Calm Down! Mr. Psycho!

Calm Down! Mr. Psycho!
Crazy woman


__ADS_3

Satu Minggu kemudian


Universitas


Pria itu memejamkan mata nya sejenak setelah kelas berakhir, ia pikir dalam beberapa hari gadis cantik itu akan berbalik melihat ke arah nya tapi apa?


Gadis itu masih menjauhi nya, jangan kan mendekat atau di dekati, menoleh saja pun tidak.


Greb!


"Ann! Kita satu kelompok!" ucap nya yang kali ini kembali mendekati.


"Loh? Bu.. bukan nya kelompok nya buat sendiri ya?" tanya Anna yang terkejut.


Memang dosen nya menyuruh untuk membuat kelompok minimal dua orang dan maksimal 5 orang, dan pembagian nya di atur sendiri oleh mahasiswa di kelas nya.


"Ya, aku yang daftarkan nama kita." ucap Gavan dengan enteng.


Mata biru itu membulat, ia diam berminggu-minggu tak mendekat dan berbicara dengan siapapun. Berusaha membuat pria psikopat itu senang walau pun ia juga masih memiliki kemarahan yang tersimpan.


Tapi pria di depan nya?


Terlalu sering mendekati nya, bahkan sangat sering mendekati nya.


"Gak! Aku mau ubah!" ucap nya yang masih sama dan menghindari pria itu.


Gevan mengambil napas nya, tentu ia yang lebih tau beberapa sifat dosen karna ia sudah kuliah lebih dulu.


Dan seharusnya kelas itu pun tak lagi ia ikuti namun ia rela mengulang kelas nya agar bisa melihat gadis berambut pirang itu.


...


Ruang dosen.


"Apa perkelahian seperti ini harus saya juga yang selesaikan? Kalian masih anak-anak?" tanya prof. Xander selaku dosen yang mengajar dan memberi tugas itu.


Pria yang memiliki kepribadian tegas dan kompetitif sehingga semua anak yang bisa mendapatkan nilai tinggi dari nya memang harus benar-benar mampu dan pintar.


Anna terdiam sejenak, dosen yang memiliki perawakan tegap dan wajah yang sudah keriput itu tampak tak mentoleransi sikap kekanakan seperti itu.


"Maaf, prof. Kami akan keluar." ucap Gevan yang menundukkan kepala nya sejenak dan membawa gadis di samping nya keluar.


Anna masih tak mengatakan apapun, ia terdiam dan takut jika pria itu mengetahui nya lagi.


"Kalau kau terus seperti itu dia akan mengurangi poin nilai mu, kau mungkin tidak tau tapi dia cukup tegas terutama nilai etika." ucap nya pada gadis itu.


"Kalau tau begitu kenapa kamu malah buat kita satu kelompok?!" Anna mendengus kesal dan tampak tak ingin membicarakan pembahasan tentang kelompok bersama.


"Memang nya aku punya penyakit menular ya? Aku rabies? Kau memperlakukan orang lain seperti virus." ucap Gevan yang bingung melihat gadis itu yang begitu tak ingin di dekat nya.


Anna terdiam saat mendengar nya, bukan maksud nya demikian namun ia hanya ingin keselamatan untuk pria di depan nya dan juga keselamatan nya sendiri.


"Jadi kau mau dia mengurangi nilai mu saja? Paling kau akan mengulang kelas mu lagi, tahun depan, atau paling cepat semester depan." ucap Gevan yang menghela napas nya.


Mata biru itu tersentak untuk beberapa saat ketika mendengar mengulang kelas.


"Iya! Nanti buat nya di perpus," ucap Anna yang segera beranjak pulang dan menelpon supir untuk datang menjemput nya.


Gevan diam untuk beberapa saat, gadis itu terlihat menghindar namun juga terlihat tidak membenci nya.


Jadi dia di hindari karna apa?


......................


Cafetaria


Anna membuang napas nya, ia memilih berhenti dan pergi untuk memesan, tentu nya hal sekecil itu pun juga ia laporkan pada seseorang.


"Supir nya nanti beliin juga deh satu," gumam nya lirih karna sang supir tak mengikuti nya melainkan memantau dari sebrang jalan ke dalam kafe.


