis itu mengusap pipi nya yang terasa nyeri sembari menatap kesal.


"Sam! Kan aku cu-


Ting!


"Mama aku udah pulang kayak nya!" ucap Samantha yang langsung beranjak keluar kamar bahkan sebelum mendengar teman nya menyelesaikan kalimat nya.


"Sam? Mama bawa buah kesukaan kamu," ucap wanita yang tampak melepaskan sepatu nya itu sembari memberikan sebungkus buah apel pada putri nya.


"Temen aku datang Ma," ucap Samantha yang membuka bungkus belanja sang ibu.


Anna pun mengikuti teman nya dan keluar dari kamar.


Deg!


Langkah kaki wanita paruh baya itu membeku sejenak, ia melihat ke arah wajah yang mengingatkan nya dengan wanita yang dulu sangat ia kenal.


Tega kamu!


Kamu gak akan bisa bahagia kalau ambil kebahagian orang lain!


Dan aku harap kamu juga alami rasa sakit yang sama!


Prang!


Langkah nya oleng sehingga membuat gelas yang berada di ujung meja itu terjatuh.


"Ma? Kenapa?" tanya Samantha yang langsung memegang ibu nya.


Mrs. Laura langsung melirik lagi ke arah wajah teman putri nya itu.


"Anda baik-baik saja?" tanya Anna sembari ikut mendekat dan ingin membantu ibu teman nya itu.

__ADS_1


"Astaga! Jangan sentuh!" ucap Mrs. Laura secara spontan yang membuat kedua gadis remaja itu tersentak.


"Bukan! Maksud nya, astaga! Sudah lah aku mau masuk dulu." ucap yang ketika melihat wajah putri nya yang terkejut melihat sikap penolakan nya.


Anna terdiam ketika wanita itu menepis tangan nya bahkan sebelum ia menyentuh nya.


"Sam? Aku pulang aja deh, Mama kamu kayak nya gak suka sama aku..." ucap nya pada teman nya itu.


"Mau aku antar Ann?" tanya Samantha yang sedikit merasa bersalah dengan sikap penolakan ibu nya.


"Gak perlu, aku pulang sendiri aja..." ucap nya yang beranjak mengambil tas nya di kamar dan beranjak keluar.


"Bye, Sam!" ucap nya pada teman nya sebelum ia sempat keluar dari rumah itu.


Samantha tak mengatakan apapun namun tangan nya melambai pada teman nya.


......................


Mansion Damian


Pukul 08.34 pm


Pria itu menunggu gadis yang dengan seenak hati menyuruh supir nya untuk pulang sedangkan ia pergi bermain dengan senang dan bahkan tak memberi tau nya sama sekali.


Plak!


"Anak nakal! Dasar cumi-cumi nakal!" ucap nya yang kesal dengan gadis itu.


"Ma..maaf Sir..." keluh gadis itu yang merasakan sakit di b*kong nya ketika di pukul oleh pria itu.


Ia tak bisa bergerak, begitu kembali dan melihat pria itu. Tubuh nya di balik dan di rapatkan ke menghadap dinding sembari memegang tangan nya ke atas.


Plak!


"Kalau sudah tau salah! Jangan di buat!" ucap nya yang dengan kesal memarahi gadis itu.


"Ma..maaf Sir..." jawab Anna yang hanya bisa mengatakan satu kata itu terus menerus.


Plak!


Ack!


Gadis itu meringis di setiap tamparan kuat pria itu di b*kong nya, ia tak tau jika tamparan itu melayang di pipi nya pasti akan membuat bibir nya pecah karna tenaga pria itu memang sangat kuat.


"Kau bahkan tidak memberi tau ku? Kau lupa kalau itu milik siapa?"


"Sa..saya tidak tau no..nomor a...anda..." jawab Anna lirih pada pria itu.


Lucas tersentak, tangan nya yang masih melayang di udara itu terdiam sejenak beberapa saat.


"Kau bilang apa?" tanya yang tak percaya mendengar ucapan gadis itu.


"Sa..saya ti..tidak tau no..nomor a..anda..." jawab Anna mengulang.


Memang benar jika selama ini Lucas mengetahui semua tentang gadis itu karna ia mencari informasi nya sedangkan gadis itu tak tau apapun tentang nya dan bahkan tak pernah mengubungi nya karna tidak tau nomor nya.


Dan ia pun juga tak pernah menghubungi lebih dulu karna tanpa mengubungi pun ia sudah tau di mana dan sedang apa yang di lakukan oleh gadis itu.


"Ke sini!" ucap nya yang menarik tangan gadis itu menuju ke kamar.


Sreg!


Gadis itu tersentak, sweter baru yang tadi baru saja di belikan oleh teman nya itu di tarik hingga rusak.


"Mendisplinkan cumi-cumi nakal seperti mu memang harus di lakukan!" ucap pria yang membuka dasi di kemeja nya.


"A..apa?" gadis itu tersentak, tangan nya mulai terikat sedangkan ia masih tak bisa apa-apa.


40 menit kemudian.


Seluruh tubuh yang memiliki kulit putih seperti susu itu tampak kemerahan.


Bekas gigitan dan pukulan tangan yang tampak jelas di b*kong yang bulat seperti peach itu dan juga piramida merah muda nya yang tampak memerah seperti di lahap oleh vacum cleaner.


Ukh!


Gadis itu tak bisa mengatakan apapun, mulut nya terbungkam dengan sesuatu yang sampai ke tenggorokan nya.


Tangan nya, pria yang memegang rambut nya seperti tali ikat rambut itu terkadang seperti menahan nya dan menjambak nya.


Shh...


Pria itu mendesis dengan suara yang berat sembari terus menyatukan seluruh rambut pirang kecoklatan gadis yang berlutut itu di satu tangan nya.


Ia merasa sesuatu yang akan meledak di tubuh nya dan menekan gadis itu kembali.


Uhuk!


Anna terbatuk, rasanya ia tersedak sampai tenggorokan nya.


"Jangan sampai ada yang keluar, telan." perintah nya dengan suara yang begitu berat dan parau.


Pria itu tersenyum tanpa sadar melihat gadis itu, bagi nya ini seperti kesenangan baru yang bahkan dulu nya tak pernah ia pikirkan.


Ia melepaskan satu tangan nya yang sebelum nya seperti mengikat rambut gadis itu.


Tangan yang panjang dan kekar itu beranjak memegang rahang gadis itu dengan ibu jari yang mengusap bibir merah muda yang basah itu dan membuat gadis itu menghisap ibu jari nya lagi.


...


Ke esokkan pagi nya.


Pria itu datang lagi ke kamar gadis itu, pagi yang cerah namun gadis itu tak turun untuk makan bersama nya sedangkan ia akan pergi ke perusahaan pagi ini.


Ia duduk di sofa nya sembari melihat melihat ke arah gadis yang baru ia berikan hukuman kecil tadi malam.



"Bangun, kau mau tidur sampai betapa lama?" tanya nya sembari membenarkan kancing kemeja di dalam jas nya.


"Hum?"


Anna tersentak mendengar suara iblis dari neraka itu dan membuat tidur nya terganggu setelah satu malam ia tak bisa tidur karena masih tak biasa dengan 'aroma' pria tampan itu.

__ADS_1


Lucas mendekat, ia melihat ke arah gadis itu dan membungkukkan tubuh nya.


"Aku memberi mu hukuman ringan karena kau masih anak-anak, jadi hukuman mu juga akan berubah kalau kau sudah sedikit dewasa," ucap nya pada gadis itu dengan senyuman yang tak bisa di artikan.


__ADS_2