
Mansion Damian
Lucas menyangga dagu nya dengan satu tangan kanan nya, ia menatap ke arah gadis yang tengah makan malam itu.
"Terkadang makan mu banyak seperti babi dan terkadang sedikit sekali seperti burung kenari," ucap Lucas lirih tanpa memfilter cara bicara nya.
Uhuk!
Anna langsung tersentak, makanan nya tersedak sampai ke tenggorokan begitu mendengar ucapan pria itu.
"Minum," ucap Lucas seraya memberikan air minum pada gadis itu.
"Ba..babi? Ka..kapan saya makan seperti babi?" tanya Anna lirih setelah menghabiskan seluruh air mineral di dalam gelas tersebut.
"Kapan? Waktu aku suapi kau, kau makan terus." jawab nya dengan wajah datar padahal ia sendiri lah yang memaksa gadis itu untuk makan.
"Itu kan karna Anda Sir..." ucap Anna lirih.
"Memang nya aku salah apa?" tanya nya dengan wajah yang tampak tak berdosa sama sekali mendengar nya.
"Tidak, anda tidak salah apapun dan selalu benar." ucap nya dengan senyuman seketika.
Mana mungkin ia berani mengatakan jika pria itu memiliki salah?
Bisa-bisa besok ia sudah masuk berita tentang penemuan mayat tak wajar.
Lucas tersenyum tipis, "Kalau begitu habiskan makanan mu." ucap nya menatap gadis itu.
...
Anna menatap ke arah para pria dan wanita yang mengenakan jubah putih kebanggan itu.
"Saya tidak sakit, Sir." ucap nya pada Lucas ketika melihat para dokter yang masuk ke ruangan di mana ia berada.
"Bangun, biarkan mereka memeriksa mu." ucap Lucas yang melepaskan tangan nya agar gadis yang ia sangat sering ia pangku itu bangun.
Anna diam sejenak, ia tak suka jika pria itu memberikan nya dokter karna jika ia sakit seperti memiliki alasan untuk segera kembali terkurung.
"Sir? Saya baik-baik saja..." sambung nya lirih.
Namun ia tetap memberikan tangan kanan nya untuk di periksa dan di ambil darah nya agar di uji lab.
Lucas tak menjawab nya, ia hanya melihat bagaimana para dokter memeriksa gadis itu dan bergantian dengan dokter lain yang tak lagi adalah dokter kulit dan kecantikan.
"Untuk bekas luka nya sudah temukan terapi nya?" tanya Lucas saat pakaian gadis itu mulai di tanggalkan sebagian pada bekas luka dari yang ia buat sebelum nya.
"Sudah, Sir. Dan untuk bekas yang ada di punggung nona kami juga sudah temukan terapi dan obat nya." ucap sang dokter menjelaskan.
Anna tersentak, ia yang masih di periksa puj langsung berbalik dan menatap tajam ke arah para dokter.
"Memang nya aku pernah bilang mau melakukan nya?" tanya nya yang langsung menyela.
"Maaf nona, kami-"
"Aku tidak mau!" ucap nya dengan keras sampai ia lupa jika seseorang yang ia takuti masih di tempat itu.
Lucas mengernyit, gadis itu meninggikan suara nya padahal biasanya selalu mencicit saat bersama nya.
"Kalian keluar," perintah nya pada seluruh dokter.
Anna tersentak, ia baru ingat jika pria itu masih ada di tempat tersebut.
"S..Sir..." panggil nya lirih dan berharap para dokter tak keluar.
Namun hal itu tentu tak akan terwujud, para dokter menundukkan diri nya dan keluar satu persatu dari ruangan tersebut.
Anna meremas pakaian nya yang memiliki panjang selutut itu, ia menunduk tak bisa melihat ke arah pria yang memandang nya tajam.
"Maksud mu tadi apa? Sekarang kau sudah membangkang?" suara dengan nada bariton yang rendah tanpa memperlihatkan bentakan sama sekali namun begitu menekan.
"Bu..bukan begitu ma..maksud sa..saya..." ucap nya lirih.
"Lalu?" tanya Lucas dengan wajah yang tak memiliki ekspresi namun bagi gadis remaja itu semakin mengerikan karna bisa meledak kapan saja.
"Sa..saya tidak mau..." jawab nya lirih yang tanpa sadar melihat ke arah lantai tak berani melihat ke wajah pria itu.
"Maurenne Arianna, umur 17 tahun masuk ke panti asuhan Maria glory selama 5 tahun dan keluar dua tahun tahun yang lalu dan pernah di adopsi dua kali dan di kembalikan lagi." ucap nya yang tiba-tiba mengatakan biografi gadis itu yang sudah ia ketahui.
