Calm Down! Mr. Psycho!

Calm Down! Mr. Psycho!
Pengalaman yang tak terlupakan


__ADS_3

"Ukh..."


Suara rintihan terdengar, aroma anyir itu memenuhi seluruh ruangan.


Warna kemerahan yang mengkilap di bawah sinar lampu itu tampak indah di atas lantai marmer yang berwarna putih.


"Ka.. kau pikir ka.. kau akan se.. selamat?"


Suara wanita itu tampak lemah namun begitu terlihat kebencian mendalam yang berada di setiap kata nya.


"Tadi kau memohon untuk tidak membunuh putri mu sekarang kau mengancam?" suara yang terdengar tenang itu mendekat.


Tangan yang sudah patah terputar itu di pijak dengan sepatu hitam yang mengkilap.


"Sakit? Dia juga merintih waktu seseorang menusuk nya dengan pisau." ucap nya dengan wajah yang datar.


Ia memang tak bisa membalas beberapa orang yang tidak ia senangi secara langsung namun tentu saja pembalasan itu akan datang.


"Tenang saja, aku tidak akan menyakiti putri mu kalau dia tidak berulah dan menganggu ku." ucap nya yang berjongkok dan membuka mulut wanita itu dengan tangan nya.


Ujung pisau yang tajam itu mulai merobek dari ujung bibir hingga ke pipi dan berakhir di daun telinga.


AKKRHHHH!!!!


Suara teriakan melengking terdengar dengan berisik sekali lagi, lonceng dan rantai yang berguncang satu sama lain membuat irama dalam teriakan yang menyakitkan itu.


"Berisik sekali? Ini bukan ruangan kedap suara," ucap nya yang kesal dan menarik lidah di mulut yang sudah terbuka itu.


Crash!


Aroma anyir yang begitu lekat semakin tercium dengan darah segar yang menyiprat ke wajah tampan nya.


...


Dua hari kemudian.


Mansion Damian.


Anna mendekat ke arah pria yang baru saja kembali dari sebuah pemakaman itu.


"Anda baik-baik saja Sir?" tanya nya lirih yang menatap ke arah pria yang kehilangan keluarga nya secara berurutan hanya dalam beberapa bulan.


"Kau menunggu ku?"


Tiga kata itu terus terdengar setiap kali ia mendatangi pria tampan yang baru saja pulang dari mana pun itu.


"Ya, tentu saja." jawab Anna pada pria yang tersenyum tipis melihat nya padahal baru saja mendatangi salah satu pemakaman dari sanak saudara nya.

__ADS_1


Lucas diam, ia tak menanyakan apapun lagi selain mengusap wajah gadis itu.


"Sir?" panggil Anna lirih dan menengandah menatap ke arah pria yang memiliki tinggi lebih dari nya dan bahkan ia hanya setinggi bahu pria itu saja.


"Anda sibuk sekarang?" tanya nya pada pria itu.


Ia tak memiliki teman lagi dan bahkan para pelayan di mansion itu tampak begitu dingin pada nya seperti robot.


Dan siapa yang membuat itu semua?


Tentu saja pria psikopat yang memiliki mansion itu.


"Kenapa?" tanya nya pada gadis itu.


"Sa.. saya tadi mengambil bunga dari ta.. taman anda..." ucap nya lirih yang sedikit gelisah.


"Lalu?" tanya Lucas yang tak merasa keberatan sama sekali.


"Saya juga membuat kan untuk anda, anda mau lihat?" tanya nya pada pria itu.


"Baik, mana? Tunjukkan pada ku." ucap nya singkat pada gadis itu.


Anna tersenyum, tanpa ragu ia menarik tangan pria itu dan membawa nya untuk menunjukkan salah satu karangan bunga nya yang ia lakukan untuk untuk mengisi kekosongan nya.


"Bagus?" suara yang terdengar ragu itu melihat ke arah pria yang memegang karangan bunga yang berantakan itu.


"Ya, bagus. Aku suka." jawab Lucas sembari mengecup dahi gadis itu.


Ia bahkan tak tau jika pria itu sudah mengunci nya dengan cara yang berbeda dan membuat nya merasa hanya sendirian.


......................


