
Mansion Damian
Pria itu melirik tipis pada gadis yang duduk di pangkuan nya sembari melihat kembali ke komputer nya dan menyelesaikan pekerjaan nya.
"Besok kau sudah bisa kembali masuk sekolah," ucap Lucas di tengah pekerjaan nya.
"Ya..." jawab Anna lirih.
Ia tak bisa banyak bergerak semau nya, setelah keluar dari laboratorium yang mirip kamar rumah sakit ia di suruh tetap di kamar tanpa boleh melakukan apapun dan sekali nya dia di izinkan keluar dari kamar nya ke taman pria itu malah memarahi nya untuk hal yang sepele.
"Besok beri tau aku apa saja yang kau lakukan di sekolah, dengan siapa, makan apa, kapan kau masuk dan keluar saat istirahat." ucap nya yang menutup laptop nya dan melihat ke arah mata biru itu.
"Semua nya? Kenapa saya harus melaporkan semua nya?" tanya Anna dengan bingung.
"Ya, laporkan semua yang kau lakukan." jawab pria itu yang membenarkan posisi pangkuan nya.
Ia berencana untuk mematikan chip di tubuh gadis itu selama seminggu sesuai saran peneliti dan dokter nya setelah hari di mana gelombang radiasi nya meninggi.
"Kalau saya tidak lakukan?" tanya Anna menatap nya.
"Kau akan rasakan sendiri akibat nya, semua yang kau lakukan akan memiliki akibat." ucap pria itu yang menatap dekat ke arah wajah gadis remaja itu.
"Kalau saya menuruti semua yang anda katakan saya dapat apa?" tanya nya pada pria yang menatap rahang nya yang memerah itu.
Lucas langsung menatap ke arah mata gadis itu walaupun sebelum nya ia sedang melihat ke arah bekas cengkraman nya.
"Kau mau hadiah? Oh ya? Boneka beruang mu sudah rusak ya? Kau mau yang baru?" tanya nya dengan wajah datar.
"Bu..bukan! Sa..saya suka boneka yang cantik! Bu..bukan boneka beruang!" jawab Anna yang langsung dengan cepat tak ingin di berikan hadiah mengerikan seperti itu lagi.
"Boneka manusia?" tanya Lucas mengernyit.
"Hm? Mungkin?" jawab Anna mengernyit yang membayangkan Barbie namun tentu bayangan nya dan bayangan pria itu berbeda.
"Ta..tapi sa..saya bukan mau minta itu!" sambung nya yang sempat teralihkan.
"Lalu kau mau apa? Kalau kau menuruti semua yang ku katakan dengan benar aku akan memberikan mu hadiah." ucap nya pada gadis itu sembari membelai wajah halus dan cantik itu.
"Ka..kapan a..anda mau me..melepaskan sa..saya?" tanya Anna dengan suara gugup dan lirih.
Ia bertahan sampai sekarang dan ingin pria bosan pada nya lalu melepaskan nya dan membiarkan kehidupan nya yang penuh lika liku tanpa takut untuk bernapas.
Deg!
Gadis itu tersentak, wajah pria itu langsung berubah seketika. Memang benar jika wajah pria itu selalu dingin namun kali ini wajah dingin yang tampak ingin memangsa.
Lucas menarik napas nya lirih, tangan nya yang sempat terdiam kembali mengusap wajah cantik gadis remaja itu dan mulai mengusap leher jenjang nya.
"Kapan aku ingin mengeluarkan mu itu urusan ku, dan lagi? Kau juga sudah melihat banyak hal tapi kau mau pergi?" tanya nya yang memegang leher mungil itu dengan satu tangan nya.
"S..sir?" Anna meremang, ia takut melihat tatapan pria itu dan tangan yang melingkar di leher nya.
Ukh!
"Kau menyukai ku, kan? Kau bilang begitu tapi punya pikiran mau pergi?! Memang seperti nya aku tidak boleh percaya pada orang lain kan?!" tanya nya yang menguatkan jemari nya di leher kecil gadis itu.
Anna tak bisa bernapas, memang ia yang ceroboh karna bertanya hal yang sangat sensitif.
