Calm Down! Mr. Psycho!

Calm Down! Mr. Psycho!
Pain!


__ADS_3

Wegen


Warna pucat di wajah cantik itu begitu terlihat, Anna mengigit bibir nya sendiri. Wajah dari pria yang tak ia temui selama hampir 4 tahun kini melihat nya.


Tanpa ekspresi dan tanpa mata yang bisa di baca apakah sedang marah atau senang.


"Tadi dia berlari bukan karna mengejar ku, kenapa dia mengejar ku? Ini sudah sangat lama kan? Dia bisa lihat apapun, dia tidak membutuhkan ku."


Gumam nya yang begitu gugup sedangkan Camilla kehabisan kata-kata dan tentu nya ia juga merasa khawatir.


"Tidak apa, aku sudah beri tau Diego." ucap nya sembari menenangkan gadis yang ketakutan itu.


"Dia bilang apa?" tanya Anna yang langsung menoleh.


"Dia bilang untuk tidak keluar rumah dulu selama beberapa hari, dan jangan memesan tiket pesawat dulu karna pasti sekarang beberapa pengawal sedang berada di bandara." ucap Camilla yang memberi tau.


Anna menarik napas nya, "Artikel itu? Apa dia tau aku di sini karna artikel itu?" tanya Anna lirih dengan bibir gemetar.


"Tidak apa, kita semua akan baik-baik saja..." ucap Camilla yang memeluk tubuh kecil gadis yang ketakutan itu dan menepuk punggung nya berulang kali.


"Benar..."


"Semua akan baik-baik saja, tidak mungkin dia mencari ku setelah selama ini kan? Dia pasti sudah menemukan pengganti ku, kan? Iya kan Bi?" tanya Anna yang menengandah menatap ke arah wanita yang lebih tinggi dari nya itu.


Camilla hanya membuang napas nya dan kemudian mengangguk mendengar nya.


"Benar! Dia punya segala nya jadi kenapa harus menganggu kita?" ucap nya yang sekaan memberikan sebuah penghiburan untuk menghilangkan kekhawatiran gadis itu.


Anna mengangguk namun tentu ucapan itu hanya untuk menangkan diri nya sendiri.


Estelle berdiri menatap ibu nya yang tampak begitu kalut, ia tak mengerti mengapa bisa seseorang menjadi seperti itu.


Langkah kecil nya mendekat, ia memegang cardigan yang di kenakan sang ibu dan menarik nya kecil untuk memberikan aba-aba jika ia ingin bicara.


"Maaf Ma..." ucap nya dengan wajah yang menggemaskan dan mata jernih tanpa ekspresi.


Anna mengusap air mata nya, ia menatap ke arah putra nya dan berjongkok dengan satu lutut nya.


"Estelle kan ga salah? Minta maaf untuk apa?" tanya nya yang melihat ke wajah tampan putra nya yang mengemaskan.


"Mama nangis..." ucap nya dengan mata jernih dan wajah yang tampak tak mengerti kesedihan ibu nya.


Anna terdiam, napas nya semakin menjadi berat dan tenggorokan nya seakan tercekat saat mendengar putra nya yang meminta maaf.


Ia memeluk tubuh mungil itu dan mengusap punggung kecil itu dengan pelan.


"Mama ga nangis kok, bukan karna Estelle..."


"Estelle ga salah apa-apa, Mama yang salah karna ga bisa jagain Estelle..."


Bayi tampan itu tampak tak mengatakan apapun, ia bingung dan tak mengerti namun ia tak mendorong tubuh ibu nya yang memeluk nya dengan dengan erat sampai membuat nya sesak.


"Nanti Mama Estelle kasih pelmen, jangan nangis lagi ya..." ucap nya dengan suara yang menggemaskan itu dan mengusap punggung ibu nya dengan tangan kecil nya.


Anna memejam, sentuhan kecil dan pelukan mungil dari putra nya membuat nya tenang. Ia seperti mendapatkan suatu semangat dan keharusan untuk bertahan karna ingin melindungi seseorang.


......................


Dua hari kemudian


Tak ada apapun yang terjadi setelah hari itu, semua nya tampak tenang seperti biasa.


Camilla mendekat ke arah gadis yang tampak sedikit kacau itu karna tak bisa tidur beberapa hari.


"Sudahlah, sekarang tidak apa-apa kan? Lihat? Tidak ada yang terjadi." ucap Camilla yang mengusap punggung Anna.


