
Mansion Damian.
Gadis itu di bawa kembali, wajahnya masih sembab dengan tangisan yang tertinggal. Rasanya dunianya runtuh.
Tak ada yang membekap mulutnya dan ia pun tak memiliki riwayat penyakit asma namun kenapa sangat sulit untuk bernapas?
Dadanya sesak seakan tengah di ikat dengan tali yang begitu kuat.
"Ada apa tadi?" tanya Lucas yang kali ini menghentikan langkahnya dan berbalik menatap ke arah gadis itu.
"Bukan nya kamu yang suruh aku ke sana?" jawab Anna dengan senyuman yang tampak tawar.
"Bukan itu! Tapi kenapa bisa kejadian nya seperti tadi?" tanya Lucas yang kembali mengulang.
Anna diam sejenak, walaupun pria itu menunjukkan wajah yang datar namun tampak mata yang terlihat marah.
"Dia bicara soal anak dengan mu, dan aku cuma tanya." ucap Anna lirih yang mulai membuka mulutnya.
"Anak dengan ku? Cuma tanya? Astaga! Bukan nya aku sudah bilang jangan berhubungan dengan wanita itu?!" ucap Lucas pada gadis nya.
Greb!
Tangannya mencengkram dagu kecil itu dan menatap nya, "Lihat akibat nya?" tanyanya yang menatap ke arah pipi yang memerah bekas tamparan seseorang itu.
"Kalau kamu marah harus nya kamu biarin kan aku balas dia! Kenapa? Karna dia hamil anak kamu! Dia penting untuk saham kamu itu!" ucap Anna yang menepis tangan pria itu dengan kasar.
Lucas tak mengatakan apapun saat tangannya di tepis melainkan melihat wajah yang tampak menangis pilu itu dengan datar.
"Terus aku apa? Aku cuma mainan untuk orang-orang seperti kalian? Aku peliharaan? Aku hewan? Begitu?" perasaan sensitif itu meluap seperti embun pagi.
Napas Anna tersengal, tangisnya membuatnya sesak dan ucapannya terasa seperti hanya sebatas di kerongkongannya saja.
"Aku juga punya perasaan Luc..."
"Kamu bilang cinta aku tapi yang kamu lakukan lebih buruk dari pada hewan! Aku sakit! Aku juga bisa ngerasa sakit!"
Setelah nya Anna terdiam hanya terdengar tangisan yang pilu dari gadis itu. Lucas masih tak mengatakan apapun.
Ia tak tau kenapa Anna bisa berpikir jika wanita dari keluarga Cassandra itu hamil dari benih yang ia miliki.
"Sudah?" tanyanya dengan datar sembari menaikkan alis nya.
Anna mengernyit, pria itu tampak tak tersentuh sama sekali mendengar semua luapan perasaannya.
"Ada apa dengan mu sekarang? Dulu kau sangat penurut tapi kenapa sekarang kau jadi seperti ini?" tanya Lucas yang menatap heran melihat gadis itu.
Anna membuang napasnya kasar, ia seperti berbicara dengan tembok. Tak akan di dengar walau sudah sekencang apa jeritannya.
"Kau membuat masalah yang cukup besar," ucap Lucas yang menarik napasnya.
Ia sedang mempersiapkan satu persatu langkahnya namun gadisnya malah merusak nya.
"Kenapa kamu sangat melindungi wanita itu?" tanya Anna lirih yang terlihat asa yang hampir menghilang.
"Bukan dia yang ku lindungi tapi kau, semua tentang diri nya terlalu bersih sampai mencurigakan maka nya aku meminta mu untuk menjauhinya." jawab Lucas.
Anna tersenyum getir, ia sedang di lindungi?
Dari apa?
Sedangkan puncak predator itu sedang berada di hadapannya.
"Mulai sekarang jangan keluar mansion, mungkin butuh waktu sekitar 8 - 10 bulan." ucapnya yang hanya memberikan perintah tanpa penjelasan apapun.