Langkah antrian pun berjalan satu persatu karna siang itu lebih banyak pelanggan yang datang di jam istirahat.


"Selamat siang, mau pesan apa." ucap pelayan cafe begitu antrian nya datang.


Mata biru itu terdiam sejenak, ia menatap ke arah gadis di depan nya yang kali ini bekerja secara normal.


"Milkshake rasa caramel satu sama cheese cake nya," ucap Anna yang memesan walau mata nya masih memandang ke arah pelayan cafe yang menjaga kasir itu.


"Baik, silahkan tunggu pesanan nya." jawab gadis itu yang menarik napas nya dan tampak menunduk.


"Sam? Kamu ada waktu luang?" tanya Anna lirih setelah terdiam beberapa saat.


Tak ada jawaban namun ia tak mungkin menunggu nya karna orang-orang yang mengantri akan marah jika ia tetap berdiri di sana.


Anna pun memilih duduk di tempat yang bisa melihat ke arah kasir dan menunggu gadis itu selesai, ia tau setidak nya pelayan cafe pun memiliki jam istirahat makan siang.


Samantha masih bekerja sampai teman nya datang dan menggantikan waktu makan siang nya.


Mata nya melirik ke arah gadis yang masih menunggu di meja dan terus memperhatikan nya.

__ADS_1


Sedikit tak nyaman namun ia berusaha untuk mengabaikan nya.


"Fyuhh..."


Gadis itu masuk ke wilayah dapur, kini tempat nya sudah di gantikan untuk sementara agar ia memiliki waktu makan siang.


"Apa aku ke sana ya? Dia masih nunggu ga sih?" gumam nya yang bingung.


Semenjak beberapa bulan lalu saat kejadian mereka bersembunyi tak ada kabar apapun lagi.


Dan memang kedua nya tak memiliki kontak yang bisa terhubung atau di hubungi.


Langkah nya beranjak keluar dan masih melihat gadis dengan rambut pirang yang bergelombang itu masih menunggu nya.


"Iya deh, sekalian selesain sama dia." gumam nya yang ingin memutus rantai sosial nya dengan orang-orang yang lama ia kenali.


Langkah kaki nya beranjak melangkah keluar dan mendekat pada meja yang menunggu nya itu.


"Anna?" panggil nya lirih yang menatap ke arah gadis yang melihat dengan mata biru nya yang jernih itu.


"Sam? Si.. sini kamu duduk!" ucap Anna yang terbata saat ia tiba-tiba gugup.


Suasana hening yang canggung tampak sejenak di tempat yang di huni banyak orang itu.


"Ka.. kamu mau bilang apa? Waktu ku ga banyak, nanti mau tukaran shift lagi." ucap Samantha yang mulai bicara pada teman nya itu.


Anna terdiam sejenak, ia juga bingung ingin mengatakan apa namun ia selalu ingin berbicara dengan teman pertama nya yang dekat dengan nya itu.


"Ka.. kamu udah ga kerja di sa.. sana lagi kan?" tanya Anna lirih yang malah mengatakan hal tersebut.


Samantha terdiam untuk beberapa saat sebelum menjawab nya, helaian napas nya terdengar berat saat di tarik.


"Iya..."


"Aku juga udah ga kerja di sana lagi, aku udah coba cari yang bener kok..."


Jawab nya lirih pada gadis di depan nya, namun tak melihat wajah lawan bicara nya sama sekali.


Bukan nya takut namun ia lebih merasakan hal yang malu untuk berbicara pada gadis itu.


"Sekarang kabar kamu gimana?" Anna bertanya hal bahkan sudah ia tau saat kata-kata yang keluar dari mulut nya lepas begitu saja agar tetap masih ada topik yang terdengar.


"Baik," jawab Samantha lirih.


Mata nya mencuri pandang ke arah gadis yang duduk di depan nya.


"Ann?" panggil nya lirih yang menatap sekilas kemudian menundukkan pandangan nya sekali lagi.


"Kemarin Pa.. Papa datang, di.. dia tanya kabar kamu..." ucap Samantha lirih.