"Benarkah? Kenapa aku semakin merasa takut karna terlalu tenang?" gumam Anna yang masih merasa begitu gugup dan tak yakin.


Ting!


Ting!


"Ada yang datang, aku akan buka pintu nya lebih dulu." ucap Camilla yang beranjak ke pintu depan.


Ia terkejut sejenak melihat pemuda dengan topi hitam dan masker itu lalu tersenyum membawa bunga dan buah untuk nya.


"Varsha? Ada yang mencari mu." ucap Camilla yang memanggil Anna.


Anna keluar, ia menatap ke arah pria yang tersenyum cerah dengan bunga dan buah di tangan nya.


Ia tampak tak begitu menyukai nya, jujur saja ia sedikit menyalahkan pria itu karna membuat artikel berita skandal itu keluar.


"Kamu mau apa ke sini?" tanya Anna dengan nada yang terdengar lebih ketus.


Camilla memilih mundur dan membawa Estelle keluar untuk tak mendengar pertengkaran yang mungkin bisa terjadi.


"Soal artikel itu aku akan mengurus nya ja-"


"Kamu tau bakal ada artikel tentang kita tapi kamu tetap dekati aku?" tanya Anna yang memang saat ini ia sangat sensitif.


"Kalau begitu kita menikah, aku tidak masalah menikah di puncak karir," ucap Gevan yang tampak sama sekali tak masalah dengan hal itu.


"Aku yang masalah! Aku! Memang nya pendapat kamu aja yang penting?" tanya Anna yang mudah tersulut emosi karna ia memang sangat gugup.


"Kenapa kau sangat marah? Apa artikel itu sangat mengganggu mu?" tanya Gevan yang menatap gadis itu berbeda saat terlahir kali.


"Iya! Itu menganggu! Aku ingin hidup tenang! Aku benci media dan aku tidak mau terusik!" ucap Anna sekali.


"Kau terlihat seperti sedang sembunyi?" Gevan mengerutkan dahi nya saat menatap gadis itu.


Anna melihat ke arah pria yang menatap nya bingung, ia menarik napas nya dan mengangguk.


"Ya, aku sedang sembunyi! Aku kabur sampai aku tidak membiarkan orang lain memanggil nama asli ku lagi," ucap nya dengan mata yang berkaca.


Gevan tak mengatakan apapun, ia bingung dan hanya bisa terdiam saat melihat gadis di depan nya seakan ketakutan akan sesuatu.


"Dari siapa? Kau sembunyi dari siapa? Orang itu?" tanya nya yang kali ini bersuara.


Anna tak menjawab namun ekspresi di wajah nya seakan mengatakan jawaban nya.


"Kenapa? Dulu kau terlihat sangat senang ketika tau hamil anak nya? Kau bersikap seperti sangat menyukai nya, sekarang sebaliknya?" tanya Gevan.


"Dia tidak mau anak ku tapi dia mau aku, sekarang kau puas dengan jawaban nya? Gev? Jangan temui aku lagi..."


"Ku mohon..."


Ucap Anna yang menatap ke arah pria itu, ia seperti kehabisan akal ia tak tau apapun dan bagaimana cara nya untuk bertahan.


"Karna kau sudah memilih untuk pergi kenapa tidak mencoba hal yang lain? Kenapa tidak coba dengan ku?" tanya nya lirih saat melihat gadis itu memohon untuk ia pergi.


"Kamu pikir mudah? Mencoba dengan mu? Aku bahkan tidak bisa ciuman dengan mu bagaimana aku bisa dengan mu?!" ucap Anna yang tak habis pikir.


"Kalau begitu kau bisa mencoba nya!" ucap Gevan yang juga tetap kukuh dengan pendapat nya.


"Sakit kamu!" ucap Anna yang mendengar pria itu bisa berbicara dengan santai.


"Aku sakit? Kamu yang sakit! Kamu kabur dari orang itu tapi kamu juga tidak bisa lepas dari dia?!" ucap Gevan yang juga merasa gadis itu masih sama.


Terlihat bebas namun terikat dengan sesuatu.


"Keluar! Aku tidak mau punya urusan sama kamu lagi! Aku mau tenang! Aku tidak butuh siapapun! Aku hanya mau hidup dengan anak ku saja! Ku mohon..." ucap nya yang menatap ke arah pria itu.


