Calm Down! Mr. Psycho!

Calm Down! Mr. Psycho!
Peringatan atau Saran?


__ADS_3

Asap putih yang mengepul dan menebarkan aroma manis, anak perempuan yang cantik seperti boneka itu menunggu di ujung meja yang membuat nya tenggelam karna tubuh yang masih sangat pendek.


Senyuman lembut dari seorang wanita yang mirip dengan nya dan memakai celemek berwarna biru itu datang dengan kukis yang masih hangat.


Ia tersenyum, makanan yang manis dan lumer itu di letakkan di atas meja.


Suara pintu yang terbuka dengan bel yang gemerincing ketika tersentuh tak ia hiraukan saat binar mata nya terhipnotis dengan makanan manis yang ia sukai itu.


Pertengkaran serta suara yang saling meneriaki membuat nya tersentak, tangan kecil nya pun dengan cepat mengambil kukis panas itu walau harus terbakar.


Lemari yang menyimpan bahan makanan itu ia buka dan memasukkan tubuh kecil nya, ia takut.


Takut dengan suara yang saling meneriaki satu sama lain dengan pembahasan yang ia tak mengerti sama sekali.


Brak!


Tangan kecil yang sibuk memegang kukis panas itu terkejut.


Lemari tempat ia bersembunyi terbuka dan membuat nya tersentak.


Baru saja ia melihat senyuman hangat dari wanita yang memiliki mata biru yang sama dengan nya, kali ini ia melihat wajah yang membuat nya takut.


"Ke sini!"


Ack!


"Hua..."


Tarikan di rambut bergelombang itu membuat nya terkejut dan merasa sakit, ia langsung menjerit dan menangis namun tidak akan ada yang menolong nya.


Plak!


Pipi mungil yang bulat itu merasa perih, tangan yang biasa nya hangat itu kini menjadi seperti tangan monster.


Tangisan yang semakin menjadi dan pukulan yang semakin keras, "Jangan bersuara, diamlah..."


Gadis kecil itu menutup mulut nya rapat dengan kedua tangan kecil nya dan tubuh yang meringkuk di atas lantai keras sembari menahan kaki yang melayang ke arah nya.


...


Mansion Damian


Tubuh yang berkeringat dan gemetar dalam tidur nya. Wajah yang tampak memerah dan belum terbangun sama sekali walaupun sudah satu harian penuh.


"Dia panas sekali, apa terkejut bisa seperti ini?"


"Apa yang membuat nya terkejut?"


Pria itu mengusap wajah yang terasa panas saat ujung jemari nya menyentuh, ia heran mengapa gadis itu bisa pingsan saat mendapatkan hadiah.


Terlebih lagi langsung mengalami demam tinggi dan saat pria itu membawa dokter, apa yang di katakan?


Terkejut?


Shock?


Padahal ia tak melakukan apapun pada gadis itu dan bahkan memberinya hadiah.


Ujung jemari pria itu bergerak mengitari wajah dan tangan yang berada di atas selimut tebal itu.


"Apa kau sakit karna terlalu senang?" ucap nya lirih yang merasa seharusnya tak ada yang salah dengan gadis itu.


Ukh

__ADS_1


Gadis itu meringis, memang saat demam tinggi seseorang terbiasa mengalami halusinasi.


Tangan dari jemari kecil dan lentik itu memegang tangan seseorang yang menyentuh telapak tangan nya.


Lucas terdiam, tangan yang panas itu menggenggam jari telunjuk nya. Walau tidak erat dan hanya pegangan lemah dari orang sakit namun entah mengapa ia seperti tak mampu melepaskan nya.


Kelopak mata yang memiliki bulu lentik itu terbuka perlahan dan hanya menampilkan cahaya segaris.


Bukan biru muda yang terang namun mata biru yang gelap dan berkilau seperti permata tampak menatap nya sayup.


"Cumi? Kau sudah bangun?" tanya nya menatap mata sayu yang melihat nya.