Yang ia katakan bukan lah sebuah kebohongan karna beberapa Minggu yang lalu sang ayah datang dan menanyakan kabar teman nya itu atau bisa ia katakan sebagai saudari nya?


"Sam," Anna memanggil lirih saat mendengar pria yang tak pernah peduli dengan nya itu menanyakan kabar nya.


Samantha menoleh, setidaknya kali ini berani melihat mata biru itu ketika ingin mendengar reaksi nya.


"He's not my Dad, he's your Dad..." ucap nya lirih pada teman nya.


Cara bicara dan sikap pun di tentukan oleh lingkungan, dan karna ia sudah mulai terbiasa mendengar bahasa campuran tentu ia juga akan mengikut tanpa sadar sesuai dengan yang ada di sekitar nya.


Deg!


Samantha tersentak beberapa saat ketika mendengar nya, teman nya itu bahkan tak mau mengakui ayah kandung.


"Ann? Tapi mau bagaimana pun dia kan juga Papa kamu." ucap nya lirih.


"Tapi dia ga pernah jadi sosok ayah untuk aku, dia ga pernah datang dulu. Aku aja ga pernah ingat dia pernah gendong atau meluk aku waktu kecil. Dan kalau dia memang bersikap sebagai orang tua, dia ga akan ninggalin anak nya sendiri walau pun dia selingkuh dari istri nya." Jawab Anna yang membuat teman nya itu terdiam.


"Maaf..." ucap Samantha yang menunduk dan tak bisa membantah nya sama sekali.


"Sam? Aku ga benci kamu tapi jujur aku benci sama ibu kamu, aku juga benci sama ayah kamu, aku benci keluarga kamu. Tapi aku ga bisa benci kamu. Walaupun aku juga merasa iri tapi itu bukan kebencian." ucap nya lirih.


Sedangkan Samantha masih tak bisa mengatakan apapun, lebih tepat nya tak ada jawaban yang bisa ia keluarkan untuk perkataan yang ia dengar.


"Sam? Kita..."


"Kita bisa ga sih balik kayak dulu lagi? Tanpa mikirin apa yang udah di buat sama orang tua kita?"


Anna menanyakan kalimat tersebut, gadis yang menunduk di depan nya seketika melihat ke arah nya dan memandang nya lurus.


......................


JNN Grup


Pesan notifikasi masuk ke dalam ponsel pria itu, ia mendapat pesan yang berisikan alamat dan pekerjaan seseorang.


"Dia jadi pelayan kafe sekarang?" gumam nya yang melihat sekilas dan kemudian menutup ponsel nya lagi.


Ia tak mau terjebak dalam hubungan asmara atau hubungan yang melibatkan perasaan.

__ADS_1


Bagi nya hubungan seperti itu terasa sedikit menjijikan dan memiliki rasa takut tersendiri untuk nya.


Mungkin ia memiliki sesuatu yang hampir mirip dengan sepupu nya karna pengaruh dan ingatan membekas yang di tinggalkan sang ayah.


Namun ia tak memiliki masalah dalam bermain wanita tidak separah sepupu nya yang bahkan baru pertama kali menyentuh wanita setelah berumur 30 tahun dan itu pun dengan gadis remaja yang memiliki perbedaan usia 13 tahun.


Maka dari itu ia memilih untuk mengakhiri nya sebelum ia juga terjatuh ke dalam hubungan yang melibatkan perasaan seperti itu.


Pria itu melangkah keluar ke arah pintu masuk untuk menyambut seseorang.


Sepatu heels yang tinggi dan terlihat cantik, gaya berjalan yang elegan dan wajah yang memiliki garis keanggunan.


"Anda sudah datang, nona Lucina?" ucap Diego meyambut wanita cantik itu.


"Ya, di mana ruangan nya?" tanya nya yang menatap ke arah sekertaris dari seseorang yang ajan ia temui.


"Silahkan ikuti saya," ucap Diego yang mengarahkan jalan untuk wanita itu.


Wanita itu mengangguk, cara bicara dan perilaku nya menunjukkan wanita yang berasal dari kelas atas.


Pintu ruangan Presdir itu terbuka, ia memang sedang menunggu seseorang.


