
4 Hari kemudian.
Mansion Damian
Diego mendatangi sepupu nya yang selama beberapa hari bekerja dari rumah karna ia tak ingin meninggalkan gadis nya untuk sekarang.
"Aku menemukan beberapa interaksi nya dengan pengirim yang dia bicarakan waktu itu." ucap Diego yang merujuk pada pria yang sempat menculik Anna tempo hari.
Lucas langsung menoleh saat mendengar nya, ia tertarik dengan berita yang sangat nantikan itu sebelum nya.
"Veronica?" tanya nya sembari menaikkan satu sudut alis nya saat menyebutkan nama yang bahkan belum di ucapkan oleh Diego.
Diego terdiam sebentar namun ia menganggukkan kepala nya, "Ya. Dia seperti nya terlibat." ucap Diego yang tak membantah sama sekali.
"Kau juga mencari tau?" tanya Diego pada pria itu karna sudah menyebutkan nama yang bahkan belum ia sebut.
"Tidak, aku hanya menebak nya." jawab Lucas pada pria itu.
"Kau seperti nya punya bakat jadi cenayang," ucap Diego pada sepupu nya itu.
Lucas tak membalas namun tentu bukan tanpa alasan ia mencurigai bibi pertama nya.
Ia tau betul jika wanita itu sangat menginginkan posisi nya dan juga ingin menjatuhkan nya namun tak pernah berhasil dan tentu saja saat di rasa menemukan sesuatu yang terlihat menjadi kelemahan nya maka akan langsung menyerang.
"Luc? Kau tau tidak akan bisa menyingkirkan nya dengan mudah kan? Dia juga termasuk keluarga Damian!" ucap nya yang menatap ke arah sepupu nya.
"Kenapa tidak bisa? Kau bisa singkirkan pria-pria itu juga dulu." ucap nya yang menyebutkan sang ayah dan juga ayah sepupu nya.
"Luc? Kau tidak bisa untuk tidak membahas nya?" tanya Diego pada pria yang tampak akan terus mengungkit salah satu kesalahan nya yang tak pernah ia sesali itu.
Lucas membuang napas nya, ia menatap ke arah sepupu nya yang tampak gusar.
"Sudahlah, bagaimana pun aku akan singkirkan mereka nanti." ucap nya yang terlihat marah namun untuk saat ia ini tak bisa dengan mudah membunuh dan melenyapkan orang itu.
"Akan ku pasti kan semua tulang nya hancur sampai dia memohon untuk mati nanti." ucap nya yang sembari menekan pena yang ia pegang sampai tuntas yang berada di dalam nya meluber dan pena tersebut menjadi patah.
Diego terdiam, ia tak bisa mengatakan apapun saat ini untuk membuat sepupu nya yang tengah mengamuk itu tenang.
__ADS_1
"Dan kau juga harus dengar ini," ucap Diego yang ingin memberi tau jika sang kakek ingin menjenguk Anna.
Pria tua itu tak tau jika gadis itu di serang, ia hanya mengira jika gadis remaja yang selalu membuat terhibur itu sedang sakit sampai tak bisa masuk sekolah.
"Mau apa si tua itu datang?" tanya nya dengan tatapan yang tak bersahabat karena sejak kecil ia sedih tersugesti jika sang kakek adalah seseorang yang tak menyukai nya.
...
Kondisi Anna perlahan membaik walau ia masih menderita akibat luka yang terjadi pada nya.
Suara pintu terbuka membuat mata yang terlihat termenung itu menoleh.
Terkadang ia masih terdiam, ia tidak tau kenapa semua orang sangat ingin membunuh nya padahal ia tak melakukan apapun.
"Kau tidak habiskan makanan mu lagi?" tanya nya pada gadis remaja itu.
Anna menoleh, ia tidak ingat dengan pelukan yang ia lakukan pada pria itu saat ia merasa takut.
"Akan saya habiskan segera," jawab nya singkat yang sudah beberapa kali lupa memberikan senyuman nya.