Baginya ia tak perlu melapor secara rinci karna jika gadis itu menurut padanya maka semua akan baik-baik saja.
"Kamu ga akan jelasin apapun?" tanya Anna yang langsung memegang tangan pria itu untuk mencegahnya pergi.
Lucas menoleh, ia mengernyit melihat tingkah gadis itu.
Ia tak bisa memahami emosi yang di rasakan oleh Anna karna bahkan tak bisa merasakan emosi.
Sulit baginya untuk tau perasaan emosional di dalam diri nya, jadi bagaimana mungkin ia bisa memahami perasaan seseorang?
"Masuk ke kamar," ucap nya datar sembari melepaskan tangan kecil itu.
Anna membatu, lelehan buliran bening di matanya merembes keluar.
Tak ada penjelasan selain hanya kebungkaman, tak ada satu pun pembicaraan yang bisa menenangkannya.
"Nona?"
Suara yang keluar dari salah satu pengawal yang langsung datang begitu pria itu pergi.
Pengawal tersebut tampak menunjukkan dan mengarahkan dirinya untuk kembali ke kamar sesuai yang di minta oleh tuannya tadi.
...
Argghh!
Gadis itu meraung, emosi meledak dan tangisan nya pecah. Ia merasa tak ada satupun yang berpihak pada nya.
Jika seperti ini bukannya sama saja seperti dirinya yang dulu?
Ia terluka dan merasa kecewa lalu mencoba untuk pulih sendiri kemudian kembali mempercayai seseorang.
Tapi apa?
Ruangan kamar yang mewah itu begitu sunyi, ia sudah tinggal di mansion itu selama kurang lebih tiga tahun dan menggunakan kamar itu selama hampir dua tahun.
Tapi kenapa asing?
Perasaan yang begitu sepi menyelimuti nya, kecemasan tanpa alasan dan juga rasa takut yang tanpa sebab datang dan mengelilinginya.
Lantai yang dingin itu seperti menusuk masuk ke dalam hatinya, sudut ruangan yang masih rapi karna ia memang bukan tipe yang akan menghancurkan atau melempar barang.
Tangisnya masih belum berhenti, ia meraung dan hanya itu yang bisa ia lakukan. Rasionalnya seperti akan menghilang.
Kewarasan yang ingin ia pertahankan seperti ingin putus dan menghilang.
"Ack!"
Tangisnya berhenti sesaat, ia merasakan nyeri di perut nya dan membuat nya tersentak jika saat ini tak hanya memiliki dirinya.
Ia membawa nyawa lain yang berada di dalam tubuh nya.
Anna tak bisa mengentikan tangisnya seberapa banyak ia mencoba, yang ada hanya lelehan buliran bening itu yang terus mengalir keluar.
"Ma.. Maaf..." ucapnya yang mengusap perut ratanya itu namun tak bisa menghentikan tangisannya.
...
Pukul 07.56 pm
Lucas kembali, pelayan menyambut nya seperti biasa dan ia langsung menuju ke kamarnya untuk melihat di mana gadis nya.
Mata yang berwarna abu-abu gelap itu seketika langsung tersentak.
Bagaimana tidak?
Gadis itu tergeletak di lantai yang dingin dan dengan kondisi yang tak sadar.
"Anna?"
Rengkuhnya yang langsung memindahkan tubuh gadis itu ke ranjang dan tentu ia segara memanggil dokter untuk datang.
Tak butuh waktu lama untuk tenaga medis itu datang dan kemudian ia pun mendengar kabar yang membuat nya terkejut.
"Hamil? Kalian tidak salah periksa kan?" tanya Lucas mengulang.
"Tidak, pemeriksaan nya sudah saya pastikan tapi untuk lebih mengetahui kondisinya sebaiknya di konsultasikan pada dokter kandungan." ucap sang dokter pada Lucas.
"Kondisi lain?" tanya pria itu sekali lagi.
