Calm Down! Mr. Psycho!

Calm Down! Mr. Psycho!
Salah lihat


__ADS_3

"Si..siapa kau?!" tanya Mrs. Laura yang begitu marah melihat ke arah seorang pria yang memukul nya sampai terjatuh.


"Lihat! Kalian lihat?! Dia memukuli seseorang!" teriak nya sekali lagi.


Lucas menatap dengan datar, walaupun ia tak bisa melihat bagaimana bentuk wajah seseorang namun ia tau cara membedakan nya jika sudah pernah ia lihat.


Walaupun memiliki bentuk abstrak namun setiap wajah memiliki karakteristik nya tersendiri.


Ia tak mengatakan apapun, wanita berisik yang membuat nya jengkel itu seperti minta kembali di pukul.


"Sir!" Anna langsung memegang tangan pria itu untuk mencegah nya melakukan hal lain yang semakin menimbulkan perhatian.


Lucas menoleh, ia menatap ke arah gadis remaja dengan pipi yang terluka akibat tamparan yang terkena cincin wanita itu.


"Ki..kita kembali saja Sir..." ucap nya lirih pada pria itu karna kini mereka telah menjadi pusat perhatian.


Lucas berdecak, ia terlihat mengirim pesan pada seseorang dan tentu itu untuk membereskan masalah yang tengah terjadi.


Setelah itu tanpa sepatah kata pun, pria itu menarik tangan gadis remaja itu dan membawa nya keluar.


"Kau mau pergi? Kenapa takut?" ucap Mrs. Laura saat melihat gadis remaja itu pergi dengan pria yang tadi menampar nya.


...


"Kau bodoh," ucap Lucas saat sudah sampai di mobil yang masih terparkir dan belum sempat berjalan itu.


Anna langsung menoleh ke arah pria yang mengatai nya itu walaupun ia baru saja di pukul saat tak melakukan kesalahan apapun.


"Maksud anda Sir?" tanya Anna mengernyit.


"Seharusnya kau memukuli dia tadi, atau membiarkan ku memukul nya." ucap nya yang tampak kesal dengan gadis itu.


"Tadi banyak yang melihat, anda tidak bisa membuat masalah seperti itu." jawab Anna pada pria yang tak habis pikir itu.


"Kau mau aku membunuh nya saja?" tanya Lucas pada gadis yang duduk di samping nya.


Mata biru itu langsung membulat saat mendengar nya.


"Jangan! Aku tidak mau! Jangan membunuh dia!" ucap nya segara.


"Setelah yang tadi barusan terjadi?" tanya Lucas mengernyit.


"Iya! Saya menghabiskan 17 tahun dengan kesulitan dan dia hanya memerlukan waktu beberapa hari untuk menderita?" tanya nya pada pria itu.


Ia marah dan tentu sangat marah, namun ia tak menginginkan kematian wanita itu atau orang-orang yang pernah membuat nya terluka.


Yang ia inginkan adalah melihat penderitaan yang sama atau bahkan lebih dari yang ia rasakan.


Dengan begitu akan sebanding dengan tahun-tahun berat yang sudah ia lalui.


"Jadi asalkan tidak mati tidak masalah?" tanya nya pada gadis itu.


"Ya, saya ingin dia hidup untuk waktu yang lama." jawab Anna pada pria itu.


Lucas tak bertanya lagi, ia beranjak memegang pipi gadis itu dan melihat ke arah luka nya.


"Ya, aku hanya akan mengirim hadiah kecil untuk nya." ucap nya pada gadis itu.


Anna diam, ia tak tau apa yang di pikirkan oleh pria itu dan memilih diam tak mengatakan sepatah kata pun lagi.

__ADS_1


......................


Mansion Damian


Gadis itu diam dan duduk dengan tenang di pangkuan pria yang tampak bersikap lebih baik dari biasa nya.


Dia tidak akan tiba-tiba berubah jadi gila kan?


Batin Anna yang merasa aneh jika pria itu tiba-tiba bersikap baik pada nya.


"Masih sakit?" tanya Lucas sembari mengusap pelan pipi gadis itu.


"Ti..tidak Sir..." jawab Anna lirih yang tentu tak dapat mengatakan yang sebenarnya.


Lucas tak lagi bertanya, ia hanya merengkuh tubuh kecil yang duduk di pangkuan nya.


Kecil dan mungil untuk gadis remaja seusia nya membuat nya semakin merasa cocok dalam pelukan nya.


......................