Anna langsung menoleh begitu mendengar nya, ia menatap wajah datar yang mengatakan tentang hidup nya tanpa menunjukkan emosi apapun.
"Oh, aku lupa menyebutkan satu lagi. Percobaan pembunuhan oleh ibu kandung sendiri saat usia 10 tahun, dengan di tikam sebanyak tiga kali lalu setelah itu ibu kandung nya bun-"
"Berhenti!" gadis itu berteriak.
Ia tak bisa mendengar kalimat selanjutnya, wajah nya tampak terkejut, tubuh nya gemetar begitu pria itu dengan lancar seperti Wikipedia yang membacakan masa lalu nya.
"Kau meninggikan suara mu?" tanya Lucas mendekat pada gadis itu.
Wajah yang tampak takut itu mulai meneteskan buliran bening nya satu persatu, ia menutup telinga nya dan memejamkan mata nya.
"Tapi ada satu hal yang tidak di temukan," ucap nya yang mendekati gadis yang tengah bertengkar dengan memori masa kecil nya.
"Ayah mu tidak datang di pemakaman istri nya dan juga tidak pernah mengambil mu di panti asuhan, dia sudah mati atau masih hi-"
"Dia mati!" sambung Anna yang kembali melihat ke arah pria itu.
Ekspresi nya kacau, ia tak bisa mengukir senyum nya lagi walaupun pura-pura.
Ia memang membenci ibu nya namun ia juga sadar satu-satu nya orang yang pernah mencintai nya adalah ibu nya sendiri.
Lalu Ayah?
Ia bahkan tidak pernah mengingat nya, tak ada kenangan tentang sang ayah sama sekali kecuali pertengkaran yang selalu ia dengar walau dulu ia tak mengerti apa yang di bicarakan.
Ayah yang selalu meninggalkan diri nya dan sang ibu sendirian lalu membuat mereka menunggu.
"Ayah mu sudah mati?" tanya Lucas mengulang.
Gadis itu tak pernah menceritakan apapun tentang diri nya dan selalu menghindar namun saat melihat nya mulai goyah ia pun mulai mendesak nya.
__ADS_1
Anna menggeleng, mana ia tau di mana ayah brengsek nya yang meninggalkan keluarga nya untuk wanita simpanan?
"Saya tidak tau, tapi..."
"Saya berharap dia mati saja, setidak nya dia tidak bahagia..."
Karna dia buang aku sama Mama...
Sambung nya lirih dengan suara yang serak dan tercekat.
"Lalu kenapa kau mempertahankan bekas luka itu? Seharusnya lebih baik di hilangkan saja kan?" tanya nya lagi yang kembali menyinggung tentang bekas luka di punggung gadis itu.
Anna menggeleng, ia memang memiliki hubungan toxic antara ia dan ibu nya. Namun sebenci apapun ia pada sang ibu tak pernah benar-benar membenci nya.
"S..Sir..." panggil nya lirih yang mulai tenang walau ia masih menangis.
Ia sadar jika ia tak boleh terlalu lama dengan diri nya sendiri, ia harus kembali melihat sekitar nya dan mencoba bertahan lagi.
"Cumi-cumi cengeng," ucap Lucas sembari mengusap air mata gadis itu.
Ia tak memukul, tak mengigit, tak menggores, tidak melukai bahkan tidak meninggikan suara nya sama sekali namun gadis itu tetap menangis.
"Kau menangis karna apa?" tanya nya lagi pada gadis itu.
Ia tak suka melihat air mata yang jatuh bukan karna diri nya, bagi nya senyuman bahkan tetesan buliran bening dari mata gadis itu harus turun karna diri nya.
Alasan gadis itu bisa tersenyum dan menangis adalah dia! Bukan orang lain!
"Karna ibu mu jahat? Atau karna ayah mu jahat? Atau karna kau tidak mau menghapus bekas luka mu?" tanta nya pada Anna yang memegang rahang gadis itu sekaligus menghapus air mata yang jatuh.
"Kalau saya tidak mau menghilang kan bekas luka saya, apa tidak apa-apa?" tanya Anna lirih.
"Tentu saja," jawab Lucas dengan datar.
Anna hanya melihat ke arah pria itu dan berpikir jika ia boleh melakukan apa yang ia inginkan.
"Tentu saja tidak, kau lupa? Kau milik ku." ucap nya yang terus mengingatkan gadis itu.
Pasti nya apa yang di harapkan Anna tak terwujud dengan mudah, apa lagi pria itu yang memang sudah memiliki watak keras.
"Atau kau mau aku temukan ayah mu?" tanya nya pada gadis itu.
Memang tak ada data tentang di mana ayah gadis itu berada namun ia bisa mencoba mencari nya dari data pernikahan kedua orang tua gadis itu.