__ADS_1
"Anemia dan kurang gizi, lalu sepertinya nona juga mengalami stres yang membuat pencernaan nya terganggu." jawab dokter yang memeriksa kondisi gadis itu.
"Saya sudah memberikan vitamin untuk nona dan mungkin nona akan bangun pagi nanti. Biarkan dia beristirahat." sambung sang dokter.
"Kalian bisa keluar," ucap Lucas yang kemudian menyuruh para medis itu untuk segara keluar.
Ia terduduk dan memijat pelipis nya, walaupun ia selalu menggunakan pelindung dan juga pil untuk mencegah kehamilan namun ia juga tau hal seperti tak bisa 100 % menjamin tak akan ada benih yang berhasil masuk dan tumbuh.
"Kau benar-benar berani Anna," ucap Lucas lirih yang tentu ia tak merasa senang dengan kehamilan itu.
...
Pukul 08.12 am
Pagi menerjap, cahaya mentari telah datang dan menyebarkan semua sinarnya.
Kelopak dengan bulu mata yang lentik itu pun tampak bergerak secara perlahan dan kemudian mata biru tampak mulai terbuka.
Semua nya masih samar dan sayup, matanya kembali terbuka dan tentu ia sudah begitu puas untuk tidur.
"Bangunlah, ada banyak yang ingin ku tanyakan."
Suara yang terasa familiar itu masuk ke dalam telinganya dan menyadarkan kesadaran nya seketika.
"Luc?"
Anna terbangun dan kemudian duduk bersandar di kepala ranjang kemudian melihat ke arah nya.
"Minum dulu,"
Lucas mengarahkan dengan menunjuk menggunakan dagu nya ke arah air mineral yang berada di samping tempat tidur gadis itu agar Anna lebih segar dan bisa berbicara dengan lebih baik.
Anna menurut, ia meminum nya dua teguk dan kemudian melihat ke arah pria itu.
"Kau hamil?"
Deg!
Dua kata, satu kalimat yang mampu membuat jantung nya ingin melompat keluar.
"A.. apa?" tanya Anna mengulang ketika ia tersentak dan terbata.
"Jawab aku. Kau hamil? Maka nya kau terus bersikap aneh dan mengatakan hal-hal yang aneh juga." tanya Lucas sekali lagi.
Anna termangu, ia tak bisa menjawab saat suara nya seperti habis di telan oleh lautan.
Melihat diam nya gadis itu Lucas membuang napas nya dan tentu tak perlu jawaban pun raut wajah itu sudah menjawab nya.
"Gugurkan," ucap Lucas sekali lagi.
Anna langsung menoleh mendengar nya, tangan nya tanpa sadar memeluk perut ramping nya saat mendengar perintah yang tak memiliki hati itu.
"Kamu tega? Dia anak kamu juga!" ucap Anna yang tak bisa memahami isi pikiran pria itu.
"Kita akan ke rumah sakit untuk memeriksa kandungan mu dan bagaimana cara mengugurkan nya agar tidak memberikan efek untuk mu." ucap Lucas datar dan sama sekali tak memiliki perasaan untuk darah daging nya yang belum keluar itu.
Anna terdiam, ia masih tak bisa mengatakan apapun saat mendengar ucapan pria yang ia ingin mengugurkan anak nya itu.
"Setelah aku pulang kita akan ke rumah sakit," ucap nya yang kemudian pergi tanpa mengatakan apapun.
......................
Skip
Rumah sakit.
Karna ia mengenal pemilik rumah sakit itu tentu ia bisa meminta pemeriksaan secara pribadi karena ia juga membawa pengawal nya dan tentu bagian untuk pemeriksaan gadis nya sudah di kosongkan untuk waktu itu dan di pindahkan ke ruangan lain.
"Perkiraan usia nya masih sekitar 5 atau 6 Minggu, saya tidak bisa melakukan USG karena belum terlihat." ucap wanita paruh baya itu yang memeriksa dengan alas kesehatan nya yang lain.