Greb!
Tak peduli ia bisa bernapas atau tidak, tak peduli juga seberapa kuat pria itu mencekik nya.
"Ma..maksud saya, me..melepaskan sa..saya di pangkuan A..anda! Sa..saya ma..mau ke to..toilet!" ucap Anna yang memeluk pria itu.
Jantung nya berdegup kencang, leher nya sakit karna bertabrakan antara tangan yang mencekik nya dengan ia yang memeluk tubuh tegap itu.
"Benarkah?" tanya Lucas yang melepaskan tangan nya merengkuh tubuh yang memeluk nya itu.
__ADS_1
"Kau mengatakan sesuatu yang membuat ku salah paham," ucap nya pada gadis itu, "Kau bisa bangun, setelah itu kembali ke sini lagi." ucap nya pada gadis itu.
"Sa..saya ha..harus belajar Si..sir..."
"Be..besok ada ulangan..." jawab nya lirih yang mencari alasan agar tak kembali lagi.
"Ulangan apa?" tanya Lucas pada gadis itu.
"Matematika," jawab Anna lirih yang asal mengatakan pelajaran yang sangat ia benci itu.
Lucas tersenyum tipis mendengar nya, "Aku akan mengajari mu, kau tau aku guru yang pintar kan?" tanya Lucas dengan senyuman nya.
"A..anda akan mengajari sa..saya seperti apa?" tanya Anna yang tersentak dan baru mengingat jika pria itu adalah 'guru' yang mengajari nya sesuatu yang lain juga.
"Kita kan sudah pernah belajar bersama sebelum nya? Kenapa tanya lagi?" tanya Lucas pada gadis itu.
Anna terdiam, lagi-lagi ia menggali kuburan nya sendiri.
"Kenapa tidak tersenyum? Kau tidak suka?" tanya Lucas yang membuyarkan pikiran gadis itu.
Senyuman canggung dan kaku gadis itu mulai naik dan menatap pria itu, "Te..tentu sa..saya suka ka..kalau dengan a..anda Sir..." jawab nya yang selalu gagap jika bicara dengan pria itu namun tidak dengan orang lain.
...
Uhh...
"S..sir..."
Gadis itu memanggil lirih, kali ini sama saja seperti yang sebelum nya saat gadis itu di ajari.
Tangan yang bergerak semau nya di balik piyama putih gadis itu, menjamah setiap bagian yang sensitif dan memainkan nya dengan dalih gadis itu tak boleh menolak dan memaksa nya harus fokus dengan yang ia ajarkan.
"Kalikan dengan bilangan yang di bawah," ucap nya dengan tangan yang juga menelusuri bagian bawah.
"Uhm..." gadis itu menggeliat di atas pangkuan pria itu.
Ack!
Anna tersentak, tangan pria itu menggelitik nya di suatu tempat.
"Apa aku harus melonggarkan nya? Mungkin akan kesulitan kalau aku tiba-tiba masuk kan?" tanya nya berbisik di telinga gadis itu.
"S..sir..." Anna memanggil pria itu sembari menoleh ke kebelakang.
Tangan nya berusaha mencegah tangan yang semakin merajalela dengan jemari yang seperti bermain piano itu.
Humph!
Pria itu melahap bibir merah muda itu ketika wajah gadis itu terlihat saat berbalik menatap nya.
Anna tersentak, pria itu semakin menggelitik nya sampai ia merasa seperti tersetrum akan aliran listrik yang aneh.
Uhmm...
Tubuh gadis remaja itu bergetar, ia tak bisa mengatakan apapun kecuali hanya suara gumam halus yang tertahan di ciuman pria itu.
Lucas melepaskan bibir ranum itu dan menarik tangan nya dengan jemari yang basah.
Ia tersenyum, dan menarik tangan gadis itu untuk turun dari pangkuan nya.
"Lakukan, kali ini jangan sampai ada yang terbuang," ucap nya yang membuat gadis itu berlutut di depan nya.
"Ta..tapi Sir..." Anna tersentak.