Karna data pernikahan yang tercatat sah di negara pasti memiliki jejak.
Iris gadis cantik itu langsung membesar mendengar nya, walaupun ia diam dan tak pernah mengatakan satu kata pun tentang kedua orang tua nya namun ia selalu mengutuk sang ayah siang dan malam.
Ayah yang meninggalkan ia dan ibu nya sendirian demi wanita lain. Ia memang dulu tak mengerti apa itu arti 'Selingkuh dan orang ketiga' namun seiring berjalan nya waktu ia tau arti dari kata yang sering di ucapkan sang ibu.
"Anda bisa menemukan nya?" tanya nya lirih yang tampak terpancing.
"Kau mau?" Lucas menatap ke arah iris biru yang tampak berkaca mendung itu.
Gadis itu tak pernah meminta sesuatu dengan mata seperti itu pada nya.
Anna menggeleng mendengar nya, "Tidak saya hanya ingin tau hidup nya seperti apa, entah dia sudah mati atau tidak." ucap nya lirih.
"Baik, aku akan mencari nya." ucap nya pada gadis itu.
Anna diam, tentu jika sang ayah masih hidup ia berharap kehidupan sang ayah dengan selingkuhan nya menderita seperti ia dan ibu nya.
"Dan untuk bekas luka mu dalam Minggu depan akan di mulai terapi nya, kali ini aku maafkan kesalahan mu tapi tidak untuk lain kali." ucap nya yang membiarkan gadis itu karna sudah mendengar hal yang ia inginkan.
......................
Laboratorium.
Darah gadis itu kembali di priksa saat kemvali dari mansion.
Hasil lab yang sudah keluar membuat para peneliti itu menarik napas nya.
"Seperti nya pertumbuhan leukosit nya meningkat," ucap sang dokter yang melihat nya.
Tak hanya hasil yang tertera di atas kertas tentang pertumbuhan sel darah putih yang meningkat beserta dengan sel darah lain nya para peneliti itu juga melihat sel darah secara langsung untuk.
"Trombosit nya menurun?" Gumam nya yang melihat ke arah kertas dan mencoba menjadi perslide.
"Coba lihat seberapa banyak efek radiasi yang sudah terpapar sampai sekarang." perintah kepala peneliti.
Mereka semua bertanggung jawab untuk penelitian tentang yang chip yang ada di tubuh gadis itu.
Chip yang di tolak keberadaan nya oleh hukum karna seperti melanggar HAM da mendapatkan banyak pro dan kontra.
......................
Dua hari kemudian.
"Bayi cumi? Cemberut terus?" sapa Diego pada gadis itu.
Anna menoleh, ia menatap ke arah pria yang selalu tersenyum namun seperti senyuman palsu yang biasa ia gunakan.
"Sore Sir," jawab Anna yang membalas sapaan pria itu.
"Seharus nya kau lebih baik pada ku..." uavo Diego lirih.
Karna permintaan gadis remaja itu, Lucas membuat nya mencari catatan sipil pernikahan kedua orang tua gadis di depan nya untuk mengetahui siapa ayah gadis itu.
"Kau ingat nama ayah mu? Setidak nya nama nya." ucap nya pada gadis remaja di depan nya.
Anna menggeleng, ia tak ingat sama sekali tentang ayah yang selalu meninggalkan nya.
"Okey, kau benar-benar tidak dekat dengan ayah mu..." ucap nya lirih pada gadis itu.
"Tapi nama belakang mu?" tanya nya mengulang.
"Saya tidak pakai nama belakang orang tua saya," ucap Anna sekali lagi.
"Iya juga, tidak semua orang memakai nama belakang orang tua nya." sambung nya lagi.
__ADS_1
"Sir?" panggil Anna pada pria itu.
"Ya?" jawab Diego dengan mengernyitkan dahi nya.
"Lain kali kalau hanya ada kita, anda bisa tidak tersenyum saja dari pada tersenyum seperti itu." ucap nya lirih.
"Seperti ini?" tanya Lucas dengan senyuman cerah.
"Lebih baik anda tersenyum saat anda memang ingin tersenyum..." jawab Anna lirih.
Pria itu tak mengatakan apapun lagi, ia beralih ke senyuman tipis dan melihat ke arah gadis itu.
"Kau mau sampai kapan melihat ke arah nya?" suara yang membuat Diego tersentak.
Ia langsung menoleh dan menatap ke arah sumber suara.
"Baik, aku pergi." jawab Diego yang kembali seperti ciuman nya semula dan beranjak.
Anna menengandah menatap ke arah pria yang berjalan mendekat ke arah nya.
"Seharusnya aku nyalakan saja chip nya," ucap nya berdecak dengan kesal karna melewatkan pembicaraan gadis itu.