Rumah Mr. Harris


Samantha melihat ke arah luar jendela. Sang ayah memang sekarang sedikit sering pulang larut atau bahkan tak pulang sama sekali namun sang ibu tak pernah terlambat atau lewat jam 10 malam.


"Mama kenapa ga angkat telpon?" gumam nya yang tentu memiliki rasa khawatir pada sang sang ibu.


Gadis remaja itu sendirian, walaupun ia sudah biasa di tinggal sendiri di rumah namun bukan dalam suasana yang seperti itu.


Tak ada yang bisa ia lakukan, ia hanya menunggu sang ibu untuk kembali.


......................


Sementara itu


Bugh!


Bugh!


Bugh!


Suara pukulan terdengar memenuhi nya, tak ada pemukulan lain melainkan hanya satu objek.


Aroma anyir menyeruak tercium menyatu dengan bau sampah yang tak jauh dari tempat tersebut.


"To..tolong berhenti..." ucap nya yang kehabisan suara.


Tangan kanan nya mati rasa, ia tak tak lagi bisa merasakan apapun setelah tulang-tulang nya hancur.


Suara permohonan yang tak di dengarkan dan wanita pun tak lagi memiliki tenaga yang tersisa.


Para pemukul yang mengenakan masker untuk menutupi wajah nya itu berhenti. Mereka pergi begitu saja setelah menelpon ambulan untuk datang agar wanita yang di pukuli itu tak mati akibat kehabisan darah.


...


Rumah sakit


Pukul 12.57 am


Gadis itu berlari di dini hari karna mendengar kabar yang begitu membuat nya terkejut.

__ADS_1


Sang ayah tak bisa di hubungi sama sekali membuat nya yang harus beranjak sendiri ke rumah sakit.


"Ke..kenapa bisa jadi begini?" gumam nya yang terkejut melihat surat persetujuan untuk amputasi di lengan kanan karna luka yang menyebabkan tulang hancur.


Gadis itu bingung, tak ada siapapun yang menemani nya atau pun berada di samping nya.


Ia tak tau apapun lagi dan hanya berharap sang ibu akan kembali sehat lagi.


......................


Tiga hari kemudian.


Sekolah.


Anna melihat ke arah bangku kosong yang berada di kelas nya.


Sangat jarang seseorang yang sebelum nya duduk di bangku itu tidak datang ke sekolah.


"Ann!"


Panggilan dari seseorang mengejutkan nya, gadis itu menoleh dan menatap ke arah teman sebaya nya yang memanggil nya.


"Nanti waktu pulang mau ke cafe bentar ga?" ajak Sena pada gadis itu.


"Hm? Aku tidak tau," jawab Anna yang masih memerlukan izin untuk bisa berpergian keluar dengan teman-teman nya.


"Huft! Iya deh!" ucap Sena pada gadis itu dengan lesu.


....


Cafe


Anna tersenyum, ia tak menyangka jika pria itu akan memberikan nya izin untuk keluar dengan teman-teman nya.


Candaan terdengar dan tawa yang menyahut satu sama lain.


Anna hanya tersenyum, rasa nya sedikit ada yang berbeda karna ini pertama kali nya ia berkumpul bersama seperti ini tanpa teman nya yang dulu sangat dekat dengan nya.


Namun tak ada satupun yang menanyakan atau membicarakan teman nya itu.


"Aku ke toilet dulu," ucap nya yang berbalik dan pergi lebih dulu untuk ke toilet.


Suara guyuran air wastafel itu terdengar, gadis itu mencuci tangan nya dan kemudian berbalik kembali.


"Hum?" mata nya menoleh ke arah satu pin yang tampak cantik dan terjatuh ke atas lantai.


"Bukan nya itu punya kakek itu?" gumam nya lirih dan menghampiri nya.


Ia menepuk bahu pria tua yang sedikit membungkuk itu.


"Tadi barang anda terjatuh," ucap nya yang mengembalikan pin jas itu dan itu kembali beranjak.


Deg!


Pria tua itu tersentak, ia seperti melihat seseorang dengan wajah yang sebelum nya hampir ia lupakan.


Belum sempat ia mengatakan apapun, gadis remaja itu kembali duduk dan bergabung dengan teman-teman nya.


"Tuan? Ada masalah?" tanya seorang penjaga yang tak jauh dari nya.

__ADS_1


"Tidak, tidak ada."


"Mungkin aku sudah terlalu tua atau terlalu lama tidur sampai mata ku jadi semakin rabun." jawab nya yang kembali tanpa menghiraukan gadis remaja itu lagi.


__ADS_2