Dengan artikel yang beredar luas tentu nya ia menjadi lebih sensitif pada pria itu. Entah ketakutan yang harus ia khawatirkan atau tidak.

__ADS_1


Gevan terdiam sejenak, "Varsha? Maaf..."


"Kau marah?" tanya nya lirih saat gadis itu mulai mengusir nya.


"Kamu bilang kamu suka aku kan? Kalau kamu suka cara kamu lindungi aku cuma bisa kalau kamu pergi..."


"Gev..."


"Aku mohon..."


Kali ini Anna mulai menangis, ia tak bisa melakukan apapun atau pun tak bisa memungkiri apa yang sedang terjadi.


Emosi nya tak stabil tangisan nya yang lirih mulai semakin menjadi menjadi, rasa kalut semakin memenuhi nya.


Gevan terdiam, ia kemudian memundur dan berbalik.


"Aku akan kembali setelah kau tenang, maaf karna membuat mu marah..." ucap nya yang beranjak pergi tanpa ia tau jika itu adalah pertemuan terakhir nya dengan gadis yang tampak terpukul itu.


......................


Bern


Hotel


Lucas mulai menyelidiki cctv di tempat ia bertemu dengan gadis itu. Dengan catatan sipil yang terdaftar jika ia adalah suami sah nya beserta dengan laporan medis tentang kesehatan mental gadis itu dulu memudahkan nya untuk membangun cerita.


Cerita yang bisa membuat nya lebih mudah menemukan gadis nya.


Lucas menggunakan sistem AI dari perusahaan nya sendiri untuk memudahkan mencari wajah yang tak bisa ia kenali jika dari layar pipih itu.


Kecocokan data terlihat, namun ia masih belum bisa menemukan nya.


"Dia baik kreta api tapi pemberhentian nya?" gumam nya lirih sembari menjentikkan satu persatu jemari nya.


Walaupun ia sudah tau tempat gadis itu namun tetap saja ia bukanlah Tuhan yang bisa langsung tau di mana keberadaan gadis itu.


"Heh," seringai di wajah nya tampak terlihat.


Amarah, kerinduan, rasa senang semua beradu menjadi satu sampai membuat nya sulit untuk tau apa yang sedang ia rasakan saat ini.


Ia ingin menyentuh wajah lembut itu, menatap mata biru nya dan menyisir rambut pirang itu dengan jemari nya.


Memeluk tubuh kecil itu dengan erat bahkan jika harus mencekik ataupun meremukkan nya.


......................


Tiga Minggu kemudian.


Wegen


Camilla mendekat ke arah gadis itu, ia menatap dengan mata nya yang lirih dan melihat kegelisahan itu sedikit padam saat tak terjadi apapun setelah beberapa Minggu.


"Varsha? Tadi Diego bilang kalau dia akan kembali ke Jerman malam ini, kau tau kan? Dia sudah mengurusnya, tidak apa-apa." ucap Camilla yang selalu menenangkan gadis itu.


Anna diam sejenak, memang Diego pun langsung membuat strategi dengan mencari gadis yang mirip dengan Anna dan kemudian mengirim nya ke bandara untuk membuat Lucas terkecoh dan merasa harus mengikuti gadis yang mirip itu karna terlihat seperti kabur lagi.


Gadis itu mengangguk, karna ia tau rencana Diego ia sedikit merasa tenang dan berpikir jika memang semua akan baik-baik saja.


"Bibi? Aku akan antar pesanan yogurt yang sudah kita buat dulu, dia tidak akan tau sampai ke desa ini kan?" tanya Anna lirih yang mencoba kembali ke kehidupan nya.


Camilla tersenyum tipis, ia mengangguk dan membiarkan gadis itu pergi.


Greb!


"Terimaksih..." gumam Anna sembari memeluk wanita tua itu sekali lagi sebelum pergi.


"Aku tidak tau apa yang kau khawatirkan tapi ku harap kau selalu hidup dengan bahagia," ucap nya lirih yang membalas pelukan gadis itu.


Anna menangguk, pelukan hangat, rumah yang nyaman udara yang dingin dan perkataan yang menenangkan.


"Aku akan belikan Pizza yang sangat bibi suka nanti ketika kembali." ucap Anna dengan senyuman tipis.


Camilla mengangguk, ia menatap ke arah gadis itu dan berharap sungguh jika gadis itu bisa bahagia untuk hidup nya.


......................


Skip


Deg!


