
4 Bulan kemudian.
JNN Grup
Pria itu memutar pena di tangan nya, ia melirik dengan mata yang melihat ke arah orang-orang yang tengah membahas dan terkadang berdebat tentang apa yang tengah di kerjakan.
"Ada nilai yang turun dan kalian sekarang sedang apa? Perusahaan cabang juga mengalami pengeluaran yang sangat besar untuk pembangunan gedung restoran tapi tempat itu sudah hampir rubuh?" tanya Lucas yang membuat semua orang di tempat itu terdiam.
Para petinggi itu menutup mulut nya, mereka tak berbicara sedikit pun dan hanya diam untuk saat ini.
"Untuk masalah pembangunan restoran itu aku akan memanggil tim investigasi dan tentang penurunan yang terakhir kali aku mau kalian membuat iklan, ide nya harus di kumpulkan paling lambat Minggu depan." ucap Lucas yang menatap dengan mata yang tajam dan menarik napas nya.
"Kalian bisa pergi," ucap Lucas yang sekali lagi dan kemudian membuat orang-orang itu langsung bubar tanpa ada penolakan sama sekali.
Diego masih duduk di meja nya, tak seperti semua petinggi yang langsung pergi ia tetap berada di tempat semula.
"Hah..."
Lucas menarik napas nya, sedangkan Diego masih tak mengatakan apapun dan hanya melihat ke arah sepupu yang tampak lebih lelah itu.
"Kau terlihat pucat? Apa aku salah?" tanya Diego yang mengernyit karna ia sendiri tau pria itu sangat jarang sakit.
Sakit yang terburuk hanya ketika demam tinggi ketika beberapa hari sesudah ibu kandung sepupu nya meninggal.
"Ya, kau salah. Aku baik-baik saja." ucap Lucas yang kemudian beranjak dan kemudian pergi.
Diego tak mengatakan apapun lagi, ia pun hanya menatap ke arah sepupu nya yang tak menjawab apapun.
"Apa yang ku pikirkan?" gumam nya yang kemudian merapikan beberapa dokumen di depan nya dan juga membawa nya lalu meninggalkan ruangan rapat itu.
......................
Pukul 9.45 pm
Apart
Wanita itu menoleh, ia menatap ke arah pria yang menerima telpon di malam hari namun pergi dari tempat tidur nya.
"Habis telponan sama siapa kamu?"
Suara wanita itu terdengar begitu pria yang baru saja menutup telpon nya berbalik.
"Kau bangun? Ada apa? Kau mimpi buruk?" tanya Diego yang mendekat dan melihat ke arah mata palsu yang di pakai dengan cepat itu padahal wanita cantik itu baru saja terbangun.
"Kamu telponan sama siapa? Kamu belum jawab aku?" sentak Samantha yang masih bertanya.
"Urusan pekerjaan, kau tidak perlu memikirkan nya." ucap Diego yang beranjak membawa kekasih nya kembali ke kamar lagi.
Samantha tak mengatakan apapun namun wajah nya tampak tak percaya. Ia tak memiliki kepercayaan diri sama sekali.
Tentang penampilan atau latar belakang, lebih tepat nya ia hanya seperti cinderella yang di dunia nyata.
"Diego? Kita..."
Samantha memanggil lirih, ia memegang tangan pria itu dan kemudian menatap nya dengan mata yang melihat sayup.
"Apa kita tidak bisa menikah saja? A.. aku juga mau pakai gaun seperti Anna..."
"Bukan! Bukan seperti dia tapi seperti semua wanita..."
"Aku juga mau naik ke atas altar..."
Rengek Samantha yang menatap ke arah pria itu.
"Kau mau perayaan? Itu maksud mu?" tanya Digeo yang tetap tak ingin mengiyakan keinginan yang bisa dengan mudah ia kabulkan karna ia memang memiliki kemampuan untuk itu.
__ADS_1
"Bukan! Kamu ngerti kan apa yang aku mau?! Kenapa kamu pura-pura bodoh?" tanya Samantha yang karna memang yang ia inginkan bukanlah perayaan namun pernikahan.
"Tidur, seperti nya kau kurang tidur." ucap Diego yang langsung mengubah ekspresi dan tatapan mata nya.
Samantha tersentak, ia diam sejenak dan kemudian menatap ke arah pria itu.
"Diego..." rengek nya sekali lagi karna hanya pria itu yang bisa ia jadikan tempat bersandar nya.
"Sam? Ini sudah malam? Iya kan? Kau harus tidur," Ucap Diego sekali lagi yang menekan.
Samantha tak mengatakan apapun ia seperti tak memiliki pilihan lain selain hanya menurut ke arah pria yang memberi nya perintah.
...
Pukul 01.34 am
Pria itu membuka mata nya, bantal yang kosong dan menatap ke arah punggung yang berbalik duduk di pinggir ranjang itu.
"Tidak ada..."
"Apa dia memang tidak melakukan apapun?"