Satu bulan kemudian


Sekolah


Beberapa siswa dan siswi yang bersekolah di tempat itu kini memulai upacara kelulusan nya.


Anna duduk di bangku dan kini ia duduk sendirian, ia tak menerima seseorang untuk menjadi sebangku nya dan lagi semenjak Samantha keluar di kelas itu memiliki jumlah yang ganjil.


Sena dan teman-teman nya melirik ke arah gadis yang mereka ingat saat awal masuk begitu ceria dan mudah berbaur.


Namun sekarang?


Seperti seseorang yang tak memiliki kehidupan sekolah remaja, saat pelajaran di mulai ia akan belajar dan saat pembagian kelompok ia juga akan sendirian, saat istirahat ia akan makan siang dan terkadang tetap di kelas untuk tidur.


Bell berbunyi, beberapa siswa dan siswi lain nya berlari ke aula untuk menemui beberapa kakak kelas yang mereka kenali.

__ADS_1


Sesaat setelah beberapa teman sekelas nya keluar, Anna menoleh ke tas nya.


Ia membuka resleting tas mewah nya dan menatap ke arah bunga yang ia buat untuk di berikan pada kakak kelas yang menyebalkan untuk nya dan sekarang tak akan menganggu nya di dua tahun sekolah menengah atas nya.


Anna menarik napas nya, ia membawa karangan bunga nya dan beranjak ke loker yang masih di pakai dari kakak kelas nya itu.


Ia tau di aula pasti remaja tampan itu di penuhi dengan gadis-gadis yang menyukai nya.


Karna walaupun mendapatkan julukan si pembuat onar namun remaja itu tetap memiliki wajah yang tampan dan cukup populer.


"Selamat lulus," ucap nya lirih yang meletakan karangan bunga nya di depan loker seseorang yang ingin ia berikan.


...


Mata biru itu menoleh ke arah karangan bunga yang berantakan dan tak memiliki paduan warna yang sesuai.


"Siapa yang kasih ini?" gumam nya lirih yang mengambil karangan bunga yang berada di depan loker nya saat ia akan membersihkan beberapa barang-barang nya yang tertinggal.


Selamat lulus! Jangan jadi pembuat onar lagi di kampus yang baru dan semoga ga ada jendela kaca yang pecah lagi ^^


Deretan gigi yang putih dan rapi itu tersenyum saat membaca note yang berada karangan bunga yang berantakan itu.


Ia tau milik siapa itu dan siapa yang mengirimkan nya saat melihat tulis tangan yang ia kenali.


"Dia tidak membenci ku," gumam nya lirih dengan senyuman sembari mencium kertas kecil berwarna merah muda dengan tinta hitam itu.


......................


Mansion Damian.


Anna menoleh ke arah kartu yang merupakan kunci kamar hotel presiden suite yang di berikan pada nya.


"Kita akan menginap di sini saat ulang tahun mu," ucap Lucas pada gadis itu.


"Benarkah?" tanya Anna dengan mata biru yang bersinar saat ia ingat dengan kamar hotel yang mewah dan pelayanan yang ramah ketika ia ikut perjalanan bisnis pria itu sebelum nya.


"Ya, dan apa kau menginginkan sesuatu?" tanya Lucas sembari memegang dan memainkan rambut yang pirang itu.


Ulang tahun kedewasaan gadis itu hanya tinggal beberapa hari lagi dan ia akan segara mengambil hal berharga dari seorang wanita pada gadis itu.


"Hum? Entahlah, saya tidak tau..." jawab Anna yang memikirkan nya dan lupa sejenak tentang janji yang ia ucapan.


"Kalau begitu aku akan berikan kejutan dan pengalaman yang tidak akan kau lupakan di hari ulang tahun mu nanti," ucap nya pada gadis itu dengan senyuman simpul nya.


"Apa itu berarti anda akan bersama saya sepanjang hari?" tanya Anna lirih pada pria itu.


"Ya, aku akan dengan mu sepanjang hari." jawab Lucas dengan senyuman yang menyimpan arti itu.

__ADS_1


Anna tersenyum, senyuman yang tampak senang karena ia tak akan kesepian seperti hari-hari nya saat ini ketika Lucas tak bersama dengan nya.


Karna hanya pria itu yang boleh bicara dan dekat dengan nya.


__ADS_2