Tak ada sama sekali jawaban yang di berikan, mata sayup itu meneteskan buliran bening dan menatap seperti sedang melihat seseorang.


Anna kembali tertidur, rasanya ia kembali mengantuk dan tak bisa membuka mata nya lagi.


Lucas tak mengatakan apapun, ia meletakkan boneka yang sudah ia buat di samping gadis itu dan bahkan sudah memberi pengawet agar kulit manusia itu tak terlalu cepat membusuk.


......................


Sekolah.


Gadis itu menghentikan langkah nya, remaja tampan itu membuat nya berhenti.


"Kau tau rumah dia kan?" tanya Gevan yang menatap ke arah gadis itu.


"Gak tau," jawab Samantha dengan ketus.


Telpon nya saja tak ada satupun yang di angkat.


"Kau kan teman nya," ucap Gevan yang mencekal tangan gadis itu.


Samantha langsung menepis, "Ih! Jangan pegang-pegang! Kalau ada yang lihat gimana?!" tanya nya dengan raut kesal.


"Hey? Jangan ikut campur, tentang urusan ku." ucap Gevan dengan menatap kesal.


Samantha membalas lirikan, memang saat tak ada yang melihat kedua remaja itu bersikap seperti tak saling mengenal namun nyata nya mereka sudah mengenal sejak kecil karna merupakan sepupu satu sama lain.


"Kamu gak pernah pukul Anna kan?" tanya Samantha dengan wajah masam.


"Gak, cuma hampir." jawab Gevan sembari membuang wajah nya.


"Hampir?!" tanya Samantha dengan meninggikan suara nya dan tampak kesal.


Gevan membuang wajah nya dan berjalan menjauh tak ingin lagi mendengar omelan gadis itu.


"Oh iya, acting mu bagus itu. Kenapa kau tidak coba di depan ibu mu?" tanya nya sembari menoleh ke belakang sejenak dan tersenyum miring.


Gadis itu bersikap seperti takut dan tak mengenal nya sama sekali ketika ada anak-anak lain nya dan terlebih lagi sangat berbeda jika hanya mereka berdua.


......................


Dua hari kemudian.


Anna terbangun setelah mengalami demam tinggi selama beberapa hari, ia terdiam dan bahkan duduk menjauh dari boneka yang mengerikan itu.


Tangan nya gemetar setiap kali ia melihat nya, boneka menyeramkan itu seperti selalu mengingatkan nya jika ia harus dapat membuat pria tampan itu senang jika ia tidak ingin memiliki nasib yang sama dengan seseorang yang ia lihat tempo hari.


"Kau masih melihat nya? Padahal aku sudah bilang pada nya agar aku saja yang pilih tapi dia bersih keras ingin membuatkan yang khusus untuk mu." ucap nya sembari bersandar di dinding dekat pintu kamar gadis nya.


"Kenapa? Aku kan tidak pernah minta apapun," tanya Anna dengan suara memelas.


"Tapi aku penasaran, dari apa yang ku dapat bukan nya lebih baik kalau kau mati? Kau tidak akan menderita lagi." ucap Diego menatap dengan bingung.

__ADS_1


Tak ada senyuman yang ramah ataupun nada bicara yang ramah seperti sebelum nya.


"Kenapa? Kenapa aku harus mati? Karna miskin? Karna tidak punya orang tua? Karna sendiri?" tanya Anna mengernyit.


"Kau tidak memiliki apapun dan tidak memiliki siapapun, aku hanya memberi tau mu saja." jawab Diego menarik napas nya lirih.


"Kalau tidak ada siapapun yang mencintai ku, aku yang akan mencintai diri ku sendiri. Aku hidup untuk ku jadi walaupun aku tidak punya siapapun aku tidak mau mati seperti itu!" ucap Anna dengan bibir gemetar sembari melirik ke arah boneka yang memakan korban jiwa itu.