"Sir?" Panggil Anna lirih menatap pria yang tampak kesal itu.
"Apa kau tidak bisa diam saja tanpa tebar-tebar pesona?" tanya nya yang tampak kesal.
"Memang nya saya melakukan apa Sir?" tanya nya Anna lirih.
"Membuat orang lain menyukai mu," ucap nya pada gadis itu.
"Tapi orang lain tidak mudah suka dengan saya, apa lagi suka yang seperti itu." ucap Anna berdasarkan pengalaman nya yang tak pernah ada mendekati nya dengan dalih ketertarikan lawan jenis.
"Ada," jawab Lucas dengan nada yang terdengar yakin tanpa goyah.
"Siapa?" tanya gadis itu mengernyit.
"Aku," jawab Lucas dengan wajah datar seperti mengatakan sesuatu yang tak mungkin.
Anna menarik napas nya, walau ia tak ingin tersenyum namun ia tetap tersenyum untuk menyenangkan pria itu.
Suka sebagai peliharaan kan?
"Tentu saja, anda kan adalah pria yang paling baik..." jawab nya yang mengeluarkan pujian nya.
"Anda mau teh, Sir?" tawar Anna agar ia bisa beranjak dari tempat itu.
"Padahal aku tidak bercanda..." Gumam Lucas saat gadis itu berbalik pergi.
...
...
...
Greb!
"Jangan! Jangan pergi lagi!" wanita itu menangis tersedu mencegah suami nya untuk pergi meninggalkan wanita selingkuhan nya.
Tak!
Satu tangan yang menepis kasar membuat wanita cantik dengan rambut pirang kecoklatan itu hampir terhempas.
Mata nya yang sebiru langit terus saja menjatuhkan buliran bening yang membuat pipi nya seperti tengah di jatuhi hujan.
"Aku kurang apa lagi? Aku kurang cantik? Kurang baik? Kamu mau anak aku juga sudah kasih, aku harus apa lagi?" tanya nya dengan tangisan yang meleleh dan sangat ingin mempertahankan pernikahan nya.
Mempertahankan keluarga satu-satu nya yang ia miliki sekarang.
"Anak ku sakit! Aku harus ke sana!" jawab nya yang bahkan tak melihat ke arah wajah sang istri.
"Terus dia?! Dia juga anak kamu! Kamu cuma perhatikan anak perempuan itu saja! Aku itu istri kamu! Aku juga punya hak untuk ngelarang kamu keluar!" ucap nya yang merasa putus asa akan sikap suami nya.
"Kalau kamu ga terima kita bisa cerai! Aku juga udah muak lihat kamu!" ucap nya yang menyalahkan sang istri lagi.
"Memang nya aku salah apa..." suara nya mulai mengecil, ia seperti tengah memelas.
"Kamu pikir aku selingkuh karna aku mau? Aku selingkuh juga karna kamu! Karna kamu itu tidak bisa punya anak!" ucap nya membuat jantung sang istri ingin berhenti saja.
"Tapi sekarang ada kan?" tanya nya yang merujuk pada putri kecil mereka yang sudah lahir dan berumur 4 tahun saat ini.
Begitu juga dengan putri wanita sampingan pria itu yang memiliki umur yang sama.
"Tapi kamu tiba-tiba hamil!" ucap nya yang malah tak terima jika sang istri hamil.
"Kalau aku hamil itu wajar! Aku istri mu! Bukan pel*cur itu!" ucap nya yang tak bisa menahan emosi nya lagi sampai menbagajan kata yang buruk walaupun biasa nya ia sangat jarang.
Plak!
Satu tamparan keras melayang di pipi wanita cantik itu.
"Aku kecewa sama kamu! Mulut mu itu sangat kotor!" ucap nya yang menampar sang istri karna menyebut wanita nya sebagai pel*cur.
Pria itu lantas berbalik pergi, tak peduli dengan tangisan sang istri atau pun permohonan untuk membuat nya tetap tinggal.
Sedangkan wanita itu tampak tak bisa mengatakan apapun selain menangis dan menangis.
Hati nya hancur, ia mengalami depresi semanjak kehamilan dan bahkan sampai sekarang ketika putri nya mulai beranjak tumbuh.
Tak ada siapa pun yang dapat ia curahkan perasaan nya.
Perasaan kasih sayang sekaligus lemparan dari pelampiasan amarah dan frustasi nya kecuali hanya putri kecil nya.
Sementara itu gadis kecil yang bersembunyi di bawah meja mendengar semua nya, tangan mungil nya menutup rapat telinga nya dan menangis ketakutan mendengar pertengkaran kedua orang tua nya.
...
...
...
__ADS_1