Deg!


Deg!


Plastik yang membawa sekotak makanan berbentuk bulat yang identik di potong menjadi segitiga itu tampak terjatuh.


Wajah nya pucat seketika, rumah nya tampak berbeda. Banyak mobil asing yang terparkir di halaman nya dan tidak ada penjaga yang berada di depan seperti biasa.


"Bibi? Ada yang tamu yang datang?" tanya nya dengan suara yang gugup dan gemetar dengan rasa takut namun ia mencoba untuk berpikir seperti tak ia yang perkirakan.


Clak!


Deg!


Jantung nya terasa ingin terhenti, sepatu tinggi nya menginjak cairan yang merah dan kental itu.


Ia membatu seketika, "Paman Kyle?" panggil nya lirih dengan suara gemetar saat ia melihat ke arah perawakan salah satu penjaga yang tersungkur di dekat teras nya namun darah nya menggenang.


"Bibi! Bibi Camilla! Estelle!"


Kali ini suara yang serak dan gemetar itu berteriak mencoba memanggil seseorang yang sangat ia sayangi.


Deg!


Deg!


Deg!


"Akh! Bi.. Bibi!" ia langsung mendekat, tentu ia sangat tanda dan tau pakaian apa yang di kenakan oleh wanita itu terakhir kali.


"Akh!" Anna berteriak tanpa suara karna begitu terkejut.


Tangis nya luruh dan seluruh tubuh nya terasa lemas. Darah wanita itu menggenang, sesuatu seperti tali panjang memburai di perut nya.


"Bi.. Bibi..." panggil nya dengan suara tercekat dan masih membatu seperti mengira jika ini semua hanya mimpi buruk di musim dingin.


"Akh! Ukh!"


Deg!


"Estelle? Estelle!" panggil nya yang tak bisa berlama-lama untuk menaruh kesedihan nya.


Deg!


Deg!


Deg!


Tubuh mungil putra nya di angkat, tampak kesulitan untuk melepaskan diri dan pisau tajam yang berada tepat di leher kecil itu.


"Tidak! Jangan!"


Ia tak bisa berpikir jernih, ia langsung mencoba meraih putra nya walau ia harus melemparkan diri nya.

__ADS_1


Bruk!


Tubuh nya terhempas, namun putra tampak berada di dalam pelukan nya.


"Uhuk!"


"Estelle? Estelle bisa dengar Mama?" tanya Anna lirih yang semakin gemetar melihat bekas cekikan di leher putra nya dah juga bekas luka.


Mata abu-abu gelap itu tampak goyah untuk beberapa saat, ia melihat gadis itu begitu dekat dengan nya saat ini.


"Pistol,"


Deg!


Jantung Anna berdebar mendengar nya, suara yang datar itu terdengar.


Tak lama kemudian langkah kaki terdengar mendekat, seseorang memberikan apa yang di minta oleh pria tampan itu.


Karna sejak awal senjata yang di gunakan adalah pisau agar tidak menimbulkan suara.


"Hidupkan musik nya, dan suara nya harus keras." perintah nya yang tau suara berisik bisa menetralisir atau pun menyamarkan suara tembakan.


Anna semakin memeluk putra nya dengan erat, ia tak berani melihat ke arah pria itu sedikit pun.


Suara langkah kaki mendekat, ia mendengar nya namun mata nya terus memejam.


Deg!


Sentuhan di ujung jemari yang hangat itu mengusap kepala nya dengan lembut, menyisir untaian rambut nya dengan jemari nya.


"Bagaimana? Kau senang dengan hadiah pertemuan yang ku berikan? Bagaimana kabar mu? Hm?"


Anna semakin gemetar, suara yang halus dan lembut di berbisik pada nya. Aroma mint dan anyir bercampur saat pria itu mendekat.


"Ambil anak itu," perintah nya sekali lagi dan tak lama seseorang mulai menarik paksa anak lelaki berumur 3 tahun itu.


"Estelle! Jangan! Estelle!" ucap nya yang berusaha memperhatikan putra nya sementara suara musik mulai menggema di rumah nya.


Anak lelaki itu tak bersuara sedikit pun, tak menangis namun tampak memberontak saat di pisahkan dari ibu nya.


"Hadiah kedua?" tanya pria dengan mata gelap yang menyilang itu sembari mengarahkan pistol nya.


"Ja.. Jangan..." Anna tersentak pria itu berdiri dan mengarahkan senjata api itu pada putra nya.