"Sudah ku bilang aku hanya memberi tau mu saja kan?" ucap pria itu menatap gadis yang terlihat gemetar dan menangis namun menatap nya dengan tajam.


Langkah nya berjalan mendekat dan menatap ke arah gadis itu, "Ini hanya pesan, walaupun aku meminta mu untuk bertahan kau harus hati-hati,"


"Jangan membuat nya kesal dan tidak menyukai mu dan juga jangan membuat nya terlalu menyukai mu, kenapa? Karna dua alasan itu akan membuat mu berakhir." ucap nya pada gadis itu.


"Kalau dia menyukai ku aku tidak akan mati kan?" tanya Anna yang menyanggah dan memberi tatapan tak suka.


Diego diam dengan wajah nya yang datar, selama beberapa hari terakhir sepupu nya itu berbeda dan berubah.


Lalu perubahan itu datang semenjak dekat dengan gadis di depan nya.


"Waktu umur kami 16 tahun dia memelihara anjing, anjing yang sangat manis dan lucu."


"Luc menyukai nya, setiap pulang sekolah memberi nya makan dan bermain dengan anjing itu, tapi kau tau? Waktu ulang tahun nya yang 19 dia membunuh anjing yang paling ia sukai." ucap pria itu menatap gadis di depan nya.


Anna mengernyit, jika suka kenapa harus di bunuh?


"Kenapa?" tanya nya yang tanpa sadar ingin menuntaskan rasa penasaran nya.


"Karna anjing itu mengikuti dan bermain dengan orang lain ketika dia tidak ada, jadi dia merasa marah mungkin cemburu?" jawab nya pada gadis itu.


Anna diam, ia tak mengatakan apapun lagi dan hanya melihat ke arah pria yang sudah berdiri di depan nya.


"Kenapa memberitau ku tentang ini?" tanya Anna menatap ke arah pria itu.


Diego langsung mengubah ekspresi nya menjadi tersenyum ramah lagi dan beranjak menjauh tanpa menjawab apapun.


"Aku pernah bilang untuk bertahan kan? Kalau harapan ku kau bisa bertahan lebih lama, tapi kalau tidak saran ku yang tadi juga tidak buruk," ucap nya tersenyum.


"Saran apa? Saran supaya aku mati saja?" tanya Anna mengernyit.


"Aku mengatakan nya untuk kebaikan mu, karna aku kasihan?" ucap pria itu dengan senyuman tipis dan mata yang tajam.


Anna diam, ia tidak tau tempat seperti apa yang ia tinggali saat ini, orang-orang yang membuat nya harus berpikir lebih keras dan berjalan seperti di atas tali yang melewati jurang.


Berjalan dengan hati-hati mempertaruhkan nyawa dan tujuan yang bahkan belum di ketahui.


"Berhenti mengatakan omong kosong dan pergilah,"


Anna dan Diego tersentak begitu mendengar suara yang akrab di telinga mereka.


"Kau sudah kembali? Aku akan keluar," ucap Diego yang tersenyum dengan mata yang ramah dan keluar dari kamar itu.


Anna menatap ke arah pria yang mendekat kepada nya.


"Sudah lebih baik?" tanya nya sembari memegang pipi gadis itu.


Anna mengatur ekspresi nya, ia tersenyum dan memegang tangan pria yang menyentuh pipi nya itu.


"Sudah Sir, anda dari mana? Saya merindukan anda," ucap nya dengan senyuman yang ia atur sebaik mungkin.


Lucas tersenyum tipis, tangan gadis itu terlihat gemetar memegangi nya namun ia tak begitu memperdulikan hal itu.


"Benarkah?" tanya nya dengan senyuman yang semakin membuat tubuh gadis itu meremang.

__ADS_1


Anna tak tau apapun, bagi nya bertahan hidup dengan membuat pria itu menyukai nya adalah hal yang baik tanpa ia tau neraka dengan angin surga apa yang akan terjadi padanya nanti.


__ADS_2