"Lalu bagaimana kalau ingin mengugurkan nya? Kuret? Operasi? Obat?" tanya Lucas dengan datar pada wanita itu.
Sedangkan Anna hanya menunduk dan mengepalkan tangan nya tak mengatakan apapun sejak ia masuk ke dalam ruangan itu.
Dokter yang tadi nya memeriksa pun langsung melihat, ia menatap ke arah gadis yang tampak menunduk seperti terpaksa itu dan kemudian menatap kembali ke arah pria yang bertanya tentang cara mengugurkan anak nya itu.
"Maaf tuan, tapi itu-"
"Itu bukan lah permintaan tapi perintah, kau pasti tau siapa yang kau lihat sekarang kan?" Potong Lucas dangan penuh intimidasi.
Wanita itu menghela napas nya, ia tak bisa melakukan apapun lagi.
"Jika usia nya masih muda seperti itu lebih baik di berikan obat penggugur saja. Saya akan memberikan resep nya. Mohon di minum." ucap nya yang memilih untuk tak mau tau dengan apa yang terjadi.
"Berikan 10, karna aku yakin pasti obat itu akan terus tumpah." lirik nya ke arah Anna.
Anna tersentak dan tubuh kecil nya gemetar saat tau pria itu tengah menyindir nya.
"Baik." ucap Wanita itu yang kemudian memberikan resep obat.
......................
Mansion Damian.
Gelas kaca itu berhamburan, terlihat jelas air yang tumpah ke lantai dan genangan corak merah yang juga menyatu.
Kaki tanpa alas yang terluka itu, memundur dan tampak mencoba bergerak tak peduli seberapa banyak serpihan jelas kaca yang berada di lantai itu.
"Uhuk!"
Anna tak bisa bernapas nya, rahang nya di cengkram dan ia di paksa untuk menegak resep obat yang ingin mengambil bayi nya itu.
Lucas bergeming, sebanyak apapun tangan dengan kuku yang cantik itu mencakar nya ia tetap mencekoki gadis itu dengan obat nya.
"Ukh!"
"Hah..."
"Hah..."
Suara yang berat itu langsung terjatuh ke lantai begitu di lepaskan, ia menarik napas nya dengan berat dan buliran bening di mata nya jatuh ke lantai yang masih menggenang itu.
"Ku rasa kau belum habiskan satu gelas pun," ucap Lucas yang sudah menggunakan 10 ramuan itu secara berulang karna Anna terus menumpahkan dan menolak nya.
"Heuk!" tangis nya terdengar tertahan.
Seluruh tubuh nya gemetar tak dan tak bisa beranjak bangun sedikit pun. Anna masih tetap di posisi nya sampai ia melihat sepatu yang mengkilap itu beranjak pergi.
Ia pun langsung bergegas ke kamar mandi, melihat cermin dan membuka mulut nya dengan lebar lalu menusuk pangkal mulut nya itu dengan jari agar ia memuntahkan kembali minuman itu.
"Hoek!"
Rasa mual mulai menganggu nya dan ia berhasil mengeluarkan cairan itu.
Tangan nya bergetar memegang perut rata nya, "Kamu ga apa-apa kan? Maaf..."
"Maafin Mamah..." ucap nya lirih dengan tangisan pilu yang terisak.
Kaki nya terasa lemas, ia tak tau dan tak bisa melakukan protes. Wajah nya pucat dan ketakutan nya semakin besar.
...
Anna terdiam, makanan yang tampak banyak dan menggugah selera itu tak membuat nya ingin makan.
Keheningan mencekam, sejak pria itu mengatakan akan mengugurkan kandungan nya pagi ini ia sama sekali tak bersuara sedikit pun.
Ia tak bicara dan hanya diam, "Makan." ucap Lucas yang menyuruh gadis itu untuk makan dengan wajah yang datar padahal sore tadi ia baru saja mencekoki gadis itu dengan obat penggugur.