"Anda sudah datang nona Lucina?" ucap nya yang menyambut wanita itu dengan mengulurkan tangan nya.


Walaupun ia menyambut namun tetap saja ia tak pernah menunjukkan senyuman nya untuk siapapun.


Wanita itu terdiam sejenak, ia menghentikan langkah nya dan untuk beberapa saat ia melihat ke arah pria di depan nya.


"Ya, terimaksih." jawab nya singkat dengan senyuman tipis sembari menjabat tangan nya yang menyambut nya itu.


Wanita itu duduk, dan tentu ia membawa sesuatu yang masih berhubungan dengan bisnis untuk keuntungan kedua belah pihak.


Mata yang bewarna hijau kecoklatan itu berulang kali melihat ke arah pria yang bahkan tak menghiraukan nya sama sekali kecuali berhubungan dengan apa yang ia bawa.


"Saya berharap pada kerja sama ini," ucap nya yang beranjak bangun ketika pembicaraan selesai.


"Ya," Lucas kembali menjabat tangan wanita itu.


Wanita yang menunjukkan sisi yang elegan dan anggun namun merupakan rubah gila di dalam nya.


......................


Skip


Suara musik terdengar menutupi er*ngan yang menggila, wanita yang terlihat begitu menikmati nya berada di atas pria yang tampak sudah lemas itu.


"Ck! Sial! Kau lebih lambat!" gumam nya yang tak menunjukkan kepuasan dan beranjak bangun.


Ia berdecak, ia menatap ke arah pria yang tampak memiliki bekas cakaran di punggung dan dada nya.


Wanita itu beranjak duduk di sofa yang mengarah ke langit malam di dinding kaca yang besar itu.


Senyuman tipis terlihat di wajah nya, ia menyukai kesempurnaan.


Dalam hal apapun ia harus memiliki sesuatu yang sempurna.


"Bahkan nama kami terdengar mirip," ucap nya lirih yang mengingat saat ia menemukan calon yang sempurna untuk berada di samping nya.


"Nona? Apa saya kurang memuaskan anda?" tanya pria itu yang mendekat ke arah wanita yang duduk dan tampak mengabaikan nya.


Wanita itu menoleh dengan mata nya yang melihat ke arah pria yang bersama nya.


"Entah lah, apa kau bisa bersikap jadi anjing yang baik?" ucap nya lirih dengan membuang napas nya malas.


Kaki jenjang nya yang putih dan mulus itu mendarat nya ke arah pria di depan nya seperti menyuruh nya untuk berlutut.


"Coba puaskan aku sekali lagi, anjing ku yang baik..." bisik nya sembari menyentuh dagu yang kekar itu dan meletakkan kaki nya di pundak pria yang berlutut pada nya itu.


Ia yang merupakan putri tunggal dari perusahaan ternama tentu nya bisa memiliki apapun.


Dan terkadang untuk membuang rasa bosan nya di kehidupan siang yang melelahkan ia memiliki mainan dengan memelihara seseorang yang harus menyenangkan nya dan tentu banyak yang menginginkan nya karna ia memiliki puncak status dunia sosial.


"Si*l kau anjing nakal," ucap nya dengan napas yang ternegah-engah ketika peliharaan nya itu menj*lat nya.


Mata nya melirik ke arah kalung anjing yang bahkan masih memiliki tali itu.


Ia kembali mengikat nya dan menaikkan dagu pria yang melihat ke arah nya.


"Ukh!"


Pria itu tersentak, memang terkadang ia merasa kesal walaupun ia memilih menjadi mainan wanita kaya namun ia juga tak begitu suka jika harus di tarik leher nya dengan kalung anjing.


Tapi tentu saja uang berbicara dan wanita itu memiliki kecerdasan dan uang yang setimpal.


"Lakukan dengan baik," ucap nya yang membuka kaki nya sendiri sembari menarik tali kalung yang ia pasang kan.


Wanita itu memejam sejenak, ia membayangkan seseorang yang sempurna itu untuk menggantikan posisi anjing peliharaan nya saat ini.


Aku akan membuat nya berlutut juga...

__ADS_1


Aku sudah menemukan nya....


Dia harus jadi milik ku...


__ADS_2