
Mansion Damian
Pria tua itu mengunjungi rumah cucu pertama nya dan tentu ia datang karna ingin melihat gadis remaja yang menjadi teman nya beberapa waktu terakhir.
"Kau masih merasa sakit?" tanya nya yang duduk di samping ranjang dengan memegang tongkat di tangan nya.
"Iya," jawab Anna lirih pada pria tua itu.
"Karna kau sedang sakit, aku akan mengabulkan permintaan mu. Kau mau apa?" tanya nya pada gadis remaja itu.
Anna melirik, jika ia minta kabur tentu itu adalah hal yang sia-sia karena pria tua itu juga terlihat tak ingin memisahkan ia dengan cucu nya.
"Kalau begitu saya minta uang?" jawab nya yang mengatakan hal yang ia butuhkan
"Uang? Haha! Kau memang selalu jujur! Baik! Katakan betapa yang kau mau," ucap Mr. Ehrlich yang tertawa mendengar nya dan tak tersinggung sama sekali.
"Yang banyak?" tanya Anna pada pria tua yang tampak setuju dengan ucapan nya tak tak marah.
Mr. Ehrlich tertawa, ia tentu dapat mengabulkan dengan mudah permintaan gadis remaja itu karna ia memiliki banyak uang.
"Aku akan memberi mu kartu dan buku tabungan nya besok," ucap nya pada gadis remaja itu.
"Kenapa anda baik? Saya kan bukan cucu anda." ucap nya pada pria tua yang memiliki banyak rambut putih di kepala nya.
Mr. Ehrlich hanya tersenyum mendengar nya, ia tau kecelakaan seperti apa yang menimpa gadis remaja itu.
Dan walaupun ia tak mencari tau namun ia tau sedikit jika yang mencelakai gadis remaja itu masih dalam lingkup keluarga nya.
Perebutan tentang harta dan kekuasaan memang sesuatu yang mengerikan dan tentu tak bisa ia hilangkan.
Tapi tetap saja, darah lebih kental dari pada air. Ia tak bisa membongkar dan mengatakan akan menghukum nya selain memberikan sedikit penghiburan.
Mr. Ehrlich berbicara hal lain nya. Mengatakan sesuatu yang menyebalkan seperti biasa nya dan membuat Anna memberikan respon yang lebih aktif akan ucapan nya.
Sementara itu Lucas mendengarkan dari chip yang tetap ia aktifkan di tubuh gadis itu. Ia mendengar suara yang saat ini lebih banyak dari suara lain nya karna gadis nya berbicara lebih banyak sekarang.
...
Teh hijau tanpa gula yang tertuang di gelas keramik yang kecil itu.
Pria tua yang tampak memegang tongkat nya dan mengenakan setelan pakaian yang rapi.
Ia menatap cucu nya yang mencerminkan masa muda nya, tubuh yang tegap dengan wajah yang tampan dan sudut mata yang terlihat tajam.
"Kau tidak merasa anak itu mirip seseorang?" tanya nya yang membuka suara pada cucu nya.
"Jangan mengusik nya, dia milik ku." ucap Lucas yang sangat sensitif karna takut kakek nya akan menyingkirkan gadis nya dan ia tak bisa menghentikan pikiran negatif nya.
"Ya, aku juga sudah terlalu tua untuk mengurusi kisah asmara." ucap Mr. Ehrlich pada sang cucu.
__ADS_1
Lucas tak menjawab, ia bahkan tak menoleh ke arah sang kakek.
"Kau masih ingat dengan ibu mu?" tanya Mr. Ehrlich yang kembali mengingatkan cucu nya.
Lucas menoleh, ia mengernyit menatap ke arah sang kakek yang tiba-tiba bertanya tentang ibu nya.
"Bukan nya anda harus nya pulang?" tanya Lucas yang tak menjawab dan malah mengusir halus sang kakek.
Duk!
"Anak nakal! Kau mengusir ku?!" tanya Mr. Ehrlich yang mudah kesal karna ia memang bukan orang tua penyebar.
Lucas tak menjawab apapun, ia tak menjawab sang kakek dan bahkan tak memberontak saat pria tua itu memukul kepala nya dengan tongkat.
"Mau saya antar ke pintu keluar?" tanya Lucas sekali lagi pada sang kakek.
Mr. Ehrlich menghela napas nya, ia beranjak bangun dan berjalan keluar karna cucu nya sudah mengusir nya secara tak langsung.
....
Tiga hari kemudian.