"Atau sudah di hapus? Nama nya di ganti?"
Pria itu tak bersuara, ia melihat ke arah seseorang yang terus bergumam gelisah.
"Ekhm!"
Wanita itu tersentak, ponsel yang berada di tangan nya langsung terjatuh dan kemudian menoleh.
"Dia masih tidur?"
Gumam Samantha yang berbalik dan menatap ke arah pria yang terlihat memejam itu.
Suara yang lirih dan berat serta terdengar serak itu memanggil nya dan kemudian tangan yang seperti meraba ke arah bantal yang tadi ia tadi ia tiduri.
Samantha langsung mendekat dan tubuh pria itu langsung menarik nya sehingga membuat nya langsung berada di dalam pelukan yang erat.
"Sam..."
"I..iya aku di sini..." jawab Samantha lirih karna seperti mendengar pria itu yang tengah melindur dalam tidur nya.
"I love you," gumam pria itu lirih dengan suara yang masih serak.
Samantha terdiam, pelukan hangat pria itu semakin erat dan bisikan yang terdengar pada seseorang yang antara sadar atau tidak.
"Love you too," ucap wanita itu yang mulai kembali tenang dan memeluk ke arah pria yang terlihat masih tengah tertidur itu.
Diego membuka mata nya, ia memang tak bohong tentang perasaan nya namun ia juga tak bisa menikahi wanita itu karna stigma tentang pernikahan yang memiliki arti buruk untuk nya.
......................
Mansion Damian.
Anna mendekat, sang suami tertidur di ruang kerja nya tanpa kembali ke kamar seperti biasa.
Gelas berisi teh yang tadi ia berikan sudah habis, pria itu tidur dengan wajah yang sedikit pucat karna mungkin efek senyawa itu mulai bekerja dalam waktu beberapa bulan terakhir.
"Luc..."
Panggil nya lirih namun pria itu tak terbangun. Tangan yang lembut dengan jemari yang lentik itu mulai memegang dan juga meraba di bagian leher pria itu.
Kedua tangan kecil itu seperti ingin bersiap untuk mencekik nya walaupun ia tau mungkin jika ia benar-benar melakukan nya pun pria itu bisa terbangun dan menyingkirkan tangan nya dengan mudah.
Tangan nya bergetar, ia takut dan ingin berhenti namun ia juga tak bisa.
__ADS_1
"Ma.. maaf..."
Gumam nya lirih dengan suara yang gemetar dan kemudian langsung pergi tanpa sempat membangunkan pria itu.
Suara pintu yang tertutup membuat pria itu membuka mata nya.
Ia tak mengatakan apapun, namun memegang ke arah leher nya saat ia masih merasakan sentuhan tangan yang lentik dan halus itu memegang nya.
...
"Hah..."
"Hah..."
"Hah..."
Anna menarik napas nya, ia meminum beberapa obat penenang yang memang di resepkan untuk nya karna Lucas tau ia cukup depresi karna putra nya yang tak kunjung bangun.
"Ti.. tidak..."
"Tidak apa-apa, aku melakukan nya demi Estelle..."
"Estelle ku harus hidup..."
Gumam nya lirih dengan tubuh yang gemetar karna tadi ia benar-benar memiliki pikiran untuk mencekik pria itu.
Pilihan nya mulai terasa sulit, ia seperti sudah membuat keputusan yang tepat namun entah mengapa ia tetap saja merasa gelisah.
Sesuatu yang terasa mengganjal dan membuat nya merasa bersalah jika melihat pria itu tetap memperlakukan nya seperti biasa.
Memang ia tak boleh keluar atau pun mengalihkan perhatian nya, selain di saat sedang cemburu pria itu cukup manis dengan wajah yang dingin.
Dan memang bahkan jika pria itu mati pun bukan berarti putra nya akan hidup dengan baik dan sadar, namun setidak nya ia berpikir tak akan ada lagi yang membuat 'bintang' kesayangan nya tertekan.
Tidak apa-apa...
Kalau aku tidak melakukan nya aku akan kehilangan 'Bintang' ku...
Tapi?
Kenapa aku jadi seperti ini?
Rasanya tidak nyaman melihat dia tersenyum kecil pada ku.
Tatapan yang dingin namun melihat ku dengan dalam itu seperti itu membuat ku tidak bisa bernapas...
Aku hanya mau hidup dengan tenang bersama Estelle ku...
Hanya itu!
Lalu kenapa aku sejauh ini?
Aku tidak tau bagaimana cara nya mengeluarkan perasaan yang tidak bisa ku artikan ini!
Aku membenci nya, tapi kenapa aku juga merasa sakit ketika aku yang ingin membunuh nya?
Ini sulit, sangat sulit untuk ku...
Kalau tau akan seperti ini, seharusnya aku membiarkan dia membunuh ku di hari pertama kami bertemu...
Jika seperti itu...
Estelle ku tidak perlu menderita, dan dia...
Dia juga tidak akan terluka dengan cara seperti itu....
__ADS_1