Anna masih diam tak mengatakan apapun dan pria itu membenci keheningan yang tercipta dari gadis nya.
"Aku sedang bicara," ucap nya pada gadis itu dengan meninggikan suara nya.
Anna tersentak, ia menoleh ke arah pria yang memarahi nya dan membujuk nya juga.
"Kenapa semua orang mau aku mati?" gumam nya yang bicara pada pria yang berada di depan nya namun dengan suara yang begitu pelan.
"Apa? Katakan dengan jelas kalau kau mengatakan sesuatu." ucap Lucas yang tak bisa mendengar ataupun membaca gerak bibir gadis itu.
"Apa aku memang benar-benar tidak di inginkan?" tanya nya yang mulai bersuara sedikit lebih keras.
"Apa?" tanya Lucas mengernyit, kenapa gadis itu bisa menanyakan hal yang begitu bodoh?
Ia ada seseorang yang sangat menginginkan gadis itu apapun yang terjadi.
"Semua orang mau aku mati, aku salah apa?" tanya nya lirih yang kembali menangis dan lupa sejenak jika ia harus berbicara dengan sopan dan formal.
__ADS_1
Ia kembali terguncang setelah di pukuli lagi seperti masa kecil nya, di tampar, di tendang, di Jambak dan di tusuk dengan pisau tajam.
Lucas tak menjawab, memang jika ia bicara dari sudut pandang mata nya yang dulu gadis itu memang seperti sasaran yang empuk untuk mangsa orang-orang seperti nya.
Gadis yang membuat orang-orang seperti nya ingin menyakiti nya seperti mangsa kelinci yang menggugah hasrat.
Terlihat lemah dan menggemaskan di saat bersamaan.
"Tapi aku menginginkan mu, jadi ku rasa anggapan mu salah." ucap nya pada gadis itu.
Anna diam sejenak, ia kemudian sadar sedang berbicara dengan siapa.
Ia mengusap air mata nya dan menarik napas nya lebih dulu.
"Ya, anda menginginkan saya karna saya memiliki warna kan?" tanya nya yang tau jika pria itu juga ingin ia karna sesuatu yang ia miliki tak semua orang bisa memberikan nya.
Lucas tak menjawab apapun karna apa yang di katakan oleh gadis itu memang benar, ia suka karna Anna memiliki semua warna dan keindahan yang tak bisa ia lihat.
"Maka nya anda juga bisa membunuh saya kapan saja," ucap nya yang kembali ragu karna ia juga ingat hampir mati berulang kali di tangan pria itu.
"Tapi aku tidak akan meninggalkan mu, kau benar kalau aku menginginkan mu karna kau memiliki warna tapi kalau pun ada orang lain yang bisa seperti mu aku akan tetap memilih mu." ucap nya pada gadis itu.
Lucas tak mengerti bagaimana mengatakan kata-kata manis untuk seseorang karna ia tak mengerti bagaimana cara nya untuk basa-basi.
Ia juga tak menyangkal jika ia bisa membunuh gadis itu, karna ia tak tau apa yang akan terjadi jika kembali 'meledak' dengan luapan emosi yang tak bisa ia kontrol jatah gadis remaja itu selalu bisa membuat nya melewati batas emosi nya.
Namun yang saat ini jelas ia tau jika ia hanya menginginkan gadis itu!
Bukan orang lain!
Entah pemuasan dari hasrat dan obsesi nya tau karena rasa suka yang baru pertama kali ia rasakan.
"Kenapa?" tanya Anna pada pria yang memegang tangan nya saat ini.
"Karna aku menyukai mu," jawab nya dengan wajah yang datar dan mata yang tampak tak sedatar wajah nya karna ia mengatakan kejujuran dari hari nya.
Anna terdiam, ia tidak percaya akan rasa cinta karna bagi nya cinta adalah kata tabu yang tak bisa di lihat dan di rasakan seperti apa bentuk nya.
__ADS_1