Anna tampak bingung, para dokter mendatangi nya dan ia pun merasa luka nya sudah nya kering namun ia tetap mendapatkan dokter yang datang lagi.
"Mereka akan menghilangkan bekas luka mu," ucap Lucas pada gadis remaja itu.
"Bekas luka? Tapi saya kan-"
Anna diam, ia tau bekas luka nya nya yang lama pun juga akan ikut di hapus dan ia pun sudah mengatakan berulang kali jika ia tak ingin menghapus dan menghilangkan nya.
Namun tentu pria itu tak akan mendengarkan nya, tubuh nya memang ia yang menggerakkan namun bukan ia yang miliki.
Anna tak mengatakan apapun, para dokter mulai membawa nya ke ruangan yang akan ia tempati untuk operasi kulit nya.
Ia tak bisa mengatakan apapun, bahkan jika saat ini ia menolak dan memberontak maka para dokter yang bersama nya juga akan membawa nya secara paksa.
Mata nya melirik sekilas ke arah pria yang berdiri dari luar ruangan yang di pisahkan dengan kaca tembus pandang itu.
"Dia menyukai ku? Dia sungguhan?" tanya Anna lirih sebelum bius yang di suntikan di tangan nya mulai menyebar.
.......................
Skip
Satu bulan kemudian.
Sekolah.
Butuh waktu yang begitu lama sampai ia sudah benar-benar pulih dalam artian juga tak lagi pincang karna kaki nya yang di tusuk dengan pisau.
__ADS_1
"Sekarang kau yang jarang datang,"
Anna tersentak, ia hampir tersedak saat mendengar suara yang tiba-tiba terucap dari belakang.
"Ih! Kaget tau!" ucap nya yang melihat ke arah kakak kelas nya.
Gevan mendekat, ia duduk di samping adik kelas nya yang suka ia ganggu itu.
"Samantha ada kasih kabar?" tanya Anna karna sudah tau kakak kelas nya itu memiliki hubungan kerabat dengan teman nya.
Gevan menggeleng, ia kehilangan kontak dengan sepupu nya dan juga keluarga nya dalam beberapa waktu terakhir.
"Dia juga tidak ada memberikan kabar apapun," ucap nya pada adik kelas nya itu.
Anna membuang napas nya lirih, "Udah tentuin mau masuk jurusan apa?" tanya Anna pada kakak kelas nya itu dengan mengubah topik pembicaraan.
Gevan berpikir sejenak, ia saja tak tau mau jadi apa.
"Kau mau jadi apa?" tanya nya yang malah berbalik.
"Artis? Aku mau jadi artis yang terkenal dan sukses!" ucap Anna pada kakak kelas nya.
"Kenapa artis? Berarti kau akan ambil jurusan seni?" tanya nya pada gadis remaja itu.
Anna mengangguk, jika ia punya uang yang cukup untuk kuliah maka ia akan mengambil jurusan tersebut.
"Karna aku mau tunjukin kalau aku punya hidup yang lebih bagus." ucap nya pada kakak kelas nya itu.
Dulu ia memang memimpikan hal itu karna tidak tau siapa dan di mana ayah nya, ia ingin menunjukkan jika ia tetap baik-baik saja dan bisa hidup dengan senang walau ia sudah di buang oleh orang tua yang harus nya menjaga nya.
Gevan mengangguk tanpa mengatakan apapun, namun ia berpikir untuk mengambil jurusan yang sama seperti yang di inginkan gadis itu.
"Kau tidak boleh berubah pikiran nanti! Harus ambil jurusan seni!" ucap nya yang memastikan gadis itu sebelum nanti ia masuk ke dalam jurusan nya.
"Iya!" sahut Anna pada Kakak kelas nya.
"Anna?" panggil nya sekali lagi pada gadis remaja yang baru datang setelah sekian lama.
"Hm?" Anna menoleh ke arah sumber suara yang memanggil nya.
Cup!
Gevan bergerak cepat dan mengecup bibir gadis itu sekilas, tak ada suara hisapan atau kecapan sebagaimana mesti nya karna ia hanya menempelkan bibir nya dengan cepat.
Dan tentu pria yang selalu memata-matai seorang gadis remaja dengan chip di tubuh nya tak akak tau selagi kata 'Cium' tidak di ucapkan.
"Gevan!" ucap Anna yang kesal pada kakak kelas nya yang tertawa dan langsung pergi.
"Jangan sering tidak datang ke sekolah," ucap nya yang beranjak pergi.
__ADS_1
Jujur saja ia merindukan gadis remaja itu karna sudah sebulan lebih tak datang ke sekolah.