Ia memang sudah beberapa kali melakukan nya namun selalu saja terasa canggung, aneh dan tak ingin melakukan nya.
"Lakukan dengan baik, bukan nya kau cumi-cumi yang baik?" ucap pria itu sembari memegang untaian rambut coklat keemasan itu dan menyatukan di satu tangan nya seperti sedang mengikat satu.
__ADS_1
Anna terdiam sejenak, ia menengandah melihat ke arah pria itu sekali lagi, mata nya nya melirik ke arah pak*ian d*l*m nya yang tak jauh dari kursi belajar nya karna tadi di tarik pria itu.
"Kenapa melihat ku? Kali ini kau buka sendiri, tadi aku juga membuka nya untuk mu kan?" tanya pria itu tersenyum.
"I..iya.."
Anna tersentak, tangan dengan kuku yang mengkilap cantik dan lentik itu gemetar saat membuka nya, sedangkan pria itu tersenyum.
......................
Sekolah
"Ann?" Samantha melihat ke arah teman nya yang sejak tadi terdiam.
"I..iya?" Anna terkejut saat mendengar suara heboh teman nya yang menepuk dahi nya juga.
"Kenapa sih? Setiap kali abis libur terus masuk pasti kamu tuh melamun ter-" ucapan gadis itu terpotong.
Ia melihat ke arah rahang gadis itu yang masih tampak memerah.
"Ini kenapa Ann?" tanya nya yang langsung menatap bekas di leher yang mendekati rahang gadis itu.
"Oh? Ini? Kelilit rambut sendiri waktu tidur Sam." jawab nya dengan tawa canggung yang mengatakan hal tak masuk akal.
"Kelilit gimana? Rambut ku juga panjang Ann, gak pernah tuh kelilit!" jawab Samantha yang bingung.
"A..aku mau ke toilet dulu!" jawab Anna yang menghindar.
"Oh iya Ann, nanti pengumuman hasil ulangan bakalan di tempel di mading, kalau kamu dapat urutan umum di bawah 70 sesuai perjanjian aku jentik kepala kamu!" keluh Samantha pada teman nya sebelum Anna beranjak.
"Iya! Tau kok!" jawab nya pada gadis itu.
...
Sekumpulan remaja itu terlihat mengerumuni daerah mading yang menempelkan urutan nama dari peringkat ulangan bulanan.
"Lihat! Aku pas kan di 70!" ucap Anna yang kali ini dapat tersenyum senang dan melupakan sejenak apa yang terjadi pada nya.
"Cie..."
"Aku traktir deh karna kamu udah masuk peringkat 70!" ucap Samantha tersenyum melihat peringkat teman nya naik walaupun peringkat nya sendiri yang harus nya di rayakan karna peringkat pertama untuk angkatan tahun nya.
Tap!
Anna tersentak seseorang memegang bahu nya dari belakang.
"Kau tidak lihat peringkat ku ada di mana? Jangan lupakan janji yang kau buat?"
Gadis itu tersentak, seseorang berbisik pada nya mengatakan sesuatu.
Ia memutar kepala nya dan melihat ke arah kertas lain nya di angkatan akhir.
"Gevan Scout Walker peringkat pertama?" gumam nya yang membaca peringkat remaja tampan itu.
"Yaps! Benar sekali!" jawab Gevan tersenyum.
"Memang nya aku janji apa?" tanya nya dengan bingung pada kakak kelas nya itu.
"Entahlah, coba ingat lagi." jawab Gevan dengan santai.
Anna memutar isi kepala nya, seingatnya ia tak pernah mengatakan janji apapun untuk peringkat.
"Kan gak ada kak..." ucap nya lirih, "Astaga!"
Ia baru ingat jika waktu itu ia pernah memergoki kakak kelas nya melakukan sesuatu di ruang penyimpanan olahraga dan berakhir dengan taruhan jika kakak kelas nya mendapat peringkat pertama maka ia akan tidur dengan nya.
Gadis itu asal setuju karena bagi nya tak mungkin seseorang bisa pintar dalam sekejap.
__ADS_1
"Sekarang ingat?" tanya Gevan tersenyum.