Tangan kecil itu tampak gemetar saat mengangkat sendok nya, ia tak merasa lapar sedikit pun kecuali rasa takut jika makanan itu juga memiliki obat yang sama.
Ia mulai memakan nya, kunyahan nya terasa seperti tengah memakan pasir dan batu. Perasaan was-was dan takut meliputi nya setiap kali ia ingin menelan makanan itu.
"A.. aku kenyang..." ucap Anna lirih yang tak bisa menelan lagi walaupun baru memakan tiga suap.
__ADS_1
"Habiskan makanan yang ada di piring mu," ucap Lucas yang membuat wajah cantik itu ingin menangis lagi.
"Luc..."
"Ku mohon..."
Anna meminta lirih dengan mata yang tampak begitu memohon.
"Kembali ke kamar," ucap Lucas yang kemudian menyuruh gadis itu untuk ke kamar.
Anna menurut, ia langsung beranjak pergi bahkan tanpa meminum minuman yang di sediakan untuk nya karna takut.
Hoek!
Hoek!
Gadis itu memuntahkan lagi makanan nya secara paksa, ia ketakutan untuk menelan sesuatu yang di berikan oleh pria itu sekarang.
Anna menekan tombol flush di toilet dan dalam sekejap semua makanan yang ia muntahan menghilang.
Ia perlahan bangun, dan berjalan ke wastafel. Wajah nya pucat pasi namun ia membilas nya dengan air segar.
"Tidak apa-apa, Mamah yang akan lindungi kamu..." ucap nya lirih yang mengusap perut ramping nya.
Air yang masih mengalir di kran itu menjadi perhatian dari pandangan nya. Ia juga manusia biasa yang merasa haus.
Tangan nya di satukan dan kemudian meminum air kran yang mengalir jernih itu.
Memang air kran boleh di minum secara langsung namun jika ada yang lebih baik kenapa harus melakukan nya?
"Hah..."
"Hah..."
Dahaga nya terasa lega, napas nya masih tersengal namun ia sudah bisa sedikit lega.
...
Satu Minggu kemudian.
Wajah yang dulu nya cerah itu kini tampak pucat, tak ada sinar sama sekali di wajah cantik itu.
Hanya berselang satu Minggu namun bobot gadis itu semakin banyak berkurang.
Bagaimana tidak? Selama satu Minggu ia di paksa untuk meminum obat penggugur yang tak ia inginkan dan hal itu pun juga ikut membuat nya tak bisa makan sama sekali.
Ia hanya terlihat seperti memakan semua nya dan kemudian memuntahkan nya, hanya sisa makanan yang sempat tercerna itu lah yang bisa ia makan.
"Jangan..."
"Jangan ambil anak ku..."
Akal nya hampir tak sejalan lagi, stres nya telah berubah menjadi depresi yang bahkan sampai membuat nya terus bergumam.
Kewarasan nya seperti sudah di ambang batas sampai membuat nya lupa jika ia punya tawaran yang bisa membawa nya lari walau tak tau bagaimana hasil nya.
Lucas melihat dari jauh, setiap hari ia memperhatikan pakaian yang di kenakan gadis itu dan tak ada tampak janin yang luruh dari obat yang ia berikan.
"Apa aku harus membunuh nya sendiri? Kenapa anak itu sulit sekali mati nya?" gumam nya yang kemudian mendekat dan mencengkram tangan gadis itu.
"Jangan! Jangan ku mohon!"
Anna tersentak ia langsung menjerit saat pria itu membawa nya.
Tubuh yang setingan kapas itu dengan mudah bisa di seret.
Bruk!
Lucas melempar tubuh kecil itu ke atas ranjang, Anna tersentak. Rasa takut sudah menyelimuti nya sehingga membuat nya memohon lebih dulu dan tangis yang keluar.