"Dia anak mu! Ku mohon..." ucap Anna lirih sembari memohon di kaki pria itu.


Lucas menoleh, ia menatap dengan tak percaya.


"Kenapa aku harus mempercayai ucapan pembohong dari mu? Dan lagi dia anak ku setelah kau kabur?" terdengar jelas suara yang berbicara itu.


Anna menggeleng, "Dia anak mu, aku tidak keguguran..."


"Aku salah..." tangis nya yang memohon pada pria itu.


"Bunuh aku saja, Jangan dia ku mohon..." ucap Anna yang memohon sekali lagi sembari mengatakan mata pistol itu dengan tangan nya yang gemetar ke arah kepala nya.


"Hah..."


Lucas tampak menarik napas nya, ia memperhatikan wajah yang cantik itu. Satu-satu nya wajah yang bisa ia lihat.


Ia berjongkok, "Begitu? Haruskah ku biarkan dia hidup?" tanya Lucas sembari mencengkram dagu gadis itu dan mengarahkan pistol nya ke kepala seseorang yang tengah menangis itu.


"Kalau begitu memohon, terus memohon pada ku..." ucap nya saat melihat wajah yang merah karna tangis itu.


Perasaan nya meluap tanpa arah, ia begitu marah namun kemarahan nya juga di liputi rasa bahagia.


Anna menangguk, walaupun ia tak bisa bernapas karna pria itu mencengkram pipi nya.


"Ku moho-"


Humph!


Mata biru itu tampak terkejut, sesuatu menyambar bibir nya dengan agresif dan ia merasakan sesuatu yang dingin menempel di paha nya.


DOR!


Cras!


Hukh!


Gadis itu meringis, namun ia tak bisa bergerak, tubuh nya terkunci, rambut nya di tarik dan kepala nya di tahan.


"Ma.. Mama..."


Estelle tampak terkejut, suara yang keras untuk pertama kali ia dengar, cairan merah yang mengalir di tengah tubuh ibu nya yang berdempetan dengan pria asing yang tidak ia kenal dan adegan ciuman yang tak ia ketahui.


"Mama!"


Panggil nya yang semakin memberontak ingin menjauhkan pria asing itu dari ibu nya.


Lucas melepaskan ciuman nya, sedangkan gadis itu langsung melihat ke paha nya yang penuh darah.


Senyuman tipis tampak terlihat, tangan yang gemetar membelai wajah nya.


Pria itu mengambil sesuatu dari balik jas nya, tangan yang penuh darah itu membuka kotak cantik dan mengambil isi nya.


Ku pikir aku akan membunuh mu saat kita kembali bertemu...


Tapi ku rasa tidak, aku tidak bisa mengarahkan pistol ku ke kepala atau jantung mu...


Tapi aku juga tidak mempercayai mu lagi...


Tangan kecil gadis itu di raih, jemari yang gemetar itu tampak di masukkan cincin yang indah.


Anna membatu, ia hanya melihat ke arah cincin yang berlian yang di pasangkan di jari manis nya.


"Kau suka?" tanya Lucas sembari menekan luka tembakan itu dengan mata pistol nya.


Clek...


Darah segar itu mengalir keluar, "Akhhh..." jeritan tertahan itu terdengar sampai gadis itu mengigit bibir nya sendiri.


Satu anggukan menjadi jawaban cepat dan pria itu tersenyum tipis.


Deg!


Anna menoleh, ia tersentak untuk beberapa saat, pria itu tampak menunjukkan ekspresi nya senyuman tipis dengan mata yang sendu.


Ia tak bisa mengartikan nya sama sekali namun ia juga tak memiliki waktu untuk berpikir karna pria itu terus menekan luka nya.


Lucas melepaskan tekanan pistol nya, ia kembali mencium bibir merah muda itu dan dan mengarahkan kembali pistol nya di kaki gadis itu yang lain.


DOR!


Humkph!


Anna tersentak rasa sakit itu sungguh luar biasa karna tak pernah merasakan peluru panas sekali pun.


Ciuman itu semakin dalam dan darah nya semakin ingin habis. Sedangkan anak kecil itu.


Tubuh yang memberontak itu tampak membatu saat mendengar tembakan kedua, mata yang gelap dan mirip sang ayah itu mulai berkaca.


Tes...

__ADS_1


"Mama..."


__ADS_2