Tak ada balasan atas jawaban apapun, ia menarik dress gadis itu dan kini terlihat tubuh yang tampak kurus itu seperti layak nya seseorang yang kekurangan gizi.
Ia menindih nya, perut gadis itu masih rata walau usia kandungan sudah menginjak 7 Minggu.
"Akh! Sakit!"
"Luc! Lepas! Sakit!"
Jerit gadis itu meringis, memang perut nya tak di pukul atau di hantam dengan alat berat atau benda tajam.
Namun pria itu mencengkram kedua sisi pinggang kecil nya itu dan kemudian menekan kedua sisi ibu jari itu di perut yang tampak ramping walaupun sedang menyimpan bayi itu.
Anna meringis dan kali ini ia kembali mencakar tangan pria itu namun tak ada balasan.
"Luc? Sa.. sakit..."
"Ke..kenapa..."
Tangis nya lirih, wajah nya pucat pasi menahan rasa sakit di perut nya saat pria itu terus menekan area perut nya dengan kekuatan jemari nya ketika mencengkram kedua sisi pinggang ramping itu.
Lucas beranjak ke telinga gadis yang tampak menangis namun tak bisa lagi mengeluarkan suara nya.
"Aku tidak mau berbagi,"
"Aku mau hanya kau dan aku. Hanya kita..."
Bisik nya di telinga gadis itu, dan kemudian melihat ke arah tempat nya lagi.
Cairan merah mulai merembes keluar dari gadis itu, ia pun melepaskan tangan nya dan secepat kilat gadis itu meringkuk sembari melihat ke arah pria yang baru saja menekan perut nya itu.
"Aku akan panggil dokter," ucap pria itu dengan suara yang lembut sembari mengusap sekilas kepala gadis itu.
...
Wanita paruh baya itu datang, ia memeriksa kondisi dari gadis yang tampak begitu pucat itu. Awalnya ia pun tercengang saat melihat kondisi yang cukup mengenaskan itu.
Bagaimana tidak? Baru satu Minggu tapi gadis itu malah terlihat seperti usia anak 14 tahun karna tubuhnya yang begitu kecil.
"Hidup?" gumam nya yang terkejut saat memeriksa kandungan gadis itu.
Sudah beberapa kali terkontaminasi obat penggugur, sang ibu yang kekurangan gizi dan nutrisi karna tak bisa makan dan juga mengalami pendarahan yang cukup banyak barusan.
Tapi janin itu masih berhasil bertahan?!
Bukankah itu seperti keajaiban?!
Anna yang mendengar wanita itu bergumam langsung beranjak bangun hingga membuat sang dokter tersentak.
Ia langsung berlutut dan menjatuhkan dirinya tepat di kaki wanita itu.
"Ku mohon..."
"Katakan pada nya kalau anak ini sudah mati..."
Ucap Anna yang memohon dengan tangis pilu nya bahkan ia tak peduli jika harus mencium atau memeluk kaki wanita itu.
dr. Arne tak mengatakan apapun, ia bungkam tak bisa menjawab nya walau ia iba. "Jangan seperti ini nona." ucap nya yang mencoba membangunkan.
Anna semakin memeluk kaki wanita itu, "Ku mohon..."
"Aku mau anak ku hidup..."
"Jangan ambil anak ku..."
"Ku mohon..."
Wanita itu membuang napasnya kasar dan kali ini rasa kasihan mulai menggerogoti perasaan nya.
"Baik, jadi hentikan." ucap nya karna ia juga berpikir janin itu akan segara keguguran karna kondisi ibunya sendiri sudah mengenaskan.
dr. Arne pun keluar, meninggalkan gadis yang masih terduduk di lantai itu membawa laporannya.
Anna masih termangu, pikiran nya kosong dan hanya mencoba untuk menyelamatkan nyawa yang berada di perutnya.
__ADS_1
"Kita keluar dari sini ya? Kamu mau kan hidup sama Mama aja?"
Tangisnya yang terisak sembari mengusap perut ratanya.